
Bab. 10
"Bisa kita bicara sebentar?"
Henry sadar ia lancang. Namun apa daya, dorongan hatinya begitu kuat. Areta telah membuat akal sehatnya tak lagi berada pada tempatnya. Karena Areta ia bahkan menunda sebuah rapat penting yang dijadwalkan tiga puluh menit lagi sejak ia meninggalkan kantor.
Henry bahkan me-nonaktifkan ponselnya begitu tiba di salon Areta. Ia tak ingin telepon ataupun pesan-pesan dari Fabian mengganggunya saat sedang bersama Areta.
"Maaf, tapi saya sedang bekerja. Saya harus melayani pelanggan yang lain," tolak Areta halus tanpa menanggalkan tata krama dalam bertutur. Sembari matanya melirik ke arah pintu masuk di mana seorang pelanggan baru saja masuk.
"Kalau begitu layani aku."
Areta terkejut. Sampai gagap, bingung menangkap maksud Henry. Sebab salonnya tidak melayani pelanggan pria. Tapi apakah mungkin ada maksud lain yang tersirat?
"Oh, sorry. Maksudku, aku juga pelanggan. Jadi aku butuh pelayanan. Aku cuma mau creambath." Henry mencoba bersikap meyakinkan. Meski dalam hati sebenarnya ia ragu. Ragu jika Areta mau melayaninya.
"Maaf, tapi salon kami tidak melayani pria. Anda silahkan pergi saja ke salon lain khusus untuk pria. Kalau begitu saya permisi." Areta memutar tubuh, hendak beranjak.
Namun Henry mencegahnya.
"Areta, tunggu dulu."
Areta pun menghentikan langkahnya. Lalu menoleh.
"Emm ..." Henry memutar otaknya cepat mencari alasan agar Areta mau menemaninya. Paling tidak walau hanya untuk mengobrol.
"Begini. Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu. Aku punya rapat penting 15 menit lagi. Bisakah aku melakukan perawatan rambutku di salon ini? Aku tidak punya waktu mencari salon lain. Please," sambungnya cepat begitu menemukan alasan.
"Maaf, tapi_"
"Aku akan membayar tiga kali lipat," sela Henry cepat.
"Maaf, Pak. Tapi ini bukan soal harga. Ini adalah aturan, bahwa salon ini memang tidak melayani pelanggan pria. Jika Bapak mau, saya bisa rekomendasikan salon khusus untuk pria."
"Tolonglah, saya tidak punya waktu lagi. Please ..." Henry memasang tampang menghiba. Memohon pengertian Areta.
Sementara Areta menimbang sejenak. Ia lalu meniupkan napasnya pelan.
"Baiklah."
"Yes! Terimakasih." Henry kegirangan.
"Tapi pegawai saya yang akan melayani Anda. Saya masih punya pekerjaan lain. Permisi." Kembali Areta memutar tubuhnya. Lalu beranjak pergi.
Namun baru beberapa langkah saja, Henry kembali mencegahnya sembari menyusul langkahnya.
"Areta, Areta. Tunggu dulu."
Areta kesal. Memutar tubuhnya cepat dengan wajah tak bersahabat. Moodnya bahkan memburuk tiba-tiba karena Henry.
"Bapak ini maunya apa sih?" tanya Areta kesal.
__ADS_1
"Kamu."
"Apa?"
"Sorry, sorry. Maksudnya aku ingin kamu yang melayani aku creambath. Seperti itu." Sumpah, Henry gugup setengah mati. Namun ia tak ingin kehabisan akal demi untuk berada dekat dengan Areta.
"Maaf, Pak. Tadi kan saya sudah bilang. Apa masih kurang jelas?"
Henry menghela napasnya panjang. Mau sampai kapan ia seperti ini terus. Jika ia masih belum memiliki cukup keberanian, lalu bagaimana ia mau mendekati Areta?
"Baiklah. Tidak apa-apa. Tapi kamu bisa kan temani aku ngobrol?" Henry pun hanya bisa menuruti ucapan Areta kemudian. Semoga saja Areta mau mengobrol dengannya, sehingga ia bisa memberitahu Areta siapa dirinya.
Areta hanya mengulum senyumnya. Tidak menolak juga tidak menerima. Ia biarkan saja Henry menarik kesimpulan sendiri.
...
Sementara itu, di ruang rapat Dreams Food.
Hanya tinggal menunggu Henry saja selaku pimpinan Dreams Food maka rapat agar segera di mulai. Namun pria tampan yang satu itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal rapat kali ini mereka akan membahas tentang pelaksanaan anniversary Dreams Food yang akan diselenggarakan lusa malam. Sekaligus mereka akan membahas kisaran dana yang akan dikeluarkan oleh Dreams Food untuk perayaan tersebut.
Mega Amalia, si manajer keuangan nan cantik jelita itu tengah gelisah menunggu Henry. Sebelum ke ruang rapat, ia telah membuatkan secangkir kopi untuk atasannya itu. Tetapi sang atasan tak kunjung datang. Sudah dua puluh menit berlalu, sepanjang itu pula matanya tak lepas dari cangkir kopi yang telah ia letakkan di meja, di tempat Henry akan menempati tempat duduknya.
Mega menunggu gelisah. Khawatir jika Henry datang kopinya malah terlanjur dingin. Ia tentu tak ingin hal itu terjadi. Dengan sepenuh hati ia membuatkan kopi itu untuk Henry. Berharap Henry akan menaruh sedikit perhatian kepadanya.
Berdiri di pintu ruang rapat, Fabian tengah berusaha menghubungi Henry. Namun berkali-kali malah suara operator yang menyambutnya.
"Gimana? Pak Henry sudah berhasil dihubungi?" Mega bertanya, bangun dari duduknya menghampiri Fabian.
Fabian menggeleng. "Handphone nya malah nonaktif."
Fabian kembali menggeleng. "Kali ini dia tidak memberitahuku ke mana dia pergi."
"Kamu ini gimana sih? Kamu kan sekretarisnya. Masa kamu tidak tahu Pak Henry ke mana? Apa jangan-jangan kamu juga tidak punya semua jadwalnya Pak Henry? Jadi sekretaris yang becus dong kerjanya." Mega sewot mengomel, entah apa sebabnya.
Membuat Fabian yang diomeli terdiam kebingungan. Sama hal nya dengan anggota rapat yang lain. Mereka tertegun memandangi Mega. Salah satu diantara anggota rapat itu adalah Angga.
"Benar-benar sekretaris yang tidak bisa diandalkan." Kesal, Mega pun kembali ke tempat duduknya. Saking kesalnya ia sampai tak menyadari berpasang-masang mata memandangnya keheranan.
Namun berbeda dengan sepasang mata Angga. Yang justru memandanginya kagum.
"Dasar aneh." Fabian mengumpat. Kemudian berusaha menghubungi Henry kembali.
...
Sementara di Salon Areta.
Henry yang tengah dilayani oleh karyawan Areta itu, sesekali melirik ke ruangan yang berdinding kaca. Dimana Areta tengah melayani pelanggan facial treatment.
Karyawan Areta bahkan sampai kesal lantaran kepala Henry tak bisa diam. Sedikit-sedikit menoleh. Sampai terkadang karyawan itu kesulitan membilas kepala Henry.
"Maaf, Pak. Apa Bapak bisa diam sebentar? Saya jadi kesusahan ini." Karyawan itu memberitahu. Agar supaya pekerjaannya selesai cepat dan ia masih bisa melayani pelanggan yang lain.
__ADS_1
Henry pun menurut. Ia tak menoleh lagi sampai rambutnya selesai di bilas. Berpindah tempat duduk di depan cermin, ia tak perlu menoleh lagi. Sebab bayangan Areta bisa ia lihat melalui pantulan cermin itu.
Henry tersenyum-senyum sendiri memandangi pantulan bayangan Areta. Membuat karyawan yang sedang mengeringkan rambutnya pun ikut tersenyum. Terpana melihat paras menawan Henry.
"Bapak kok ganteng banget sih?" Karyawan itu memuji setengah merayu. Yang membuat senyum Henry malah surut seketika.
"Bisa tolong dipercepat? Saya ada urusan penting ini." Henry meminta. Dilihatnya Areta telah selesai dengan pekerjaannya. Sesaat tadi Areta sempat berkata akan menemaninya mengobrol setelah melayani pelanggan. Ia berharap Areta tidak berbohong.
"Yang sabar dong, Pak. Pasti juga selesai kok."
"Ada yang harus saya bicarakan dengan Areta. Tolong dipercepat sedikit."
"Setelah selesai Bapak silahkan ke ruang tunggu. Bu Areta sudah berpesan ke saya tadi."
Henry pun bernapas lega. Rupanya benar Areta hendak meluangkan waktu untuknya mengobrol. Rupanya tidak sia-sia ia meninggalkan rapat penting hanya demi ingin bertemu dengan Areta.
Menunggu tak sabaran si karyawan menyelesaikan tugasnya, Henry harap-harap cemas. Ia mulai gelisah saat dilihatnya Areta memanggil salah satu karyawannya, memberitahukan sesuatu pada karyawan tersebut. Setelahnya Areta tampak terburu-buru melangkahkan kakinya keluar dari salon.
Henry pun sontak berdiri. Membuat karyawan yang tengah menyelesaikan menata rambutnya terlonjak kaget.
"Rambutnya belum selesai, Pak. Bapak mau ke mana?" Si karyawan setengah meneriaki Henry yang melangkah terburu-buru hendak menyusul Areta.
Namun sayangnya Henry terlambat. Areta telah pergi dengan ojek yang ditumpanginya. Bergegas Henry kembali ke dalam, menemui karyawan yang dipanggil Areta beberapa saat lalu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya si karyawan berambut pendek.
"Sorry, Areta pergi ke mana?"
"Bu Areta tadi menitipkan pesan, Bu Areta tidak bisa menemani Anda mengobrol karena Bu Areta ada urusan mendesak."
"Apa saya boleh minta nomor ponselnya?"
"Maaf Pak, tidak bisa. Bu Areta melarang kami memberikan nomor ponselnya pada sembarangan orang."
"Saya ini temannya. Teman lama. Areta mengenal saya."
"Maaf, Pak. Tidak bisa."
"Kalau begitu saya minta alamat rumahnya."
"Apalagi itu Pak. Saya takut Bu Areta marah."
Henry membuang napasnya sekaligus. Hilang sudah kesempatannya untuk bisa dekat dengan Areta. Tapi tak apalah. Ia masih bisa datang kembali ke salon ini lain waktu.
"Em ... Kamu tahu Areta ke mana? Mungkin saya bisa menyusul ke sana. Soalnya ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Areta."
"Bu Areta ke rumah sakit, Pak."
"Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?"
"Anaknya."
__ADS_1
"Ap-apa? A-anak?" Henry terkejut bukan main.
*