Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 63


__ADS_3

Bab. 63


"Angga, Ibu perlu bicara sama kamu." Wirda berkata, menekankan setiap katanya begitu Angga memasuki ruang perawatan Rosa ketika pria itu datang untuk membesuk di jam istirahat kantor.


Wirda menarik pergelangan Angga, membawanya menjauh dari Rosa yang tengah terbaring, baru saja tertidur ketika ia sampai.


"Ada apa sih, Bu?" Angga berkerut dahi melihat Wirda berwajah murka kepadanya.


"Kamu ini keterlaluan ya? Kenapa kamu main ambil keputusan seenak jidatmu? Kenapa kamu tidak ijin dulu sama Ibu?" omel Wirda memelototi Angga, dengan memelankan suaranya. Ia kesal luar biasa lantaran Angga menjaminkan satu-satunya harta yang mereka punya ke bank. Yang entah uangnya Angga gunakan untuk apa.


"Ijin? Ijin apa? Ibu ngomongin apa sih? Aku tidak mengerti, Bu!"


"Rumah kita yang kamu jaminkan ke bank untuk hutang kamu itu. Tadi orang dari bank datang ke rumah, katanya kamu menunggak beberapa bulan. Kamu belum nyetor pembayaran sejak bulan pertama."


Angga pun salah tingkah. Mengusap tengkuk berkali-kali, ia bahkan menghindari tatapan penuh intimidasi Wirda. Dari auranya, Wirda tampak murka. Membuat Angga was-was. Otaknya mulai bekerja cepat untuk berkelit.


"Apa benar begitu, Angga? Memangnya uang itu kamu gunakan untuk apa?" sambung Wirda menuntut, mulai dikuasai emosi. Bahkan nada suaranya pun tak terkontrol lagi.


"Aku ... Aku terpaksa, Bu." Angga terlihat enggan menjawab semua pertanyaan ibunya. Diliriknya sejenak Rosa yang telah terusik tidur lelapnya oleh suara Wirda.


"Terpaksa gimana maksud kamu? Terus uangnya kamu ke manakan?"


"Ngomongnya pelan-pelan saja, Bu. Nanti Rosa dengar. Dia sudah bangun." Sembari melirik ke arah Rosa.


"Iya, Ibu pelan-pelan nih ngomongnya. Sekarang kamu jawab pertanyaan Ibu, uangnya kamu gunakan untuk apa?"


"Buat apa lagi Bu kalau bukan untuk biaya pernikahan aku dengan Mega," sahut Angga enteng. Seakan tak ada beban ia menjaminkan satu-satunya harta peninggalan almarhum ayahandanya.


"Sebanyak itu, Angga?" Wirda membelalak kaget. Saking kagetnya ia bahkan tak mengontrol lagi nada suaranya yang meninggi dan sempat menarik perhatian Rosa.


"Itu cuma setengahnya, Bu. Tadinya Mega meminta 500 juta untuk mewujudkan pernikahan impiannya. Jumlah itu sudah berdasarkan kesepakatan kami."


"Gila ya kamu, Angga? Kenapa harus rumah Ibu yang kamu jadikan jaminan. Kalau rumahnya disita bank, terus kita mau tinggal di mana nanti? Kamu ini mikir tidak sih? Kenapa kamu tidak tanya sama Ibu dulu. Ah, kesel Ibu sama kamu. Kalau tahu begini jadinya, mendingan kamu tidak usah menikah dengan Mega."


"Ibu!" Angga setengah menghardik. Ia juga kesal mendengar omelan ibunya. Yang ia khawatirkan adalah kondisi Rosa. Semakin hari kondisi Rosa semakin memburuk. Apalagi kata dokter, jika keadaannya terus memburuk, satu-satunya jalan yang tersisa untuk menyelamatkannya adalah dengan transplantasi jantung. Bagaimana ia tak cemas?

__ADS_1


"Ibu, tolong jangan bahas ini lagi. Aku kasih tahu sama Ibu, aku sudah membatalkan pernikahanku dengan Mega," sambung Angga memelankan nada suaranya.


"Baguslah. Kalau begitu sekarang juga kamu kembalikan semua uang yang sudah kamu pinjam dari bank. Kalau sampai rumah kita disita nanti, Ibu bersumpah Ibu tidak akan bicara dengan kamu sampai Ibu mati."


"Ibu kenapa ngomongnya gitu sih, Bu?"


"Abisnya Ibu kesel sama kamu. Jengkel Ibu." Wirda berpaling muka, memperlihatkan kemarahannya kepada Angga.


Angga pun hanya bisa menghela napasnya panjang. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat selain pergi menemui Mega dan merundingkan masalah pembatalan pernikahan mereka sekaligus masalah pengembalian biaya. Ia berharap semoga saja Mega bisa diajak berkompromi.


...


"Aku mau bertemu. Apa kamu punya waktu sebentar saja?" Angga bertanya melalui panggilan telepon ketika Wirda pergi mencari makan siang di luar.


"Kebetulan ada juga yang ingin aku kasih tahu sama kamu." Terdengar suara Mega menyahuti di ujung telepon.


"Baiklah. Kita ketemu di kafe_"


"Kenapa kita tidak ketemu di sini saja? Hm?"


"Di-di sini?"


"Ap-apa? Jangan bercanda kamu."


"Sayangnya tidak, Tuan Angga Adinata."


Dengan gerakan cepat Angga meraih handel pintu, lantas gegas membukanya. Kebetulan ia yang tengah berdiri di dekat pintu itu pun tak membutuhkan waktu lama untuk mencapai pintu. Dan begitu pintu terbuka, tampaklah Mega yang tengah berdiri tepat di depan pintu ruangan itu dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Sebuah senyuman miring terukir di bibir Mega ketika Angga membuka pintu, lalu tampak wajah terkejutnya.


"Kamu?" Angga terkejut, menengok ke kiri dan ke kanan. Seperti ada sesuatu yang tengah ia cemaskan.


"Jangan kaget seperti itu, sayang. Kamu seperti baru melihat hantu saja. Ayo, kita bicara di dalam saja." Tanpa berbasa-basi lagi, dan tanpa persetujuan Angga, Mega langsung saja masuk ke dalam ruangan itu.


Membuat Angga kalang-kabut, seperti kebakaran jenggot. Angga panik luar biasa dengan kelancangan Mega masuk ke dalam ruang rawat Rosa.

__ADS_1


"Mega, kita bicara di luar saja. Tolong jangan di sini." Angga berucap sembari mencekal lengan Mega, yang hendak menghampiri Rosa.


"Kenapa harus jauh-jauh ke luar sana. Kenapa tidak di sini saja? Memangnya apa sih yang mau kamu bicarakan denganku? Hm?" Mega memasang senyuman sinisnya. Ia yang mendadak di serang pusing serta mual tak berkesudahan itu terpaksa harus mendatangi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sebab instingnya sebagai wanita tengah membisikkan sesuatu yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Karena ada masa depannya di sana yang sedang dipertaruhkan. Dan setelah melakukan pemeriksaan, ternyata dugaannya tidak salah. Sebuah dugaan yang pada akhirnya membutuhkan tanggung jawab seorang Angga Adinata sebagai pelakunya.


"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Di sini bukan tempat yang tepat," ujar Angga.


"Kalau begitu sama, Angga sayang. Ada beberapa hal juga yang ingin aku kasih tahu sama kamu. Dan aku harap kamu tidak akan terkejut mendengar ini."


"Mega, aku ingin membicarakan masalah pembatalan pernikahan kita. Dan juga ..." Angga menghela napasnya sejenak. Membutuhkan cukup keberanian untuknya mengungkapkan keinginannya kepada Mega. Sebab ia tahu, wanita itu tidak mudah memahami.


"Dan juga apa, Angga?" Mega menyeringai tipis. Ia sungguh kesal, lagi-lagi Angga mengungkit perihal pembatalan pernikahan. Yang memantik api amarahnya seketika. Namun ia berusaha meredam amarah itu agar tak lekas membakarnya. Sebab ia membutuhkan kestabilan emosionalnya untuk saat ini demi menjaga si titipan Tuhan terindah yang dianugerahkan untuknya.


"Apa bisa aku meminta kembali uang yang sudah aku berikan ke kamu? Masalahnya aku_"


"Tidak bisa, Angga. Uang itu sudah terpakai untuk menyewa gedung pernikahan yang sudah aku booking jauh-jauh hari. Belum lagi, gaun pengantinnya sudah dipesan, undangan sudah dicetak, catering, dekorasi ... Apa kamu pikir semua itu aku bayar pake daun? Angga, Angga. Jadi ini yang ingin kamu bicarakan denganku?" Mega sungguh emosi dibuatnya. Rasanya ia ingin menimpuk kepala Angga dengan tasnya.


Angga tampak tengah menahan kekecewaannya. Terlambat sudah langkah yang ia ambil. Seharusnya jauh-jauh hari ia mengambil keputusan ini. Atau tak seharusnya ia melakukan ini sejak awal. Jika pada akhirnya malah ia sendiri yang dirugikan. Sedangkan Areta, yang ia korbankan dalam situasi ini justru sedang berbahagia diatas penderitaannya kini.


"Aku sangat membutuhkan uang itu sekarang. Apa tidak bisa kamu cancel saja semuanya. Lalu kamu minta pengembalian uangnya," ujar Angga mencoba memberi solusi.


Yang sayangnya, bagi Mega hal itu bukan merupakan sebuah solusi. Tapi Angga sedang bermain-main dengan harga dirinya wanita.


"Ternyata kamu ini gila ya?" Mega menggeleng tak percaya dengan jalan pikiran Angga. Yang seenak jidatnya berkata demikian. Ia sungguh tak terima Angga mempermainkannya seperti ini.


"Sekarang aku ingin lihat, apa kamu masih berani membatalkan pernikahan kita setelah kamu melihat ini." Mega merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam sana. Lantas memberikannya kepada Angga.


Yang diterima Angga dengan kernyitan di dahinya. "Apa ini?" tanyanya sembari membolak-balik amplop yang berlogo rumah sakit itu.


"Silahkan kamu buka. Baca baik-baik semua yang tertulis di kertas itu."


Was-was Angga membuka amplop putih tersebut. Mengeluarkan selembar kertas dan mulai membacanya. Seketika itu juga matanya membelalak kaget saat membaca sebuah kata 'positif' yang tertera dalam kertas tersebut.


"A-apa ini?" tanya Angga frustasi. Ia bukan anak kecil yang tak paham maksud isi kertas tersebut. Ia hanya ingin memastikan saja kebenarannya. Sedangkan tangannya mulai gemetaran.


Mega tersenyum sinis meremehkan. "Kamu bisa baca kan? Aku hamil!" serunya tegas.

__ADS_1


"Aku hamil anak kamu, Angga!"


*


__ADS_2