Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
Tak Ada Pria Baik


__ADS_3

“Sorry, Mas. Aku nggak bisa terima kerjaan itu sekarang,” ucap Flo pada Rudi, managernya.


“Ini udah empat kali, lho, kamu nolak kerjaan, Flo. Uang semua itu,” Rudi berkata sedikit frustrasi. Hilang sudah bayangan untuk jalan-jalan ke Eropa dari ATM berjalannya itu. Pasalnya jika bukan Flo, komisi yang didapatnya hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.


“Ya elah, Mas, kayak nggak ada trainer lain aja,” kelakar Flo membuat Rudi berdecak sebal. Flo sudah tahu sikap managernya yang mata duitan.


“Jangan-jangan situ emang sengaja mau bikin saya miskin, ya?” tuduh Rudi.


“Idih. Nggak kebalik? Bukannya saya yang bikin rekening anda menggendut?” Flo terbahak,membayangkan betapa kesalnya Rudi sekarang. Dia memang tidak kemayu, tetapi memiliki sejuta ekspresi yang sering kali membuat trainer-trainer lain gemas untuk tidak menggodanya.


“Jadi, kapan kamu akan mengisi rekening saya yang udah mulai mengurus?” tanya Rudi kemudian.


“Kapan, ya?” Flo pura-pura mempertimbangkan. “Kapan-kapan aja, deh, ya.” Flo kembali terbahak.


Flo mengerjapkan mata saat sebuah kilatan terasa mengganggu penglihatannya. Wanita itu menoleh ke arah kanan dan melihat seorang pria yang terkekeh sambil menenteng kamera membuat bola matanya berputar. Flo lupa kalau di rumah Dareen juga ada penghuni dari dunia lain.


“Seru banget, sih, lagi telponan sama siapa?” tanya pria bernama Fauzan itu.


Flo menautkan alisnya lalu mulai menggerutu kesal. Dia menganggap Fauzan terlalu kepo untuk sesuatu yang bukan urusannya sendiri. Selain itu, dia tidak suka dengan sikap Fauzan yang berkeliaran di rumah orang lain. Sudah mirip pengangguran. Terlebih Fauzan hanya menumpang tapi bersikap tidak tahu diri.


Flo memilih mengabaikan pertanyaan Fauzan dan melenggang menuruni tangga. Dia malah mulai menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh Dareen. Seingat Flo, Dareen masih cuti. Flo menuruni tangga sambil mengikat rambutnya yang tergerai.


“Sebuah trik yang cukup lumayan untuk menggoda pria,” komentar Fauzan membuat Flo yang tadinya mengabaikan keberadaan pria itu langsung membalikkan badan.


“Coba ulangi!” perintah Flo sedikit tersinggung.


“Sebuah trik yang cukup lumayan untuk menggoda pria,” ulang Fauzan. “Memakai baju ketat dengan pose menggulung rambut. Bukankah itu ciri-ciri wanita yang ingin digoda?” Fauzan tersenyum miring.


Rahang Flo sedikit mengeras. Pria ini benar-benar minta dihajar. Flo tidak menampik jika memang tujuannya tinggal di rumah ini adalah menggoda Dareen, tapi mendengar itu dari mulut Fauzan membuatnya tidak terima. Flo kembali membalikkan badan. Rasa-rasanya ia tidak perlu membuang energinya untuk meladeni pria ini. Anggap saja kaset rusak.


“Yah, wajar, kalau wanita yang tidak berhasil menggagalkan pernikahan kekasihnya mencoba menggoda lelaki single.  Seorang fotografer profesional yang masa depannya cerah.”


“Pardon?” Flo menghentikan langkahnya. “Aku? menggoda siapa?” Flo jadi ingin tertawa sekeras-kerasnya. Tapi ditahan. “Fotografer profesional? Siapa ya?”


Flo menolehkan kepala ke kanan dan kiri. Bermaksud mengejek. Namun, ada rasa sesak saat melihat Dareen dan Thalita berjalan bergandengan. Sempat tercenung beberapa saat, Flo menghambur berlari menuju pasangan pengantin baru tersebut. Mengabaikan ocehan Fauzan yang terasa tidak penting.


“Bang Dareen!” panggil Flo. “Mau ke mana?” tanyanya saat Dareen dan Thalita sudah berada di ambang pintu.


“Supermarket,” jawab Thalita dengan senyum khasnya. “Flo mau nitip sesuatu?” tawar Thalita yang membuat Dareen merasa kesal dengan keramah-tamahan istrinya.


“Ikut!” seru Flo.

__ADS_1


Thalita hampir saja mengiyakan saat Dareen meminta tolong Flo saja yang pergi.


“Terus Bang Dareen dan Kak Thalita ngapain?” tanya Flo sedikit kesal.


“Beres-beres rumah,” ujar Dareen yang membuat Thalita akhirnya menganggukkan kepala menyetujui.


“Nggak berani sendiri,” keluh Flo. “Mending aku sama Bang Dareen aja, ya?” pintanya yang membuat Dareen mengeraskan rahang. Entah bagaimana mengendalikan adik tirinya ini. Yang jelas Dareen harus waspada dengan gelagat Flo.


“Kamu ditemani Fauzan aja,” usul Dareen saat melihat Fauzan melangkah mendekati mereka.


“Nah, iya. Zan, temenin Flo ke supermarket, ya? Kasian Flo nggak berani sendiri,” seru Thalita yang membuat mata Flo mendelik pada iparnya itu.


Beruntung Dareen langsung mengajak istrinya membongkar perlengkapan yang belum sempat dibereskan. Dareen mencoba membuat Thalita tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Flo. Bahaya. Sementara Fauzan langsung menyunggingkan senyum smirk-nya. Membuat Flo ingin menendang pria itu ke Bikini Botom.


***


Flo mengusap air matanya. Bayangan beberapa pemuda yang mencoba mengganggunya terus menghantui. Godaan diselingi dengan tawa yang tidak senonoh membuat Flo ketakutan. Beruntung Dareen dan Raka tidak pernah jauh-jauh dari hidup Flo. Meskipun kedua pria itu sudah memasuki bangku kuliah dan Flo masih berseragam putih-abu. Ketiganya masih lengket jalan bersama dan tidak terpisahkan.


“Udah tenang Flo, kan udah ada Abang dan bang Raka,” bujuk Dareen. “Mereka udah nggak akan pernah ganggu kamu lagi.”


“Aku takut,” gumam Flo. “Apa cowok selalu menyeramkan begitu?”


Flo membayangkan masa kecilnya yang sering melihat bagaimana perlakuan ayahnya yang kejam. Flo menggelengkan kepala. Ia tidak mau menikah. Melihat ayahnya. Melihat pemuda-pemuda tadi membuat Flo merasa bahwa tidak ada lelaki baik di dunia ini.


“Gara-gara kejadian tadi?” tanya Raka membuat Flo menggelengkan kepala.


“Ayah kandungku jahat. Lelaki tadi jahat. Nggak ada lelaki baik di dunia ini.”


“Lalu kamu anggap kami berdua apa, Flo? Apa kamu menganggap papa juga jahat?” tanya Dareen sedikit emosi.


Flo menatap kedua lelaki di depannya. Gadis itu menggelengkan kepala. Baginya, tidak ada pria baik kecuali Dareen, Raka dan papanya.


“Aku tetap tidak mau menikah.” Flo menundukkan kepala. Gadis itu tidak pernah jatuh cinta dan tidak pernah percaya pada siapa pun, kecuali Dareen dan Raka. Walau Dareen yang teristimewa baginya. Kalau saja mereka bukan kakak-adik Flo ingin sekali berhubungan dengan pria sebaik Dareen. Pria yang pertama kali mengajaknya bersalaman dan bermain bersama Raka.


“Kamu nggak boleh ngomong gitu, Flo. Kita berdua sayang sama kamu,” ungkap Raka.


“Aku tahu,” jawab Flo. “Tapi apakah salah satu di antara kalian ada yang mau menikah denganku? Tidak, kan?” Flo tersenyum miris.


“Tentu ada,” ungkap Dareen riang. Ia melirik ke arah Raka yang menundukkan kepala.


“Apa Bang Dareen mau nikah sama aku?” tanya Flo mulai menyunggingkan senyum. Apa jangan-jangan Dareen juga mempunyai perasaan yang sama dengan Flo? Dareen mengerjapkan mata. Bukan dia. Tentu saja bukan dia.

__ADS_1


“Bang Dareen mau nikah sama aku?” ulang Flo sedikit lebih antusias. Dareen dan Raka saling bertatapan.


“Flo, maksud Abang-”


“Janji Bang Dareen mau nikah sama aku?” potong Flo. Membuat Dareen menggaruk tengkuknya dan menatap Raka untuk kesekian kalinya. Raka, lelaki itu mengangguk memberikan isyarat pada sahabatnya itu.


“Ya,” ucap Dareen yang membuat Flo langsung menghambur ke pelukan pria itu. Flo juga memeluk Raka. Bagi Flo semua pria sama bejadnya. Sama jahatnya kecuali Dareen dan Raka.


***


Tidak ada pria baik, kecuali Dareen dan Raka. Sampai sekarang Flo masih meyakini kata-kata itu. Bahkan Rudi sekali pun baginya hanyalah seorang pria mata duitan yang sering mematahkan hati wanita. Sekarang, di hadapannya, Flo menyaksikan seorang pria yang super menyebalkan. Kerjaannya hanya memotret ini dan itu. Ibu-ibu menggendong anak. Anak-anak yang tertawa-tawa di dalam trolley. Bahkan mbak-mbak yang lagi menimbang telur.


“Dasar norak,” gumam Flo yang membuat Fauzan menggantungkan kameranya di dada.


“Pardon?” Fauzan menirukan gaya Flo. “Aku? Norak?”


Flo lebih memilih mengabaikan pria itu. Dia melenggang menuju kasier mendorong trolley-nya. Dan Flo harus menarik kupluknya ke atas kepala saat Fauzan terus mengoceh betapa professionalnya dia sebagai fotografer. Di mobil, Flo juga pura-pura tidur. Lelaki ini begitu cerewet.


“Kamu pasti bakalan jadi artis terkenal di tangan fotografer kaya aku,” ucap Fauzan bangga. “Percaya, deh, kamu bakalan jadi artis.”


Flo membuka matanya jengah. Manusia ini benar-benar tidak mengerti kode. Jelas-jelas Flo sudah menutupkan mata untuk tidak mau terlibat interaksi dengan pria aneh ini.


“Yakin situ fotografer?” tanya Flo yang membuat senyum mengembang dari bibir Fauzan. Akhirnya wanita ini membuka suaranya juga.


“Oh sudah jelas. Tidak perlu diragukan lagi,” jawabnya jumawa.


“Lalu fotografer macam apa yang tidak mengenal seorang Fleuriandra?” Flo tersenyum tipis. “Yang jelas bukan fotografer professional.”


“Memangnya siapa Fle … Fle … Fleran ... da itu?” Susah amat heran, deh. Batin Fauzan. Flo tersenyum sinis.


“Yang jelas fotografer abal-abal tidak akan mengenalnya.” Flo kembali memejamnya mata. Telinganya ia sumbat dengan headsheat. Sombong memang harus dibalas dengan sombong. Semoga pria ini segera sadar diri.


Sampai rumah, Flo buru-buru berteriak memanggil nama Dareen. Hening. Bukannya mereka sedang beberes rumah? Dapur sepi. Ruang tamu sepi. Ruang keluarga sepi. Ruang makan apalagi. Flo berlari dan mendobrak kamar Dareen. Tidak ada siapa pun.


“Nitip rumah, ya. Aku dan Kak Dareen mau honey moon dulu. Yang akur kalian berdua. Xi-Xi”


Flo menoleh ke sumber suara dan mendapati Fauzan yang sedang mengipas-ngipaskan sebuah post note. Dengan tergesa, Flo merebut kertas itu. Isinya sesuai apa yang dibacakan Fauzan barusan. Dengan kesal, Flo meremas kertas itu.


“Tidak mungkin!” Flo menggelengkan kepala, tidak sanggup menerima kenyataan. Tubuhnya jatuh terkulai. Sebisa mungkin, Flo mencoba menahan jeritannya. Ia bertekad untuk menyusul Dareen dan Thalita.


[Bersambung]

__ADS_1


Jangan lupa vote and coment, ya. 😇 


Timaaciwww 😘😘😘


__ADS_2