Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 23


__ADS_3

Bab. 23


Sebelum ke salon, Areta menyempatkan diri menjenguk Rosa di rumah sakit. Beberapa saat lalu, ketika keluar dari rumah, ia dikejutkan oleh kedatangan pihak bank yang menagih angsuran pinjamannya yang sudah menunggak dua bulan.


Akibat perdebatan yang berujung pertengkaran dengan Angga semalam, membuat Areta memilih tidur di kamar Rosa. Sehingga niatnya ingin membicarakan perihal tunggakan tagihan bank pun terlupakan.


Pagi-pagi sekali Angga sudah berangkat ke kantor dengan alasan sibuk. Areta pun tak perlu membuatkan sarapan untuknya, sehingga ia bisa menyempatkan waktu sebentar menjenguk Rosa sebelum ia berangkat ke salon.


Rosa tengah disuapi bubur oleh Wirda ketika ia masuk ke ruang rawat Rosa.


"Mama," panggil Rosa. Gadis kecil itu tersenyum lebar melihat ibunya datang.


Mengambil bangku, Areta lantas duduk di sisi ranjang, menatap putrinya yang tengah tersenyum senang kepadanya.


"Anak Mama makan yang banyak ya, biar cepat sembuh," ucap Areta menyemangati.


Rosa mengangguk. "Rosa kangen Mama."


"Sama sayang. Mama juga kangen sekali sama Rosa. Oh ya, lihat, Mama bawain apa buat Rosa." Areta membungkuk, meraih tote bag yang ia bawa dari rumah. Ia mengambil sebuah boneka beruang dari dalam tas tersebut, boneka Teddy Bear kesayangan Rosa.


"Makasih Mama." Rosa terlihat senang meraih boneka itu dari tangan Areta. Lantas mendekap erat boneka itu yang selalu menjadi teman tidurnya.


"Rosa senang Mama bawain bonekanya?"


"Senang dong, Ma. Rosa senaaang sekali." Baru berkata beberapa kalimat saja Rosa sudah terlihat kelelahan. Cepat Wirda memasang kembali ventilator ke hidung Rosa.


"Rosanya jangan diajak ngobrol dulu. Kasihan dia," omel Wirda.


"Maaf, Bu. Rosa, maafin Mama ya sayang ya?" Areta memelas, namun hati sebetulnya miris melihat kondisi sang putri yang belum juga memperlihatkan perubahan ke keadaan yang lebih baik.

__ADS_1


"Areta, Ibu mau bicara sama kamu," ujar Wirda, kemudian mengambil langkah ke pojok ruangan,  menjauh dari tempat tidur Rosa.


Areta menyusul dengan hati bertanya-tanya. Ia berharap Wirda tidak akan membahas soal tagihan biaya perawatan Rosa, yang sampai hari ini belum ia lunasi.


Wirda mungkin sudah merasa jengkel. Sebab setiap pihak rumah sakit datang memberitahukan tagihan, Wirda lah yang berada di tempat. Sedangkan ia sendiri sibuk mengais rejeki, demi si rupiah yang ingin ia kumpulkan. Yang sayangnya sampai hari ini pun, masih belum terkumpul.


"Ibu sudah dengar dari Angga apa yang terjadi diantara kalian berdua," ucap Wirda memulai, memelankan nada suara agar tak sampai ke telinga Rosa.


"Apa yang Ibu tahu? Tentang keputusan Angga yang ingin berpisah dari aku?" Sedikit sinis, tetapi seperti itulah perasaan Areta saat ini. Ia terlalu kecewa dan sakit hati dengan Angga. Yang terlalu cepat menyerah dan tak ingin berjuang lebih keras lagi. Toh, apa yang mereka perjuangkan adalah kesembuhan Rosa. Meski ia sendiri kurang yakin, apakah Rosa akan kembali pulih seperti sediakala.


"Menurut Ibu tidak ada salahnya kalian melakukan hal itu. Toh, semua itu juga demi Rosa. Terkadang demi anak, orang tua tidak hanya berjuang. Tapi juga dituntut untuk berkorban. Anak adalah tanggung jawab orang tua. Demi anak, bahkan ada orang tua yang rela bertaruh nyawa."


"Jadi menurut Ibu, perpisahan aku dengan Angga itu hanya hal sepele?" Areta tersulut emosi. Tak terima dengan jalan pemikiran mertuanya yang tak ada bedanya dengan Angga. Menganggap perpisahan bukan hal yang serius.


"Toh, Angga sudah berjanji kalian akan kembali berkumpul lagi begitu Rosa sembuh. Jangan egois Areta, lakukanlah ini demi Rosa. Memangnya kamu punya uang untuk membiayai operasi transplantasi jantung? Apa kamu pikir ada orang dengan suka rela mau mendonorkan jantungnya untuk Rosa. Semua itu butuh biaya yang besar, Areta."


"Areta, jangan kamu lupa, Angga juga sudah berkorban banyak untuk kamu dan Rosa. Angga bahkan terlalu memforsir dirinya, bekerja keras demi kamu dan Rosa. Kalau hanya untuk menyetujui syarat yang diberikan Pak Henry, Ibu rasa kamu tidak akan sulit melakukannya." Wirda sudah mengetahui semuanya dari Angga. Dan untuk hal ini ia sependapat dengan Angga. Menganggap perpisahan adalah hal yang sepele. Apa lagi yang membuat Wirda menyetujui hal ini jika bukan karena iming-iming jabatan yang menyertai.


"Tapi, Bu. Syarat itu buat aku tidak masuk akal. Biar aku cari cara lain, Bu. Kalau perlu aku akan menjual salonku."


"Mau kamu jual berapa salon kumuh kamu itu? Memangnya siapa yang mau beli? Sudah, kamu jangan egois. Turuti saja apa kata Angga. Biar Angga yang mengatur semuanya. Kamu tidak perlu cemas. Toh, Angga juga sudah janji kan sama kamu. Kalau kalian akan rujuk kembali begitu Rosa sembuh." Tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Areta, Wirda memilih menjauhi Areta. Ia mendudukkan diri di tepian tempat tidur, memandangi Rosa yang tampak tak berdaya. Bahkan untuk berkata sepatah kata saja gadis kecil itu kewalahan.


...


Memastikan Rosa telah tertidur, Areta pun hendak ke salonnya. Begitu ia keluar dari ruang rawat Rosa, ia berpapasan dengan Nino. Salah satu dokter yang menangani Rosa.


"Saya bingung, Dok. Jujur saya ingin sekali melihat Rosa kembali seperti dulu lagi. Saya juga ingin melihat dia bahagia, bermain dengan teman-teman sebayanya. Kadang saya ingin menyerah saja. Saya sudah tidak sanggup menanggung ini sendirian. Tapi, jika saya menyerah, trus gimana dengan Rosa?" keluh Areta ketika mengobrol dengan Nino, duduk di bangku taman rumah sakit. Mencurahkan resah dan kegundahan hati yang mendera. Serta kesulitan yang membelit.


Sejujurnya Nino merasa iba melihat Areta. Juga menaruh iba mendalam terhadap kondisi Rosa. Disaat anak seusia Rosa sedang menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain bersama teman-teman sebaya, Rosa malah setia mendiami bangsal rumah sakit. Hanya bertemankan sepi, juga penyakit yang kian hari kian menggerogoti.

__ADS_1


"Sabar Bu Areta. Saya sebagai dokter hanya bisa membantu sebatas yang saya bisa. Tapi, saya akan berdoa untuk kesembuhan Rosa. Semoga saja ada orang baik yang akan membantu Bu Areta."


Areta pun terhenyak begitu mendengar kalimat terakhir Nino. Kelebatan bayangan Henry pun melintasi benaknya.


Karena kalimat itulah kini Areta berada di lobi Dreams Food, hendak menemui Henry. Ia sudah memutuskan akan menyetujui syarat yang diberikan oleh Henry. Ia tak tahu entah hal apa yang melatarbelakangi Henry melakukan ini. Entah Henry mempunyai dendam terhadapnya atau tidak, ia tak peduli lagi. Sebab yang terpenting baginya adalah kesembuhan Rosa.


Areta baru saja meminta ijin untuk bertemu Henry, saat tiba-tiba netranya menangkap sosok familiar tengah berjalan bersama seorang wanita cantik sambil bersenda gurau.


Angga.


Areta berkerut dahi memandangi Angga di kejauhan sana yang sedang bercanda ria dengan seorang wanita cantik, bahkan tertawa-tawa riang. Dari gesture yang terlihat, keduanya tampak akrab dan mesra. Itu yang tertangkap oleh idera penglihatan Areta.


Bahkan, ketika wanita itu hampir saja terjatuh, dengan sigap dan cekatan Angga menahan tubuh wanita itu. Yang membuat keduanya tanpa sengaja bertemu tatap.


Pemandangan itu pun seketika menimbulkan berbagai tanya dalam benak Areta. Tentang siapa wanita itu.


Areta mulai mengayunkan langkahnya hendak menghampiri Angga dan wanita itu, yang tidak lain adalah Mega. Saat tiba-tiba terdengar suara maskulin memanggil namanya.


"Areta?"


Ayunan langkah kaki Areta pun terhenti. Lalu ia menoleh ke arah sumber suara. Di mana Henry tengah menatapnya dengan senyuman.


"Kedatangan saya kemari ingin bertemu dengan Anda," kata Areta.


"Iya, aku tahu. Untuk itulah aku sendiri yang datang menjemput kamu di lobi." Senyum Henry pun kian merekah, begitu Areta mengutarakan niatnya yang sesungguhnya.


"Saya berubah pikiran sekarang. Saya sudah memutuskan, saya menerima syarat yang Anda berikan."


*

__ADS_1


__ADS_2