
Bab. 25
Menyandarkan punggungnya, Henry menatap lurus Angga yang tengah berdiri di depan mejanya dengan wajah tertunduk malu.
Kedapatan tengah bercumbu di dalam lift beberapa saat lalu membuat Angga ketar-ketir, cemas bukan main. Jika nanti Henry malah akan membatalkan rencana promosi jabatannya. Kalau begini tentu saja ia rugi.
Sementara Henry justru menganggap hal ini adalah keberuntungan baginya. Jika Areta mengetahui perselingkuhan suaminya, ia yakin keadaan rumah tangga Areta tidak akan baik-baik saja. Ada kemungkinan bila Areta tidak akan mau lagi mempertahankan rumah tangganya. Dengan begitu, akan dengan mudah ia mengubah pandangan Areta terhadap suaminya.
"Bisakah kamu jelaskan apa yang barusan saya lihat?" pinta Henry.
Angga mengangkat wajahnya takut. "Ma-maksud Pak Henry?" Angga mulai gugup. Takut jika Henry memecatnya. Sebab ia menyadari, apa yang dilakukannya itu sangat tidak beretika. Jika seisi kantor tahu perbuatannya, tentu ini akan menjadi hal yang sangat memalukan baginya.
"Sudah berapa lama kamu selingkuh?" tanya Henry.
"Sa-saya..." Angga bingung harus menjawab apa. Jelas ia salah tingkah. Juga kehilangan muka di depan Henry.
"Apa Areta tahu kamu punya selingkuhan di kantor?"
"Pah Henry salah paham. Saya dan Mega hanya..."
"Hanya bermain-main?"
Angga semakin salah tingkah. Memang tujuan awalnya hanya ingin bermain-main sebentar saja. Setelah bosan, ia akan kembali ke habitatnya yang semula. Akan tetapi, jika sampai Areta tahu hubungannya dengan Mega, Areta mungkin tidak akan mau kembali kepadanya.
"Saya khilaf, Pak Henry," akunya pasrah. Kembali menundukkan wajahnya dalam.
"Khilaf?" Henry tersenyum sinis mendengar alasan Angga.
"Alasan yang sangat klise," ucap Henry, meniupkan napasnya pelan.
"Apa menurut kamu, Mega lebih menarik dari Areta? Itu sebabnya kamu berselingkuh di belakangnya? Jadi tidak salah saya meminta kamu menceraikan Areta?" sambungnya ingin menyudutkan Angga.
__ADS_1
"Pak Henry salah paham. Saya tidak berselingkuh. Saya dan Mega baru saja kenal dan dekat. Kalau dibilang selingkuh, saya rasa itu keliru."
"Angga, apapun alasan kamu, berhubungan dengan wanita lain dibelakang pasangannya, itu tetap selingkuh namanya. Bahkan saat kalian berpisah sekalipun, dan Areta baru mengetahui ini sekarang, tetap saja Areta akan menganggap kamu berselingkuh di belakangnya." Henry melebarkan senyuman sinisnya menatap Angga yang kentara salah tingkah dan kehilangan kata-kata.
"Kamu tenang saja, Angga. Saya akan tetap mempromosikan kamu. Tapi, hari ini juga kamu jatuhkan talak kamu terhadap Areta. Nanti pengacara saya akan membantu kamu mengurus perceraian kalian. Dan kamu juga harus mengusir Areta dari rumah kalian. Gimana, Angga? Saya hanya bisa memberi kamu waktu sampai malam ini saja. Setelahnya saya tidak bisa memberi kamu kesempatan lagi. Maka dari itu, siap atau tidak siap, kamu harus menerima konsekuensinya."
Angga menelan salivanya kasar. Kembali Henry mengingatkannya akan konsekuensi yang nanti akan ia dapatkan jika ia melanggar kesepakatan. Bukan hanya batal mendapatkan kenaikan jabatan, ia bahkan harus kehilangan pekerjaannya. Juga biaya pengobatan Rosa tidak akan ditanggung Henry. Lalu keinginannya untuk menjalin hubungan lebih dekat lagi dengan Mega, otomatis juga gagal ia wujudkan.
...
Areta duduk termenung di tepian tempat tidur sembari menggenggam jemari mungil Rosa. Kesepakatannya dengan Henry beberapa lalu itu membuatnya resah. Ia sudah bersepakat dengan Henry bahwa ia akan bercerai dari Angga jika Henry menanggung biaya pengobatan Rosa sampai Rosa benar-benar pulih.
"Saya akan menerima apapun syarat yang Anda berikan. Asalkan Anda menanggung biaya pengobatan Rosa," ucap Areta beberapa jam lalu.
Henry menatapnya lurus, namun serius.
"Jika aku sudah berjanji, aku tidak pernah main-main dengan janjiku. Tapi, Areta. Ada syarat lain yang harus kamu penuhi. Sebaiknya kamu pikirkan lagi jika kamu benar-benar serius ingin membuat kesepakatan denganku."
"Serius kamu ingin tahu?"
Areta mengangguk. Namun masih berusaha meyakinkan dirinya.
"Baiklah. Syaratnya adalah ... kamu harus menikah denganku."
Areta menghembuskan napasnya panjang mengingat kembali kesepakatan itu. Kesepakatan yang sebetulnya membuatnya tak habis pikir. Bagaimana bisa ia menikahi Henry hanya demi biaya pengobatan Rosa.
Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan. Sungguh ia tak berdaya upaya. Seandainya bisa, ia ingin Tuhan mengambil nyawanya andai sesuatu yang tak ia inginkan terjadi kepada Rosa. Tetapi sayangnya, ia telah terlanjur menerima kesepakatan itu. Demi Rosa ia akan melepas Angga, lalu menerima Henry masuk ke dalam hidupnya. Terpaksa ia harus melakukan semua ini, walau pernikahan yang akan ia jalani dengan Henry tak dilandasi oleh cinta.
"Rosa sayang, tolong jangan membenci Mama ya. Mama melakukan semua ini ada alasannya. Mama tidak bermaksud ingin memisahkan kamu dari papa kamu, sayang. Mama hanya tidak punya jalan lain. Tapi Mama janji sama Rosa, semua akan baik-baik saja suatu hari nanti. Begitu Rosa sembuh, Mama janji, kita akan berkumpul kembali seperti dulu lagi," ucap Areta lirih dengan berderai air mata. Sesekali ia menyusut hidung lantaran air mata yang tak kunjung kering. Dikecupnya punggung jemari Rosa penuh kasih. Gadis kecil itu terlelap dalam tidurnya.
Areta hendak mengecup kening Rosa saat terdengar dering ponselnya. Segera ia mengambil ponsel dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Halo?" sapanya begitu menggeser tombol hijau pada layar ponsel.
"Kita perlu bicara sebentar. Aku tunggu kamu di taman rumah sakit."
Angga tak berkata banyak. Singkat namun jelas. Menitipkan Rosa pada suster sebentar, Areta pun bergegas menemui Angga di taman rumah sakit.
"Kenapa tidak langsung ke ruangan Rosa? Apa kamu tidak rindu melihat anakmu?" sembur Areta kesal dengan kelakuan Angga.
Angga pun bangun dari duduknya. Memutar tubuh segera berhadapan dengan Areta.
"Setelah kita bicara aku akan menemui Rosa," ucap Angga.
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?"
Angga terlihat menarik napas panjang sebelum akhirnya ia berkata.
"Areta, aku ceraikan kamu detik ini juga. Talakku sudah jatuh terhadap kamu. Jadi mulai saat ini, kamu sudah bukan istriku lagi." Tanpa jeda Angga berkata. Lancar, selancar jalan tol. Tanpa hambatan sedikitpun. Ia pun akhirnya bernapas lega begitu kalimat tersebut sukses ia utarakan.
Namun berbanding terbalik dengan Areta, yang justru hampir tak bisa bernapas mendengar kalimat itu meluncur bebas dari lisan Angga. Sebebas air matanya yang kembali berderai. Cukup mewakili seperti apa perasaannya saat ini. Tak perlu diutarakan, hatinya terluka dalam. Perih yang ia rasakan tak terkira.
"Jadi, kamu memanggilku ke sini hanya untuk mendengarkan ini?" tanyanya lesu. Ia sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi.
"Maafkan aku, Areta. Kamu tentu tahu apa alasannya kenapa aku menceraikan kamu. Bukan karena aku sudah tidak mencintaimu lagi, tapi ada yang harus kita perjuangkan. Kita sama-sama sudah berkorban. Aku harap kamu bisa mengerti. Aku melakukan ini karena tanggung jawabku terhadap Rosa. Tolong jangan kamu lupakan pengorbananku ini, Areta." Angga berbalik, lalu melenggang meninggalkan Areta. Namun langkahnya terhenti ketika Areta berkata.
"Aku akan menikah dengan Henry, atasan kamu. Aku juga melakukan ini demi Rosa. Jadi jangan pernah menganggap hanya kamu yang berkorban di sini." Areta menahan geram mengutarakan kalimat itu. Hatinya kini dipenuhi oleh dendam. Hidupnya seperti tengah dipermainkan saat ini. Namun ia akan berusaha kuat demi Rosa, walau badai tak henti menerjang.
"Aku harap kamu bahagia dengan pernikahanmu nanti. Oh ya, nanti akan ada pengacara yang akan menghubungi kamu. Kamu hanya perlu menyiapkan diri saja. Biar aku yang menyelesaikan semuanya. Selamat tinggal Areta. Jaga dirimu baik-baik." Angga pun melenggang pergi. Seperti tak berperasaan ia mengutarakan kalimat itu. Ia telah terlanjur dibutakan oleh obsesinya. Mata hatinya telah tertutup, silau akan harta dunia. Yang sesungguhnya semua itu hanyalah fatamorgana.
Areta pun tak bisa berbuat apa-apa. Rela tak rela, ia harus menerima semua ini dengan terpaksa. Toh, tiada berguna ia berusaha ingin mempertahankan rumah tangganya, jika Angga membiarkannya berjuang seorang diri. Perjuangannya seolah tak dihargai oleh Angga. Jadi, percuma. Lebih baik ia ikuti saja apa kemauan Angga.
Dan untuk Henry, Areta bersumpah tidak akan membuka pintu hatinya untuk pria itu. Walau apapun yang terjadi.
__ADS_1
*