Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 15


__ADS_3

Bab. 15


Sudah sejam lalu Henry kembali dari rumah sakit membesuk Rosa. Ia duduk termenung di balik meja kerjanya. Di pelupuk matanya menari-nari bayangan Areta. Bayang-bayang itu tak hanya mengisi dan bermain-main di ruang imajinya. Namun juga ikut mempermainkan perasaannya.


"Areta, bagaimana caranya agar aku bisa memiliki kamu." Henry bergumam dalam lamunannya. Hatinya kentara cemas. Ada keinginan kuat yang sedikit menggeser akal sehatnya. Yaitu ingin memiliki yang telah dimiliki orang lain.


Henry semakin dilambungkan angannya. Mengisi ruang imajinasinya dengan Areta seorang. Ia resah juga gelisah, sebab tak mungkin ia bisa meraih yang telah terlanjur dimiliki orang. Tak kan mungkin Areta berpaling, karena telah ada yang mengikat Areta dengan Angga selain ikatan pernikahan. Ikatan itu adalah ikatan darah antara Areta, Rosa, juga Angga. Anak akan selalu menjadi penghubung Areta dengan Angga.


Henry pun serasa frustasi memikirkan tiada jalan baginya untuk bisa memiliki wanita itu. Tak ada satu alasan pun yang bisa ia gunakan untuk mengikat Areta. Meski wanita itu memiliki ikatan dengan orang lain. Rencananya untuk mengikat Areta dengan balas budi gagal sudah.


Henry menghembuskan napasnya panjang, menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Dipijatnya pelipisnya yang mulai terasa berkedut. Mengingat pekerjaannya yang belum usai, Henry hendak membuka laptop saat tiba-tiba terdengar pintu ruangannya diketuk.


"Masuk!" serunya mempersilahkan.


Daun pintu itu didorong terbuka dari luar. Angga masuk sambil membawa sebuah map menghampiri meja kerja Henry. Merampas perhatian Henry dari layar laptopnya.


"Maaf, Pak Henry. Ini adalah susunan acara untuk anniversary lusa malam nanti." Angga berujar sembari mengangsurkan map itu kepada Henry.


Sebagai panitia pelaksana Angga juga bertugas memastikan pesta anniversary lusa malam nanti itu akan berjalan dengan baik sesuai susunan acara yang telah mereka buat.


"Gimana dengan persiapannya?" tanya Henry sambil membuka lembar demi lembar kertas dalam map tersebut.


"Sudah kami mulai Pak Henry. Untuk memangkas biaya, kami akan menggunakan aula kantor saja. Aula kantor cukup luas dan bisa menampung ratusan orang. Dan lagipula, kemungkinan tidak semua karyawan bisa hadir di pesta itu."


"Alasannya?"


"Banyak yang terkendala masalah keluarga yang menyebabkan mereka tidak bisa turut hadir. Salah satunya mungkin istri dan anak saya, Pak."


Gerakan tangan Henry terhenti seketika. Ia diam sejenak, lalu mengangkat pandangannya menatap lurus Angga. Yang berdiri gelisah seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Memangnya kenapa dengan istri dan anak kamu?" Henry berpura-pura belum mengetahui soal anaknya Angga.

__ADS_1


Raut wajah Angga berubah sendu dalam seketika. Angga mencoba memperlihatkan kesedihannya di depan Henry. Siapa tahu atasannya itu akan bersimpati, lalu berempati kepadanya.


"Anak saya ada di rumah sakit, Pak. Dan istri saya harus menjaganya. Jadi untuk perayaan anniversary tahun ini istri dan anak saya tidak bisa turut hadir."


Henry menyimpan kembali lembaran kertas itu ke dalam map. Ia lantas menegakkan punggung, lalu bersandar.


"Angga, sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan ini?" tanya Henry menatap lekat Angga.


"Sudah tiga tahun, Pak."


"Kamu menikah sudah berapa lama?" Pertanyaan yang tak berfaedah sejujurnya. Namun Henry ingin sekali mengulik permasalahan rumah tangga Angga dan Areta. Menemukan satu kesalahan saja, akan ia jadikan celah untuk memasuki rumah tangga mereka.


Raut wajah Angga yang tadinya sedih, kini tampak kesal. Entah apa yang mendongkol dalam hatinya. Dan Henry ingin sekali mengulik hal itu. Terlebih saat dilihatnya Angga dan Areta seperti sedang bertengkar di selasar gedung beberapa jam lalu.


Memang hal tersebut lumrah terjadi dalam rumah tangga siapapun. Namun entah mengapa, Henry seolah menangkap sesuatu yang janggal dalam hubungan rumah tangga Areta dan Angga.


"Sudah enam tahun, Pak Henry. Tapi ..." Angga menjeda kalimatnya sejenak. Ia terlihat tengah memilah kata dalam mengutarakan isi hatinya. Terlebih soal Areta. Yang baginya sudah tidak menarik lagi setelah memiliki anak. Areta bahkan sudah jarang lagi memperhatikan penampilannya. Padahal Areta memiliki salon kecantikan.


"Bahagia sih, Pak. Tapi itu hanya di awal-awalnya saja. Awalnya istri saya itu sangat cantik dan menarik. Tapi sejak punya anak, apalagi setelah anak kami jatuh sakit, istri saya jadi jarang lagi memperhatikan penampilannya."


Sudut bibir Henry tertarik ke atas, membentuk lengkungan senyuman sinis. Sedari awal kedatangan Angga ia sudah bisa menebak. Angga mempunyai maksud terselubung dibalik keluh kesahnya terhadap Areta. Dan satu lagi dugaannya ternyata tidak keliru, yaitu keharmonisan rumah tangga mereka yang agaknya mulai berkurang. Ini tentu saja bukan lagi celah, tetapi sebuah kesempatan besar baginya.


"Tapi Angga, sudah merupakan hal yang wajar bagi seorang istri lebih memprioritaskan keluarganya. Di sini suami lah yang harus lebih mengerti. Kalau hanya untuk masalah penampilan, itu bisa diperbaiki. Lagipula, bukankah anak kamu sedang sakit? Jadi wajar jika perhatian istri kamu lebih tercurah pada anak kalian."


"Tapi istri saya tuh kadang suka ngeluh, Pak. Yang gaji saya standar lah, padahal saya kerjanya rajin. Apalagi anak saya ..." Angga menggantungkan lagi kalimatnya. Raut wajahnya ia buat se-sedih mungkin demi meraih empati Henry sebagai atasannya. Berharap keluh kesahnya didengarkan kali ini. Beberapa saat lalu mendadak ia mendapatkan ide ingin meminjam uang dari atasannya tersebut.


"Anak kamu kenapa?" Henry sudah bisa menangkap maksud ucapan Angga. Namun ia menunggu sampai Angga mengutarakan niatnya. Apakah Angga menginginkan kenaikan gaji?


"Anak saya harus segera dioperasi, Pak Henry. Dan saya sangat membutuhkan uang untuk biaya operasi anak saya." Dahi Angga berkerut, seperti sedang menahan tangis.


Henry sebetulnya iba melihatnya. Bukan iba kepada Angga, tetapi iba kepada Areta. Rumah tangga Areta rupanya sedang diuji dengan penyakit anaknya juga dengan masalah finansial.

__ADS_1


Sebetulnya Angga merasa malu mengutarakan hal ini. Namun ia tidak punya tempat lain untuk ia mengadu. Siapa tahu Henry akan berbelas kasih kepadanya. Setidaknya Henry akan menaruh perhatian terhadap kerja kerasnya di perusahaan ini.


"Saya turut prihatin dengan kondisi anak kamu, Angga."


"Terimakasih, Pak." Namun Angga terlihat gelisah. Ingin mengutarakan niatnya gamblang, tetapi kalimat yang telah tersusun rapi itu mendadak berhamburan dari kepalanya.


"Ada apa, Angga?" Dari raut wajah Angga, Henry penasaran. Siapa tahu saja ia bisa memanfaatkan keadaan Angga. Walaupun nantinya akan terkesan jahat, ia tak peduli.


"Eh, ti-tidak ada apa-apa, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." Angga memutar tubuh, hendak beranjak. Baru saja ia memegangi handel pintu, tiba-tiba ia memutar kembali tubuhnya. Mendadak kalimat yang sempat berhamburan dari kepalanya itu tersusun rapi kembali. Tak peduli seperti apa penilaian Henry kepadanya, yang terpenting ia bisa mendapatkan apa yang ia mau.


"Maaf, Pak Henry jika saya lancang mengatakan ini." Angga berkata, entah mendapat keberanian dari mana.


Ada yang serasa menggelitik perasaan Henry. Sebab sepertinya peluang akan terbuka lebar untuknya.


"Silahkan, apa yang ingin kamu katakan."


"Saya ingin meminjam uang dari Pak Henry untuk biaya operasi dan perawatan anak saya."


Henry menarik sudut bibirnya, tersenyum culas memandangi Angga yang tengah menatapnya serius. Umpan yang semula ia lempar kepada Areta, namun malah mengenai sasaran lain. Sasaran yang lebih empuk.


"Berapa yang kamu butuhkan?"


Angga pun menyebutkan nominal angka yang ia butuhkan. Melebihkan sedikit dari apa yang telah Areta sampaikan kepadanya. Demi untuk keuntungannya sendiri. Semisal memperbaiki penampilannya demi meraih perhatian si burung merak yang menjadi incaran.


"Saya bisa memberikan kamu apa yang kamu inginkan. Tapi ketahuilah, Angga. Di dunia ini tidak ada yang gratis." Henry semakin melebarkan senyum culasnya. Kali ini perangkapnya akan berhasil menjerat si burung gagak ini.


"Saya janji Pak, saya akan mengembalikan uang Pak Henry secepatnya."


"Kamu tidak perlu mengembalikan uang saya, asalkan kamu bisa memenuhi persyaratan yang saya berikan, Angga. Syaratnya hanya satu."


*

__ADS_1


__ADS_2