Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 56


__ADS_3

Bab. 56


Melangkah panjang menyusuri koridor rumah sakit, Areta didera panik juga ketakutan. Dengan air mata yang terus bercucuran serta isak tangis yang tak kunjung mereda ia memanggil-manggil sang putri disela isak tangisnya. Henry yang tengah berusaha menyusul langkahnya dari belakang pun sampai tak dihiraukannya. Saking kalut serta paniknya saat ini.


Pun sama paniknya dengan Angga. Ketika Wirda menghubunginya, memberitahukannya jika Rosa jatuh pingsan, orang pertama yang dihubunginya adalah Areta.


Namun kekesalan melanda Angga saat berkali-kali ia menghubungi ponsel Areta tapi tak kunjung tersambung. Dan lebih kesal lagi ketika ia tahu penyebab panggilannya tak jua tersambung adalah Henry.


Dan yang membuat kekesalan Angga kian membumbung adalah Henry menjadi orang pertama yang dimintai tolong oleh Areta untuk menemaninya ke rumah sakit melihat kondisi Rosa. Padahal ia sudah siap siaga tancap gas berdua bersama Areta. Tetapi Areta malah meminta Henry yang menemani dan mengantarkannya ke rumah sakit. Padahal Rosa adalah buah hati mereka berdua.


"Suster, gimana anak saya?" tanya Areta begitu sampai di depan UGD, mencegat seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Kami sedang menanganinya, Bu. Nanti tanyakan saja pada dokter untuk lebih jelasnya. Permisi." Suster tersebut beranjak, bergegas membawa langkahnya setengah berlari.


Areta tak henti berderai tangis. Hal yang paling ia takutkan pun akhirnya terjadi juga. Henry sebagai suami pun berupaya menghiburnya, merangkulnya erat, mengelus lengannya penuh kasih.


Sementara Angga dan Wirda tampak tak suka melihat pemandangan tersebut secara langsung.


"Sabar sayang, yang sabar ya?" Henry memberi penghiburan melalui sentuhan penuh kasihnya.


Tak berapa lama Nino, sebagai salah satu dokter yang menangani Rosa datang tergesa-gesa hendak memasuki UGD. Namun Henry sempat mencegatnya.


"Nin, Nino," panggil Henry, mengurai rangkulan dari Areta, kemudian menghampiri Nino. Yang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu UGD.


"Hen, kamu di sini?" Dari raut wajahnya pun Nino terlihat panik.


"Tolong lakukan yang terbaik buat Rosa," pinta Henry.


"Aku akan membantu semampu yang aku bisa. Doakan saja semua akan baik-baik saja. Tapi_"


"Jangan pikirkan masalah biayanya. Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Yang aku minta, lakukan saja yang terbaik untuk putriku. Please."


Nino tertegun mendengar Henry menyebut Rosa sebagai putrinya. Satu perubahan Henry yang membuat Nino hampir tak bisa mempercayainya.

__ADS_1


Sedangkan Wirda dan Angga hanya bisa terheran-heran sembari saling melempar pandangan.


Wirda tak menyangka, yang semula ia menduga jika Areta tidak akan mungkin dicintai oleh suami keduanya itu ternyata salah besar. Dari raut wajahnya, ia seperti tak terima melihat Henry merangkul Areta penuh kasih. Bahkan Henry tak malu menunjukkan perhatiannya untuk Areta. Membuat hati Wirda memanas menyaksikannya.


"Dok, tolong putri saya, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya," pinta Areta menghampiri Nino.


Nino mengangguk cepat. "Tolong doakan saja semoga Tuhan memberikan keajaiban. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu. Nanti kita bicarakan ini setelah saya selesai. Permisi." Bergegas Nino masuk.


Areta dan Henry menunggu dalam kecemasan. Henry mengajak Areta duduk di bangku panjang yang tersedia di depan ruangan itu sambil merangkulnya, memberinya kekuatan.


Sementara di seberang Angga dan Wirda saling berbisik, saling berdebat dengan lirih agar tak sampai ke telinga Areta.


"Kok Rosa bisa pingsan, Bu? Memangnya Ibu ngapain aja dari tadi? Kenapa Ibu tidak menjaga Rosa dengan baik? Kalau begini jadinya, Areta akan menyalahkan aku Bu. Lalu dia akan membawa Rosa ikut bersamanya. Memangnya Ibu mau Rosa berpisah dari kita?" Angga berbisik kesal. Ingin meluapkan amarah namun tempat dan situasi tidak memungkinkan.


"Mana Ibu tahu. Tadi dia baik-baik aja kok." Wirda tak terima dipersalahkan oleh Angga. Ia sendiri pun sebetulnya masih bingung, entah hal apa yang membuat Rosa sampai pingsan. Setelah selesai mengobrol dengan Yuni, tiba-tiba ia menemukan Rosa tergeletak di bawah jendela ruang tamu ketika ia memasuki rumah.


"Terus kenapa dia bisa pingsan Bu? Kalau tidak ada penyebabnya mana mungkin jantungnya bisa kumat seperti itu."


"Apa dia sempat menelfon mamanya?" Angga mulai menaruh curiga, jangan-jangan Areta sudah memberitahu Rosa tentang perpisahan mereka. Lalu Rosa shock hingga jatuh pingsan.


"Mana Ibu tahu. Ibu sedang ngobrol dengan Bu Yuni di teras rumah." Wirda pun membeliak. Ia teringat akan obrolannya dengan Yuni beberapa jam lalu. Mendadak pun ia mulai berfirasat, jangan-jangan Rosa menguping pembicaraannya dengan Yuni hingga gadis kecil itu jatuh pingsan. Mungkin Rosa terkejut saat mendengar jika mama dan papanya sudah bercerai.


"Kenapa, Bu? Apa Ibu juga mencurigai Areta sama seperti aku?" tanya Angga begitu melihat perubahan raut wajah Wirda yang tadinya tampak kesal itu kini tampak seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Jadi, kamu mencurigai Areta?" Alih-alih menjawab, Wirda malah balik bertanya. Dari mimik wajahnya terlihat seperti ia pun ingin melempar kesalahan kepada Areta.


"Iya, Bu. Areta sudah bilang padaku, kalau dia akan segera membawa Rosa tinggal bersamanya. Dia juga bilang kalau keluarga suaminya sudah menerima Rosa sebagai bagian dari keluarga mereka. Ada kemungkinan penyebab Rosa pingsan adalah Areta. Mungkin saja Areta sudah memberitahu Rosa semuanya. Lihat saja, dia sudah berani terang-terangan membawa suami barunya ke sini." Sembari melirik Areta yang tengah menyandarkan kepala di pundak Henry.


"Ibu juga mikirnya begitu. Areta itu keterlaluan sekali, tega membahayakan putrinya sendiri. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Rosa, Areta harus bertanggung jawab." Wirda memberi penekanan pada kalimat terakhirnya. Membuat Angga sekali lagi melirik ke arah Areta dengan kesalnya.


Di tengah penantian, menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Rosa, mereka pun dikejutkan oleh kedatangan Agatha.


"Henry, Areta?"

__ADS_1


Serentak mereka menoleh ke arah sumber suara.


Agatha datang dengan tergesa-gesa menghampiri. Kemudian mengambil duduk di sebelah Areta.


Sementara Wirda berkerut dahi heran melihat kedatangan Agatha. Wanita paruh baya nan anggun itu adalah wanita dermawan yang beberapa kali pernah dilihatnya datang ke sebuah panti asuhan yang tak jauh dari rumahnya. Wanita itu, Agatha, merupakan donatur di panti asuhan tersebut.


Dan yang membuat Wirda terkejut adalah ketika dilihatnya Agatha meraih jemari Areta, membawa jemari itu ke dalam genggamannya.


"Angga, wanita itu siapa sih?" tanyanya berbisik, melirik ke arah Agatha.


"Itu Bu Agatha, ibunya Pak Henry," sahut Angga ketus.


Wirda pun tercengang. "Berarti mertuanya Areta?"


Angga mengangguk. Dan Wirda pun kehilangan kata-kata. Dari yang terlihat, Agatha bersikap manis kepada Areta. Yang berarti bila Agatha menerima Areta sebagai menantunya. Padahal sebelumnya ia beranggapan jika Areta tidak akan mungkin bahagia dengan pernikahan keduanya. Tapi rupanya dugaannya itu salah besar.


"Mama dapat kabar dari Nino," ujar Agatha ketika ditanyai Henry tentang keberadaannya di rumah sakit ini.


"Kamu yang sabar ya Areta. Mama yakin anak kamu itu anak yang kuat. Dia pasti bisa melalui masa kritisnya. Percayalah, anak kamu itu adalah anak yang hebat. Mama berencana memberikan penyambutan meriah padanya begitu kamu membawanya ke rumah nanti. Sama seperti Henry, Mama juga pengen belajar jadi nenek yang baik buat cucu Mama," sambung Agatha menghibur Areta. Sembari mengulas senyuman.


"Makasih, Mah. Kalau tidak ada Mama dan Henry di sampingku, aku mungkin tidak akan sekuat ini. Sekali lagi makasih ya, Mah?"


Sembari mengelus penuh kasih lengan Areta, Agatha berkata. "Kamu harus selalu ingat, Areta. Apapun yang akan terjadi nanti, seperti apapun keadaannya, Mama akan selalu bersamamu. Mama sudah menganggap kamu itu seperti anak Mama sendiri. Jadi, anak kamu juga cucu Mama. Hm?"


Merasa terharu, Areta pun menghambur dalam dekapan hangat Agatha.


"Makasih, Mah. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Mama."


"Kamu tidak perlu membalasnya. Dengan melihat Henry dan kamu bahagia saja, itu sudah lebih dari cukup buat Mama. Oh ya ..." Mengurai rangkulan, Agatha lantas menatap Areta serius.


"Bukannya anak kamu itu belum lama dioperasi? Kok tiba-tiba jantungnya bisa kambuh? Kamu sudah tahu apa penyebabnya?"


*

__ADS_1


__ADS_2