
Bab. 64
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin." Angga menggeleng frustasi, hendak merobek kertas di tangan.
Namun tangan Mega dengan cepat meraih kertas itu dari tangan Angga sebelum Angga menjadikannya serpihan. Demi menghilangkan bukti perbuatannya.
"Enak saja kamu seenaknya mau menghilangkan barang bukti. Walaupun kertas ini kamu sobek, aku bisa melakukan tes DNA untuk membuktikan anak yang aku kandung ini adalah anak kamu andai kamu tidak percaya. Jadi, percuma saja kamu menghindar," ujar Mega penuh percaya diri.
"Kamu pasti sedang berbohong kan? Kamu tidak terima aku membatalkan pernikahan kita, makanya kamu melakukan ini untuk menakut-nakuti aku kan? Kamu mau menjebak aku dengan kehamilan palsu kamu itu. Aku benar?" Angga masih saja belum sadar diri, sudah beberapa kali ia berhubungan intim dengan Mega tanpa menggunakan pengaman. Dan kemungkinan Mega hamil itu sangat besar.
"Kamu perlu bukti lagi, Angga sayang? Kalau begitu kamu temani aku ke dokter kandungan."
"Dengar Mega. Aku tahu kamu marah, kamu masih sakit hati, untuk itu kamu ingin membalas aku kan? Tapi tolonglah, bukan begini caranya. Kamu pikir kamu bisa bermain-main dengan hal semacam ini?"
Mega membeliak tak percaya dengan respon yang diberikan Angga atas kabar kehamilannya.
"Jadi kamu tidak percaya kalau aku hamil anak kamu sekarang? Kalau bukan anak kamu yang sedang aku kandung saat ini, laku anak siapa lagi? Cuma kamu satu-satunya laki-laki yang berhubungan dengan aku. Kamu kira aku ini perempuan apaan yang suka tidur dengan banyak laki-laki. Walaupun begini aku masih punya otak, tahu tidak. Jangan kamu samakan aku dengan mantan istri kamu itu." Mega naik pitam, tak terima Angga menuduhnya berbohong.
"Hei!" Angga mengangkat tangannya, mengarahkan jari telunjuknya dengan kemarahan kepada Mega.
"Jangan bawa-bawa Areta. Dan jangan pernah samakan Areta dengan kamu. Areta itu berbeda," sambungnya membela. Padahal semua ini terjadi juga karena ulahnya.
"Apa bedanya dia dariku? Dia itu sama saja, tidak ada bedanya. Awal-awalnya saja lagaknya sok alim, tapi ujungnya-ujungnya kepincut juga kan sama Pak Henry?" Mega sinis, tak bisa terima Angga mulai membela si mantan istri.
"Apa kamu lupa, Angga. Bukankah kamu meninggalkan Areta hanya demi mengejar aku? Lantas setelah kamu mendapatkan aku, lalu sekarang kamu mau membuang aku begitu saja seperti yang kamu lakukan sama Areta? Jangan kamu kira kamu bisa melakukan itu padaku, Angga," sambungnya mulai mengancam. Sebab lelaki seperti Angga ini sangat pantas untuk diberi pelajaran.
"Kenapa tidak? Kita tidak punya ikatan apapun lagi sekarang, terus kenapa aku tidak bisa melakukan itu sama kamu? Aku_"
"Papa ..." Tiba-tiba saja terdengar suara Rosa memanggil nama Angga dalam kepayahan.
Sontak Angga menoleh, lalu gegas menghampiri.
__ADS_1
"Rosa ... Rosa udah bangun sayang?" Angga terlihat panik juga cemas. Pasalnya kehadiran Mega membuatnya sungguh tak nyaman. Sudah pasti Rosa akan mempertanyakan tentang keberadaan Mega di dalam ruangannya.
"Papa ... siapa tante itu?" tanya Rosa lirih dengan susah payah tak bertenaga.
"Tante itu bukan siapa-siapa sayang. Dia cuma teman kantor Papa."
"Bener? Terus kenapa ta ..." Rosa tersengal, ia meraup oksigen ik-banyaknya sebelum kembali berkata.
"Kenapa tadi Rosa dengar Papa mau menikah dengan tante itu?"
Angga gelagapan. Bukan hanya kebingungan, ia bahkan tak tahu harus menjawab apa sekarang.
"Ro-Rosa mungkin salah dengar. Kata siapa Papa akan menikah dengan tante itu? Papa cuma sayang sama mamanya Rosa. Mana mungkin Papa mau menikahi tante itu." Angga berkilah, mencari-cari alasan agar Rosa tak kembali melayangkan pertanyaan yang sama.
Namun agaknya, Angga takkan mungkin bisa menghindar lagi kali ini. Sebab kini Mega malah menghampiri sambil mengulas senyum manisnya yang menyimpan maksud dibaliknya.
"Halo Rosa?" Mega menyapa, tersenyum manis menatap Rosa. Sedangkan Angga terlihat panik,
"Rosa mau tahu siapa Tante?" sambung Mega semakin melebarkan senyumnya tanpa memedulikan Angga yang memberi kode lewat matanya agar Mega tidak berkata apapun lagi.
Membuat Rosa sangat terkejut. Bahkan mungkin shock, sampai ia kesulitan bernapas. Angga pun panik dibuatnya melihat kondisi Rosa. Sedangkan Mega tak sedikitpun ada ketakutan di wajahnya walaupun keadaan Rosa tampak memburuk akibat ulahnya.
"Rosa ... Rosa ... Kamu kenapa sayang?" tanya Angga panik.
Namun Rosa tan menyahuti pertanyaan ayahnya. Gadis kecil itu kesulitan bernapas, dada kecilnya naik turun, napasnya tersengal saking terkejutnya ia. Angga pun diserbu ketakutan seketika.
"Kamu ini apa-apaan sih? Awas ya kalau sampai terjadi sesuatu sama Rosa, kamu yang harus bertanggung jawab!" seru Angga lantang sebelum ia keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter.
"Enak saja. Salah kamu sendiri. Seenaknya saja mau batalin pernikahan begitu saja. Sudah berani menghamiliku, maka kamu juga harus bertanggung jawab, Angga." Mega bergumam dengan tatapan sinis di depan Rosa yang mendadak kambuh.
...
__ADS_1
Ruam yang ditimbulkan akibat alergi di tubuh Henry telah mereda sepenuhnya. Keadaannya telah kembali seperti sedia kala. Sehingga ia bisa menyempatkan waktu menemani Areta ke rumah sakit Sinar Harapan untuk membesuk Rosa.
Areta dan Henry melangkah bergandengan tangan menuju ruang perawatan Rosa. Namun langkah keduanya terhenti ketika mereka melihat beberapa perawat dan dokter tergesa-gesa, bahkan berlari memasuki ruangan tersebut. Membuat kecemasan serta ketakutan menyerang Areta seketika.
Yang membuat Areta semakin ketakutan adalah ketika dilihatnya Angga dan Wirda keluar dari ruangan tersebut dengan wajah sedih juga diselimuti ketakutan yang sama. Bahkan Wirda tampak sedang menangis. Membuat ketakutan Areta bertambah berkali-kali lipat.
"I-itu ..." Areta tergagap sambil mengarahkan jari telunjuknya ke ruangan tersebut dengan wajah tegang diselimuti ketakutan. Tubuh Areta membeku di tempatnya. Bahkan untuk melangkah saja kakinya serasa berat.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Henry cemas.
"Rosa ... Rosa ..." Areta bahkan tak tahu lagi harus berkata apa. Firasat buruk mulai menelusup ke dalam hatinya. Jantungnya bahkan berdebar-debar, darahnya berdesir hebat. Biasanya, firasat seorang ibu terhadap anaknya itu tak pernah meleset. Dan kini firasat buruk itu pun mulai mengintai. Namun dalam hatinya ia tetap berharap Rosa akan baik-baik saja.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu. Biar aku yang ke sana." Henry membawa langkahnya cepat menuju ruangan tersebut. Namun Angga mencegahnya begitu tangannya memutar handel pintu.
Di dalam sana Henry bisa melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka, Nino bersama beberapa perawat tengah menangani Rosa menggunakan defibrillator. Adalah perangkat yang memberikan kejutan listrik ke jantung, untuk mengatasi irama jantung abnormal yang berpotensi fatal atau aritmia. Alat tersebut juga umum digunakan pada pengidap henti jantung atau ventrikel agar detak jantung kembali ke ritme normal.
Separah apa kondisi Rosa saat ini, ia bisa mengetahuinya dari tindakan penanganan yang dilakukan oleh Nino. Pantas saja Angga dan Wirda terlihat begitu ketakutan.
"Kamu tidak boleh masuk. Rosa itu bukan anak kamu," ujar Angga, telah melupakan status diantara dirinya dengan Henry. Ia bahkan sudah tak menghormati Henry lagi sebagai atasannya.
Sementara di seberang, Areta masih mematung dengan segala ketakutannya.
"Kamu salah Angga. Rosa adalah anakku juga. Jadi aku berhak tahu seperti apa kondisinya saat ini," ujar Henry.
"Seperti apapun hubungan kamu dengan Areta sekarang, itu tidak akan pernah bisa merubah apapun. Termasuk tentang Rosa."
Henry tak lekas membalas ucapan Angga. Ia bertambah cemas ketika dilihatnya dari celah pintu Nino telah menghentikan tindakan yang dilakukannya. Tangannya yang masih memegangi handel pintu bahkan gemetaran.
Henry terpaku, terdiam seribu bahasa ketika Nino keluar dari ruangan tersebut dengan wajah muram.
"Dok, gimana keadaan putri saya Dok?" Angga bertanya dengan kecemasannya yang menghebat. Wirda pun datang menghampiri, ingin juga mengetahui kondisi sang cucu.
__ADS_1
Namun Nino tak lekas menjawab pertanyaan Angga. Nino malah menghela napas panjang, kemudian menatap satu per satu keluarga Rosa yang hadir. Tatapannya pun berhenti bergulir kepada sosok Areta yang berdiri di seberang dengan wajah tegang.
*