
Bab. 12
"Areta?"
Sontak Areta menoleh. Namun dahinya berkerut ketika melihat Henry berdiri di seberang tersenyum memandanginya.
Dahi Areta semakin berkerut saat Henry malah datang menghampirinya. Tampilan Henry yang rapi dibalik jas yang dikenakannya itu membuat Areta bertanya-tanya dalam benaknya.
Beberapa jam lalu, saat Henry datang ke salonnya, pria itu hanya mengenakan kemeja dan dasi saja. Tetapi kini, pria itu tampak berbeda dalam balutan jas abu-abu tua yang dikenakannya.
"Hai Areta. Kita bertemu lagi." Henry menyapa, mengulum senyuman manisnya. Sebagai seorang pria, ia tahu ia lancang mencoba mendekati wanita yang sudah bersuami. Namun gejolak perasaannya tak bisa memungkiri, meski kenyataan membuatnya kecewa bahkan menghancurkan harapannya. Namun mengagumi wanita itu apa salahnya.
"Maaf, apa Anda bekerja di tempat ini juga?" Areta bertanya sungkan.
"Ya, begitulah. Oh ya, Areta, aku rasa aku harus memperkenalkan diriku padamu. Agar kamu tidak bersikap formal lagi padaku. Areta, kenalkan ..." Henry pun mengulurkan tangannya.
Namun Areta merasa sungkan meraih uluran tangan Henry. Mengingat status dan tempat di mana ia berada saat ini. Areta hanya tak ingin ketika ia meraih uluran tangan Henry, bertepatan dengan kedatangan Angga. Lalu Angga malah menaruh prasangka kepadanya.
Henry masih mengulurkan tangannya, menunggu Areta menyambutnya.
"Areta, mungkin kamu tidak mengenaliku. Atau bahkan mungkin kamu sudah lupa siapa aku. Tapi aku tidak pernah melupakanmu."
"Em ... Em ..." Areta bingung harus menanggapinya bagaimana. Sungguh ia merasa sungkan terhadap Henry.
"Maaf tadi saya ada urusan mendesak. Jadi saya tidak bisa mengobrol dengan Anda. Dan sekarang pun saya dalam keadaan mendesak." Hanya itu yang bisa Areta berikan sebagai alasannya.
Henry kembali mengulum senyum. "Areta, maaf. Mungkin aku membuat kamu sedikit tidak nyaman." Sembari menarik kembali uluran tangannya yang tak diindahkan sama sekali oleh Areta. Henry pun paham mengapa Areta mengabaikan uluran tangannya.
Areta hanya menyunggingkan senyumnya sekilas.
"Mungkin kamu masih ingat seorang laki-laki yang ngasih kamu air mineral di taman sekolah waktu itu? Seorang laki-laki yang kamu bagi bekal yang kamu bawa," kata Henry mengingatkan Areta sepenggal kenangan beberapa tahun silam.
Areta mengerutkan dahinya menatap Henry yang justru semakin melebarkan senyumnya. Areta masih mengingat hal itu. Dan seingat Areta laki-laki itu bertubuh gempal dan berkacamata tebal. Bahkan dekil. Mustahil jika laki-laki itu adalah Henry. Sebab jika dibandingkan, perbedaannya sangat mencolok. Teramat jauh, bagaikan bumi dan langit.
"Itu aku. Henry Adiswara."
Areta tercengang. Mulutnya menganga tak percaya. Bagaimana bisa laki-laki itu adalah Henry. Areta sudah lupa dengan namanya, namun rupa laki-laki itu Areta masih bisa mengingatnya.
Areta memindai Henry dari ujung rambut sampai ke ujung sepatunya. Sungguh perbedaannya sangat jauh terlihat. Henry yang dulu adalah Henry yang dekil, dan bertubuh gempal. Sedangkan Henry yang ada di hadapannya ini, adalah Henry yang ...
__ADS_1
Henry yang ...
Areta membuang pandangannya. Matanya tak memungkiri, Henry yang sekarang adalah Henry yang gagah rupawan. Dengan sekali melirik saja, daya pikat pria itu mampu memesona setiap wanita yang memandangnya. Termasuk ia sendiri.
Namun ia sadar diri. Ia telah bersuami. Dan tidak sepantasnya ia mengagumi pesona pria lain.
Membasahi bibir, Areta mengusap tengkuknya malu. Malu pada diri sendiri. Sebelumnya ia sempat merasa familiar dengan wajah Henry. Ia merasa seolah pernah melihat Henry jauh sebelum mereka bertemu saat ini. Namun ternyata dugaan sepintas nya itu benar adanya.
Yang ia tak menyangka adalah pria rupawan nan gagah itu ternyata adalah pria gempal dan dekil dahulu. Yang memberinya minum saat ia tersedak kala itu. Ia pun tak segan membagi bekalnya pada pria itu.
"Tapi, kenapa sampai kelulusan aku tidak pernah melihat kamu lagi?" tanyanya pada akhirnya. Mengingat sejak kenaikan kelas sampai tiba hari kelulusan, ia tak pernah melihat pria itu lagi.
"Aku pindah sekolah waktu itu. Sebenarnya aku ingin sekali berpamitan dengan kamu. Tapi waktuku tidak banyak."
Areta tersenyum sekilas, melirik puk sekilas. Ia merasa malu dan tahu diri jika bersitatap dengan Henry.
"Oh ya, kamu ada keperluan apa datang kemari? Ada yang bisa aku bantu?" Henry bertanya, menelisik raut wajah Areta yang tampak sungkan namun cemas itu.
"Em ... Aku mau ber_"
"Areta!" Namun tiba-tiba suara Angga terdengar memanggil setengah lantang.
"Ga, maaf aku tidak memberitahu kamu dulu kalau aku datang ke sini. Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Areta langsung menyemburkan penjelasan sebelum mengundang kesalahpahaman Angga.
"Lain kali kamu bisa kan tunggu aku sampai pulang kantor dulu?" Angga terlihat kesal, setengah memelototi Areta. Namun Angga belum menyadari siapa yang tengah berdiri diantara mereka.
"Angga?" Henry pun menyapa. Merasa penasaran dengan hubungan Angga dan Areta.
Angga tersentak, menoleh cepat ke arah Henry.
"Eh, Pak Henry?" Angga pun terlihat risih. Sangat kentara dari bahasa tubuhnya, berkali-kali menggaruk tengkuk. Bahkan gesturnya terlihat kurang nyaman. Entah karena ia malu disambangi istrinya langsung ke tempat kerjanya, ataukah memang ada hal lain yang membuat Angga tak nyaman.
"Oh iya, Pak Henry. Kenalkan, ini istri saya. Areta." Angga tak lupa memperkenalkan Areta kepada atasannya.
Dan Henry malah terdiam. Hanya bola matanya bergulir menatap Angga dan Areta bergantian. Satu fakta lagi yang membuatnya terkejut, yaitu ternyata wanita yang dikaguminya itu adalah istri bawahannya sendiri. Lalu bagaimanakah ia harus bersikap?
Ataukah ia manfaatkan saja kedudukannya saat ini untuk bisa mendekati Areta?
Sial.
__ADS_1
Henry mengumpat dalam diamnya. Merutuki segala pikiran bodoh dan ide-ide gila yang mulai merecoki kepalanya.
Namun sungguh ia tak bisa mencegah gejolak yang timbul dalam dirinya akibat perasaannya yang begitu kuat terhadap Areta. Bahkan perasaan itu mampu menyingsingkan akal sehatnya sejenak.
"Areta, yang sopan dengan atasanku." Angga berbisik di telinga Areta. Yang langsung dipahami Areta dengan mengulurkan tangannya kepada Henry.
"Saya Areta, Pak. Istrinya Angga." Sembari mengulum senyum Areta bertutur santun.
Henry pun menerima uluran tangan Areta, menggenggamnya erat seakan tak ingin melepasnya. Disertai tatapan lekat hampir tak berkedip.
Membuat Areta risih serta salah tingkah. Areta berusaha menarik kembali tangannya, namun Henry malah semakin mempererat genggamannya.
Angga keheranan, melihat Henry terpaku dengan tangan masih menggenggam tangan Areta. Serta tatapannya yang terpaku kepada Areta. Seolah Areta dan atasannya itu sudah saling mengenal. Hal itu yang melintas sekilas dibenak Angga.
Henry masih terdiam, menatap lekat wajah Areta. Ia semakin hanyut, terbawa suasana hatinya sendiri. Sampai Angga mengagetkannya.
"Pak? Pak Henry?" panggil Angga.
Henry pun terhenyak, melepas cepat genggamannya.
"Sorry," ucap Henry singkat. Salah tingkah karena sempat lupa diri. Ia bahkan lupa jika wanita yang dikaguminya itu telah bersuami. Ia mengikuti nalurinya sebagai lelaki, mencurahkan perasaannya melalui genggaman tangannya.
"Saya mohon ijin sebentar ya Pak? Ada yang harus saya bicarakan dengan istri saya. Permisi, Pak Henry." Bergegas Angga beranjak sambil menarik pergelangan tangan Areta. Menyeretnya menjauh, membawa sampai ke luar gedung.
"Kamu kenapa ke sini? Kan aku sudah pernah bilang, jangan datang ke kantor ini kalau urusan yang lebih penting." Angga mengomel setengah menghardik.
"Rosa harus dioperasi. Aku ke sini untuk memberitahu kamu hal itu. Aku sudah berusaha menghubungi kamu, tapi handphone kamu tidak aktif."
"Maaf."
"Satu hal lagi yang ingin aku beritahu. Tabunganku tidak cukup untuk biaya operasi Rosa."
"Lalu?"
"Apa kamu bisa pinjam dulu dari kantor kamu?"
"Apa kamu bilang? Kamu ini sudah gila ya?" Angga terkejut. Tentu saja ia tak bisa menyanggupi permintaan Areta. Sebab meminjam dari kantor, itu artinya ia harus berhadapan dengan Mega, manajer keuangan. Dan hal itu akan membuatnya malu sekaligus menjatuhkan imagenya di depan Mega.
*
__ADS_1