
Bab. 36
Mentari menyembul, memancarkan cahayanya menyinari dunia. Dengan wajah berseri-seri Henry menuruni anak tangga sembari mengancingkan jasnya.
Menarik satu kursi, lantas mendaratkan pantatt di sana, ukiran senyum tak pernah lepas dari wajah Henry. Membuat Agatha yang sedang mengolesi roti tawarnya dengan selai stroberi itu pun ikut tersenyum senang melihat sang putra berseri-seri bahagia.
"Cerah sekali mukanya pagi ini?" Agatha menggoda, menyindir dari kalimatnya.
"Yap, Mama benar sekali. Karena hari ini aku sangat bahagia." Henry masih tersenyum, mengambil roti tawar lalu mengolesinya dengan selai. Saking bahagianya ia, sampai tak menyadari selai yang diambilnya adalah selai kacang.
"Henry!" Agatha memekik begitu Henry hendak memasukkan roti itu ke mulutnya.
Henry terkejut, memandangi Agatha heran.
"Bahagia sih bahagia. Tapi bukan berarti kamu harus mencelakakan diri kamu seperti ini."
Henry pun tersadar. Rupanya ia salah mengambil selai. Untung saja Agatha mengingatkannya. Jika tidak, mungkin saja ia akan terbaring di rumah sakit hari ini karena alergi. Ya, ia alergi terhadap kacang-kacangan.
"Hampir saja." Ia bernapas lega setelah lolos dari musibah.
"Oh ya, gimana hubungan kamu dengan Areta? Sudah berapa lama sih kalian pacaran? Kok baru sekarang kamu ngenalin Areta ke Mama? Berarti waktu kita ketemu di salon tempo hari itu kamu sudah berhubungan dengan Areta?" cecar Agatha penasaran.
Henry hanya tersenyum, tak menjawab cecaran pertanyaan Agatha. Ia kemudian malah bangun dari duduknya, hendak beranjak.
"Aku pergi dulu Ma. Banyak kerjaan nih yang harus aku selesaikan," ucapnya sembari melirik arloji.
"Eh, pertanyaan Mama belum dijawab, Henry. Terus kapan kamu mau mengajak Areta ke rumah ini? Apa kamu sudah melamar dia secara resmi?" teriak Agatha yang tak terima Henry malah mengabaikan pertanyannya.
"Nanti saja kita bicarakan soal itu. Yang jelas, secepatnya aku akan menikah. Mama tidak perlu melakukan apa-apa. Pokoknya Mama tinggal terima beres," ujar Henry sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu utama.
Bukannya Henry tak ingin Agatha mengetahui banyak informasi tentang hubungannya dengan Areta. Hanya saja ia sedang menghindari hal-hal yang mungkin saja terjadi. Lalu pada akhirnya malah akan mengacaukan semua rencana yang telah ia atur jauh-jauh hari. Apalagi jika sampai Agatha tahu jika Areta masih memiliki ikatan pernikahan dengan Angga.
Sembari melangkah panjang menyusuri lobi kantor, Henry tengah menerima panggilan telepon dari Galih. Yang mengabarkan jika pengajuan gugatan cerai Areta sudah memasuki proses.
Henry semakin senang mendengar kabar tersebut. Ia pun jadi semakin tak sabar ingin segera mengikat Areta dalam ikatan yang resmi. Hasratnya kian menggebu, memantik semangat dalam diri, membuatnya semakin bergairah menjalani hidup.
__ADS_1
Sementara di lain tempat.
Mendengar kabar Rosa sudah siuman, Areta pun bergegas menemui putri kesayangannya itu. Membawakan banyak buah juga membelikannya boneka Teddy Bear yang baru, berukuran dua kali lipat lebih besar dari yang telah dimilikinya.
"Mama rindu sekali sama Rosa," ucap Areta memeluk erat sang putri, tersenyum bahagia mencurahkan kasih serta rindunya yang tertahan.
"Rosa juga rindu Mama. Oh ya, Papa ke mana Mah?" Rosa bertanya, menggulir pandangan ke sekeliling mencari sosok Angga begitu Areta mengurai pelukan.
"Nanti Papanya Rosa ke sini. Papa sedang dalam perjalanan ke sini sekarang." Wirda menyahuti pertanyaan Rosa mendahului Areta. Demi menghindari Areta berkata yang bukan-bukan. Lalu pada akhirnya malah membuka soal perpisahannya dengan Angga.
Areta menghela napas, mengerling ke arah Wirda sesaat. Soal Angga, ia sudah tak ingin lagi membahasnya. Maka ia biarkan saja Wirda berkata apapun tentang pria itu.
Namun agaknya, tidak seperti perkataan Wirda untuk menghibur Rosa. Angga justru tengah menikmati jabatan barunya di Dreams Food. Di ruangannya yang baru, Angga sedang merayakan posisinya yang baru ini bersama Mega. Dengan memangku wanita itu, merangkul pinggangnya mesra, saling bercumbu panas tak kenal tempat.
Percumbuan panas itu pun terhenti ketika Fabian masuk ke ruangan itu tanpa permisi.
Angga dan Mega pun terlonjak kaget, otomatis menghentikan kegiatan mereka. Keduanya salah tingkah, mirip kucing kebasahan Segera Mega turun dari pangkuan Angga lalu beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti saat Fabian berkata,
"Tolong tanda tangani berkas ini. Pak Henry hanya ingin memastikan kalau Pak Angga tidak akan berubah pikiran dan tetap setuju untuk bercerai dengan Bu Areta." Sembari mengangsurkan sebuah map yang ia buka lebar.
Sementara Mega yang belum sempat keluar dari ruangan itu menghunus tatapan tajamnya kepada Angga. Berharap Angga tak menunda-nunda waktu dan segera menandatangani berkas itu.
"Silahkan, Pak Angga. Saya harus segera menunjukkannya ke Pak Henry. Beliau sekarang sedang bersama Pak Galih. Pengacara yang mengurus perceraian Pak Angga dengan Bu Areta." Fabian mengingatkan.
"I-iya." Angga menyahut, sambil melirik Mega. Sebab sejujurnya, hatinya serasa berat melepas Areta. Namun ia juga tak ingin melepas Mega. Sebab Mega serta jabatan yang ia dapatkan saat ini adalah impiannya. Sempat memenuhi angannya, sehingga membuatnya terobsesi. Hatinya baru puas ketika ia berhasil mendapatkannya.
Mega mengintimidasi melalui tatapan matanya kepada Angga. Sehingga lekas Angga pun membubuhkan tanda tangannya pada selembar kertas dalam map tersebut.
"Terima kasih, Pak Angga. Dan selamat untuk jabatan barunya." Fabian tersenyum puas mengambil kembali berkas tersebut. Kemudian bergegas meninggalkan ruangan Angga.
Sama halnya dengan Mega. Wanita itu tersenyum lebar memandangi Angga. Dihampirinya kembali Angga, merangkul pria itu dari belakang, lalu berbisik sensual di telinga Angga.
"Itu yang aku suka dari kamu. Kamu selalu menuruti apa yang aku mau. Oh ya, bentar malam kamu ada waktu? Kita ketemuan di..." Mega menyebutkan sebuah nama hotel. Membuat Angga tersenyum lebar. Rupanya tak salah ia mengidamkan Mega. Mega adalah wanita yang mengerti kebutuhan pria dan cenderung agresif.
"Kamu memang yang terbaik." Angga memuji sembari menyentil gemas hidung lancip Mega.
__ADS_1
...
Bersyukur akhirnya Rosa sudah diperbolehkan pulang esok hari. Nino membuatkan resep obat yang harus ditebus Areta ketika ia menemui pria itu di ruangannya. Kondisi Rosa memang sudah sedikit membaik, walaupun belum sepenuhnya pulih. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai, seperti pendarahan misalnya.
Rosa juga masih belum diperbolehkan melakukan aktifitas fisik yang mudah membuatnya kelelahan. Pola makannya juga harus dijaga, serta ada beberapa pantangan makanan yang harus diperhatikan oleh pasien penderita jantung.
Areta menyimak penjelasan Nino dengan baik. Bahkan mencatatnya dalam notes menggunakan ponsel. Untuk menghindari kesalahan semisal ia tiba-tiba lupa.
"Terima kasih, Dok," ucap Areta begitu menerima selembar kertas resep obat dari tangan Nino.
"Bu Areta, maaf, ada yang ingin saya tanyakan." Nino tak bisa membendung rasa penasarannya akan hubungan Henry dengan Areta. Sebab yang ia tahu, Areta sudah bersuami. Lalu bagaimana bisa Henry mengenalkan Areta sebagai calon istrinya.
"Silahkan, Dok."
"Tapi maaf jika pertanyaan saya ini menyinggung perasaan kamu."
"Tidak apa-apa. Silahkan, Dok." Sebetulnya Areta sudah bisa menebak apa yang ingin hendak ditanyakan Nino. Sebab ia melihat Nino pada pesta semalam.
"Bukankah kamu sudah menikah? Lalu bagaimana bisa kamu berhubungan dengan Henry? Apa kalian berhubungan diam-diam? Maksud saya adalah apa kalian..."
"Selingkuh maksud Dokter?"
"Em... Kira-kira seperti itu. Maaf. Tapi Henry itu adik ipar saya."
Areta mengulum senyuman tipis.
"Rumah tangga saya sedang tidak baik-baik saja, Dok. Karena sesuatu hal memaksa kami untuk berpisah. Saya dan suami saya akan bercerai."
"Maaf, Bu Areta. Saya tidak bermaksud menyinggung. Saya hanya kaget saja saat Henry memperkenalkan Bu Areta sebagai calon istrinya. Saya mengira Bu Areta dan Henry selingkuh. Karena mertua saya sangat tidak menyukai perbuatan itu."
"Tidak apa-apa, Dok."
Nino tersenyum sungkan. Merasa iba akan nasib rumah tangga Areta. Entah ia harus memberikan ucapan selamat atas hubungannya dengan Henry ataukah harus menyampaikan rasa ibanya bersamaan.
"Henry itu pria yang baik. Jika sudah mencintai seseorang, bukan hanya hatinya, bahkan seluruh jiwa raganya akan diberikan kepada orang yang dicintainya tulus. Henry itu sama persis seperti almarhum papanya." Nino sedikit bercerita tentang Henry. Mulai dari hobi, makanan kesukaan Henry, hal-hal yang dibenci Henry, apapun yang ia ketahui tentang Henry. Bahkan ia sampai memberitahu Areta tentang riwayat alergi pria itu.
__ADS_1
*