Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 57


__ADS_3

Bab. 57


Mendengar penjelasan Nino beberapa menit lalu ketika ia dan Henry diminta ke ruangannya, Areta disergap gelisah, cemas juga rasa takut. Nino berkata ada kemungkinan Rosa mengalami keterkejutan sehingga kinerja jantungnya terganggu. Beruntung Rosa cepat dilarikan ke rumah sakit sehingga cepat tertangani. Serta kemungkinan-kemungkinan terburuk pun dapat diminimalisir.


"Tidak usah takut, aku yakin Rosa itu anak yang kuat. Dia sama seperti mamanya. Kalau mamanya saja bisa sekuat ini menghadapi cobaan, kenapa tidak dengan Rosa? Hm?" Henry mencoba menghibur, merangkul Areta penuh kasih, berjalan bersama-sama menuju ruang VIP di mana Rosa terbaring saat ini.


"Tapi Hen, Rosa itu hanya seorang anak kecil. Aku takut dia tidak akan sanggup melewati semua ini."


"Jangan pesimis seperti itu. Kamu harus yakin semua akan baik-baik saja. Dan yang harus kamu ingat, aku akan selalu bersama kamu apapun yang terjadi. Mulai sekarang, kamu harus selalu mengandalkan aku. Karena aku akan melakukan apapun buat kamu dan Rosa."


"Makasih ya, sayang." Tersenyum manis, Areta menyandarkan kepala di pundak Henry sembari melangkah menuju ruang rawat Rosa.


Begitu sampai, ia malah dicegah masuk oleh Angga. Membuat amarah Areta tersulut seketika. Belum lagi jika mengingat penyebab Rosa kambuh kemungkinan karena shock.


"Maaf, Areta. Kalian tidak boleh masuk." Angga berkata, mencegat Areta dan Henry tepat di depan pintu ruangan.


"Loh, kenapa tidak bisa? Aku mamanya." Areta naik pitam, menatap tajam Angga dengan kerutan dalam di dahinya.


"Apa kamu mau bikin Rosa kambuh lagi dengan memperlihatkan kemesraan kamu dengan suami baru kamu di depan dia?"


"Kambuh lagi? Jadi maksud kamu, kamu menuduh aku menjadi penyebab jantung Rosa kambuh?"


"Bukannya memang seperti itu?"


"Atas dasar apa coba kamu menuduh aku?"


"Bukannya Rosa tadi menghubungi kamu?"


"Menghubungiku?" Kening Areta semakin berkerut dalam. Ia tak mengerti dengan omongan Angga. Bisa-bisanya Angga menuduhnya menjadi penyebab Rosa pingsan. Sedangkan Rosa tinggal bersama mereka.


"Jangan sembarangan nuduh kamu, Ga. Rosa sama sekali tidak menghubungiku. Kenapa kamu tidak tanyakan saja sama ibu kamu, kenapa kamu malah menuduhku? Aku memang berencana menjemput Rosa, tapi aku tidak akan mungkin tega mencelakakan dia seperti ini."


"Alaaah Areta. Bilang saja kalau kamu sudah cerita sama Rosa tentang kita. Sampai-sampai Rosa shock, hingga dia jatuh pingsan. Kalau tidak, mana mungkin kamu berani datang ke sini dengan suami baru kamu itu." Angga tak kuasa menahan luapan perasaan cemburunya. Sehingga setiap perkataan yang keluar dari mulutnya tak ia pikirkan lagi. Menyembur begitu saja, tak terkontrol.


"Bisakah perdebatan kalian dilanjutkan nanti? Kami hanya ingin melihat kondisi Rosa." Henry menyela, menghentikan perdebatan Areta dan Angga.


"Maaf, Pak Henry. Pak Henry tidak bisa masuk. Saya rasa, tanpa saya jelaskan pun Pak Henry tahu apa alasannya. Pak Henry memang suami Areta sekarang, tapi saya ayah kandungnya Rosa. Sebagai seorang ayah, saya wajib melindungi anak saya," ujar Angga tak ingin jika Henry membesuk Rosa.

__ADS_1


Henry terkekeh. "Melindungi?" Ia sedikit merasa lucu mendengar kata itu.


"Apa kamu pikir saya ini orang jahat? Saya ini ayah sambungnya!" sambungnya menegaskan.


"Rosa tidak perlu tahu siapa Pak Henry. Dan sebaiknya Rosa tidak usah tahu. Dia akan lebih aman jika dia tidak tahu apa-apa."


"Apa-apaan kamu ini Angga!" Areta menyela. Amarahnya benar-benar tersulut oleh omongan Angga. Yang terkesan tak menghargai Henry lagi.


"Maaf, Areta. Tapi memang sebaiknya seperti itu. Kamu lihat sendiri kan akibatnya. Gara-gara kamu memberitahu kebenaran tentang kita pada Rosa, lihatlah apa yang terjadi sama Rosa. Kamu hampir saja membahayakan nyawanya. Kalau seperti ini jadinya, lebih baik Rosa tinggal bersamaku. Kalau perlu aku akan menuntut hak asuh atas Rosa ke pengadilan."


"Kamu tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini, Ga. Coba kamu pikir, siapa sebenarnya yang menginginkan semua ini terjadi. Kamu kan? Jadi kamu jangan terus-terusan menyalahkan aku. Dengar ya, kalau sampai terjadi sesuatu sama Rosa, itu semua gara-gara kamu. Kamu yang lebih pentas dipersalahkan. Cepat atau lambat, aku akan segera membawa Rosa tinggal bersamaku."


"Apa kamu mau penyakit Rosa kambuh lagi? Anak mana Areta,  yang tidak akan sedih melihat mamanya bersama laki-laki lain."


"Bukannya kamu yang mau kita seperti ini? Kamu sendiri kan yang mau kita pisah? Terus kenapa sekarang kamu malah menyalahkan aku? Apa jangan-jangan kamu_"


"Tidak, siapa bilang aku menyesal." Angga menyela cepat omongan Areta. Yang tanpa disadarinya ia malah mengutarakan isi hatinya saat ini.


Areta menarik sudut bibirnya sinis menatap Angga. Akhirnya Angga menyesali perbuatannya. Hanya karena persoalan sepele, ia malah mengorbankan rumah tangganya.


"Menyesal? Kamu menyesal?" Areta tertawa sumbang. Entah mengapa perasaannya justru tak tersentuh mendengar Angga mengungkap penyesalannya tanpa sadar. Bahkan jika Angga ingin memperbaiki segalanya, ia sudah tak ingin lagi. Sebab semuanya sudah terlambat.


"Kenapa kalian masih di sini? Cepat masuk, Rosa sudah siuman. Dia nyariin kalian berdua." Wirda berkata begitu membuka pintu ruangan. Sejak Rosa dipindahkan ke ruang rawat, ia yang tengah menunggui Rosa sedari tadi. Ia hanya berjaga-jaga jikalau tiba-tiba Rosa bertanya kepadanya perihal perpisahan kedua orang tuanya nanti.


Bergegas Areta pun masuk. Henry hendak menyusul, namun Angga malah kembali mencegahnya.


"Maaf, Pak Henry. Anak saya baru saja siuman. Saya mohon, tolong jangan Anda buat kekacauan lagi," ujar Angga serius.


Dari celah pintu, Henry melihat Areta tengah memeluk putrinya. Bahunya berguncang seperti sedang menangis. Ingin sekali ia ikut membesuk, berada di samping Areta dan putrinya, menemani mereka dikala susah. Tapi sayangnya, ada beberapa hal yang mengharuskannya mengalah. Salah satunya adalah kondisi kesehatan Rosa. Jika tidak, mungkin ia sudah memperkenalkan diri sebagai ayah sambung Rosa.


Akhirnya, demi menjaga kenyamanan bersama, Henry pun hanya bisa mengalah. Ia sadar, walau bagaimanapun Angga adalah ayah kandung Rosa. Membawa langkahnya pelan, ia memutuskan menunggu Areta di dalam mobil saja.


...


"Rosa maafin Mama ya sayang. Mulai sekarang Mama janji, Mama akan selalu ada menemani Rosa," ujar Areta begitu mengurai rangkulan.


Rosa menatap sayu mamanya. Mulutnya bergerak hendak mengatakan sesuatu. Namun ventilator yang terpasang di mulut dan hidungnya sedikit mengganggunya. Sehingga Areta melepasnya sejenak.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Rosa mau ngomong sesuatu?" tanya Areta, sedikit membungkuk, lebih mendekat agar bisa mendengar apa yang akan dikatakan oleh sang putri.


"Ma... ma..." Rosa menjeda sejenak demi meraup oksigen. Hanya menyebutkan satu kata saja ia sudah kepayahan.


"Iya sayang. Ada apa?"


"Apa be... nar... mama su... sudah pisah sama pa... pa?" tanya Rosa sepenggal-sepenggal. Dadanya kembang kempis lantaran kelelahan.


Areta terkejut dibuatnya. Lidahnya pun kelu, ia kehilangan kata-kata. Ia tahu, cepat atau lambat Rosa pasti akan mengetahui semua ini. Entah itu darinya ataupun dari orang lain. Belakangan ia juga sedang memikirkan cara untuk memberitahu Rosa tentang kebenaran yang mereka sembunyikan.


Namun, tak ia sangka secepat ini Rosa mengetahuinya. Mungkinkah penyebab Rosa jatuh pingsan adalah hal tersebut? Lalu Rosa mengetahuinya dari mana?


"Itu tidak benar sayang. Mama dan Papa tidak berpisah. Memangnya Rosa dapat kabar dari mana?" Tiba-tiba Angga datang dan menjawab pertanyaan Rosa.


"Mama ... Papa ... Tolong Mama sama Papa jangan pisah. Ja-jangan tinggalin Ro... sa." Rosa kembali meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Areta pun gegas memasangkan kembali ventilator ke hidung Rosa.


"Rosa, sudah ya. Rosa tidak usah ngomong apa-apa lagi. Rosa sekarang istirahat ya?" titah Areta sembari mengelus lembut kepala Rosa.


"Iya, Rosa sekarang istirahat. Jangan mikir yang macam-macam. Apa yang Rosa dengar itu semua tidak benar. Mama dan Papa tidak berpisah. Iya kan, sayang?" Angga menimpali. Kemudian melirik Areta.


Membuat Areta berwajah masam seketika. Sementara Wirda tengah menyimak di seberang.


"Areta, aku rasa kita harus memenuhi permintaan Rosa." Angga berkata ketika Areta hendak pamit begitu Rosa tertidur.


Tangan Areta yang hendak meraih handel pintu terhenti di udara.


"Jangan bodoh Angga. Sudah terlambat."


"Masih belum terlambat Areta. Kita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya. Kita bisa memulainya lagi dari awal."


"Jangan gila. Itu tidak mungkin."


"Bagaimana kalau aku bilang aku benar-benar menyesal? Aku bisa membatalkan pernikahanku dengan Mega."


*


Assalamu alaikum🙏☺️. Maafkan atas keterlambatan updatenya. Othor kawe sibuk nyiapin keperluan ramadhan. Ngomong², makasih banyak buat yang masih ngikutin cerita receh author remahan ini. Oh ya, Author mohon maaf bila ada salah² kata. Author juga mau ngucapin Selamat merayakan ibadah puasa bagi teman² yang menjalankannya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.🤲

__ADS_1


__ADS_2