
Bab. 68
Memacu mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota, bahkan terkesan seperti ugal-ugalan terpaksa Henry lakukan demi bisa cepat sampai ke rumah.
Kabar dari Agatha jika Areta pingsan itu membuatnya diserbu cemas juga ketakutan. Takut bila terjadi sesuatu terhadap istri tercintanya. Pasalnya sudah beberapa hari ini Areta mengeluhkan pusing di setiap paginya. Di malam harinya, badannya meriang. Jelas hal itu membuatnya khawatir. Sebab ia tak ingin Areta sampai jatuh sakit.
Membawa langkahnya cepat, bahkan berlari ia menaiki anak tangga menuju kamarnya, tergesa-gesa, sampai-sampai ia hampir saja terjatuh. Daun pintu didorongnya kencang, sampai daun pintu itu membentur dinding. Membuat Agatha, Nino, Hera, dan Areta sendiri terkejut. Menatapnya heran.
Napasnya tersengal, kelelahan, saat menghampiri Areta yang tengah duduk berselonjoran di atas tempat tidur. Dengan Agatha duduk di tepian tempat tidur, berhadapan dengan Areta.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Panik ia bertanya. Menggantikan posisi Agatha duduk di tepian tempat tidur itu. Sedangkan Agatha bangun berdiri.
Areta mengangguk sembari mengulum senyum. "Aku tidak apa-apa."
"Tapi Mama bilang kamu tadi pingsan. Kita ke dokter ya? Kita ke rumah sakit sekarang."
"Ehem, ehem." Nino berdehem, mengingatkan Henry jika di dalam ruangan ini juga ada seorang dokter. Kalau hanya untuk pemeriksaan standar, ia juga bisa dan terlatih.
"Ya elah, bucin banget sih." Hera tersenyum-senyum meledek. Adiknya itu memang menunjukkan perubahan yang signifikan setelah mengenal bahkan menikah dengan Areta. Areta seolah membawa atmosfir yang baik bagi adiknya itu.
"Henry, Areta itu tidak butuh ke dokter. Dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih dari suaminya," ujar Agatha, juga tersenyum sumringah. Dari rona-rona wajahnya, mereka tampak seperti sedang ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi lebih memilih membuat Henry penasaran dan membiarkan Henry menerka-nerka sendiri.
"Apa perhatian dan kasih sayang dari aku itu belum cukup? Ya ampun, maafkan aku sayang. Maaf kalau aku masih belum bisa jadi yang terbaik buat kamu," ucap Henry khawatir.
"Iya, kurang. Makanya, jadi suami seharusnya kamu itu lebih memperhatikan istri kamu. Belakangan ini Kakak lihat sepertinya kamu kurang memperhatikan Areta. Kamu sudah berubah. Apa jangan-jangan kamu sudah punya yang lain di luaran sana?" Hera meledek, lebih ke menggoda Henry, ingin tahu bagaimana reaksi sang adik dituduh demikian.
"Jangan sembarangan nuduh. Di dunia ini tidak ada satu wanita pun yang bisa merebut hatiku selain istriku." Henry membela diri. Ditatapnya lekat Areta yang tersenyum kepadanya.
"Sayang ..." Areta berseru lembut, meraih jemari Henry ke dalam genggamannya.
"Buat aku, perhatian dan kasih sayang kamu itu sudah lebih dari cukup. Aku sangat, sangat berterima kasih untuk itu. Bahkan aku merasa, aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan dan cinta kamu padaku," sambungnya penuh haru.
"Sungguh kamu ingin membalasnya?"
Areta mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, cukup dengan selalu berada di sisiku. Dan sekarang, kita ke rumah sakit. Aku cemas mendengar kamu pingsan tadi. Dan aku harus tahu penyebabnya."
"Ya ampun, Tuan Henry. Masih belum ngerti juga ya?" Hera gemas Henry tak memahami maksud kalimat Agatha barusan.
"Areta tidak apa-apa, Henry. Dia hanya butuh banyak istirahat dan cinta dari kamu. Aku sudah memeriksanya tadi," ujar Nino.
"Benarkah? Tapi kenapa bisa sampai pingsan? Itu artinya keadaan Areta gawat dan harus segera dilarikan ke rumah sakit."
"Ya ampun, Henry. Lelet banget otaknya. Areta jatuh pingsan itu karena ..." Hera menggantung kalimatnya. Dan malah tersenyum-senyum mencurigakan.
Henry pun berkerut dahi, menatap satu per satu yang ada di dalam kamar itu.
"Astaga Henry. Apa kamu meragukan aku sebagai dokter?" Nino bertanya.
"Tidak, tidak. Aku tidak meragukan kamu. Hanya saja ..."
"Itu artinya kamu meragukan aku, sobat. Karena aku hanya seorang dokter ahli jantung, bukan kandungan." Nino memotong kalimat Henry. Secara harfiah ingin Henry memahami kalimatnya. Namun agaknya, Henry tak cepat tanggap situasi.
"Maksud kamu?" Henry melipat dahi bingung.
"Henry sayang, apa kamu tidak lihat kondisi istri kamu ini baik-baik saja?" timpal Agatha ingin segera memberitahu kondisi Areta yang sebenarnya. Gemas ia melihat putranya masih juga belum mengerti.
"Ya ampun. Istri kamu pingsan itu karena janin dalam kandungannya itu lagi ngambek. Karena kekurangan kasih sayang dari papanya." Akhirnya Hera memberitahu juga yang sebenarnya. Saking gemesnya.
Henry pun terdiam. Terlihat sedang mencerna ucapan Hera.
"Aku memang bukan ahli kandungan. Tapi dari gejala yang terlihat, juga dari keterangan Areta, aku bisa menyimpulkan, kalau istri kamu ini sedang mengandung. Sampai sini, kamu paham kan?" Nino turut menimpali. Memperjelas pernyataan Hera.
"Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu akan jadi seorang ayah," ujar Agatha.
Namun Henry masih terdiam. Ia terpaku menatap wajah pucat Areta yang tersenyum penuh haru kepadanya.
"Ka-kamu hamil?" tanyanya tak percaya. Ia masih terkejut.
Areta mengangguk. Menatap Henry dengan senyuman. Namun senyuman itu harus memudar ketika dilihatnya bulir-bulir air bening malah berjatuhan di wajah Henry.
__ADS_1
"Terharu ya Pak, akhirnya kamu akan jadi seorang ayah. Aku jadi iri nih." Hera meledek. Senang sekali ia menggoda sang adik, walaupun sebetulnya ia merasa iru dengan kabar kehamilan Areta. Tapi itu tak sedikitpun mengurangi kebahagiaannya.
Tak menggubris ledekan sang kakak, Henry malah meraih Areta ke dalam pelukannya.
"Terima kasih ya sayang. Kamu membuatku merasa sempurna jadi seorang lelaki. Kamu sudah melengkapi hidupku," ucapnya dengan perasaan suka cita.
"Aku pikir kamu tidak suka dengan kehamilanku."
"Aku justru sangat bahagia. Aku bahkan sampai bingung bagaimana aku harus mengekspresikan kebahagiaanku."
"Tambah bucin deh." Terdengar Hera meledek lagi.
Namun Henry tak menggubris. Ia justru melabuhkan kecupan demi kecupan di pipi kanan kiri Areta, di dahi Areta, sampai akhirnya kecupannya turun ke bibir. Bukan kecupan biasa, melainkan kecupan yang saling berbalas lembut. Membuat semua yang ada di kamar itu memalingkan muka malu.
"Ya ampun, main sosor aja. Di sini ada orang woy. Bikin aku iri aja kalian ih. Ayo sayang, kita juga bikin dedek bayi sekarang." Lekas Hera menggamit lengan Nino. Mengajaknya keluar dari pemilik kamar yang malah asik bermesraan, tak peduli suasana.
Merasa malu, Agatha pun bergegas menyusul Hera dan Nino, tanpa berkomentar lagi. Ia memberikan kesempatan kepada dua sejoli itu untuk merayakan kebahagiaannya.
Kecupan Henry pun terhenti ketika Areta memukul pelan dadanya.
"Kamu, ih. Aku malu dilihat mama, kak Hera, juga dokter Nino." Wajah Areta tertunduk malu.
"Kenapa harus malu, mereka kan keluarga kamu sekarang. Mereka juga pasti paham."
Melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya sampai batas siku, membuka dua kancing teratas, Henry lantas naik ke atas tempat tidur. Ikut duduk bersandar, berselonjoran di atas tempat tidur itu. Kemudian merangkul Areta.
Mengerti, Areta pun menyandarkan kepala di pundak Henry. Membiarkan Henry mengelus perut ratanya dengan lembut.
"Astaga, aku berdebar saat tahu kalau ternyata kamu hamil. Di sini ..." Sembari mengelus perut rata Areta. "Tumbuh anak kita, buah cinta kita?" Saking bahagia dan berdebar, tangannya bahkan sampai gemetaran. Kabar bahagia ini membuat cintanya bertambah berkali-kali lipat. Ia bahkan telah bertekad dalam hati, akan berupaya menjadi suami dan ayah yang baik. Memastikan keluarga kecilnya tidak kekurangan cinta dan kasih sayangnya.
Areta bisa merasakan itu. Ia pun sama berdebarnya dengan Henry. Baru saja ia kehilangan buah hati tersayang, Tuhan ternyata telah menggantinya. Ia sungguh bersyukur. Terlebih Tuhan memberinya seorang suami seperti Henry.
"Ternyata kamu benar. Kalau kita bersabar, Tuhan pasti akan mengganti kesedihan kita dengan kebahagiaan. Aku tidak menyangka, begitu cepat Tuhan mengganti kesedihanku."
"Mulai sekarang, aku janji, aku akan selalu memperhatikan kamu. Aku akan memastikan istri dan calon anakku ini dalam keadaan baik-baik saja. Oh ya, ada satu hal yang ingin sekali aku lakukan. Dan aku ingin tahu pendapat kamu."
__ADS_1
"Tentang apa itu?"
*