
Bab. 61
Kekesalan mulai menyerang Areta sebetulnya pagi ini. Omongan Mega kemarin itu masih terngiang di telinganya. Sehingga mulai menjatuhkannya diambang kebimbangan. Angga memang telah berselingkuh, tetapi sungguh ia tak menyangka, ternyata ada campur tangan Henry di dalamnya.
Mengisi piring kosong Henry sudah menjadi tugas barunya sebagai istri. Setiap harinya ia selalu menemani Henry sarapan. Seperti pagi ini, ia mengambil dua lembar roti tawar untuk Henry. Roti itu sengaja ia oles dengan selai kacang lantaran kesal teringat akan ucapan Mega. Sembari tersenyum, ia hendak menyuapi Henry dengan roti itu.
"Areta, kamu_" terdengar suara panik Agatha, namun ia tak peduli. Ia hanya ingin melihat sampai di mana kepedulian Henry kepadanya jika ia diserang oleh keluarganya. Ia juga ingin melihat sebesar apa cinta Henry untuknya sampai pria itu berani melakukan hal diluar batas hanya demi mendapatkannya.
Memang Angga bersalah, namun ia tak terima Henry menggunakan orang lain untuk menjebak Angga. Itu artinya, kesalahan Angga tidak sebesar yang ia kira.
Sementara Henry, ia terkejut mengapa Areta malah ingin mencelakainya. Padahal Nino sudah bercerita kepada Areta perihal alerginya. Lalu mengapa mendadak Areta berubah seperti ini?
Bukan hanya Henry yang bertanya-tanya, keluarganya pun sama herannya melihat Areta hendak menyuapi Henry dengan sesuatu yang akan membahayakannya.
"Apa yang terjadi dengan Areta?" Henry bertanya-tanya dalam hatinya sambil menatap Areta dalam. Mencoba memahami situasi yang sedang ia hadapi. Mungkinkah Areta marah kepadanya karena ia belum menjawab pertanyaan Areta tentang hubungannya dengan perselingkuhan Angga?
Melalui tatapan matanya, Henry bisa melihat Areta tak sedang bercanda. Untuk itulah ia pun menunjukkan keberaniannya dengan memakan roti yang disuguhkan Areta. Entah apa sebabnya sampai Areta melakukan hal ini. Ia pun hanya ingin menantang Areta. Ia ingin melihat pedulikah Areta kepadanya?
Dilihatnya Areta tampak panik ketika roti itu ia lahap sampai habis. Juga sama paniknya dengan Agatha, Hera, dan Nino. Yang memang sudah tahu betul akan seperti apa keadaan Henry setelah mengkonsumsi makanan yang membuatnya alergi.
"Areta, apa-apaan kamu ini." Tak tahan Agatha pun mengomel. Bangun dari kursinya, lalu menghunus tatapan tajam penuh amarah kepada Areta.
Areta yang juga dalam keadaan panik, kebingungan harus berbuat apa. Ia menyesali mengapa ia terbawa emosi dan kekesalannya sendiri.
"Apa kamu tahu kalau Henry itu alergi terhadap kacang-kacangan? Apa kamu sengaja mau mencelakai suami kamu?" sambung Agatha masih dalam mode marah.
Sementara Henry yang mulai merasakan ketidaknyamanan akibat reaksi yang ditimbulkan oleh alerginya itu pun bangun segera dari duduknya.
"Mah, aku tidak apa-apa. Tolong jangan marahi istriku. Dia tidak tahu kalau aku punya riwayat alergi," ujar Henry yang mulai menggaruk-garuk bagian tubuhnya yang gatal. Terlihat mulai timbul bercak-bercak kemerahan di wajahnya, leher, dan tangan. Merasa tak nyaman Henry pun beranjak dari meja makan hendak ke kamarnya. Ia tak ingin wujud anehnya lantaran alergi dilihat oleh Areta.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Areta membatin. Menyesal telah mengambil tindakan gegabah, terbutakan oleh emosi sesaat.
"Areta, bukannya aku sudah cerita sama kamu semua tentang Henry? Kamu masih ingat kan tentang riwayat alergi Henry yang pernah aku cerita?" ujar Nino.
__ADS_1
"Emm ..." Areta salah tingkah, merasa canggung berada diantara kemarahan keluarga Henry.
Nino beranjak dari duduknya. Setengah berlari pria itu menuju ke lantai dua untuk memastikan keadaan Henry.
"Memangnya ada masalah apa sih kamu sama Henry? Mana mungkin kamu lupa tentang ini. Nino bahkan sudah pernah cerita sama kamu adik aku itu bahkan hampir saja nyawanya melayang hanya karena alergi. Apa jangan-jangan kamu sengaja ya ingin mencelakai adik aku?" Hera pun tak terima, entah hal apa yang melatar belakangi Areta sampai melakukan hal itu. Padahal jika dilihat-lihat mereka tampak rukun dan harmonis. Lalu mengapa Areta malah tega mencelekai adiknya?
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Areta sembari menundukkan wajahnya penuh penyesalan.
"Maaf kamu bilang? Sekarang, jika terjadi apa-apa sama Henry, apa kamu juga akan meminta maaf?"
"Sudah, sudah, jangan berdebat lagi. Sebaiknya kita melihat keadaan adik kamu." Agatha pun beranjak, meninggalkan meja makan. Disusul oleh Hera kemudian. Menyisakan Areta yang dirundung penyesalan seorang diri.
Areta menyesal, seharusnya ia menunggu jawaban dari Henry akan pertanyaan yang ia ajukan sejam lalu. Bukannya malah mengambil tindakan sendiri hanya lantaran kesal. Ia kesal saat ia mengetahui Henry rupanya punya andil dalam perselingkuhan Angga. Seperti perselingkuhan yang direncanakan.
Melupakan sejenak persoalan tersebut, ia kini disergap cemas akan keadaan Henry saat ini. Mendadak ia pun kehilangan keberanian saat semua amarah tertuju kepadanya. Ia pun hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.
...
"Kita ke rumah sakit sekarang?" tawar Nino ketika menemui Henry di kamarnya.
Pada beberapa kesempatan, gejala alergi kacang yang lebih parah seperti anafilaksis ini dapat terjadi dalam beberapa menit setelah mengonsumsi kacang. Anafilaksis adalah reaksi alergi yang sangat parah dan dapat mengancam nyawa.
"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu ke rumah sakit. Tolong ambilkan saja obat ku di laci itu." Henry menunjuk laci pada nakas di sisi tempat tidur.
Nino pun bergegas mengambilkannya dan segera memberikannya kepada Henry berserta segelas air minum yang sudah tersedia di atas nakas itu.
"Hen, Henry. Sayang, gimana keadaan kamu?" Agatha cemas luar biasa menghampiri Henry tergesa-gesa. Melihat keadaan Henry dengan wajah membengkak serta tanda-tanda kemerahan hampir di semua bagian tubuhnya itu sudah menjadi hal yang lumrah bagi Agatha. Sehingga ia tak terkejut lagi saat melihatnya. Begitu pula dengan Hera.
"Kamu sudah minum obat kan, Hen?" tanya Hera tak kalah cemasnya.
Henry mengangguk sembari menahan gatal dan perih di sekujur tubuhnya.
"Areta itu keterlaluan ya. Kenapa sih dia sampai sengaja mau mencelakai kamu?" omel Agatha. Masih merasa kesal dengan perbuatan sang menantu.
__ADS_1
"Mah, tolong jangan marahi istriku. Dia tidak tahu tentang alergiku," bela Henry. Padahal ia sendiri tahu jika Nino sudah cerita semua tentang dirinya kepada Areta.
"Tidak tahu gimana, bukannya Nino udah cerita semua tentang kamu ke dia?" ujar Hera protes.
"Hen, apa kamu sedang bertengkar dengan Areta?" Nino bertanya sembari membetulkan letak kacamatanya.
Henry tak lekas menjawab, ia hanya menghela napasnya panjang. Tangannya tak lupa menggaruk-garuk kedua lengannya bergantian. Wajahnya yang tadinya membengkak, kini berangsur-angsur pulih setelah meminum obat.
Melihat reaksi Henry yang seperti itu, Nino paham jika mungkin saja sedang ada kesalahpahaman diantara Areta dan Henry. Maka ia tak perlu lagi bertanya banyak.
Sedang Agatha dan Hera pun tak bertanya-tanya lagi. Sebab mereka juga tahu seperti apa jalan yang Henry tempuh hanya demi mendapatkan Areta. Jalan yang tak bermoral.
"Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya jangan pernah ada yang kamu sembunyikan darinya. Diantara suami istri itu harus terbuka dalam hal apapun," ujar Nino sembari menepuk pelan pundak Henry.
...
"Fabian, hari ini aku tidak bisa ke kantor. Kalau ada berkas-berkas yang harus aku tanda tangani tolong kamu bawa saja ke rumah. Dan untuk rapatnya, tunda dulu sampai besok. Hari ini aku sedang tidak enak badan." Henry berkata melalui sambungan telepon kepada Fabian.
Henry baru saja mengakhiri panggilan telepon saat terdengar suara derit pintu terbuka. Ia menoleh segera ke arah pintu kamarnya, di mana Areta tengah berdiri di ambang pintu itu dengan wajah muram nan sedihnya.
Henry menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang.
"Bo-boleh aku masuk?" tanya Areta dengan perasaan tak enak hati. Juga merasa bersalah.
"Silahkan. Bukankah ini kamar kamu juga?"
Padahal ia sudah mencelakai Henry, tapi Henry masih juga memperlakukannya seperti biasa. Membuat rasa bersalah kian bertumpuk di hati Areta. Matanya mulai berkaca-kaca ketika ia menghampiri Henry.
"Apa yang ingin kamu ketahui itu semuanya benar. Aku memang pernah memerintahkan Mega untuk merayu Angga," ujar Henry tanpa menunggu Areta menanyakan kembali hal yang sama.
Areta sedikit terkejut. Bola matanya bergulir liar menelisik paras Henry yang masih menyisakan sedikit ruam pada bagian tertentu.
*
__ADS_1
Cerita ini gak akan panjang ya. Bentar lagi mau ending. Maaf untuk up nya yang tak menentu. Dan terima kasih untuk yang masih setia ngikutin cerita receh dari author abal² ini☺️
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.