Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 40


__ADS_3

Bab. 40


Seperti sedang bersandiwara, seolah ia tengah memainkan peran sebagai istri Henry Adiswara. Itulah yang dirasakan Areta saat ini. Menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan sebetulnya terasa aneh juga canggung baginya. Status barunya itu bahkan belum bisa ia terima.


Namun, keadaan memaksanya untuk menerima status dan perannya yang baru. Meski sesungguhnya tidak ada cinta di dalamnya.


Senyuman manis terukir jelas di wajah Henry melihat tampilan anggun Areta dalam balutan gaun panjang berwarna hijau tosca berlengan pendek yang ia belikan semalam, dengan meminta bantuan Hera. Sebab jika dilihat-lihat, Areta dan Hera memiliki postur tubuh yang nyaris sama. Mulai dari bentuk tubuh sampai tinggi badan pun nyaris serupa.


Tak hanya gaun, lengkap dengan perintilannya sampai ke pakaian dalamnya pun dibelikan Hera. Dan ternyata ukuran yang dibelikan Hera sangat pas di tubuh Areta.


Areta mengulum senyuman begitu mendaratkan pantatt pada kursi meja makan. Membalas sambutan senyuman ramah Agatha yang tersungging untuknya.


Mengambil duduk di sebelah Areta, Henry baru melepas genggaman tangannya.


"Wah wah waaah... Mesra sekali pengantin barunya." Agatha menggoda, menatap gemas pada sang putra dan menantunya. Baru saja ia bahagia, merasa lengkap memiliki seorang menantu, kabar-kabar burung pun mulai hinggap. Membawa berita yang mengusik ketenangan serta mengganggu kebahagiaannya. Untuk itulah ia ingin memastikannya sendiri secara langsung.


Agatha tak ingin mempercayai kabar burung yang ia terima pagi ini. Namun ia juga tak bisa mengabaikannya begitu saja. Sebab terus terang saja, permintaan Henry untuk melangsungkan pernikahan secara tertutup itu membuatnya bertanya-tanya.


"Oh ya, berhubung hari ini Mama mau ketemuan dengan teman Mama yang punya WO Anggrek, jadi Mama ingin tahu nih, gimana kira-kira tanggapan kalian soal resepsi pernikahan. Rencananya Mama mau menggunakan WO teman Mama itu untuk resepsi pernikahan kalian. Gimana?" sambung Agatha.


Membuat gerakan tangan Areta yang hendak mengambil roti tawar pun terhenti. Ia tak memberi tanggapan, ia diam menunduk. Sebab ia tak menyukai bila pernikahannya dengan Henry digelar meriah. Ia hanya tak ingin Rosa mengetahui kabar perpisahannya dengan Angga.


Ia tahu, suatu hari nanti ia harus memberi penjelasan kepada Rosa. Namun saat ini bukan waktu yang tepat bagi Rosa, mengingat kesehatan jantung gadis kecil itu mungkin akan terganggu bila sampai mendengar kabar perpisahan ayah dan ibunya.


Henry memahami perasaan Areta saat ini. Untuk itulah ia setuju-setuju saja ketika Areta meminta pernikahan digelar secara tertutup juga tidak ada resepsi pernikahan. Walau sebetulnya ia menginginkan semua orang tahu kalau Areta kini telah menjadi miliknya.


"Emm... Sorry Ma. Aku dan Areta tidak ingin menggelar resepsi," ujar Henry bersikap santai, seolah tidak ada yang ia sembunyikan.


Agatha pun mengangguk pelan, menuruti saja perkataan Henry. Tak ingin ia memaksakan kehendaknya walaupun sebenarnya ia sangat ingin menggelar resepsi untuk putra bungsunya itu. Karena walau bagaimanapun kabar bahagia ini harus diketahui oleh banyak orang. Agar tidak mengundang kekeliruan dan kesalahpahaman di kemudian hari.

__ADS_1


Namun menuruti bukan berarti membiarkan. Agatha menyimpan banyak pertanyaan akan hubungan Areta dan Henry. Terlebih lagi soal kabar burung yang diterimanya itu sungguh sangat mengganggu. Bahkan ia tak terima, bagaimana bisa putra yang dikasihinya, yang menjadi kebanggaannya itu malah menikahi seorang janda dengan satu anak.


Agatha mengakui, sejak Henry mengambil alih kepemimpinan Dreams Food, perusahaan itu berkembang pesat. Laju pertumbuhannya luar biasa dibawah kendali Henry. Dreams Food tak hanya berhasil merebut pasar lokal, Dreams Food bahkan mulai menembus pasar luar negeri. Angka permintaan pasar luar negeri yang begitu tinggi membuat Dreams Food melakukan produksi besar-besaran tahun ini.


Melihat dari keberhasilan Henry, tidak menutup kemungkinan akan menumbuhkan perasaan iri bagi para pesaingnya. Sehingga kabar-kabar tak menyenangkan yang sampai kepadanya itu kemungkinan hanya isu yang ditimbulkan secara sengaja oleh orang-orang yang tidak menyukai Henry.


Mungkin.


"Boleh Mama tahu alasannya kenapa?"


Henry melirik Areta sejenak, yang terlihat canggung. Diraihnya jemari Areta, menggenggamnya erat. Mencoba memberinya kenyamanan melalui sentuhan.


"Aku belum bisa memberitahu Mama alasannya. Tapi yang pasti, aku tidak akan melakukan apapun yang membuat istriku tidak nyaman," ujarnya sembari mengeratkan genggaman. Sebab Areta tengah berusaha menarik tangannya.


"Loh, tidak nyaman kenapa? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan? Karena terus terang saja, Mama ingin pernikahan kalian itu digelar dengan meriah. Mama juga ingin memamerkan menantu Mama ke teman-teman Mama. Apalagi kamu itu satu-satunya anak laki-laki penerus keluarga Adiswara. Tentu saja Mama ingin semua orang melihat anak Mama ini sudah menemukan jodoh terbaiknya."


"Nanti saja lah, Ma. Untuk saat ini aku belum memikirkan soal itu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan Areta mengerti itu. Makanya, dia sama sekali tidak menuntut apapun dari aku. Termasuk soal resepsi pernikahan. Itu hanya perayaan, bisa kita selenggarakan nanti kalau aku sudah punya waktu." Henry berkilah. Tak ingin Agatha terus mengingatkan soal resepsi. Sebab ada hal yang belum Agatha ketahui, salah satunya adalah tentang cara keji Henry dalam mendapatkan Areta.


Agatha mengangguk. "Ya sudah, kalau memang itu kemauan kalian."


Luar biasa canggung, itulah yang dirasakan Areta berada dalam satu meja bersama Agatha. Ia hanya merasa tak percaya diri berada di tengah-tengah keluarga Adiswara. Yang notabenenya adalah keluarga terpandang. Sementara dirinya hanyalah wanita yang dinikahi Henry karena kesepakatan. Sebetulnya ia sungguh berharap Agatha tidak akan merestui pernikahan mereka. Sehingga ia bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk terlepas dari kesepakatan.


Akan tetapi, semua telah terlanjur terjadi. Henry bahkan telah mengeluarkan sejumlah rupiah untuk membiayai operasi Rosa sekaligus biaya perawatan Rosa yang sedang berjalan. Untuk menjaga kemungkinan terburuk terjadi kepada Rosa, maka ia tak boleh terlepas dari Henry. Karena jika tidak, ia tak punya tempat lagi yang bisa ia datangi untuk meminta pertolongan. Hanya Henry yang siap menggelontorkan dana berapapun yang ia butuhkan. Anggap saja, ia sedang menggadaikan hidupnya saat ini.


Areta pun menghela napasnya pelan. Ia biarkan saja Henry menggenggam jemarinya. Paling tidak Agatha akan mengira jika mereka saling mencintai.


...


"Rosa senang banget Mama datang ke sini." Rosa sumringah, tersenyum bahagia ketika Areta datang mengunjunginya di kediaman Wirda.

__ADS_1


Gadis kecil itu menghambur ke pelukan ibunya, menumpahkan haru juga rindu dalam pelukan ibunya. Sudah beberapa hari ini ia merindukan ibunya.


"Mama juga senang bisa ketemu Rosa," balas Areta begitu melerai pelukan.


"Oh ya, gimana keadaan Rosa? Masih suka sesak napas tidak?" tanyanya.


"Sedikit, kalau Rosa lagi kecapean aja."


"Loh, memangnya Rosa ngapain? Kok sampe capek?"


"Bantu Oma nyiram tanaman."


"Rosa... Rosa tahu kan kalau Rosa itu tidak boleh capek. Jadi Rosa tidak perlu mengerjakan apapun. Lagipula Rosa kan masih kecil. Tugas Rosa hanya bermain dan bermain. Tapi ingat, bermain juga jangan sampai capek. Hm?"


Rosa tersenyum.


"Oh ya, kenapa Rosa sama Papa tinggalnya kok di rumah Oma? Memangnya kenapa rumah kita? Kenapa juga Mama tidak tinggal bersama Rosa dan Papa di sini? Apa Mama dan Papa lagi berantem?" tanya Rosa kemudian.


Yang membuat Areta kelabakan. Ia tahu hal ini pasti akan terjadi. Rosa akan mempertanyakan kejanggalan yang terjadi. Memang Rosa hanyalah seorang anak kecil yang belum memahami persoalan diantara orang dewasa. Akan tetapi tidak semestinya anak sekecil Rosa ikut menjadi korban keegoisan orang dewasa.


"Emm..." Areta kebingungan memilih kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu.


"Rumah kita sedang direnovasi, sayang. Dan Mama sedang kursus kecantikan di luar kota. Jadinya Mama tidak bisa tinggal bersama kita." Tiba-tiba Angga datang dan menjawab pertanyaan Rosa.


Penjelasan berbalut kebohongan dari Angga itu begitu mudah dipercayai Rosa. Sehingga untuk saat ini Areta bisa terbebas dari beban. Sebab ia tak kan kuat jika harus membohongi anak sekecil Rosa. Namun bagaimana lagi, keadaan memaksa.


"Aku datang ke sini untuk menjemput Rosa." Areta berkata ketika Angga mengajaknya mengobrol berdua di teras rumah. Sementara Rosa ia minta untuk beristirahat saja di dalam kamarnya.


"Tidak bisa, Areta. Rosa akan tetap tinggal di sini bersama aku dan ibu." tolak Angga, melanggar keputusan yang telah diambilnya sendiri beberapa waktu lalu sebelum perceraian.

__ADS_1


Membuat Areta meradang seketika.


*


__ADS_2