
Bab. 27
"Selamat datang calon istriku," ucap Henry.
Membuat Fabian yang masih berada di ruangan itu pun terkejut. Sedari tadi ia bertanya-tanya dalam hatinya, siapa gerangan wanita yang diperintahkan atasannya itu untuk ia jemput. Sehingga harus mempertaruhkan pekerjaannya bila si wanita gagal ia jemput. Beruntung wanita itu bisa bekerjasama dengan baik, cepat memahami apa yang ia sampaikan. Sehingga pekerjaannya pun tak jadi taruhan.
Sedangkan Areta justru muak mendengarnya. Areta bahkan sampai memalingkan muka ketika Henry datang menghampirinya.
"Selamat datang di tempat tinggal kamu yang baru, Areta," ucap Henry. Kemudian memberi kode melalui kerlingan mata kepada Fabian untuk meninggalkan ruangan itu.
Fabian mengerti, lalu bergegas mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Menyisakan Henry yang tengah menatap Areta yang malah berpaling muka.
"Sorry aku tidak memberitahu kamu soal ini. Aku tahu Angga sudah mengusir kamu dari rumah. Maka dari itu mulai saat ini, kamu akan tinggal di sini. Apartemen ini milik kamu," ucap Henry, mengembangkan senyumnya walaupun Areta memalingkan muka darinya.
Namun bagi Henry, seperti apapun laku Areta terhadapnya ia tak peduli. Ia sadar, ia hanya harus berusaha keras merebut hati wanita itu. Ia hanya harus berupaya mencari cara menyingkirkan si mantan dari hati dan pikiran wanita itu. Ia yakin, lambat laun seiring waktu berjalan Areta pasti akan membuka hati untuknya. Untuk itu ia hanya perlu berlaku lembut dan manis saja kepada wanita itu.
Demi cintanya terhadap Areta, ia bahkan rela merogoh koceh dalam dalam untuk membeli apartemen ini hanya dalam waktu sehari dan dibayar lunas. Dan apartemen ini pun ia persembahkan untuk wanita terkasihnya, memberikan tempat ternyaman untuknya berteduh.
Terdorong oleh perasaannya, perlahan Henry mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Areta. Namun urung mengingat Areta mungkin tidak akan menyukai dirinya disentuh sembarangan. Apalagi belum ada ikatan sakral diantara mereka. Dan Areta masih terikat pernikahan dengan Angga. Walaupun Angga sudah menjatuhkan talak kepadanya, akan tetapi belum ada perpisahan secara resmi diantara mereka.
"Sorry, Areta. Aku harus kembali ke kantor. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri dulu?" Henry bertanya, mencoba mengakrabkan diri. Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apapun diantara mereka. Ia ingin melupakan soal kesepakatan diantara mereka, dan ingin memperlakukan Areta layaknya wanita yang dekat di hatinya.
Namun Areta tak menggubris pertanyaan Henry. Ia masih berpaling muka, lebih tertarik melihat keadaan sekeliling daripada harus melihat wajah Henry.
"Oh ya, sebentar sore akan ada yang datang untuk membantu kamu bersiap-siap. Nanti malam kita akan menghadiri perayaan anniversary perusahaan. Dan kamu akan menemani aku di perayaan itu sebagai calon istriku," ucap Henry.
Areta masih tak menggubris. Lebih memilih diam seribu bahasa. Sebab ia tak tertarik membahas apapun dengan Henry. Cukup hanya soal kesepakatan kemarin saja mereka saling bertukar kata. Untuk selebihnya, ia akan memilih diam.
Henry tersenyum kecil ketika tak mendapat tanggapan dari Areta. Ia tahu Areta mungkin tidak menyukainya. Sebab caranya mendapatkan Areta sungguh keji. Ia berpikir perasaan Areta bisa ia perbaiki perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu. Ia hanya perlu untuk bersabar sampai Areta mau melihatnya.
"Aku pergi dulu. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal hubungi aku. Kartu namaku sudah aku letakkan di meja itu." Henry menunjuk nakas di sisi tempat tidur. Sebetulnya ia ragu jika Areta akan menghubunginya, tapi hanya ingin mencoba. Setelah ini ia akan mencaritahu nomor ponsel Areta. Tak enak hati jika ia memintanya langsung. Dan tentu sudah pasti Areta tidak akan mau memberikan nomor ponselnya.
Sebagai seorang pria, sesungguhnya ia menyadari bilamana yang ia lakukan ini tidak benar. Namun karena cintanya yang begitu besar terhadap Areta, membuatnya menghalalkan segala cara demi bisa mendapatkan wanita itu.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Kuncinya pintunya dengan baik." Henry pun berlalu keluar dari ruangan itu. Ingin sekali ia melabuhkan satu kecupan manisnya di kening Areta. Namun ia sadar belum sepantasnya ia melakukan itu. Agar ia bisa melakukan itu, maka secepatnya ia harus segera mengikat Areta dalam satu ikatan sakral, yaitu pernikahan.
Areta pun hanya bisa meniupkan napasnya panjang begitu terdengar suara pintu yang ditutup. Sekali lagi ia merasa miris dengan nasib hidupnya, yang tak ubahnya seperti jalllang yang sedang dipermainkan. Jika bukan demi Rosa, seujung kuku pun ia tak sudi menyerahkan dirinya kepada Henry.
Namun, ia akan berusaha tegar. Ia akan melihat sejauh mana hidupnya akan dipermainkan seperti ini.
...
"Aku sudah sampai di butik langganan Mama." Henry berkata, mengedarkan pandangannya ke sekitar butik sambil menerima panggilan telepon.
"Olive Galery kan namanya?" tanyanya pada Agatha di seberang.
"Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu." Bergegas Henry membawa langkahnya masuk begitu mengakhiri sambungan teleponnya.
Olive Galery adalah butik terbesar dan tersohor di ibukota. Olivia Rajendra, pemilik Olive Galery adalah seorang desainer piawai dan terkenal baik di kalangan selebriti maupun pengusaha-pengusaha ternama. Dimana istri-istri mereka menjadi pelanggan setia butik tersebut.
Memasuki galeri tersebut, Henry disambut ramah oleh pegawai Olive Galery. Membawanya melihat-lihat koleksi terbaru mereka.
Memilih-milih gaun terbaik diantara yang terbaik dari koleksi tersebut, Henry dikagetkan oleh suara lembut seorang wanita menyapanya.
Sontak Henry menoleh, dan mendapati wajah cantik yang tengah tersenyum menatapnya.
Mega Amalia.
"Saya lihat sepertinya Pak Henry kesulitan mencari gaun. Bisa saya bantu pilihkan gaunnya, Pak? Gaun untuk Bu Agatha kan? Lebih kurang, saya tahu selera Bu Agatha." Mega menawarkan.
Namun Henry malah mengulum senyuman tipis. "Bukan. Bukan untuk Mama saya."
Mega pun tergagap. "Bu-bukan untuk Bu Agatha? Lalu untuk siapa?" Jujur ia penasaran. Sebab setahunya Henry adalah seorang pria single. Lalu Henry sedang mencari gaun untuk siapa?
"Apa perlu saya beritahu kamu?"
Mega salah tingkah, mengusap tengkuknya gugup. Sebab jujur saja ia sangat penasaran dengan pria yang satu ini. Walaupun sekarang ia sedang menjalin hubungan dekat dengan Angga, namun ia tak memungkiri ia masih saja dibuat hanyut oleh pesona Henry. Yang tampan karismatik.
__ADS_1
"Oh ya, sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Angga?" tanya Henry kemudian, ingin mengulik perihal hubungan Mega dengan Angga. Yang mungkin saja ia bisa mengambil keuntungan dari hal itu.
Sontak Mega menunduk malu. "Be-belum lama, Pak."
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?"
"Maksud Pak Henry?" Otomatis Mega mengangkat wajahnya, menatap Henry dengan berkerut dahi bingung.
"Alangkah lebih bagus jika kamu sampai menikahi Angga. Karena dari yang aku lihat, kalian berdua sangat cocok menjadi pasangan. Apalagi Angga akan saya promosikan menjadi direktur pemasaran. Bukankah jabatannya yang baru nanti akan sangat sepadan dengan kamu? Itu sudah memenuhi standar kriteria pria idaman kamu kan?" Henry mengulas senyuman sinisnya. Lebih kurang ia tahu betul tipe-tipe wanita seperti Mega ini. Yang mata duitan dan pemilih.
Mega kebingungan, entah harus menanggapi seperti apa omongan Henry. Yang sebetulnya terkesan menyinggung bahkan melukai harga dirinya sebagai seorang wanita. Henry seolah meremehkannya. Rupa-rupanya ia telah salah menilai pria yang satu ini. Walaupun memiliki paras yang tampan, rupanya Henry memiliki lidah yang tajam. Terbukti dari omongannya yang nyelekit, menyembur sembarangan tanpa filter dan tak peduli perasaan orang lain.
"Kalau kamu bisa bantu saya, saya akan pastikan kamu tidak akan kehilangan posisi kamu di perusahaan," ucap Henry kemudian, setengah mengancam Mega.
Otomatis Mega pun dibuat resah dan takut akan kehilangan pekerjaannya. Yang sudah menghidupinya selama ini.
"Pak Henry butuh bantuan apa dari saya?"
"Kamu cukup dekati Angga. Jangan lepaskan dia. Rayu dia. Buat dia tergila-gila sama kamu. Gampang kan?"
Mega tersenyum. Kalau hanya untuk urusan rayu merayu, tentu saja itu mudah baginya. Apalagi Angga adalah pria yang cukup menarik. Juga memiliki paras yang tampan. Tentu ia dengan senang hati akan melakukannya.
"Baik, Pak Henry. Akan saya lakukan."
"Wah, wah ... Mohon maaf sudah menunggu terlalu lama." Tiba-tiba terdengar suara merdu seorang wanita.
Sontak Henry dan Mega menoleh ke arah sumber suara. Dimana seorang wanita paruh baya nan Anggun berkelas datang menghampiri dengan seulas senyum di wajahnya. Dialah Olivia Rajendra, pemilik Olive Galery.
"Perkenalkan saya Olivia. Bu Agatha sudah memberitahu saya sebelumnya bahwa anaknya akan datang. Boleh saya tahu Anda sedang mencari gaun untuk siapa?" tanya Olivia.
Henry mengulum senyuman manisnya. "Untuk calon istri saya."
Mega pun terkejut dibuatnya.
__ADS_1
*