
Bab. 16
Rosa baru saja terbangun dari tidur lelapnya saat Angga datang membesuknya. Areta pun bangun dari bangku kecil yang didudukinya, digantikan oleh Angga mendaratkan bokong di bangku kecil itu.
Rosa mengukir senyum tipisnya begitu melihat Angga. Gadis kecil itu mengulurkan tangan kecilnya, meminta sang ayah menggenggam jemari mungilnya.
"Mama sudah bilang kan, papa kamu pasti datang." Areta berkata, menghibur sang putri yang sempat sedih karena mengira ayahnya tidak akan datang membesuknya.
Angga bangun, membungkuk mencium kening Rosa. Lalu duduk kembali sambil menggenggam jemari mungil Rosa.
"Maafin Papa ya? Papa sibuk sekali di kantor. Jadinya Papa baru bisa jenguk Rosa sekarang," ucap Angga mengurai senyumnya.
"Rosa kangen Papa," ucap Rosa lirih dan parau. Hampir tak berdaya upaya ia mengucapkan satu kalimat saja. Terasa hampir menguras energinya.
"Papa juga kangen Rosa. Kangeeeen banget. Oh ya, Rosa sudah makan?"
Rosa mengangguk sebagai jawabannya. Ia tak bertenaga lagi berkata. Hanya bisa memberi jawaban melalui isyarat saja.
Angga pun menciumi punggung jemari Rosa sebagai bentuk kasih sayangnya terhadap gadis kecil itu. Angga sudah berjanji kepada Areta akan membesuk Rosa sepulangnya ia dari kantor. Dan kali ini Angga memenuhi janjinya.
Setelah menemani Rosa, mengajaknya mengobrol walau Rosa hanya menjadi pendengar saja, namun Rosa sudah merasa senang. Paling tidak ayahnya sudah memberinya semangat.
Menjelang magrib, Angga dan Areta pun pamit ketika Wirda datang aplaus menjaga Rosa.
...
Areta sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Dilihatnya Angga tengah duduk berselonjoran di atas tempat tidur. Ia pun ikut naik, duduk berselonjoran di samping Angga.
"Ga?" panggilnya meminta perhatian Angga. Tak memungkiri, ia merindukan sentuhan hangat Angga. Terhitung sudah beberapa bulan lamanya Angga tak pernah lagi menyentuhnya. Biasanya sebelum tidur Angga selalu meminta jatahnya. Tetapi sekarang, jangankan menyentuh bahkan berbincang ringan dengannya saja Angga seolah enggan.
Angga menoleh sekilas. Lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Seakan ia tak terusik dengan Areta yang terlihat rapi dan wangi, meski tak berpenampilan seksi memakai lingerie. Areta hanya mengenakan piyama tidur saja.
"Ga, kamu sudah dapat pinjaman?" tanya Areta untuk mengalihkan fokus Angga.
Dalam seketika lamunan Angga pun buyar. Ia menoleh, menatap resah Areta di sampingnya. Persyaratan yang diberikan Henry beberapa jam lalu kepadanya pun terngiang-ngiang kembali di telinganya.
Beberapa jam lalu ...
"Syaratnya hanya satu, Angga. Kamu penuhi syarat itu maka kamu tidak perlu mengembalikan uang saya. Saya akan menanggung semua biaya perawatan anak kamu, termasuk biaya operasinya." Henry bangun dari kursinya. Berderap langkah perlahan menghampiri Angga yang masih berdiri di depan pintu dengan hati bertanya-tanya.
__ADS_1
Persyaratan apa gerangan yang akan diberikan Henry kepada Angga?
Angga sungguh berdebar menunggu syarat tersebut diutarakan Henry. Lumayan, ia bisa mengambil keuntungan dari Henry. Ia tak perlu lagi bersusah payah mencari pinjaman kesana kemari. Yang akhirnya malah akan mengorbankan sertifikat rumahnya sebagai jaminan. Jika mereka kehilangan tempat tinggal, tiada lagi tempat untuk mereka berteduh.
"Syaratnya apa, Pak?" tanyanya penasaran.
"Kamu yakin ingin tahu syaratnya?"
"Yakin, Pak."
"Kami yakin sanggup melakukannya?"
"Yakin, Pak. Saya akan melakukan apapun demi anak saya."
Henry kembali tersenyum culas. Merasa menang bisa menjerat Angga dalam permainannya. Permainan yang terdorong oleh hasrat kuat ingin memiliki apa yang telah dimiliki Angga.
"Baiklah, Angga. Syaratnya adalah ..." Henry menghela napasnya sejenak, menatap serius Angga yang tengah menunggu dalam cemas.
"Ceraikan Areta."
Angga pun terdiam. Debaran di jantungnya mulai menghentak. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.
"Saya juga bisa memberikan kamu jabatan yang lebih tinggi di perusahaan ini jika kamu sanggup memenuhi syaratnya. Bayangkan, seorang Angga Adinata tiba-tiba menjadi seorang direktur pemasaran. Kamu bisa membungkam mulut orang-orang yang sering meremehkan kamu dengan kamu menjadi seorang direktur." Henry menambahkan, mencoba menggoyahkan hati dan perasaan Angga. Dengan mengiming-iminginya sebuah jabatan tinggi. Yang tentu saja akan membuat siapa saja tergiur, tidak terkecuali Angga.
"Hanya dengan menceraikan Areta kamu bisa mendapatkan semua itu," pungkas Henry.
Mengingat kembali pembicaraan antara dirinya dan Henry beberapa jam lalu itu membuat Angga tergiur sejujurnya. Kapan lagi ia bisa mendapatkan semua itu. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Dan Henry memberinya waktu hanya sampai lusa malam nanti. Saat pesta anniversary perusahaan. Sebab pada pesta itu nanti Henry akan mengumumkan dirinya sebagai direktur pemasaran yang baru. Menggantikan direktur sebelumnya yang resign dikarenakan faktor usia.
"Angga?" panggil Areta, membuyarkan lamunan Angga. Sorot mata Angga memang tertuju ke wajah Areta. Namun angan dan pikirannya melayang-layang.
"Eh, ya?" Angga terhenyak, memalingkan wajahnya segera. Menghindari tatapan menelisik Areta. Ia tahu, Areta sudah memahami setiap tingkah lakunya. Dan Areta tidak akan berhenti bertanya jika ada hal yang belum diketahuinya.
"Kamu kenapa, Ga?" tanya Areta lagi.
Namun Angga tampak enggan menjawab pertanyaan Areta.
"Maaf ya, aku sudah membebani kamu dengan biaya pengobatan Rosa."
Angga menghela napasnya dalam, lantas menoleh kembali. Menatap Areta intens.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah menemukan cara untuk membiayai pengobatan Rosa," ungkap Angga.
"Oh ya? Kamu dapat pinjaman dari mana?" Areta terlihat sumringah, senang bukan main.
"Dari seseorang."
"Siapa orang baik itu, Ga? Aku ingin berterimakasih padanya. Apa kamu sudah bawa uangnya?"
"Belum, Areta. Ada syarat yang harus aku penuhi untuk itu. Jika syaratnya terpenuhi, orang itu akan membiayai pengobatan Rosa tanpa kita harus mengembalikan uangnya."
"Syarat? Syarat apa?"
Angga menelan salivanya kelat. Ditatapnya lekat-lekat sepasang mata Areta. Sejujurnya ia berat memenuhi syarat yang Henry berikan kepadanya.
Namun ia pun tak memungkiri, jika hatinya tergiur dengan tawaran posisi direktur di perusahaan. Telah lama ia mendambakan posisi itu demi tak dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan kerjanya. Ia juga bisa memanfaatkan posisi itu untuk mendekati Mega. Si manajer keuangan nan cantik jelita.
"Apa syaratnya, Ga? Apa orang itu meminta jaminan?" tanya Areta penasaran, menuntut jawaban cepat.
Angga menggeleng lesu. Tak sanggup ia membayangkan bagaimana reaksi Areta nanti jika ia mengungkap syaratnya. Andai ia penuhi syarat itu, lalu bagaimana dengan Rosa? Apakah Rosa sanggup melihat ayah dan ibunya berpisah?
Berpisah?
Sejujurnya, Angga tak ingin berpisah dengan Areta. Sebab ada Rosa diantara mereka. Rosa sangat membutuhkan sosok ayah dan ibunya. Rosa pasti akan sangat terpukul jika mengetahui ayah dan ibunya telah berpisah.
"Areta, aku tanya dulu sama kamu. Seberapa pentingkah Rosa bagi kamu?"
Areta ternganga tak percaya mendengar pertanyaan Angga. Pertanyaan tersebut seolah menyiratkan jika ia bukan ibu kandung Rosa.
"Apa kamu sudah gila, Ga? Tentu saja Rosa sangat penting bagiku. Bahkan lebih penting dari nyawaku," sahut Areta setengah emosi. Kesal mendapat pertanyaan seperti itu.
"Kalau begitu kamu pasti sanggup memenuhi syaratnya. Lakukan ini demi Rosa."
"Memangnya syaratnya apa sih, Ga? Kamu bikin aku penasaran saja."
"Syaratnya adalah ... Areta, kita harus bercerai."
Areta pun terperangah. Terkejut luar biasa. Bagaimana bisa perpisahan dijadikan bahan lelucon.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Ga?"
__ADS_1
*