Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
Following You


__ADS_3

Flo memasuki dapur dengan sedikit malas. Lingkaran hitam di matanya menunjukkan kalau ia kurang tidur. Wanita itu menuangkan air mineral karena rasa dahaga yang membuat tenggorokannya terasa kering. Flo hampir menjatuhkan gelas saat mendengar tawa seorang wanita yang sedikit asing. Dia berdecih. Ada rasa nyeri yang menghantam ulu hatinya. Padahal Flo berharap kalau pernikahan Dareen yang telah menyayat hatinya itu adalah mimpi buruk. Mimpi yang saat Flo bangun akan segera hilang. Namun, nyatanya … Flo memejamkan mata sejenak.


Benar. Anggap saja mimpi buruk. Mimpi yang harus segera Flo musnahkan. Untuk itu, Flo nggak boleh lengah. Flo harus segera bangun. Ia tidak boleh terlalu banyak tidur jika ingin membuat Dareen segera kembali ke pelukannya.


“Tumben jam segini udah bangun,” sindir Arini yang membuat Flo mengerjap dan memutarkan bola mata.


“Flo sudah bangun?” tanya Thalita yang terdengar sangat basi. Dengan malas, Flo mengangkat gelasnya menjawab pertanyaan Thalita.


Flo heran. Apa yang dilihat Dareen dari wanita dengan rambut sebahu ini? Dilihat dari sisi mana pun, Flo belum melihat kelebihan yang membuat wanita di depannya ini pantas bersanding dengan Dareen. Dia bukan wanita classy yang membuat Flo meradang iri. Bukan. Namun, jelas wanita ini berhasil membuat Flo iri dengan menyandang status sebagai istri Dareen Aditya.


“Wah, ternyata Thalita ini, udah cantik pinter masak lagi, ya,” puji Arini.


Mendengar itu, Flo mendelik. Demi apa, sih, ibunya harus muji-muji wanita ini di depannya? Ditambah tatapan mengejek yang diperlihatkan Arini. Jadi, ibunya sedang membandingkan dia dengan istri Dareen? Great!


“Perempuan memang harus gitu, bisa segala-gala. Jangan cuma pinter dandan doang. Biar lelaki tidak menyesal telah memilihnya sebagai pasangan hidup.” Arini melirik Flo yang lagi-lagi memutarkan bola mata.


“Ah, Mama bisa aja. Thalita juga masih belajar, kok.” Pipi Thalita sedikit bersemu merah.


“Bagus itu. Jadi perempuan memang jangan males dan harus mau belajar.” Arini memutar keran wastafel dan mulai mencuci sayuran. “Lain kali ajari Flo jadi perempuan bener, ya, Tha. Dia itu kebanyakan gaul sama Dareen dan Raka, jadinya-”


“Apa?” sahut Flo tidak terima. Benar, kan? Ujung-ujungnya nama dia dibawa-bawa. “Apa yang salah dengan pergaulanku sama bang Dareen dan bang Raka?”


“Mereka itu udah kaya kembar tiga yang nggak bisa dipisahkan,” terang Arini mengabaikan pertanyaan putrinya. “Mama sempat, lho, khawatir mereka akan menua bersama dan terjadi poliandri.”


Flo hampir tersedak mendengar ucapan Arini. Ibunya ini memang gila. Ibu macam apa yang membayangkan anaknya sendiri poliandri? Lagian Flo, kan, cuma ingin Dareen. Lelaki yang sudah direbut paksa oleh wanita sok asyik di depannya.


Liat saja. Senyum itu. Tawa itu, tidak akan bertahan lama. Jika aku tidak bisa memiliki orang yang aku cintai. Maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya juga.


“Untung Dareen udah ketemu kamu duluan, Tha. Mama sujud syukur karena anak perempuan Mama satu-satunya nggak jadi poliandri.”


“Terooooos aja teroooos, Ma. Ngomong ngelantur kemana-mana.” Flo meletakkan gelasnya dengan sedikit bersuara.


“Lihat, kan, kelakuannya, Tha? Emang harus diajarin manner anak itu.”


Flo menjulurkan lidahnya. Sementara Thalita terkikik geli melihat interaksi Arini dan Flo.


“Orang cantik dan seksi kaya Flo, mah, udah nggak usah diragukan lagi kefeminimannya.” Thalita menoleh ke arah adik iparnya.

__ADS_1


“Malah aku, lho, yang ingin belajar merawat diri sama Flo. Aku sering liat video kamu juga sebelum ketemu kak Dareen” katanya tanpa sadar telah membuat gigi Flo bergemeletuk.


Nggak peduli. Bodo amat. Nggak tersanjung. Flo hanya meresponsnya dengan senyum datar. Ia kemudian melenggang meninggalkan dapur agar ibunya bebas bergosip ria dengan kakak iparnya. Thalita hanya tersenyum geli dan merasa gemas dengan tingkah Flo yang menurutnya sangat lucu. Sedangkan Arini mengantarkan kepergiaan Flo dengan berbagai omelan khas emak-emak.


***


Flo memperhatikan Dareen yang baru saja selesai berolah raga di taman belakang rumah. Lelaki itu menyeka keringatnya sambil sesekali membuang napas. Dalam posisi itu, kadar ketampanan Dareen di mata Flo meningkat 100%. Refleks, Flo bergegas mengambilkan air mineral. Namun, langkah Flo melambat saat ia melihat Thalita sedang menyeka keringat Dareen dengan cekatan. Melihat mereka tertawa-tawa membuat Flo terkulai lemas. Tubuhnya sedikit bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.


“Sakit,” lirihnya. “Kenapa Bang Dareen lebih memilih wanita itu dari pada aku?”


Flo menarik napasnya sejenak. Dia bangkit dan mulai memperbaiki ekspresinya. Tidak. Ia tidak boleh kalah. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh kalah dari wanita itu. Fakta yang tidak bisa dibantah, Flo lebih dulu mengenal Dareen daripada Thalita. Ya. Tidak ada yang salah kalau ia masih memberikan perhatian pada Dareen. Yang salah adalah Thalita yang sudah berani masuk dalam kehidupan dia dan Dareen.


“Suplemen Abang.” Jelas Flo saat Dareen menautkan kedua alisnya. “Barang kali kak Thalita nggak tahu kalau Abang selalu membutuhkan suplemen ini,” tutur Flo sambil menatap Dareen dengan lekat.


“Makasih, ya.” Dareen mengambil suplemen tersebut meski sebenarnya ia enggan. “Tapi lain kali nggak usah. Biar Thalita yang menyiapkan semuanya.”


“Aku sudah terbiasa melakukan ini. Sulit untukku mengubah kebiasaan ini,” tukas Flo dengan suara yang sedikit bergetar.


“Aku tahu,” jawab Dareen datar. “Tapi biasakanlah. Mulai urus hidup kamu sendiri. Jangan khawatirkan Abang. Sekarang Abang sudah memiliki seseorang yang akan mengurus hidup Abang.”


Senyum Flo memudar saat Dareen mengusap pundak istrinya. Kedua tangan Flo mengepal seketika. Tahan. Tahan. Nggak boleh gegabah. Flo harus bermain cantik.


“Ya, karena kami saling mencintai satu sama lain,” ujar Flo yang membuat Dareen menatap adik tirinya itu dengan waspada.


Thalita menaikkan kedua alisnya. Entah kenapa ada gelenyar aneh yang ia rasakan saat Flo berkata begitu. Aneh. Umumnya, kan, hubungan kakak dan adik memang saling mencintai. Thalita menggelengkan kepala. Tidak. Ia tidak boleh cemburu.


“Sebagai kakak dan adik tentunya. Tidak lebih,” tegas Dareen yang membuat Thalita mengangguk mengiyakan. Wanita itu merutuk dirinya sendiri. Bodoh sekali. Ia sudah mencemburui iparnya.


“Tentu saja. Memangnya apa lagi?” Thalita tersenyum memandang Dareen dan Flo bergantian. “Kalian berdua, kan memang kakak-adik.”


Flo memutarkan bola mata melihat Dareen mengecup puncak kepala Thalita. Dareen benar-benar sedang berusaha melukai hatinya. Abangnya ini sedang berusaha mengusir Flo dalam kehidupannya. Tidak akan. Meski Flo melihat mereka berdua berciuman sekali pun tidak akan membuatnya menyerah. Tidak akan. Flo tidak akan menyerah untuk merebut Dareen dan memiliki Dareen seutuhnya. Lihat saja. Semua mimpi buruk ini akan segera berakhir.


***


“Secepat ini kalian pindah?” tanya Wijaya “Nggak akan nambah jatah seminggu lagi tinggal di sini, Ren?”  Wijaya menatap putra semata wayangnya yang menggelengkan kepala dengan tegas.


“Tidak, Pa. Kami harus mulai membiasakan diri hidup mandiri,” dan menjauhkan diri dari adik tiriku yang semakin hari semakin menyeramkan, lanjut Dareen dalam hati.

__ADS_1


“Ya, Papa, sih mendukung saja. Tapi, yakin, nih kalian akan pindah sore ini juga?” ulang Wijaya memastikan.


“Iya, Pa,” jawab Thalita. “Kami akan sering berkunjung ke sini. Kami juga akan senang kalau Mama, Papa, dan Flo bisa berkunjung ke rumah sederhana kami.”


Flo tersenyum sinis. Rumah sederhana? Maksudnya rumah mewah yang dibeli Dareen tiga tahun yang lalu? Rumah yang desainnya dibuat berdasarkan pendapat Flo dan Raka? Wanita ini sedang merendah untuk meninggi atau sedang mengejek Dareen dan meminta rumah yang lebih mewah dari itu?


Flo jadi curiga. Jangan-jangan Thalita adalah tipe wanita matre yang kerjaannya morotin suaminya doang. Apalagi Flo mendengar kabar kalau wanita ini mengundurkan diri dari pekerjaannya begitu memutuskan menikah dengan Dareen.


Bagaimana ini? Flo harus menyelamatkan Dareen dari wanita rubah ini. Flo tidak bisa membiarkan Dareen dimanfaatkan dengan seenaknya oleh wanita ini.


“Ya sudah kalau memang itu keputusan kalian. Papa mendukung. Papa cuma minta kalian jaga diri baik-baik, ya.”


Dareen dan Thalita mengangguk mengiyakan. Mereka menghembuskan napas lega. Terutama Dareen. Dengan begini, ia berharap akan segera lepas dari perasaan dihantui oleh adik tirinya sendiri.


“Thalita sering-sering main ke sini, ya. Ajarin si Flo jadi calon istri yang baik kaya kamu,” pinta Arini yang ditanggapi dengan tawa oleh Thalita.


Sementara Flo, tidak biasanya ia menyukai apa yang dituturkan ibunya. Untuk kali ini, Flo berterima kasih karena pernyataan sarkas ibunya telah menumbuhkan ide brilian.


“Bagaimana kalau aku ikut tinggal di rumah bang Dareen dan kak Thalita biar aku bisa belajar jadi istri yang baik?” tanya Flo dengan senyum mengembang lebar. Dia menatap Thalita dengan senyum termanisnya.


“Bagaimana Kak Thalita, boleh, kan, aku ikut tinggal bersama kalian? Hitung-hitung aku belajar jadi istri.”


“Tidak!” tegas Dareen. “Flo, bukankah kamu harus kembali ke Bali?”


“Tidak.” Flo menggelengkan kepala. “Zaman udah canggih, Bang. Aku masih bisa kerja dalam jarak jauh,” Flo kembali menatap Thalita.


“Bagaimana Kak Thalita. Boleh, kan, aku ikut tinggal di rumah kalian? Seperti kata mama, aku memang harus benar-benar belajar menjadi istri yang baik,” agar bang Dareen bisa kembali ke pelukanku.


Thalita menyunggingkan senyum membuat Dareen waspada seketika. Tubuh Dareen meluruh saat melihat Thalita menganggukkan kepala.


“Tentu,” jawabnya yang langsung membuat senyum smirk muncul dari bibir Flo.


Gotcha! Flo menatap Dareen dengan senyum termanisnya. “Sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan apa yang menjadi milikku. Tidak akan. Aku akan mengikuti kemana pun kamu pergi, Bang!” tekad Flo dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Dareen terangkat seketika.


[Bersambung]


Selamat membaca ^^

__ADS_1


Jangan lupa vote  terutama coment. 


Terima kasih 😊


__ADS_2