
Bab. 39
Merasa tak nyaman tidur dengan masih berbalut kebaya pengantin, Areta memberanikan diri membuka lemari pakaian Henry. Mencari-cari pakaian yang bisa ia kenakan di sana.
Namun apa yang ia temukan?
Beberapa lingerie berjejeran dengan berbagai macam warna dalam lemari itu. Membuatnya kaget sekaligus terheran-heran. Dan yang membuatnya bertanya-tanya adalah lingerie siapakah itu? Apakah Henry sengaja menyiapkan pakaian irit bahan itu untuknya?
"Dasar mesum," umpatnya, menatap kesal jejeran lingerie itu.
Tak menemukan pakaian apapun yang bisa ia kenakan untuk tidur, ia hendak menutup kembali lemari itu. Namun gerakan tangannya terhenti ketika tanpa sengaja matanya menangkap sebuah bingkai foto tergeletak di bawah lingerie-lingerie itu. Yang membuat rasa keingintahuannya terusik seketika.
Membekap mulutnya tak percaya, itulah reaksi Areta ketika foto itu berada di tangannya. Foto itu adalah foto dirinya semasa SMA. Yang entah bagaimana bisa ada pada Henry. Rupanya pria itu tidak pernah berbual dengan omongannya.
Mendengar suara decitan pintu terbuka, buru-buru ia menyimpan foto itu kembali ke tempatnya semula. Lemari itu pun ia tutup kembali. Beruntung seseorang terdengar memanggil Henry, sehingga pria itu belum sempat memasuki kamar saat ia buru-buru berbaring kembali di lantai dengan beralaskan selimut. Tak mengapa malam ini ia tidur menggunakan kebaya. Rasa tak nyaman dari kebaya itu masih bisa ia tahan daripada ia harus terjaga semalaman karena ulah pria itu.
Memasuki kamar pribadinya, kembali Henry disuguhi pemandangan yang sama. Bukannya tidur di atas ranjang empuk, Areta malah tidur di lantai beralaskan selimut. Bagaimana hatinya tak miris melihat pemandangan seperti itu. Wanita yang ia kasihi malah senang menyiksa dirinya sendiri.
Untuk saat ini Henry membiarkan saja kelakuan Areta. Tak ingin mengganggu, ia melangkahkan kakinya pelan menuju lemari pakaian. Membuka lemari itu untuk mengambil pakaian ganti. Ia lantas pergi ke kamar mandi, hendak mengganti pakaiannya di sana.
Tak berapa lama ia keluar, membawa langkahnya pelan menuju tempat tidur.
Padahal ranjangnya terlihat memikat malam ini. Taburan kelopak bunga mawar itu membuat imajinasinya mulai liar, membayangkan malam yang romantis bersama Areta. Tetapi sayangnya, imajinasinya itu harus buyar oleh perlakuan Areta secara sengaja kepadanya.
Membuang napasnya pelan, ia pun membaringkan tubuh lelahnya menyamping ke kanan. Sambil ia memandangi punggung Areta yang tampak bergerak teratur. Entah wanita itu benar-benar telah tertidur atau hanya berpura-pura seperti tadi. Ia hanya bisa membiarkan saja. Mungkin wanita itu masih membutuhkan waktu untuk bisa terbiasa dengan lingkungan barunya. Dan ia akan bersabar menunggu.
...
Pagi datang.
Areta terbangun oleh suara ketukan di pintu kamar. Mengerjapkan matanya, ia menatap nanar, menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Namun ia tak mendapati keberadaan Henry. Lantas dipandanginya jam yang menggantung di dinding kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ketukan di pintu untuk yang kedua kalinya itu memaksa Areta bangun berdiri. Kemudian bergegas menghampiri pintu, kemudian membuka pintu itu lebar-lebar.
"Ini pakaian ganti untuk Nyonya. Den Henry yang meminta Bibi membawakan ini." Bi Lastri, wanita paruh baya yang telah puluhan tahun bekerja di rumah itu menyodorkan paper bag yang dibawanya itu ke tangan Areta.
__ADS_1
Yang diterima Areta dengan mengulas senyum tipisnya. "Makasih, Bi," ucapnya.
"Oh ya, Nyonya Agatha sedang menunggu di meja makan. Katanya Nyonya dan Den Henry diminta cepat-cepat ke bawah. Soalnya pagi ini Nyonya ada urusan penting."
"Iya, Bi. Nanti saya sampaikan."
"Kalau gitu, Bibi permisi Nyonya."
Areta mengulum senyum sebelum Bi Lastri kemudian pergi meninggalkan kamar itu.
Menghela napasnya pelan, paper bag itu Areta taruh di atas meja rias. Satu per satu ia keluarkan isinya. Bukan hanya dress saja yang ia temukan dalam paper bag itu, bahkan isinya lengkap sampai pada perintilannya. Termasuk pakaian dalam pun tersedia.
"Dari mana dia tahu ukuranku? Apa laki-laki itu..." Sambil memegangi si kain berenda pembungkus dada, Areta membeliak kaget. Pikirannya mulai ngawur, menerka-nerka jika Henry mungkin saja telah mengintip diam-diam aset di balik kebayanya semalam.
Ia pun meringis ngeri tak terima sekaligus sebal jika benar pria itu melakukannya semalam.
Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka. Henry keluar dari dalam sana hanya dengan berbalutkan handuk di pinggangnya. Membuat Areta sontak menutup wajahnya dengan tangan yang masih memegangi brra.
Henry tersenyum melihat tingkah spontan Areta.
"Diatas kertas. Jangan kamu lupakan itu."
"Masa bodoh. Bagiku kamu itu istriku. Percuma kamu menutup mata. Lagian kamu akan melihat pemandangan seperti ini setiap hari. Jadi, jangan sok naif. Kamu bukan anak perawan yang aku nikahi. Kamu itu sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini."
Bukan anak perawan yang aku nikahi?
Entah mengapa kalimat itu terasa sedikit menyinggung perasaannya. Henry benar, ia memang bukan anak perawan. Ia hanyalah seorang janda dengan satu anak. Janda menyedihkan yang harus merelakan hidupnya demi hidup si buah hati tercinta.
Menurunkan kembali tangan yang menutupi wajahnya, Areta menyimpan kembali brra itu ke dalam paper bag.
"Memangnya mau sampai kapan kamu memakai kebaya itu?" Henry tersenyum-senyum melihat Areta yang salah tingkah sambil memegangi ujung kebayanya. Tampilannya malah terlihat lucu dengan rambut acak-acakannya.
"Mama kamu meminta kita segera turun ke bawah. Beliau sedang menunggu di meja makan," kata Areta tanpa menatap wajah Henry.
"Ya sudah. Kamu cepetan mandi, sana. Perlengkapan mandi kamu sudah aku siapkan. Semoga saja sesuai dengan selera kamu. Kalau tidak cocok, kita bisa berbelanja keperluan kamu sepulang aku kerja nanti."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku akan menggunakan apa yang ada."
"Barang-barang kamu yang ada di apartemen, aku sudah meminta orang untuk memindahkannya kemari. Jadi kamu tidak perlu lagi repot-repot mengepaknya. Nanti minta saja Bi Lastri merapikannya ke dalam lemari."
"Aku bisa melakukannya sendiri kok. Tidak perlu menyusahkan orang lain."
"Sekarang kamu itu adalah istriku. Jadi mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri kamu dilayani."
Tak membalas lagi omongan Henry, Areta memilih segera masuk ke kamar mandi. Tanpa melihat sedikitpun ke arah Henry. Bersegera ia membersihkan diri. Lalu keluar menggunakan bathrobe yang sudah tersedia di dalam kamar mandi itu.
Namun ia terlonjak kaget ketika membuka pintu kamar mandi, sosok Henry berdiri tegak di depan pintu kamar mandi itu dengan tangan tersimpan di saku celananya. Pria itu sudah rapi dan wangi. Terlihat tampan dalam balutan kemeja berwarna biru langit, dipadu blazer berwarna abu-abu muda.
"Ngapain kamu berdiri di situ?" tanya Areta ketus dan salah tingkah. Sebab tubuhnya hanya dibalut kimono mandi saja. Sementara kedua bola mata Henry memindai liar dari kaki sampai kepalanya.
Senyuman sinis pria itu terukir. "Menunggu kamu lah," sahutnya santai.
"Minggir, aku mau lewat."
"Silahkan, istriku." Henry menyingkir, memberi Areta jalan. Namun ia malah mengekor di belakang Areta, mengikutinya sampai ke meja rias.
Areta menyambar paper bag, hendak bergegas ke kamar mandi. Namun begitu ia memutar tubuh, dahinya malah terantuk dada bidang Henry. Sebab pria itu berdiri di belakangnya.
"Aw!" Areta meringis, mengelus dahinya yang terasa sakit.
Sedangkan Henry mengelus dadanya.
"Kepala kamu kok keras sekali sih? Dadaku sampai sakit begini? Pantas saja kamu keras kepala," keluh Henry bermaksud meledek.
Namun yang diledek malah terlihat kesal.
"Tolong kamu keluar dulu. Aku mau ganti baju," pinta Areta.
"Ganti saja di depan aku. Bukankah aku ini suami kamu sekarang? Ayo, cepetan ganti. Aku cuma mau memastikan brra yang aku belikan itu pas tidak ukurannya dengan punya kamu." Henry mulai usil menggoda Areta.
Membuat Areta terperangah, membeliak kaget. Sedangkan Henry malah tersenyum-senyum.
__ADS_1
*