Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 54


__ADS_3

Bab. 54


Ketika melihat mesranya Henry dan Areta bergandengan tangan memasuki Dreams Food, membangkitkan cemburu di hati Angga. Sehingga ia memutar otak, mencari cara untuk bisa menemui Areta dan Henry. Paling tidak ia ingin memecah belah kedekatan mereka dengan menggunakan Rosa sebagai alasannya.


Mencari-cari cara, Angga akhirnya mendapatkan ide dengan mengantarkan laporan yang sebetulnya belum rampung ke ruangan Henry. Begitu sampai di depan ruangan Henry, Fabian berkata kalau Henry tidak bisa diganggu selama dua jam ke depan. Membuatnya seperti kebakaran jenggot, kalang kabut, panik luar biasa. Sebab ia tahu sang atasan sedang bersama siapa di dalam ruangannya.


Tanpa mengindahkan perkataan Fabian, Angga memaksa masuk. Memanfaatkan kelengahan Fabian ia lantas bergerak cepat membuka pintu.


Namun, begitu pintu terbuka pemandangan intim di dalam ruangan itu telah menyambutnya. Pemandangan yang membuat amarahnya naik secepat kilat sampai ke ubun-ubun. Ia terbakar api cemburu, tapi sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Silahkan masuk, Angga," titah Henry berdiri dari sofa, lantas meraih dasi dan jas untuk dikenakannya kembali.


Angga terlihat salah tingkah dengan wajah merah padam. Serta raut wajah yang sulit diartikan.


"Sini, aku bantu." Areta berdiri, bergegas membantu Henry memasang dasinya dengan wajah tersenyum.


Pemandangan itu pun lagi-lagi membuat amarah Angga semakin bertumpuk-tumpuk. Hal yang biasa dilakukan Areta kepadanya dahulu itu kini dilakukan Areta kepada orang lain. Membuat dadanya semakin sesak saja. Terlebih saat ia melihat senyuman Areta untuk orang lain. Dadanya seperti diremas, nyeri melihatnya.


"Makasih ya sayang." Henry melabuhkan kecupan sayangnya di kening Areta. Tak ia pedulikan Angga yang tengah menyaksikan dengan wajah memerah bak kepiting rebus tersebut.


"Oh ya, aku mau minta ijin sama kamu. Ada produk yang harus aku beli untuk keperluan salon. Aku ijin keluar sebentar ya?" ujar Areta sembari membantu Henry mengenakan kembali jasnya.


"Boleh, tapi jangan lama ya? Nanti kamu diantar Fabian."


"Tidak perlu, aku bisa naik taksi kok."


"Tidak bisa sayang. Mana mungkin aku membiarkan istriku berkeliaran sendiri di luar sana. Kalau begitu biar diantar supir kantor saja."


"Ya sudah, terserah kamu."


"Istri yang pintar." Sembari menyentil gemas hidung bangir Areta.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Areta sudah berbalik, hendak pergi. Namun Henry mencegahnya sebentar.

__ADS_1


"Sayang, tunggu sebentar."


Areta pun memutar tubuhnya. Dan langsung disambut pelukan mesra dari Henry. Memeluknya posesif seolah tak ingin kehilangan. Areta pun balas memeluknya mesra.


"Jangan lama-lama, cepat kembali ya. Aku akan merindukanmu," ujar Henry sembari melirik Angga, seakan tengah meledeknya.


"Ya ampun, aku cuma mau ke toko sebentar kok."


"Kan kamu tahu, aku itu tidak bisa jauh-jauh dari kamu."


"Iya, iya, suamiku. Udah, aku pergi dulu ya?" Melepas pelukan, melambaikan tangan, Areta lantas bergegas meninggalkan ruangan Henry. Yang mulai menguarkan hawa panas dari api cemburu Angga.


"Berikan laporannya," pinta Henry begitu mendudukkan diri di kursi kerjanya. Ia sudah mengulurkan tangan meminta laporan yang dibawa Angga, tetapi Angga malah terlihat enggan memberikan laporan tersebut.


Menerbitkan senyuman sinis di wajah Henry. Henry bukan orang yang mudah dibodohi. Ia tahu Angga menggunakan laporan tersebut sebagai alasan saja. Yang entah hal apa yang melatar belakangi. Sebab posisi Angga kini bukan lagi orang yang bertugas mengantarkan laporan kepadanya.


"Apa kamu tidak punya staff yang bisa kamu perintahkan untuk mengantarkan laporan itu padaku?" sindir Henry menyandarkan punggung, seraya menatap sinis Angga.


Sedangkan yang disindir salah tingkah. Tampak seperti sedang mencemaskan sesuatu.


"Maaf, Pak. Sepertinya saya salah mengambil laporan. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu. Lain kali saya akan lebih memperhatikan lagi." Cepat-cepat Angga meninggalkan ruangan Henry. Ia tak menggubris sindiran-sindiran Henry, karena apa yang dikatakan Henry benar adanya. Tak seharusnya ia yang mengantarkan laporan ke ruangan Henry. Ia terpaksa mengambil laporan dari staffnya yang masih dikerjakan itu sebagai alasannya untuk mengetahui apa yang dilakukan si mantan istri ikut bersama suami barunya ke kantor.


Namun sial sungguh sial ia malah disajikan pemandangan yang membuat sesak dadanya lantaran amarah dan cemburu mendesak secara bersamaan.


Keluar dari ruangan Henry, Angga melangkahkan kakinya panjang menyusuri koridor. Ia bahkan setengah berlari sampai le lobi, keluar dari pintu utama, sampai netranya menangkap sosok Areta yang hendak menaiki sebuah fortuner hitam.


Cepat Angga membawa langkahnya menghampiri Areta. Begitu dekat, ditariknya kuat lengan Areta. Menyeretnya, membawanya menjauh dari mobil itu. Di mana terlihat si supir tengah membukakan pintu mobil itu untuk Areta.


"Angga, lepas!" sentak Areta menarik kuat lengannya dari cengkeraman Angga. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Angga.


"Jangan belagu kamu, Areta. Kamu sekarang sudah mulai berlagak ya, sok-sokan jadi nyonya besar." Angga menyalak, saking emosi dan tak terima melihat kemesraan Areta dengan Henry. Yang semula ia mengira jika Areta takkan bahagia dengan pernikahannya.


"Memang kenyataannya seperti itu kan? Aku ini istri atasan kamu. Seharusnya kamu menghormati aku. Bukan malah berani memperlakukan aku seperti ini." Areta balas menyalak. Memelototi si mantan suami yang sedang terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Kamu sengaja kan memanas-manasi aku?"


"Sengaja? Sengaja apanya?"


"Alaaah ... Areta, jangan sok bego. Kamu sengaja ikut dengan Pak Henry ke kantor ini hanya untuk menunjukkan kemesraan kamu itu padaku kan? Apa kamu pikir aku bakal cemburu?"


Areta terkekeh mendengar bualan Angga.


"Memangnya siapa yang mau pamer kemesraan sama kamu. Siapa yang mau bikin kamu cemburu? Suamiku memang selalu memperlakukan aku seperti itu setiap hari. Kenapa, ada masalah sama kamu?"


"Aku yakin kamu itu hanya sedang bersandiwara. Kamu sengaja bermesraan di depanku agar aku cemburu, lalu aku akan bermohon-mohon untuk kembali sama kamu. Itu kan yang kamu mau? Jangan pernah bermimpi Areta. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali lagi sama kamu. Aku akan menikahi Mega secepatnya."


Areta terbahak-bahak sampai bahunya berguncang.


"Silahkan. Silahkan Tuan Angga Adinata. Kamu pikir aku juga bakalan cemburu melihat kamu duduk di pelaminan dengan perempuan itu. Cih!" Membuang mukanya, Areta mendecih meremehkan Angga. Yang ia yakini tengah cemburu berat saat ini.


"Angga, seharusnya aku berterima kasih sama kamu. Karena berkat kamu aku dipertemukan dengan orang seperti Henry. Awalnya aku mengira Henry itu sama saja dengan kamu. Yang munafik, tak punya perasaan, dan egois. Tapi setelah aku mengenalnya, aku justru sangat berterima kasih sama kamu. Karena ternyata Henry itu jauh, jauh lebih baik dari kamu."


Angga semakin meradang mendengar Areta membandingkannya dengan pria lain. Wajahnya semakin merah padam. Dadanya kembang kempis menahan luapan amarah.


"Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan mencintai suamiku dengan sepenuh hatiku. Apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sisinya. Henry itu adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan untukku. Dengan perantara kamu. Berkat kamu aku menemukan seseorang yang lebih baik."


"Maaf, Nyonya. Apa bisa kita berangkat sekarang? Barusan Pak Henry menanyakan ke saya apa Nyonya sudah sampai di tempat tujuan?" Supir yang diperintahkan Henry mengantarkan Areta datang menyampaikan.


"Oh, iya. Kita pergi sekarang."


"Mari, Nyonya." Si supir pun berjalan lebih dulu.


Sebelum menyusul si supir, Areta menatap Angga sejenak dengan tatapan tajamnya bak setajam tombak yang terhunus yang siap menembus jantung. Membuat Angga menelan ludahnya kelat.


"Dengar, Angga. Aku akan segera menjemput Rosa. Aku akan membawanya tinggal bersamaku. Keluarga suamiku sudah menerimanya sebagai bagian dari keluarga. Jadi, tolong kamu kemasi semua barang-barangnya." Setelah berkata demikian, Areta pun beranjak menyusul si supir. Menyisakan Angga yang berdiri dengan wajah tegangnya.


Angga mulai berpikir, jika Areta membawa Rosa maka lenyaplah kesempatannya untuk bisa bertemu Areta.

__ADS_1


*


__ADS_2