Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 67


__ADS_3

Bab. 67


Seminggu waktu berlalu. Telah beredar kabar di seantero Dreams Food bahwa Angga dan Mega sudah melangsungkan pernikahan. Pesta pernikahan yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari itu, bahkan hampir saja gagal, akhirnya terlaksana juga.


Setelah pesta pernikahannya usai, pagi ini Angga mengajak Mega pulang ke kediamannya. Keduanya tengah menggeret koper memasuki halaman rumah.


Namun langkah keduanya harus terhenti di depan pintu rumah ketika dilihatnya Wirda tengah beradu mulut dengan dua orang berpakaian rapi.


"Mana bisa begitu. Tolong beri kami waktu." Wirda memohon dengan wajah kusut.


"Maaf sekali Bu, pihak bank sudah memberi kalian waktu seminggu. Tapi selama seminggu itu, tidak pernah ada itikad baik dari kalian. Kalian bahkan menyia-nyiakan waktu yang telah kami berikan. Dan sekarang, biarkan kami melakukan tugas kami," terang salah seorang diantara mereka.


"Ada apa ini?" Angga bertanya, melipat dahi kebingungan. Melepas koper yang digeret sejenak.


Dua orang berpakaian rapi tersebut menoleh.


"Kalian siapa?" Angga kembali bertanya.


"Dengan Pak Angga?" tanya salah seorang.


"Iya. Ada apa ini?" Lantaran didera masalah bertubi-tubi, mungkin Angga melupakan soal yang satu ini.


"Kami dari pihak bank, Pak. Kami ditugaskan untuk mengantarkan surat penyitaan rumah ini."


"A-apa? Penyitaan rumah?" Angga sungguh terkejut, sampai dahinya terangkat, matanya terbuka lebar.


"Pak Angga sudah menunggak pembayaran beberapa bulan. Bahkan tidak ada itikad baik dari Pak Angga untuk segera menyetorkan pinjaman Pak Angga ke bank kami. Pak Angga ini sudah menunggak sejak bulan pertama loh Pak Angga. Jadi pihak bank sudah mengambil keputusan untuk menyita rumah Pak Angga, yang Pak Angga jadikan sebagai jaminan."


"Menyita rumah ini kalian bilang? Apa-apaan ini?" Mega emosi, tak terima setelah menikahi Angga ia malah terancam tak memiliki tempat tinggal. Pernikahan macam apa ini? Ia hanya bisa mendengus kesal, sekali lagi merasa dipermainkan oleh Angga. Jika saja bukan karena kehamilannya, ia tidak akan sudi menikahi Angga.


Angga membuang napasnya pelan. Ia tampak tengah berpikir. Sebelum akhirnya menjawab.


"Baiklah. Saya akan segera melunasi pinjaman saya. Tapi tolong beri saya waktu sampai besok." Yakin tidak yakin ia bisa melunasi pinjamannya, Angga harus tetap melakukannya. Walaupun akan ada yang harus ia korbankan nanti.


"Kamu mau melunasinya dengan apa, Angga?" Wirda bertanya ketika pegawai bank pamit pulang setelah Angga menjanjikan akan segera melunasi hutangnya, dengan tidak menyita rumah yang sedang mereka tinggali.


Mega yang tengah duduk berpangku kaki di ruang tamu itu tak peduli dengan kesulitan yang Angga hadapi. Ia sudah dibuat gerah oleh kelakuan Angga.


"Terpaksa aku akan menjual mobilku, Bu." Tidak ada pilihan lain lagi selain menjual mobil barunya. Padahal belum lama ia merasakan nikmatnya mengendarai sebuah mobil mewah. Bahkan ia sempat memamerkan mobil barunya itu kepada rekan kerjanya terdahulu untuk membuat mereka iri kepadanya. Rupanya, kenikmatan itu malah tak bertahan lama. Dan ia harus kembali ke keadaannya yang semula. Sungguh kasihan Angga.

__ADS_1


"Ya, jual saja, itu lebih bagus. Dari pada kita tidak punya tempat tinggal," timpal Mega acuh tak acuh.


"Tapi jangan pernah berpikir menumpang mobilku ke kantor ya. Kita berangkat ke kantor masing-masing," sambungnya memberi peringatan.


"Idih, sombong sekali kamu?" Malah Wirda yang naik pitam, tersinggung dengan omongan Mega.


"Angga jadi susah begini juga gara-gara dia menikahi kamu," tambahnya marah.


Mega tersenyum miring. "Kalau tahu bakal begini kejadiannya, aku juga tidak akan sudi berhubungan dengan anak Ibu. Kalau bukan karena Pak Henry, ogah aku dekat-dekat dengan anak Ibu yang kere ini."


"Kenapa kamu bawa-bawa Pak Henry diantara kita?" tanya Angga berkerut dahi penasaran.


"Ah, sudahlah. Malas aku ngomong sama kamu lama-lama. Aku capek, aku mau istirahat, di mana kamar kita?"


Angga pun hanya bisa menghela napasnya panjang. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang jika tak ingin pamannya Mega yang seorang polisi itu membuat perhitungan dengannya. Ia hanya bisa menuruti saja omongan Mega. Entah Mega benar atau tidak. Bersama Mega, ia seperti kambing congek. Tak bisa membantah perkataan istri.


Sedangkan Wirda bergegas ke kamarnya setelah menghentak kakinya kesal lantaran memiliki menantu seperti Mega. Tipikal yang suka memerintah. Betapa menyesalnya ia mengapa ia membiarkan saja putranya mendekati wanita seperti Mega ini dan malah meninggalkan wanita sebaik Areta.


Ah, tak ada gunanya menyesali. Toh semuanya telah terlanjur terjadi. Areta mungkin sudah berbahagia dengan keluarga barunya. Sedangkan bekas keluarganya? Ah, sungguh miris. Wirda pun hanya bisa mendengus kesal.


...


Seminggu berlalu Areta sudah mulai melupakan kesedihannya akan kehilangan sang putri tercinta. Untuk menghilangkan kejenuhannya, sebab tak memiliki kegiatan lain, ia memutuskan membantu Bi Lastri di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga.


Salon Areta sedang direnovasi besar-besaran. Sehingga untuk beberapa waktu lamanya ia tak memiliki kegiatan di luar rumah. Renovasi salonnya saja berada di bawah pengawasan Henry langsung. Ia hanya tinggal menunggu sampai salon itu siap dibuka kembali. Betapa beruntungnya Areta bisa memiliki seorang suami seperti Henry. Yang peduli dan penuh perhatian.


"Aw!" Areta memekik kesakitan saat jemarinya teriris pisau tak sengaja ketika ia sedang memotong-motong sayuran. Darah segar menetes dari jari telunjuk kirinya.


"Ada apa, Nyonya?" Bi Lastri yang sedang mengaduk kari ayam pun terkejut, menoleh, kemudian bergegas menghampiri. Tanggap akan situasi.


"Tangan Nyonya berdarah. Tadi kan Bibi sudah bilang, tidak usah membantu Bibi. Bibi sudah terbiasa kok sendirian di dapur," ujar Bi Lastri penuh kecemasan.


"Tidak apa-apa, Bi. Lagian ini hanya luka kecil kok." Sembari memegangi jemarinya yang berdarah.


"Iya, tapi tetap saja, Nyonya. Bibi nanti bakal diomeli Den Henry kalau tahu Nyonya jadi luka begini cuma gara-gara bantuin Bibi di dapur."


"Astaga, tidak ada yang akan memarahi Bibi. Kalau sampai itu terjadi, percayalah, saya berada di pihak Bibi." Areta tersenyum. Namun kemudian ia menutup mulut dan hidungnya. Seakan sensitif oleh bau makanan yamg sedang dimasak.


"Nyonya kenapa lagi, Nya?" Wanita paruh baya itu terlihat sangat cemas melihat sang nyonya memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Saya pusing Bi. Bibi masak apa itu, kok baunya aneh."


"Kari ayam kesukaannya Den Henry, Nya. Den Henry paling suka dimasakin kari sama Bibi, sejak kecil."


"Tapi baunya kok aneh, Bi? Tidak seperti biasanya. Memangnya Bibi menambahkan bumbu apa lagi ke dalamnya?"


"Bumbunya seperti biasa, Nya. Tidak ada yang Bibi tambahkan."


"Baunya kok bikin saya mual ya?"


"Nyonya sakit ya? Ya sudah, Nyonya istirahat saja di kamar. Biar pekerjaannya Bibi kerjain sendiri. Nyonya Agatha juga pasti tidak akan membiarkan Nyonya kecapean di dapur."


"Ya sudah Bi. Maaf ya Bi, saya tidak bisa bantuin Bibi sampai selesai."


"Ya ampun, Nyonya. Tidak apa-apa. Kalau Nyonya Agatha tahu, Nyonya juga pasti tidak bakalan diijinkan berada di dapur."


"Ada apa ini?" Panjang umur, baru saja Bi Lastri menyebut namanya, Agatha tiba-tiba muncul di dapur.


"Areta, kamu kenapa?" Agatha langsung panik melihat jari Areta yang terluka. Serta Areta yang meringis sembari memijit pelipis.


"Aku tidak apa-apa, Mah."


"Tapi jari kamu terluka begini. Mana muka kamu pucat sekali. Memangnya kamu ngapain di dapur? Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu istirahat. Kamu tidal perlu mengerjakan apapun di rumah ini." Agatha mulai mengomel. Lebih dikarenakan kekhawatirannya serta kasihnya kepada sang menantu.


"Aku tidak apa-apa, Mah. Tadi aku yang memaksa."


"Kamu pucat sekali, Areta. Apa kamu beneran sakit?"


Areta mengangguk. Ia hendak mengayunkan langkahnya meninggalkan dapur. Tetapi tiba-tiba saja tubuhnya ambruk di lantai dapur itu. Membuat Agatha dan Bi Lastri panik, khawatir, juga takut.


...


Henry baru saja menyelesaikan rapat pentingnya dengan Park Nam Joon, seorang kolega dari Seoul yang baru saja menjalin kerja sama dengannya. Produk Dreams Food mulai memiliki pangsanya sendiri di pasar Asia. Sehingga Henry tergerak ingin melebarkan sayapnya sampai ke Korea Selatan.


Ia baru saja keluar dari ruang rapat, berbincang-bincang dengan Park Nam Joon, saat tiba-tiba ponselnya berdering.


"Apa? Istriku pingsan?" Seperti itulah keterkejutannya ketika mendapat kabar dari Agatha tentang kondisi Areta.


*

__ADS_1


__ADS_2