Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 48


__ADS_3

Bab. 48


Melonggarkan dasinya kesal, Angga lantas menghempaskan bokkong di kursi kerjanya. Sengaja ia mencegat salah seorang staffnya yang hendak mengantar laporan ke ruangan Henry. Pasalnya, hatinya dirundung rasa keingintahuan yang kuat ketika tanpa sengaja melihat Henry yang tampak tersenyum-senyum bahagia begitu memasuki pintu utama.


Ia lantas mengambil alih laporan dari tangan seorang staff, memilih ia sendiri yang mengantarkannya kepada atasan langsung. Alih-alih mengantarkan laporan, ia hanya ingin mencaritahu perihal hubungan si atasan dan si mantan istri. Hati kecilnya seakan tak menerima melihat kebahagiaan si atasan.


Ia tengah menggeram menahan kekesalan saat pintu ruangannya didorong terbuka dari luar. Mega datang sembari mengulas senyum manis. Menghampiri Angga, Mega lantas mendaratkan pantatt di paha Angga. Duduk di atas pangkuan lelaki itu sembari mengalungkan kedua lengannya di pundak Angga.


"Sayang, hari ini kita makan siang di luar yuk," ajak Mega bernada merayu.


"Maaf, Mega. Hari ini aku tidak bisa. Aku sudah janji sama Rosa mau mengajak dia ke mall. Rosa minta dibelikan baju baru soalnya."


Otomatis Mega cemberut, memanyunkan bibirnya merajuk. Lantaran keinginannya ditolak mentah-mentah oleh sang kekasih.


"Ya sudah. Tapi aku ikut ya? Aku pengen kenalan sama anak kamu. Anak kamu jiga harus tahu kan kalau aku ini calon pengganti mamanya?"


"Tidak bisa, Mega. Aku memang ingin memperkenalkan kamu sama Rosa. Tapi belum sekarang. Rosa itu baru saja operasi jantung. Kalau kita beritahu dia sekarang, aku takut dia kenapa-napa."


"Apa ini cuma alasan kamu saja padahal yang sebenarnya kamu memang tidak serius pengen nikahin aku. Atau, kita batalkan saja pernikahan kita. Gimana?"


"Ya jangan dong sayang. Aku serius kok mau nikahin kamu. Cuma, tolong beri aku waktu untuk memberitahu ini ke Rosa. Rosa itu tidak tahu kalau aku dan Areta sudah berpisah." Tak ingin merugi, tentu saja Angga tidak ingin membatalkan pernikahannya dengan Mega. Ia bahkan sudah mengorbankan segalanya hanya demi bisa mendapatkan jabatan juga Mega.


"Lagian anak kecil seperti dia mana ngerti sih persoalan diantara orang dewasa. Lebihan baik kamu kasih tahu dia sekarang. Jangan menunda waktu. Jangan sampai dia tahu hal ini dari orang lain. Nah, itu yang lebih berbahaya."


"Tapi gimana caranya? Anak kecil mana bisa ngerti?"

__ADS_1


"Dia kan anak kamu. Ya, kamu dong cari cara buat kasih dia pengertian. Masa nanya ke aku. Atau, kalau kamu tidak mau repot, lebih baik kamu kasih saja dia ke Areta. Biar Areta yang ngurusin dia. Lagian hak asuhnya kan jatuh ke tangan Areta. Biar gampang. Iya kan? Udah, kamu turuti aku saja."


Angga menggeleng. Memang hak asuh jatuh ke Areta. Tetapi Areta pun tidak bisa berbuat apa-apa karena Henry menjatuhkan pilihan padanya. Pun pilihan yang sulit Areta tentukan. Jika Areta bersikeras ingin Rosa ikut bersamanya, maka Henry akan menghentikan aliran dana untuk pengobatan Rosa. Karena itulah Areta hanya diberikan kebebasan untuk menemui Rosa kapanpun yang ia mau.


...


Tak bisa menahan rindu, Areta menyambangi kediaman mantan mertuanya sekali lagi demi bertemu si buah hati tercinta. Namun sayangnya, Rosa tidak berada di rumah itu. Rumah Wirda terlihat sepi fak berpenghuni. Bahkan pagar rumahnya di gembok.


Areta berusaha menghubungi ponsel Wirda untuk menanyakan ke mana gerangan Wirda membawa buah hatinya. Tetapi sayangnya, ponsel Wirda tidak dapat dihubungi. Membuat Areta terpaksa harus menghubungi ponsel Angga.


Namun lagi-lagi sayang sungguh sayang, ponsel Angga pun susah dihubungi. Membuat Areta kesal, jengkel lantaran tak bisa bertemu anaknya. Sikap Angga dan Wirda terkesan ingin menjauhkan Rosa darinya. Jika saja Henry tidak memberi pilihan sulit kepadanya, sudah pasti ia akan mengadukan perbuatan Angga ke pengadilan.


Dengan dirundung kekesalan, Areta pun meninggalkan kediaman Wirda dengan memesan taksi online. Tanpa sepengetahuan Areta, di seberang jalan, Agatha mengamati tindak-tanduknya dari balik kaca jendela mobil yang terparkir di bawah pohon rindang.


Sementara di lain tempat.


Memilih pulang lebih awal, itulah yang dilakukan Henry. Efek dari hati berbunga-bunganya sejak pagi tadi masih terasa. Sehingga secara tak sengaja memupuk rindunya semakin berkembang. Dan rindu itupun kian menggebu-gebu, ingin segera bersua. Kendati setiap hari wajah cantik Areta berada terpampang di depan matanya, tetap saja rindu itu menderanya.


"Areta, aku sangat merindukanmu," gumamnya lirih dengan wajah berseri-seri bahagia.


Sepanjang perjalanan pulang wajah Areta terbayang-bayang, melekat erat di pelupuk matanya. Rindu itu pun terasa kian memenuhi ruang di dadanya.


Namun agaknya, ia harus menahan rindu itu sejenak. Tak disangkanya, ia malah melalui jalanan macet. Padahal tak biasanya jalan yang sering dilaluinya itu terkena macet.


Sementara menunggu kemacetan terurai, perhatian Henry teralihkan di seberang sana. Tak jauh dari mobilnya terdapat sebuah taman. Di mana di taman itu ada sepasang suami istri yang sedang bermain dengan anaknya.

__ADS_1


Pemandangan itu pun membuatnya tertegun. Lalu mengetuk pintu hatinya secara tak sengaja. Detik berikutnya, bibirnya terkembang membentuk lengkungan indah. Senyuman menawan yang membuat wajahnya kian berseri-seri.


...


"Istriku di mana?" Tak sabaran, tergesa-gesa Henry mengayunkan langkah memasuki kediamannya.


"Belum pulang." Agatha menyahuti tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel di tangan.


Kaki yang hendak menapaki anak tangga itu pun terhenti. Henry pun menghampiri Agatha yang tengah duduk berpangku kaki di sofa ruang tengah.


"Belum pulang?" Henry mengernyit, menatap penuh tanya. Mengapa ia sampai lupa menghubungi Areta. Seharian ini ia bahkan tidak tahu apa yang dilakuan Areta.


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi, Henry. Apa gunanya kamu mempertahankan Areta. Dia punya anak dari mantan suaminya. Dan anak itu akan selalu menjadi penghubung antara Areta dan mantan suaminya. Tidak menutup kemungkinan mereka akan rujuk kembali. Apa kamu yakin masih ingin bersamanya? Apa kamu juga yakin kalau dia bakal mencintai kamu?" cecar Agatha masih tak bisa terima entah apa yang membuat Henry tergila-gila bahkan terobsesi dengan Areta.


"Tentu saja aku yakin, Mah. Tolong jangan pernah lagi membahas soal ini. Karena aku pastikan, sampai aku mati pun, perasaanku padanya tidak akan pernah berubah. Dia satu-satunya di hati dan hidupku."


"Jangan bodoh Henry. Kamu itu sudah dibutakan oleh perasaan kamu sendiri. Kalau Mama jadi kamu, tidak akan Mama mempertahankan perempuan seperti itu. Apa kamu tahu apa yang dia lakukan di luar sana?"


"Mah, please. Mau Mama bahas soal ini seribu kali pun, aku tetap tak peduli. Sampai kapanpun perasaanku padanya tidak akan pernah berubah. Aku mencintainya, Mah. Aku sangat mencintai Areta. Aku_" Namun kalimat Henry harus terhenti. Sebab di seberang, sosok Areta tengah mematung mengarahkan pandangan kepadanya. Menatapnya haru namun mengandung makna.


"Areta?" panggilnya lirih.


Areta membalasnya dengan senyuman hangat. Membuat hati Henry berdesir penuh haru.


*

__ADS_1


__ADS_2