
Bab. 26
Kehilangan separuh jiwanya, Areta melangkah lesu menuju ruang rawat Rosa. Setelah menyeka sisa-sisa air matanya, Areta lantas mendorong terbuka daun pintu ruangan tersebut. Namun langkahnya urung menghampiri begitu dilihatnya Angga tengah duduk di tepian tempat tidur sembari menggenggam jemari mungil Rosa.
Gadis kecil itu terlelap dalam tidurnya, dengan ventilator yang senantiasa terpasang di hidungnya. Saking lelapnya sampai gadis kecil itu tak menyadari kehadiran orang tuanya.
Areta berdiri mematung di depan pintu, memandangi punggung Angga dari kejauhan. Yang terlihat berguncang seperti pria itu sedang menangis. Yang sayangnya Areta sudah tak peduli lagi. Hatinya telah terlanjur terluka, diselimuti duka mendalam. Bahkan hati itu kini telah membeku. Kehangatan kasihnya telah tergantikan oleh kobaran api amarah, yang membuat kebenciannya kian membara.
Angga beranjak dari duduknya setelah melabuhkan kecupan sayangnya di kening Rosa. Langkahnya terhenti sejenak begitu melihat Areta tengah berdiri di depan pintu dengan berpaling muka.
Areta pun menggeser tubuhnya, memberi jalan kepada Angga untuk keluar dari ruangan itu. Areta tak ingin bertegur sapa. Ia sungguh benci melihat Angga.
"Maafkan aku, Areta." Kalimat itu Angga ucapkan bersamaan dengan bayangan dirinya yang menghilang dibalik daun pintu yang menutup.
Pun seiring bersama air mata Areta yang jatuh berderai tanpa permisi. Hati Areta sakit, perih bak teriris sembilu. Ia tak menyangka, nasib rumah tangganya akan berakhir seperti ini.
Namun, apa mau dikata. Ada keegoisan yang lebih menguasai. Dan ia hanya bisa pasrah menuruti keegoisan itu.
"Aku pastikan, Angga. Suatu saat nanti kamu akan menyesal," gumam Areta dengan sorot mata penuh kebencian. Kedua tangannya terkepal erat menahan getir di dadanya.
...
Pukul delapan malam Areta pulang ke rumah setelah memastikan Rosa telah beristirahat dengan baik. Areta tak tertarik lagi menyambung kata dengan Wirda. Wirda dan Angga bagi Areta sama saja. Ibu dan anak itu sama-sama tak punya hati. Mereka tak ingin susah, sehingga memilih jalan pintas dengan menerima tawaran Henry. Untuk itulah, begitu Wirda datang, Areta memilih pulang tanpa harus berbincang-bincang.
Namun, begitu tiba di rumah, Areta justru dikejutkan oleh pemandangan mengenaskan ketika ia membuka pintu kamar. Di dalam kamar itu berjejeran beberapa koper pakaian.
"Aku sudah mengemas semua barang kamu dalam koper itu."
Areta pun tersentak. Dikagetkan oleh suara Angga dari balik punggungnya. Lekas Areta menoleh.
"Apa maksud kamu?" tanyanya panik. Didera cemas seketika.
__ADS_1
Angga berjalan melewatinya, menghampiri deretan koper-koper itu.
"Aku sudah memutuskan akan menjual rumah ini. Uang hasil penjualan rumah ini akan aku gunakan untuk melunasi sisa hutang kita di bank. Dan aku akan tinggal di rumah ibu," ujar Angga. Secara tak tersirat, ia mengusir Areta dari rumah itu.
Areta terbata. Ia terkejut bukan main dengan keputusan sepihak Angga yang hendak menjual rumah yang mereka tempati selama ini. Areta tahu, rumah itu adalah hadiah pemberian mendiang ayahnya Angga sebagai hadiah pernikahan mereka. Bukan rumah mewah, hanya sebuah hunian sederhana.
Namun, meski begitu, Angga tidak berhak mengambil keputusan secara sepihak seperti ini. Jika rumah itu dijual, lalu ia dan Rosa akan tinggal di mana nanti? Di dunia ini, ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Angga dan Rosa.
"Jadi, maksud kamu, kamu mengusir aku dari rumah ini?" Maksud Angga tersirat dengan jelas. Areta bukan orang bodoh yang tak bisa memahami maksud ucapan Angga.
"Maafkan aku, Areta. Aku tidak punya jalan lain lagi untuk membebaskan kita dari hutang yang membelit. Hanya rumah ini satu-satunya yang bisa kita jual untuk menutupi hutang kita."
Hati Areta semakin teriris sembilu. Angga sendiri tahu bahwa dirinya tak punya tempat berteduh selain rumah ini. Namun mengapa Angga begitu tega mengusirnya.
"Baiklah. Aku bisa tinggal di salon. Silahkan kamu jual saja rumah ini." Areta pun memutar tubuhnya hendak keluar dari kamar itu saat Angga berkata.
"Kamu tidur saja di kamar ini. Biar aku tidur di kamarnya Rosa."
"Tidak usah. Biar aku saja yang tidur di kamar Rosa. Tidur di kamar ini membuat aku semakin membencimu saja." Areta lantas membawa ayunan langkahnya keluar dari kamar itu. Menyisakan Angga yang mematung memandangi punggung Areta sampai menghilang di balik pintu kamar.
Areta tidak tahu apa yang membuat Angga dengan mudahnya melakukan ini, hanya dengan berdalihkan demi kesembuhan Rosa. Ia pun tak tahu apa alasan yang melatarbelakangi Henry mempermainkannya seperti ini. Andai Henry memiliki dendam terhadapnya, ia akan rela menerima jika Henry ingin membalaskan dendamnya.
Malam semakin larut, namun Areta masih dibelai sakit hatinya. Memeluk guling erat, Areta menumpahkan tangisnya, membenamkan wajahnya pada guling. Hatinya miris, mengapa hidupnya semenyedihkan ini. Bahkan sampai detik ini pun, ia masih tak menyangka, mengapa Angga tega melakukan semua ini padanya.
...
Pagi hari menjelang, Areta sudah bangun dari tidurnya sejak subuh. Namun ia enggan beranjak dari tempat tidurnya. Jarum jam sudah menunjuk pada angka tujuh. Yang berarti Angga mungkin sedang bersiap-siap ke kantor. Mengingat Angga telah menjatuhkan talak kepadanya, ia pun enggan keluar kamar untuk membuatkan sarapan.
Areta keluar dari kamar Rosa setelah Angga berangkat ke kantor. Hal itu sengaja dilakukan Areta demi menghindari bertemu tatap dengan Angga. Yang membuat kebencian dihatinya semakin tumbuh subur untuk pria itu.
Memesan taksi online, Areta hendak ke salon dengan membawa serta beberapa koper yang berisi barang-barangnya. Baru saja taksi yang dipesannya melalui aplikasi tiba, ia lantas menggeret koper, dibantu si supir taksi menggeret koper yang lainnya. Saat tiba-tiba sebuah fortuner hitam menepi tepat di belakang taksi online.
__ADS_1
Dari mobil itu turun seorang pria dengan tampilan rapi datang menghampirinya.
"Anda yang bernama Areta Karenina?" tanya pria tersebut yang tidak lain adalah Fabian, sekretaris Henry.
Areta mengerutkan dahi kebingungan. "Iya. Itu saya. Anda siapa ya?" tanyanya mulai didera cemas.
"Saya Fabian, sekretaris Pak Henry Adiswara. Saya ditugaskan oleh Pak Henry untuk menjemput Bu Areta."
"Me-menjemput saya? Ke mana?"
"Nanti Bu Areta akan tahu." Tak berkata banyak, Fabian meraih koper dari tangan Areta. Menyimpannya ke bagasi mobil bersama koper-koper yang lain. Fabian lantas memberikan ongkos taksi kepada si supir. Si supir taksi pun kemudian bergegas tancap gas meninggalkan tempat itu.
"Mari, Bu. Ikut saya." Fabian berkata, membukakan pintu mobil, menyilakan Areta naik ke mobil tersebut.
"Tapi saya mau dibawa ke mana?"
"Silahkan, Bu. Saya tidak punya banyak waktu. Saya masih punya pekerjaan lain yang harus saya selesaikan. Dan saya hanya ditugaskan untuk menjemput Bu Areta. Mari, Bu. Silahkan."
Areta bergeming, seolah tak mengindahkan perkataan Fabian. Sebab hal ini masih mengejutkan baginya.
"Tolong bekerjasamalah Bu. Jika saya kembali dengan tidak membawa serta Bu Areta, bisa-bisa saya dipecat oleh Pak Henry. Tanpa pesangon sepeser pun." Fabian memasang wajah memelasnya demi meraih empati Areta akan nasibnya yang dipertaruhkan.
Merasa kasihan, Areta pun akhirnya menurut. Ia kemudian naik ke mobil itu. Mendudukkan diri di jok penumpang. Sejurus kemudian, fortuner hitam itu melaju membelah padatnya jalanan ibu kota.
Menempuh jarak yang cukup jauh, fortuner hitam itu pun akhirnya memasuki basement sebuah apartemen mewah. Dengan dibantu satpam, Fabian menggeret koper Areta. Membawanya sampai ke lantai sepuluh, dimana unit apartemen yang hendak mereka tuju berada.
"Mari, Bu. Silahkan." Fabian menyilakan Areta begitu pintu apartemen terbuka setelah ia menekan bel pintu.
Dengan diliputi kecemasan, Areta pun membawa langkahnya masuk. Namun ia terkesiap begitu netranya menangkap sosok Henry yang tengah berdiri di seberang, menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat datang calon istriku," ucap Henry.
__ADS_1
Membuat Fabian yang masih berada di ruangan itu pun terkejut.
*