Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 53


__ADS_3

Bab. 53


Memasuki pintu utama gedung Dreams Food, Henry dan Areta saling bergandengan tangan. Kedatangan sang pimpinan dengan menggandeng seorang wanita itu serta merta sukses menyedot perhatian semua orang yang berada di lobi.


Tak sedikit yang terheran-heran melihat Henry tengah menggandeng posesif seorang wanita, seakan takut kehilangan. Baru pertamakali ini mereka melihat Henry bersama dengan seorang wanita. Bahkan terlihat mesra.


Desas-desus tentang Henry telah menikah telah tersebar di kalangan staff dan karyawan beberapa hari lalu. Namun banyak yang kurang mempercayai. Setelah hari ini Henry datang bersama Areta, mereka pun akhirnya mulai percaya.


Dan diantara mereka yang terheran-heran, bahkan ada yang merasa iri melihat Areta. Ada pula yang meradang melihat pemandangan romantis tersebut. Orang itu tak lain adalah Angga.


Angga meradang, didera iri juga cemburu. Ia benar-benar tak suka melihat Areta bermesraan bersama Henry. Apalagi mereka sudah berani terang-terangan.


...


Banyak pekerjaan yang belum terselesaikan membuat seorang Henry sibuk di depan laptop sembari memeriksa beberapa laporan yang diberikan Fabian.


Berbeda dengan Areta, yang malah disibukkan dengan ponselnya di sofa ruangan Henry. Ia tengah menghubungi karyawan salonnya, saat Henry tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Sesekali pandangan Henry melirik ke arahnya.


"Rahma, kamu tolong kirimkan daftar produk yang sudah habis. Aku akan membelinya dan mengirimkannya lewat kurir ya? Maaf hari ini aku belum bisa mampir ke salon. Kamu tolong perhatikan salon ya?" ujar Areta lewat sambungan telepon kepada Rahma, salah satu dari dua orang karyawan salonnya.


Sibuk dengan ponselnya, Areta bahkan sampai tak menyadari bila kini perhatian Henry malah tertuju kepadanya. Mungkin saking terlalu asik dengan ponselnya, sehingga ketika Henry datang dan mengambil duduk di sampingnya pun hampir tak disadarinya. Ia baru menyadari begitu Henry melingkarkan lengan kiri di pundaknya. Merangkulnya, membawanya merapat tanpa menyisakan jarak.


"Sibuk sekali dengan handphonenya. Sampai-sampai aku tidak diperhatikan," celoteh Henry tersenyum simpul.


Sembari tertawa kecil Areta menyandarkan kepala di pundak Henry. "Memangnya kenapa?"


"Aku cemburu lah sayang."


"Sama handphone saja kamu cemburu?"


"Gimana ya menjelaskannya sama kamu. Kalau kamu itu ..."


"Iya, aku tahu. Tidak perlu dijelaskan pun aku sudah tahu. Aku hanya ingin bilang, terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini. Maaf kalau aku masih banyak kekurangan. Maaf juga kalau tidak bisa memberi kamu lebih." Mendongak, Areta menatap Henry sayu. Terbawa oleh perasaannya yang mulai bersemi, Areta tanpa sadar Areta membawa tangan kirinya menyentuh sebelah wajah Henry. Mengusapkan jempolnya lembut pada rahang tegas Henry.


"Kenapa Tuhan terlambat mempertemukan aku dengan orang sebaik kamu?" gumam Areta lirih tanpa sadar. Terdorong oleh perasaan haru yang memenuhi rongga dadanya. Ada satu keuntungan yang bisa diambilnya ketika memutuskan menikahi Henry. Yaitu ia bisa mengetahui penyebab perubahan perilaku Angga terhadapnya.


"Maaf kalau aku belum bisa menjadi yang terbaik. Aku hanya minta, tolong beri aku kesempatan untuk bisa mencintai kamu seperti kamu mencintai aku," sambungnya parau lantaran diserbu bahagia. Bisa memiliki Henry merupakan satu kebahagiaan tersendiri buat Areta.

__ADS_1


Meraih jemari Areta dari wajahnya, Henry lantas mengecupnya lembut penuh kasih.


"Tentu saja sayang. Kesempatan akan selalu terbuka lebar buat kamu," ucap Henry.


"Hen, apa sih yang kamu suka dari aku? Kenapa kamu mencintai aku?"


Henry berdecak, lantas menggeleng pelan.


"Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukaimu. Aku bahkan tidak punya alasan kenapa aku mencintai kamu. Awalnya, aku pun sempat mengira, kalau aku hanya terobsesi sama kamu. Tapi ketika aku memiliki kamu, aku malah semakin takut kehilangan kamu," ucap Henry tulus.


Yang membuat Areta tersanjung. Ia tertegun menatap Henry. Lalu senyumnya terkembang penuh haru, hingga menjatuhkan bulir-bulir bening membasahi pipinya.


Henry pun membawa jemarinya menyeka air mata itu.


"Areta, tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain kamu. Terima kasih kamu sudah mau menerimaku di dalam hidupmu. Oh ya, aku mau minta ijin sama kamu, apa boleh aku bertemu Rosa? Aku ingin segera membawanya tinggal bersama kita."


"Tolong jangan sekarang ya. Kasih aku kesempatan untuk bicara sama Rosa. Aku harus kasih dia pengertian dulu. Aku hanya takut jantungnya kumat lagi kalau sampai dia mendengar bahwa mama papanya sudah berpisah."


Henry mengangguk penuh pemakluman. Memang hal itulah yang mejadi ketakutan Areta. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memberitahu Rosa tentang kenyataan ayah ibunya.


"Makasih."


Tanpa aba-aba Henry gegas mengunci obrolan dengan menyatukan bibirnya. Memagut lembut bibir Areta, menahan tengkuknya sembari memperdalam ciuman.


Membuat jantung Areta berdebar hebat, saking lembut dan penuh kasih Henry mencumbunya. Diremasnya kuat ujung jas Henry, lantas membawa tangannya merangkul erat pinggang Henry kala pria itu semakin rakus mencumbu.


"Hen ..." Areta meracau saat jemari Henry tak tinggal diam. Mengelana ke bagian dadanya, mulai nakal mengelusi lembut bagian membusungnya.


"Ini di kantor. Kalau ada yang lihat, gimana?" ujar Areta. Was-was jangan sampai Fabian atau siapapun masuk tiba-tiba ke ruangan Henry.


Henry pun bangun berdiri, berjalan menghampiri meja kerjanya, mengambil ponselnya yang tergeletak di sana. Kemudian kembali menghampiri Areta, mendudukkan diri di samping Areta.


"Fabian, tolong jangan kamu biarkan siapapun masuk ke ruanganku. Jangan ganggu aku selama dua jam." Henry memberi perintah kepada Fabian via telepon. Setelah itu diletakkannya ponselnya di atas meja sofa.


"Dua jam? Memangnya kamu mau ngapain?" Areta menatap heran Henry.


Namun yang ditatap malah tersenyum-senyum nakal.

__ADS_1


"Sejak dulu aku selalu berimajinasi berduaan bersama kamu di dalam ruanganku," ujar Henry menanggalkan jasnya. Berikut membuka dasinya. Lalu membuka tautan dua kancing teratas kemejanya.


Membuat Areta terkejut, hanya bisa membulatkan matanya heran. Namun tak munafik jika jantungnya berdebar hebat saat ini. Apa yang Henry lakukan membuat jantung itu tak baik-baik saja. Henry seperti tengah mengajaknya dalam sebuah permainan uji nyali.


Areta bahkan mulai gemetaran saat Henry mendorong tubuhnya pelan sampai ia terbaring di sofa tersebut di bawah kungkungan Henry.


"Hen, apa yang kamu lakukan?" tanya Areta was-was.


Henry malah tersenyum. " Memangnya mau apa lagi. Ya bercinta lah."


Areta menganga saking terkejutnya dengan ide liar suaminya.


"Hen, ini di kantor. Apa kamu tidak malu kalau sampai karyawan kamu melihat kita? Fabian misalnya?"


"Bodoh amat. Aku tidak peduli."


"Henry, kamu_" Sayangnya, belum sempat kalimat Areta selesai, Henry malah telah menyambar bibirnya cepat. Sembari tangannya usil mencari-cari yang bisa dipegang.


Sentuhan Henry yang telah terbakar api gairah tersebut membuat Areta menggelinjang, seperti cacing kepanasan saat jemari hangat Henry telah berhasil masuk, mengobrak abrik si aset membusungnya tersebut.


Henry semakin kalap, lupa diri dan lupa tempat. Ia mulai menurunkan kecupan, melalui sepanjang garis leher Areta sampai ke bagian dada Areta saat tiba-tiba pintu ruangannya di dorong terbuka oleh seseorang dari luar. Membuat kegiatan panasnya terhenti seketika.


Di ambang pintu ruangan itu Angga berdiri dengan air muka yang sulit dijabarkan. Tangannya memegang sebuah map, yang sudah berubah bentuk saking diremasnya kuat lantaran menahan amarah setelah meyaksikan pemandangan yang menyesakkan dadanya.


Areta terkejut melihat Angga yang masuk tanpa permisi ke dalam ruangan atasan. Gegas ia bangun, lalu membetulkan pakaiannya yang telah terbuka di bagian atasnya.


Berbeda dengan Henry, ia justru terlihat biasa-biasa saja. Tak terkejut ataupun panik. Dengan santainya ia membenarkan kembali penampilannya.


"Maaf Pak Henry. Saya sudah memberitahu Pak Angga bahwa Pak Henry tidak bisa diganggu selama dua jam ke depan. Tapi Pak Angga terus memaksa. Bahkan masuk tanpa seijin saya. Sekali lagi maafkan saya Pak Henry," ujar Fabian yang terlihat panik luar biasa.


"Tidak apa-apa."


Fabian pun segera keluar setelah diberi kode.


Dengan posisi masih memegangi handel pintu, Angga berkata. "Saya hanya ingin memberikan laporan perkembangan pasar. Tapi mungkin waktunya tidak tepat." Dari wajahnya yang memerah saja sangat kentara jika Angga tengah didera cemburu hebat saat ini.


*

__ADS_1


__ADS_2