
Bab. 8
Sosok jelita itu adalah Mega Amalia. Seorang manajer keuangan, yang diketahui masih berstatus single. Belakangan ini wanita itu menjadi penyemangat Angga di kantor. Wanita yang menurut Angga cerdas, anggun, dan berdedikasi tinggi di tempat ia bekerja. Wanita yang menurutnya mengalahkan pesona Areta, istrinya.
Angan dan impian Angga mulai melambung. Membawanya terbang melayang-layang hingga lupa daratan. Angga yang hanya seorang staff biasa mengagumi sosok Mega. Wanita cantik, cerdas, dan menjadi incaran rekan-rekannya yang lain.
Angga tidak memiliki keberanian untuk mendekati dan mengutarakan perasaannya kepada Mega. Mengingat statusnya yang sudah menikah, serta jabatannya di kantor yang hanya seorang staff biasa. Sedangkan Mega adalah seorang manajer keuangan. Soal paras, Angga cukup tampan. Namun soal status, Angga berada di bawah Mega.
Mega merupakan salah satu orang kepercayaan Agatha dalam mengurusi keuangan perusahaan. Dan untuk mendekati Mega, minimal Angga memiliki jabatan yang setara dengan Mega. Untuk itulah Angga berusaha mencari muka kepada Henry, atasannya. Demi memuluskan tujuannya untuk meminta promosi kenaikan jabatan.
Angga tengah menikmati lamunannya sambil memandangi Mega dari kejauhan. Namun lamunannya harus buyar saat terdengar bunyi denting ponselnya.
Segera Angga merogoh kantong celana bahannya, mengambil ponsel dari dalam sana dan membuka pesan itu segera.
Areta
[Jangan lupa bekalnya dimakan ya😊. Oh ya, kalau kamu sempat, tolong kamu jenguk Rosa dulu sebentar. Kasihan dia nanyain kamu terus]
Angga meniupkan napasnya setengah kesal. Namun kemudian segera membalas pesan dari Areta.
Angga
[Iya. Tapi aku tidak janji]
Seperti itulah balasan pesan yang dikirimkan Angga. Membuat Areta yang berada di salonnya hanya bisa mendesah pasrah.
Areta sadar, ia tidak bisa memaksa Angga. Semakin dipaksa Angga akan merasa kesal. Ia hanya tidak mau diantara dirinya dan Angga terjadi pertengkaran nantinya. Lebih baik ia mengalah, menuruti saja setiap perkataan Angga. Toh, Angga sedang bekerja keras demi dirinya dan Rosa.
"Maaf, Bu Areta." Tiba-tiba Areta dikagetkan salah satu karyawan salonnya.
Sontak Areta menoleh, mengembalikan fokusnya yang sempat buyar akibat memikirkan Angga.
"Ya, ada apa Lis?"
Lisa menoleh sejenak ke seberang, dimana sedang berdiri seorang wanita paruh baya nan cantik yang sedang menelisik setiap sudut ruangan salon. Wanita itu terlihat seperti kurang nyaman berada di salon Areta.
"Itu, Bu. Ada pelanggan meminta layanan creambath. Tapi dia maunya Bu Areta langsung yang melayani. Katanya dia kurang yakin dengan pelayanan karyawan. Dia ingin pemiliknya langsung yang menangani." Lisa berkata pelan dan hati-hati agar tidak terdengar oleh pelanggan yang baru itu.
Areta mengerutkan dahinya, melirik sejenak wanita paruh baya tersebut.
"Iya, baiklah. Biar saya yang tangani. Kamu layani pelanggan yang lain saja."
"Baik, Bu. Saya permisi." Lisa bergegas keluar dari ruangan Areta yang berdinding kaca tersebut.
Seperginya Lisa, Areta pun beranjak keluar dari ruangannya, menghampiri wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Ehem ..." Areta berdehem untuk meminta perhatian wanita tersebut.
Wanita itu terkejut, menoleh cepat kepada Areta.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Areta sopan.
"Kamu pemilik salon ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Areta, wanita itu malah balik bertanya.
Areta mengulum senyumnya. "Iya, saya pemiliknya. Saya Areta."
"Kenalkan, saya Agatha." Agatha mengulurkan tangannya. Dan disambut ramah oleh Areta.
"Maaf, sebelumnya. Apa Ibu kenal saya?"
"Saya hanya direkomendasikan teman saya tentang salon ini. Saya pikir salon ini ..." Areta menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Cara Agatha meneliti salon itu tampak seperti meremehkan.
Dan Areta sudah terbiasa diremehkan seperti itu. Untuk itulah Areta bersikap biasa-biasa saja saat ada yang meremehkan salonnya. Salon Areta memang bukan salon mewah. Hanya salon sederhana, namun Areta bisa menjamin pelayanan salonnya tak kalah memuaskan dengan salon-salon mewah.
"Emm, maaf, saya dengar creambath di salon ini bagus. Untuk itu saya ingin mencobanya. Apa benar seperti yang dikatakan teman saya," kata Agatha mengalihkan topik secepatnya. Agar tidak terlalu membuang-buang waktu berada di salon yang bukan kriterianya tersebut.
Areta tersenyum. "Bu Agatha bisa memberikan penilaian setelah di creambath. Jika hasilnya tidak memuaskan, Bu Agatha tidak usah membayar sepeser pun. Dan saya harap, Bu Agatha tidak kembali lagi ke salon ini. Mari, Bu." Sebuah jawaban yang bijak, namun memukul telak Agatha.
Agatha pun tak berkata-kata lagi. Hanya bisa menurut saat Areta mengajaknya duduk di tempat creambath.
Menunggu rambutnya selesai dikeringkan sekaligus ditata, Agatha melakukan video call. Untuk menghilangkan jenuhnya, Agatha memilih menghubungi Henry.
"Anak Mama yang ganteng, sedang sibuk ya?" Agatha langsung menyembur begitu panggilan terhubung. Ia terkikik geli melihat wajah kesal Henry memenuhi layar ponselnya.
"Mama kurang kerjaan, ya? Senang sekali mengganggu orang yang lagi sibuk?" Henry menyahuti setengah ketus beserta dengan mimik wajah kurang bersahabat. Yang membuat Agatha malah semakin terkikik geli.
...
Henry baru saja selesai menghabiskan bekal yang diberikan Angga untuknya. Sedangkan Fabian pamit kembali ke ruangannya setelah selesai sarapan bersama Henry.
Henry baru saja membuka laptop, hendak menyelesaikan pekerjaan yang tertunda saat tiba-tiba Agatha menghubunginya via video call.
Dengan kesal Henry pun menjawab panggilan ibunya.
"Mama kurang kerjaan ya? Senang sekali mengganggu orang yang lagi sibuk?" Sengaja Henry memasang wajah kesal kurang bersahabatnya agar sang mama mengakhiri video call nya.
"Jangan sewot dong Mr. Jomblo. Nanti tambah lama lakunya." Agatha malah terdengar meledek. Membuat Henry merotasikan bola matanya jengah.
Tak memungkiri, Henry selalu saja kesal jika Agatha mulai menyindir statusnya yang masih single. Bukannya tak mampu mencari wanita, hanya saja ia belum menemukan wanita kriterianya sampai hari ini. Sebab hanya ada satu wanita yang masuk ke dalam kriterianya, yaitu Areta.
Henry berharap semoga saja Areta masih sendiri. Jika memang harapannya benar adanya, maka kali ini ia akan mengumpulkan keberaniannya. Bukan hanya untuk mendekati, tetapi juga untuk mengutarakan perasaannya.
__ADS_1
"Mama lagi di mana sih?"Â tanya Henry ketus.
"Lagi di salon sayang. Mama lagi creambath."
"Di salon langganan Mama?"
"Bukan. Ini salon yang direkomendasikan Tante Wina kemarin ke Mama. Ternyata Tante Wina bener loh. Pelayanan di salon ini tuh memuaskan. Ini Mama baru aja selesai creambath." Agatha mengangkat ponselnya. Memperlihatkan rambutnya yang sedang dikeringkan. Sekaligus sekilas memperlihatkan si tukang salon yang tengah melayaninya.
Henry pun melihatnya sekilas. Berlagak malas.
"Sudah dulu ya, teleponnya Mama tutup. Nanti kita ngobrol lagi setelah kamu free. Oke?" Kata Agatha dari seberang.
Namun tiba-tiba saja Henry terhenyak. Lalu menoleh cepat ke layar ponselnya.
"Eh, Mah, Mah, tunggu. Jangan ditutup dulu," serunya tiba-tiba, terkesan antusias.
Pada layar ponselnya, Agatha terlihat berkerut dahi.
"Loh, kenapa?"
Kini Henry memfokuskan matanya pada layar ponselnya. Sembari ia berkata,
"Coba Mama geser sedikit handphone Mama."
"Geser ke mana?"
"Ke atas."
Dengan mimik kebingungan Agatha menggeser sedikit ke atas ponselnya. Dan menampakkan Areta yang tengah mengeringkan rambutnya. Detik berikutnya Agatha kembali memfokuskan kamera ponsel ke wajahnya.
Seperti mendapatkan asupan energi baru, Henry kini terlihat bersemangat. Sebab yang terlihat di layar ponselnya jelas adalah Areta, si wanita dambaan. Hal itulah yang mencuri perhatiannya tiba-tiba, lalu mengundang rasa penasarannya mendadak.
"Mah, Mama tunggu di situ sebentar. Jangan ke mana-mana dulu. Aku ke sana sekarang. Mama share lock aja lokasi Mama sekarang." Henry berkata terburu-buru sembari menutup laptop. Lalu berdiri, meraih blazer yang ia gantung di gantungan kayu.
"Memangnya kamu ke sini mau ngapain?" Agatha terdengar setengah memprotes.
"Mau jemput Mama lah."
"Tidak perlu. Mama ke sini bersama supir kok. Tidak perlu repot-repot menjemput Mama."
"Pokoknya Mama share aja lokasi Mama. Aku ke sana sekarang. Tidak usah banyak tanya lagi. Oke?" Henry mengakhiri sambungan video call. Setengah berlari ia keluar dari ruangannya. Bahkan ia tak sabaran menekan tombol lift.
"Areta, i am coming!" serunya bersemangat dengan senyum terukir lebar di wajahnya.
*
__ADS_1