Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 58


__ADS_3

Bab. 58


"Areta, tunggu Areta." Angga memanggil setengah berteriak, menyusul langkah panjang Areta yang telah jauh meninggalkannya.


Areta tak menghiraukan teriakan Angga. Ia justru semakin mempercepat langkahnya sambil berusaha menghubungi Henry. Begitu keluar dari ruang rawat Rosa, ia tak menemukan keberadaan suaminya itu. Membuatnya cemas seketika, sebab ia memedulikan perasaan suaminya.


"Kamu di mana?" tanya Areta begitu panggilan tersambung tanpa menghentikan ayunan langkahnya. Meski Angga tengah memanggil-manggil di belakangnya.


"Ya sudah, aku ke sana. Kamu ja_" Namun ucapan Areta terhenti lantaran Angga menarik lengannya kuat.


"Kamu apa-apaan sih, Ga?" Areta mengomeli Angga dengan panggilan telepon yang masih terhubung dengan Henry.


"Areta, kita harus bicara," pinta Angga.


"Apa lagi yang mau dibicarakan. Bukannya semua sudah jelas?"


"Kamu lihat sendiri kan seperti apa kondisinya Rosa? Apa kamu masih berniat membawa dia tinggal bersama keluarga baru kamu itu?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Apa kamu mau membahayakan putrimu sendiri? Apa kamu sudah gila, Areta?"


"Ini hanya masalah waktu, Angga. Pelan-pelan aku akan memberi Rosa pengertian. Dan aku sangat yakin, seiring dengan berjalannya waktu, Rosa pasti bisa menerima Henry sebagai ayah sambungnya. Lagipula, Henry itu orang baik. Dia itu sosok suami yang sempurna untukku. Aku juga sangat yakin dia akan menjadi sosok ayah yang terbaik untuk Rosa."


"Jangan nekat, Areta. Aku mungkin tidak akan bisa memaafkan kamu kalau sampai Rosa kenapa-napa."


"Terserah. Aku tidak peduli." Areta berbalik, hendak beranjak. Namun lagi-lagi Angga mencekal lengannya. Membuatnya naik pitam seketika.


"Apaan sih, Ga?" omelnya menatap tajam Angga.


"Areta, apa kamu sudah lupa dengan permintaan Rosa?"


"Aku tidak lupa. Dan aku tidak akan pernah mau memenuhi permintaan Rosa. Kamu tahu kenapa? Karena aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Paham?"


"Tapi, Areta. Kasihan Rosa. Dia tahu kalau kita belum berpisah. Kenapa kamu tidak menurunkan sedikit ego kamu. Demi Rosa, kenapa kita tidak kembali lagi seperti dulu? Kalau kamu bersedia, aku janji, aku akan berubah. Demi kamu dan Rosa, aku akan selalu mengalah. Aku akan menuruti semua kata-katamu, aku_"

__ADS_1


"Angga. Sudah terlambat. Oke?" sela Areta cepat. Kemudian memeriksa panggilannya yang masih tersambung dengan Henry.


"Sayang, kamu masih di sana kan? Aku akan segera ke sana. Tunggu aku ya?" ujar Areta pada Henry di seberang. Sembari beranjak meninggalkan Angga.


Untuk ketiga kalinya, Angga kembali mencegatnya. Kali ini Angga tidak menarik lengannya, tapi Angga justru memeluknya erat. Begitu cepat gerakan Angga, sehingga ia tak sempat menghindar.


"Areta, aku mohon, maafkan aku. Jujur saja Areta, aku menyesal telah menyakitimu. Aku menyesal telah membuat kita berada dalam keadaan ini. Aku akui, aku salah. Tapi aku juga tidak bisa berbohong, aku masih mencintai kamu Areta."


Areta membeku, bingung harus berkata apa lagi. Mendengar pengakuan Angga seperti ini, jujur saja membuatnya bimbang. Tak mau menampik, terus terang saja, masih ada sedikit sisa-sisa perasaannya untuk Angga. Tapi kebencian masih lebih mendominasi.


Akan tetapi, walau bagaimanapun, ada nasib Rosa yang telah dipertaruhkan hanya demi keegoisan masing-masing. Memang masih ada banyak waktu, masih belum terlalu terlambat untuk memperbaiki semuanya. Lantas, haruskah ia memberi kesempatan untuk Angga?


...


Di pelataran parkir rumah sakit. Di dalam sebuah fortuner berwarna hitam yang terparkir manis di pelataran parkir tersebut, Henry memutus sendiri sambungan teleponnya dengan Areta. Setelah tak terdengar lagi suara Areta. Malah suara Angga yang sedang memohon-mohon yang terdengar jelas. Membuat kupingnya terasa sakit.


Bukan hanya kuping, bahkan hatinya pun ikut sakit. Entah apa yang terjadi antara Areta dan Angga, sampai-sampai Areta tak berkata apa-apa lagi. Apakah Areta akan termakan bujuk rayu Angga?


Beberapa menit lamanya Henry merenungkan nasib pernikahannya dengan Areta. Memang Areta sudah membuka hati untuknya, Areta sudah menerimanya sebagai suami. Tetapi apakah ia bisa mempercayai Areta, sementara Angga sudah menyesali perbuatannya. Angga bahkan tengah bermohon-mohon untuk kembali ke pelukan Areta.


Membuang napasnya panjang, Henry lantas mulai mengemudikan mobilnya perlahan. Ia memilih meninggalkan rumah sakit itu segera. Sebab Areta tak kunjung datang setelah beberapa menit lamanya ia menunggu.


Ah, tidak!


Henry menggeleng. Ia tak ingin berpikir yang aneh-aneh. Bukankah sekarang Areta sudah menjadi istrinya? Jadi untuk apa ia merasa cemas?


...


Tak bisa menghubungi Henry membawa Areta menyusulnya kembali ke kantor. Henry tiba-tiba menonaktifkan ponselnya, Areta yakin jika Henry mungkin mendengar omongan Angga yang terakhir. Jika tidak, mana mungkin Henry sampai menonaktifkan ponselnya segala.


"Pak Henry ada, Bu. Beliau baru saja sampai. Tapi maaf, Bu Areta. Pak Henry sedang tidak ingin diganggu katanya," ujar Fabian ketika Areta bertanya sekaligus meminta ijin masuk ke ruangan Henry.


"Tapi saya istrinya. Tidak mungkin beliau tidak mengijinkan saya masuk."


"Mohon maaf sekali lagi, Bu. Tapi Pak Henry sudah berpesan seperti itu. Pak Henry sedang tidak ingin menerima tamu siapapun itu. Termasuk Bu Areta sendiri."

__ADS_1


Areta hanya bisa menghela napas panjang. Walau bagaimanapun ia harus menghormati keputusan Henry. Apalagi saat ini sedang berada di kantor. Tentu saja ia tak ingin mengundang perhatian publik jika ia memaksa. Hal itu nantinya bisa mempermalukan Henry. Dan ia tak ingin merusak image Henry.


"Baiklah. Katakan saja pada beliau, saya mampir."


"Baik, Bu." Sebagai sekretaris yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja bersama Henry, sedikit banyak Fabian mengenal Henry. Jika Henry tak mengijinkan Areta, wanita tercintanya itu masuk ke dalam ruangannya, itu merupakan pertanda jika hubungan atasan dengan istrinya saat ini mungkin sedang tidak baik-baik saja.


Baru saja Areta memutar tubuhnya, suara derit pintu terdengar. Areta pun memutar tubuhnya segera sebelum sempat melangkah. Ia terpaku begitu melihat Henry tengah berdiri di ambang pintu. Memberinya tatapan dingin, yang membuatnya serasa membeku. Darahnya berdesir ketika melihat aura berbeda dari Henry. Dengan memberanikan diri, ia pun menghampiri.


"Bukannya aku minta kamu menungguku? Kenapa kamu malah pergi begitu saja? Kamu bahkan menonaktifkan handphone kamu. Apa kamu pikir tidak mencemaskan kamu?" Areta mencecar dengan segala pertanyaan yang sejak tadi ingin ia muntahkan. Sekedar untuk meluruhkan kecemasannya.


Namun Henry malah menatapnya datar tanpa ekspresi.


"Areta ..." Henry menghela napasnya sejenak.


"Aku sudah mendengar obrolan kamu dengan Angga. Aku hanya_" Belum juga sempat Henry merampungkan kalimatnya, dengan berani Areta membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman lembut. Membuatnya terkesiap, namun tak ingin menolak.


Dengan berani dan tanpa rasa malu Areta mencumbu Henry di depan pintu. Membuat Fabian, yang mejanya tak berada jauh dari pintu itu memalingkan wajahnya cepat.


"Bisa-bisanya mereka berciuman di depanku. Apa mereka sudah tidak punya urat malu lagi ya?" Fabian menggerutu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Mungkin saja Henry mulai berpikir yang bukan-bukan. Sehingga untuk menyingkirkan segala keraguan, Areta pun memberanikan diri menyerbu lebih dulu. Demi meyakinkan Henry jika ia takkan kembali ke dalam kubangan yang sama. Ia tak ingin jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Ia meyakinkan Henry, jika Henry lah yang menjadi pilihannya.


"Aku mencintaimu," ucap Areta lirih begitu mengakhiri ciuman.


Ungkapan tulus Areta itu pun sukses membuat jantungnya berdebar hebat. Henry pun mendekatkan wajahnya, lalu berbisik di telinga Areta.


"Mau melakukannya di sofa?"


Dalam seketika semburat merah di wajah Areta pun merona. Dengan malu, sambil menahan senyum, Areta mengangguk pelan.


Tanpa menunggu lama, Henry pun menarik Areta, mengajaknya masuk.


"Fabian, tolong jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku. Aku tidak bisa diganggu untuk dua jam ke depan!" serunya kepada Fabian, sebelum akhirnya membawa Areta masuk. Lalu mengunci pintunya rapat.


Dorongan hasrat yang menggebu dalam dirinya itu mulai menuntut. Ingin segera menuntaskan dahaga di jiwa dengan saling mencumbu rakus di sofa ruangannya. Namun kali ini, pergumulan lebih di dominasi Areta. Yang ingin memanjakan sang suami.

__ADS_1


Tak memandang tempat, Henry dan Areta larut dalam penyatuan. Mengekspresikan perasaan yang menggebu-gebu diantara keduanya. Ruang kerja itu pun menjadi saksi betapa keduanya saling mendamba.


*


__ADS_2