Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
Rencana Menggagalkan Pernikahan


__ADS_3

Dareen berjalan terburu-buru memasuki rumah sakit. Dia membaca nama-nama ruangan yang dilewatinya sembari bertelepon. Raut mukanya tampak cemas.


“Pastikan Adek gue nggak kenapa-napa,” tekan Dareen. “Bentar lagi gue nyampe.”


Dareen memasuki ruangan yang disebutkan Raka dengan napas terengah. Dengan mata berkaca-kaca, Dareen memperhatikan Flo, adik tirinya yang kini terbaring lemah. Pergelangan tangan kiri Flo terbalut perban. Adiknya itu melakukan sesuatu di luar dugaan. Pada awalnya, Dareen berpikir Flo hanya menggerta, namun melihat keadaan adiknya sekarang membuat Dareen benar-benar hancur. Mereka sudah hidup bersama selama belasan tahun sebagai saudara meski tidak ada ikatan darah.


“Gue membunuh adik gue sendiri.” Dareen menjatuhkan diri di kursi. Tangannya menjambak rambutnya dengan kasar. Frustrasi.


Raka menepuk pundak Dareen. Mencoba menguatkan. Walau bukan hanya Dareen yang merasa bersalah, tetapi dia juga. Sebagai sahabat, Raka merasa memiliki andil dalam percobaan bunuh diri yang dilakukan Flo. Raka gagal mencegah Flo.


“Dia hanya belum siap kehilangan abangnya,” tukas Raka. “Umurnya masih 23 tahun. Seiring berjalannya waktu, dia pasti akan mengerti.”


“Gue merasa gagal jadi abang. Gue terlalu egois memikirkan kebahagiaan gue sendiri, Ka,” sahut Dareen kemudian menghampiri Flo dan menggenggam jemari wanita itu.


“Rahasiakan ini dari Papa dan Mama,” kata Dareen sambil menoleh sekilas pada Raka.


Bukan pengecut, Dareen hanya tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir, terutama Papa. Meskipun Flo bukan anak kandung, Papa sangat menyayangi Flo. Dulu, Dareen merasa tidak adil dengan itu. Namun, sekarang Dareen paham. Kehadiran Arini membuat hidup papanya yang sempat suram ditinggal bunda kembali membaik. Dareen berpikir kasih yang diberikan papanya untuk Flo sebagai wujud cintanya pada Arini, ibu tirinya.


Dareen langsung mengusap kepala Flo dengan lembut saat jemari adiknya itu bergerak. Hal pertama yang Flo lihat adalah raut wajah Dareen. Wanita itu tersenyum tipis saat melihat Dareen tersenyum lega. Terlebih saat Dareen mengatakan kalau ia sudah membatalkan pernikahannya. Meskipun lemah, Flo langsung memeluk abangnya. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Dareen. Flo tidak akan pernah rela berbagi Dareen dengan siapa pun. Lebih baik ia mati, dari pada harus melihat wanita lain bahagia di sisi Dareen.


***


Flo merasa kesal saat melihat wajah mempelai wanita tersenyum. Ia membuang muka lalu memilih berdiri di pojok gedung. Dia gagal untuk membuat Dareen batal menikah, tapi Flo tidak akan pernah menyerah. Dareen adalah miliknya selamanya.


“Are you okay?” Raka sudah berdiri di belakangnya. Lelaki itu memegang pundak Flo yang kini memakai gaun putih bermotif bunga mawar merah.

__ADS_1


“I am not,” jawab Flo dengan nada getir.


“But, you’re great today. Tougher than anyone.” Raka mengangkat kedua jempolnya membuat Flo tersenyum miris.


Flo tahu apa yang dipikirkan Raka. Sudah berkali-kali Raka mengucapkan kata salut dan bangga atas keputusannya. Flo memang gila. Flo tidak bisa melihat Dareen menikah dengan orang lain. Namun, lebih tidak bisa lagi melihat Dareen terbaring dan terkubur di dalam tanah.


“Thank you, Abang.” Flo tidak bisa menahan sesak melihat Dareen dan Thalita berpose berpelukan. Senyum keduanya tampak lepas saat berfoto bersama rekan-rekannya. Tidak tahan melihat lebih lama, Flo melarikan diri ke balkon gedung. Ia meminta Raka untuk tidak mengikutinya.


Melihat orang yang kau cintai bahagia itu akan membuatmu ikut bahagia, katanya. Namun kata-kata itu tidak berlaku untuku.


Flo mengusap sudut matanya. Ia menerawang melihat gedung-gedung pencakar langit di depannya. Sial. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Sesak melingkupi dadanya. Kenapa rasanya sesakit ini? Bagaimana Flo akan melanjutkan hidupnya setelah ini?


Flo mengerjapkan mata. Sesuatu yang berkilat terasa menguliti tubuhnya. Ia menoleh ke kanan dan melihat seorang pria dengan kamera di tangannya nyengir, menatap Flo dengan jenaka.


“Seorang wanita tampaknya tidak berhasil menggagalkan pernikahan kekasihnya,” ucapnya sambil memperlihatkan hasil jepretannya.


“Tenang, Nona. Lelaki di dunia ini tidak hanya satu. Ibarat kata mati satu tumbuh seribu,” kata pria itu sok tahu.


Flo pura-pura tidak mendengar. Ia paling tidak suka mendengar kata-kata motivasi yang semuanya tampak bulshit. Pada kenyatannya, hidup tidak semudah apa yang dikatakan oleh para motivator.


“Dari pada sibuk meratapi nasib, lebih baik ambil makanan di dalam. Tubuhmu kurus sekali. Pantas dia tidak memilihmu.”


Flo kembali mendelik. Pria itu malah cengengesan melihat ekspresinya. Boleh nggak, mulut orang ini, Flo ulek dengan cabe merah dan setumpuk terasi? Sembarangan mengatakan tubuh Flo kurus. Kalau bobot tubuhnya berlebih, mana bisa Flo dipercaya sebagai instruktur kebugaran? Flo menggelengkan kepala. Ia tidak ingin membuang energinya untuk marah-marah. Energinya hanya boleh terkuras untuk membuat rumah tangga kakak tirinya berantakan.


Flo berlalu meninggalkan si pria cerewet dan sok tahu itu. Sialnya ia malah kembali memasuki gedung. Sialnya lagi, Flo dipanggil untuk melakukan sesi foto keluarga. Flo sempat menolak. Namun, papa menarik lengannya dan membuat Flo berdiri di pinggir mempelai wanita. Ini pertama kalinya Flo berdiri sedekat ini dengan wanitanya Dareen. Bukan! Flo meralat sebutannya. Tidak ada wanita yang pantas menjadi wanitanya Dareen selain dirinya.

__ADS_1


Flo meringis dan merasa bulu kuduknya berdiri saat Thalita memeluknya. Pandangannya mengarah pada Dareen yang sejak tadi menghindari kontak mata dengannya. Flo menatap Dareen dengan sorot mata terluka. Inikan yang Bang Dareen mau? Melihat dia ikhlas dan menyambut hangat pelukan istrinya. Flo tersenyum miring.


“Kamu lebih cantik dari apa yang aku pikirkan.” Thalita memegang pundak Flo dengan senyum tak pernah lepas dari wajahnya. “Memang instruktur kebugaran itu dalam urusan menjaga tubuh dan kecantikan adalah juaranya.”


Flo berdecih dalam hati. Basi. Ia kemudian kembali menatap Dareen, lalu menatap tajam ke arah Thalita mmebuat wanita itu salah tingkah.


“Dan ternyata kamu adalah wanita yang berhasil merebut bang Dareen dariku,” gumamnya. Namun, masih bisa terdengar oleh Dareen, Thalita dan orang tua kedua mempelai.


Rahang Dareen mengeras seketika. Tubuh Thalita sedikit membeku. Hening sekejap. Namun, Papa berhasil memecah keheningan dengan tawa yang membahana.


“Setiap adik di dunia ini memang akan membenci wanita yang menjadi istri abangnya,” kata Papa. Suasana mulai cair saat Flo ikut tertawa membenarkan.


Thalita ikut tertawa, merasa lega tanpa sebab. Ucapan Flo sebelumnya tidak terdengar seperti ancaman adik terhadap kakak iparnya. Thalita sendiri tidak mengerti, tapi ia sedikit cemburu. Dalam hati, ia berdoa semoga ini hanya perasaannya saja. Tidak pantas rasanya mencemburui adik dari suaminya sendiri.


Persiapan sesi foto dimulai. Flo sedikit kesal saat mengetahui kalau fotografernya adalah si pria sok tahu tadi. Sambil mengarahkan posisi, si pria mengulum senyum seolah mengejek Flo. Terlebih ia menjauhkan Flo dari kedua mempelai. Membuatnya merasa terpinggirkan. Tanpa mengikuti instruksi si fotografer, Flo dengan cepat bergerak dan berdiri di tengah pengantin. Dengan posesif, Flo menggandeng lengan Dareen.


“Kita lihat seberapa kuat Kak Thalita bertahan dengan Bang Dareen?” Semua orang tertawa melihat tingkah Flo yang tampak konyol dan posesif pada kakaknya. Hanya Dareen, Raka, Flo, dan fotografer itu yang tidak tertawa.


Flo tersenyum puas. Selesai berfoto, semua orang masih tidak berhenti tertawa dan mengusap kepala Flo dengan gemas. “Silakan saja kalian tertawa, tapi Flo akan memastikan bahwa pernikahan Dareen dan Thalita memang tidak akan bertahan lama”, tekad Flo.


“Abang lihat? Mereka semua mendukungku mengawasi pernikahan kalian,” bisik Flo yang membuat tubuh Dareen bergidik.


[Bersambung]


Jangan lupa vote  dan coment, ya. 😊

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2