Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 62


__ADS_3

Bab. 62


"Apa yang ingin kamu ketahui itu semuanya benar. Aku memang pernah memerintahkan Mega untuk merayu Angga," ujar Henry tanpa menunggu Areta menanyakan kembali hal yang sama.


Areta sedikit terkejut. Bola matanya bergulir liar menelisik paras Henry yang masih menyisakan sedikit ruam pada bagian tertentu.


Henry kemudian menarik lengannya dengan lembut, mengajaknya duduk di tepian tempat tidur.


"Aku tahu kamu marah karena aku tidak pernah cerita tentang hal ini ke kamu. Aku tahu aku salah karena memanfaatkan Mega untuk membuat Angga benar-benar bersalah di mata kamu. Tapi ..." Henry menghela napasnya sejenak. Lantas menggaruk bagian lehernya yang masih terasa gatal.


"Aku minta maaf karena sengaja melakukan ini sama kamu. Aku sungguh menyesal," ucap Areta parau akibat rasa bersalahnya. Entah mengapa pula ia begitu mudahnya termakan omongan Mega yang jelas-jelas ingin menghancurkan ketenangan hidupnya. Bukankah ia sudah berjanji bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan menengok kembali ke belakang? Jadi, seperti apapun kebenaran yang akan muncul nanti, itu tidak akan berpengaruh kepadanya sedikitpun.


"Sebelum kamu minta, aku sudah memaafkan kamu Areta." Henry menatap Areta dengan penuh pemakluman.


"Justru seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, karena aku masih belum jujur. Tidak semua hal aku ceritakan ke kamu. Wajar kalau kamu merasa dibohongi," sambungnya masih memaklumi perbuatan Areta.


"Tapi, asal kamu tahu, aku sudah pernah cerita ini sebelumnya sama kamu, kalau Angga itu sudah lama menyukai Mega. Aku hanya memanfaatkan kesempatan itu dengan meminta Mega mendekatinya. Terlepas dari itu, jika hubungan mereka masih berlanjut sampai hari ini, itu sudah bukan urusanku lagi. Yang aku pedulikan sejak saat itu sampai detik ini, hanya kamu. Karena alasan aku melakukan semua itu adalah untuk mendapatkan kamu. Maaf, kalau aku sempat menyakiti kamu," tambahnya tersenyum getir.


"Maaf, kalau aku terkadang masih suka menyalahkan kamu." Areta menunduk dalam. Ia jadi merasa bersalah. Terlebih ketika keluarga Henry malah memaafkan apa yang dilakukannya barusan. Mereka seakan mengerti suasana hatinya saat ini.


"Kamu pasti kecewa kan? Aku bisa merasakan saat ini kamu mungkin sedang bimbang. Apalagi Angga sempat memohon-mohon untuk kembali sama kamu. Kamu mungkin bisa berkata bohong, tapi aku tahu, jauh di lubuk hati kamu yang paling dalam kamu pasti ingin kembali ke pelukan Angga bukan?"


Areta terhenyak, menoleh cepat menatap sepasang mata Henry yang terlihat sendu. Kemudian sebuah senyuman terbit di wajahnya. Tetapi senyuman itu tak seindah seperti biasanya.


Memang benar, jika mengingat Rosa, dan demi Rosa ia mungkin masih bisa memaafkan kesalahan Angga. Dan tidak akan menutup kemungkinan ia masih bisa kembali bersama Angga. Tapi entah mengapa hatinya terasa berat berada jauh dari Henry.


"Kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu?"


Sebetulnya berat bagi Henry berpisah dengan Areta. Berpisah yang berarti juga kehilangan. Jujur ia tak kan sanggup, bahkan takkan pernah sanggup.


"Areta, diantara kalian ada Rosa. Yang akan selalu menjadi pembuka jalan untuk kalian bersatu kembali. Semua orang tua, tidak terkecuali kamu dan Angga, sudah pasti ingin yang terbaik buat masa depan anaknya. Apalagi dengan kondisi Rosa saat ini, kamu pas_"


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" sela Areta mulai menampakkan kecemasannya. Memang ia kecewa Henry tak sepenuhnya jujur kepadanya. Tapi bukan berarti ia bisa dengan mudahnya mempermainkan hubungan seperti ini.


"Bukan yang aku inginkan, Areta. Tapi kamu. Apa yang kamu inginkan sampai kamu berbuat seperti ini padaku?"


Areta menelan ludah dalam-dalam. Tatapan sendu Henry itu sungguh membuatnya tak berdaya. Dadanya pun serasa sesak melihat bias-bias kesedihan di wajah pria itu.

__ADS_1


"Apa kamu berpikiran ingin kembali ke pelukan Angga?" Kembali Henry mengulang pertanyaan tersebut. Membuat Areta semakin merasa bersalah.


"Jika iya, apa yang akan kamu lakukan?" Bukannya membantah, Areta malah menantang.


Membuat wajah sendu Henry menjadi serius. Seolah ada amarah dibaliknya.


Areta memaku tatapan. Menelisik perubahan raut wajah Henry.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," sahut Henry.


"Dan jika aku bersikeras, memangnya kamu bisa apa?"


"Aku bisa mengakhiri hidupku, Areta."


Areta pun terdiam. Menatap wajah Henry yang tampak serius itu. Semakin lama ia menatap, semakin ia terbawa perasaannya sendiri. Matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Kamu ini ternyata suka sekali bercanda," gurau Areta. Tertawa kecil sembari mengalihkan sejenak tatapannya.


"Aku serius," pungkas Henry.


"Lain kali, cari candaan yang lebih lucu. Yang ini tidak lucu. Garing malah."


Areta kembali terdiam, dengan jantung berdebar-debar. Baru kali ini ia bertemu pria seperti Henry, yang tak pernah main-main dengan perasaannya. Seharusnya ia bersyukur menemukan pria yang mencintainya begitu dalam. Tidak seperti dahulu, bahkan untuk sebuah perhatian kecil saja, ia harus memohon-mohon.


Belum juga ia bernapas lega, Henry telah meraihnya. Membawanya ke dalam dekapan hangatnya. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Henry. Ia bisa merasakan detak jantung Henry.


"Areta, tolonglah, aku mohon dengan sangat, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Kamu adalah separuh jiwaku. Tanpa kamu aku bisa mati, Areta," ungkap Henry lirih. Mencurahkan segenap rasa di jiwanya.


"Apa kamu sedang bercanda?"


"Menyangkut kamu aku tidak pernah bercanda. Aku sangat mencintaimu Areta. Aku teramat sangat mencintai kamu."


Terharu, genangan air yang membendung di pelupuk matanya pun luruh sudah. Areta tak kuasa menahan perasaan haru itu, yang membuatnya semakin tak bisa menjauh dari Henry. Sungguh ia telah dibuat jatuh cinta.


"Apa kamu sedang menangis, sayang?" tanya Henry yang bisa merasakan bahu Areta sedikit berguncang lantaran menahan isak tangis.


Tak menyahuti pertanyaan Henry, Areta malah melingkarkan kedua lengannya memeluk erat pinggang Henry.

__ADS_1


"Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah mencelakai suamiku sendiri," gumam Areta lirih penuh penyesalan. Ia menyesali dengan mudahnya termakan omongan Mega yang ingin menghancurkan kebahagiaannya. Sebagai balasan sakit hati Mega karena Angga membatalkan pernikahan.


"Sudahlah, sayang. Aku tidak pernah menyalahkan kamu. Aku juga tidak bisa marah sama kamu. Oh ya, apa kamu tidak ingin menjenguk Rosa?"


Menghapus air matanya, Areta kemudian mendongak. Lalu tersenyum haru.


"Aku temani ya?"


"Tapi alergi kamu."


"Sudah agak mendingan. Tidak apa-apa, aku bisa temani kamu ke manapun kamu mau. Hm?"


Areta pun mengangguk. Henry tersenyum, lalu mengecup kening Areta penuh kasih.


...


Sementara di lain tempat.


Wirda yang hendak ke rumah sakit untuk menjaga Rosa, menggantikan suster yang dimintainya tolong sebentar saja, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan dua orang berpakaian rapi. Seorang pria dan seorang wanita yang mendekap sebuah map di dadanya.


"Selamat pagi, Bu?" sapa si wanita ramah sambil tersenyum manis.


"Pagi." Ragu-ragu Wirda menjawab sembari menarik handel, menutup pintu rumahnya rapat.


"Apa benar ini rumahnya Pak Angga Adinata?"


"Iya, benar. Saya ibunya. Anda ini siapa ya? Ada perlu apa dengan anak saya?" Dahi Wirda berkerut dalam, bola matanya bergulir menatap dua orang tersebut bergantian dengan hati bertanya-tanya.


"Kami dari pihak bank, Bu. Kedatangan kami kemari hanya untuk menyampaikan bahwa Pak Angga belum menyetorkan pinjaman ke bank kami beberapa bulan ini."


Wirda terkejut. "Pinjaman? Pinjaman apa?"


"Pak Angga mengambil pinjaman dari bank kami sebesar 250 juta rupiah dengan jaminan sertifikat rumah ini. Pak Angga sudah menunggak pembayaran sejak bulan pertama. Dan jika Pak Angga tidak ada niat untuk menyetor pinjamannya, terpaksa rumah ini akan kami sita."


Semakin terkejut lagi Wirda mendengarnya. Jantungnya kian berpacu kencang, dadanya pun bahkan serasa sesak. Sungguh tak disangka Angga malah menggadaikan satu-satunya peninggalan almarhum ayahandanya.


"Keterlaluan kamu, Angga." Wirda mendengus kesal dengan mata menyalak.

__ADS_1


*


__ADS_2