
Bab. 45
Awalnya memangĀ Henry berencana pulang larut. Sebab terdapat beberapa hal yang masih harus didiskusikan dengan Kenjiro terkait kerjasama mereka. Tetapi mendadak Kenjiro mengabarkan tak bisa menghadiri meeting dikarenakan ia harus kembali ke jepang secepatnya. Sehingga Henry pun bisa pulang lebih awal.
Henry tidak menginformasikan kembali kepada Areta jika ia akan pulang lebih awal. Diberitahu pun Areta takkan peduli. Pesan pertama yang dikirimkannya saja tak digubris oleh Areta.
Sesampainya di rumah, ia mendapati Agatha yang sedang makan malam sendirian tanpa ditemani menantunya. Membuatnya bertanya-tanya seketika itu juga.
"Loh, kok Mama makannya sendirian? Areta di mana?" tanyanya berdiri di seberang meja.
"Di kamarnya. Bi Lastri bilang dia ada di kamar mandi saat Bi Lastri Mama suruh buat manggil dia makan malam. Mungkin dia nungguin kamu."
"Ya sudah, kalau gitu aku ke kamar dulu, Mah." Dengan langkah tergesa ia pergi ke kamarnya di lantai dua. Selain cemas karena Areta belum makan, ia juga sudah tak sabar ingin bertemu istri tercintanya itu. Walaupun Areta tak suka melihatnya. Tetapi tak sedikitpun mengubah perasaannya untuk wanita itu.
Namun, begitu membuka pintu kamar, ia malah disajikan pemandangan luar biasa indah di dalam sana. Yang membuat dadanya berdebar hebat. Dan membangunkan sisi naluriah kelelakiannya yang telah lama terpasung sepi.
Sembari membawa langkahnya perlahan, ia melempar tas kerjanya, membuka jas dan kemejanya, melemparnya asal ke sembarang tempat. Saking tak kuasa menahan gejolak gairah dalam dirinya. Yang mulai menyingsingkan akal sehatnya.
Sehingga lancang ia menyerbu. Menyerang Areta bertubi-tubi, melabuhkan kecupan membabi buta mulai dari bibir, sampai ke bagian leher Areta yang terbuka. Bahkan tangannya tak tinggal diam. Menjelajah bebas menyusuri setiap lekuk tubuh Areta. Tak ia pedulikan penolakan juga pemberontakan Areta. Ia terus saja menyerang, mencumbu rakus bagian tubuh terbuka Areta seperti kucing kelaparan.
Bahkan dengan lancang dilepasnya handuk yang melilit di tubuh Areta. Agar ia leluasa menggerayangii tubuh Areta semau hatinya.
Namun, ditengah kalapnya ia mencicipi tiba-tiba saja ...
PLAK
Suara tamparan keras menggema memenuhi ruang kamar itu. Membuat aksi membabi buta Henry terhenti seketika. Saking kerasnya serangan tangan Areta sampai wajah Henry berpaling.
Bergegas Areta memungut handuk dan melilitkannya kembali di tubuhnya. Lantas ia mengambil beberapa langkah mundur menjauh dari Henry. Yang berdiri mematung sembari memegangi pipi kirinya.
"Lancang kamu melakukan ini padaku," ujar Areta tersengal di sela isak tangisnya. Sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Henry menghela napas panjang, menghembuskannya pelan. Demi meredam amarah yang terpantik secara tak sengaja. Terlebih disaat Areta menangis, membuatnya jadi tak tega meluapkan amarah itu. Yang ada ia malah merasa bersalah lantaran tak bisa menahan diri.
Memungut kemejanya, ia kemudian mengenakannya kembali.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa menahan diriku," ucap Henry menyesali perbuatannya sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Namun tak juga menampik, ada amarah yang singgah. Sehingga sebagai bentuk kekesalannya ia membanting kuat pintu kamar. Menghasilkan bunyi dentam kencang yang membuat Areta tersentak kaget.
Areta pun bisa bernapas lega begitu Henry keluar dari kamar. Menghapus air matanya, bergegas ia menuju lemari pakaian. Mengambil pakaian dari dalam sana untuk ia kenakan. Kendati jantungnya masih berdegup kencang karena takut. Sekujur tubuhnya bahkan gemetaran, shock luar biasa dengan serangan tiba-tiba Henry.
Namun ia berusaha sebisa mungkin menguasai ketakutannya. Sebab berada dalam satu ruangan yang sama bersama Henry gamang baginya. Rasanya seperti tengah berdiri di tepian jurang yang curam. Gelap dan menakutkan.
...
Hingar bingar musik yang terdengar, para wanita cantik yang tengah menari-nari indah di lantai dansa itu tak sedikitpun menarik perhatian Henry. Bahkan wanita-wanita dengan pakaian seksi yang datang menggodanya pun tak ia hiraukan. Dalam benaknya saat ini hanya ada Areta.
Ya.
Areta.
Bahkan tampilan indah Areta yang hanya berbalutkan handuk sebatas ketiak sampai paha itu masih melekat di pelupuk matanya. Membuat deru napasnya memburu akibat menahan letupan gejolak dalam dirinya yang begitu kuat. Areta sukses membuat naluri lelakinya meronta, tetapi tak tersalurkan. Membuatnya kesal setengah mati.
Namun sayangnya ia tak bisa meluapkan kekesalan itu begitu saja. Sebab ia tak ingin menyakiti Areta. Sehingga ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya itu pada minuman beralkohol.
Entah sudah berapa banyak minuman keras yang ditenggaknya. Sampai membuatnya mabuk berat. Beruntung Fabian sempat menghubunginya untuk memberitahunya perihal jadwalnya esok hari yang sempat dimintanya pada Fabian sepulang dari kantor.
Sebab mabuk berat, Henry bahkan beberapa kali terjatuh saat Fabian memapahnya, hendak membawanya menuju mobil. Sesekali terdengar racauan Henry. Terdengar seperti ia dilanda kekalutan. Atau mungkin kekecewaan yang mendalam. Fabian akhirnya memutuskan untuk mengantarkannya pulang.
"Ya ampun, Henry. Kenapa bisa jadi begini?" Agatha terkejut ketika Fabian memapah Henry, membawanya masuk ke dalam rumah dengan dibantu Yanto, penjaga keamanan rumah itu.
"Pak Henry mabuk berat, Bu. Untuk itu saya bawa saja dia pulang. Takut terjadi apa-apa sama Pak Henry," ujar Fabian.
"Tapi kenapa? Memangnya apa yang terjadi dengan Henry sampai dia pergi bar dan minum-minum seperti ini? Apa kamu yang mengajak dia?"
"Bukan, Bu. Bukan saya. Justru saya tadi menelepon Pak Henry untuk mengkonfirmasi jadwalnya. Tapi saya dengar Pak Henry malah ngomong tidak jelas di telepon. Makanya saya langsung menyusul ke bar yang biasa di datangi Pak Henry. Begitu saya sampai, eh, Pak Henry malah mabuk berat seperti ini."
"Henry... Henry. Ck." Agatha berdecak kesal sambil menggeleng. Ia sudah bisa menebak jika terjadi sesuatu antara Henry dan Areta. Karena selama ini Henry tidak pernah sampai semabuk ini.
"Ya sudah, cepat bawa dia masuk ke kamarnya," titahnya kemudian.
Fabian dan Yanto pun segera membawa Henry ke kamarnya di lantai dua.
...
__ADS_1
Ketukan di pintu kamar itu membuat Areta bangun dari duduknya di tepian tempat tidur. Ia yang dilanda gelisah karena perbuatan Henry, bergegas melangkah menuju pintu.
Membuka pintu kamar itu, ia dikejutkan oleh kedatangan Fabian dan Yanti yang memapah tuannya yang dalam keadaan mabuk berat. Berkali-kali terdengar namanya disebut si pria mabuk itu. Membuatnya salah tingkah. Sebab dari yang terlihat saja, sudah jelas jika penyebab si tuan mabuk adalah dirinya.
"Maaf, Bu. Mohon ijin masuk, Pak Henry mabuk berat," ujar Fabian.
"Si-silahkan. Silahkan masuk." Areta menggeser tubuhnya. Memberi jalan bagi Fabian dan Yanto untuk membawa Henry masuk. Lalu mereka membaringkan Henry di tempat tidurnya.
"Tolong sepatu Pak Henry di lepas ya Bu. Sekalian tolong ganti bajunya. Pak Henry suka kegerahan kalau lagi mabuk seperti itu," ujar Fabian ketika hendak berpamitan pulang.
"Kenapa saya?" Areta protes. Karena tak ingin menyentuh pria itu seujung rambut pun.
"Loh, kan Bu Areta istrinya?"
Areta pun salah tingkah. Terpaksa ia mengiyakan dengan anggukan kepala sebelum akhirnya Fabian pamit pulang.
Membawa langkahnya perlahan, Areta menghampiri tempat tidur itu. Dimana Henry tengah terlentang, entah masih sadar atau tidak.
Membungkukkan badan, diraihnya kaki Henry. Melepas sepatu dan kaus kaki pria itu. Memutari sisi tempat tidur, ia lantas meraih kancing kemeja Henry, hendak membukanya untuk menggantinya dengan kaos oblong yang sempat diambilnya dari lemari pakaian.
Dengan hati-hati ia mulai membuka tautan kemeja itu satu persatu. Sehingga menampakkan dada bidang Henry. Refleks ia memalingkan wajahnya, tak ingin melihat pemandangan itu.
Namun tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sebuah tangan hangat yang menggenggam pergelangannya erat. Sontak ia pun menoleh. Dan mendapati Henry yang sudah membuka matanya, menatapnya dingin.
"Kamu harus bertanggung jawab, Areta. Kamu sudah mengacaukan hidupku," ucap Henry lirih.
Areta menelan ludahnya gugup.
"A-apa maksud kamu. Bukannya kamu yang mengacaukan hidup kamu sendiri? Kenapa malah menyalahkan aku?"
"Areta, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."
"Masa bodoh. Aku tidak peduli dengan perasaan kamu. Ak_" areta terkejut luar biasa saat tiba-tiba Henry menariknya kuat. Lalu mengungkung tubuhnya begitu ia terbaring terlentang.
"Berikan hakku sebagai suami malam ini juga."
*
__ADS_1