Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 46


__ADS_3

Bab. 46


"Berikan hakku sebagai suami malam ini juga."


Areta terkesiap. Napasnya serasa tercekat, terhenti di kerongkongannya.


"Apa-apaan ini? K-kamu tidak bisa berbuat seenak hati kamu seperti ini." Areta menegang, tak tahu harus berbuat apa. Ia kesulitan bergerak lantaran Henry menahan pergelangan tangannya, mengungkungnya, mengunci pergerakannya.


Napas Henry terdengar memburu. Ada gejolak hasrat yang menuntut, yang tak bisa ia redam begitu saja. Semakin ia melawan tuntutan hasrat itu, semakin kuat gejolaknya. Sampai ia sendiri kehilangan kesabarannya.


Namun sayangnya, Areta justru tak memahami itu. Kalau pun Areta paham, Areta malah tak memedulikannya. Membuat hatinya sakit, pilu tiada tara.


"Areta, aku tahu kamu marah. Aku bisa mengerti kalau kamu kesal. Tapi tidak seharusnya kekesalan kamu terhadap Angga kamu lampiaskan padaku. Seharusnya kamu berterimakasih padaku. Karena berkat aku, kamu mengetahui perselingkuhan Angga. Dan bukan hanya itu, aku juga baru tahu, sudah lama Angga suka sama Mega. Bahkan sebelum kita bertemu." Henry berkata lirih dengan gaya orang mabuk. Bahkan sesekali cegukan. Menguarkan aroma tak sedap alkohol ke hidung Areta, membuat Areta memalingkan muka cepat.


Henry pun terkekeh, menatap Areta sendu. Melihat Areta berpaling muka tak mau menatapnya seperti itu sebetulnya membuat hatinya teriris. Sakitnya sama seperti sakit yang ia rasakan ketika tahu jika Areta sudah dimiliki orang lain. Bahkan rasa sakit ini dua kali lipat lebih sakit. Menerima kenyataan bahwa Areta takkan mungkin bisa mencintainya, rasanya ia takkan sanggup.


Sebetulnya ada rasa sakit dirasakan Areta saat Henry mengatakan kenyataan lain tentang Angga, penyebab Angga berubah drastis baik sikap maupun perlakuan mantan suaminya itu terhadapnya dulu. Namun sebisa mungkin ia menahan sakit itu. Sebab semua telah terlanjur terjadi. Andai ia tahu sejak dulu jika telah ada wanita lain yang dikagumi Angga, mungkin sikap yang sama pun akan diambilnya. Yaitu meminta berpisah.


Areta menghela napasnya panjang demi meluruhkan rasa sakit itu saat tiba-tiba ia merasakan titik-titik air berjatuhan di pipinya. Ia pun menoleh, dan terkejut begitu melihat pria yang tengah mengungkungnya itu sedang menangis. Entah apa yang ditangisinya.


Namun, ada perasaan aneh yang menyusup ke sanubari Areta ketika melihat pemandangan tak biasa itu. Semacam rasa iba sekaligus prihatin dan rasa bersalah berpadu tak biasa dalam dadanya. Sebab ini kali pertama ia melihat Henry dalam keadaan lemah, seolah tak berdaya.


Pria itu sesenggukan, meringis dalam tangisnya, isakan tangisnya bahkan tertahan. Membuat perasaan Areta tak menentu, mendera hatinya seketika. Deraan perasaan itupun perlahan mulai merubah cara pandangnya terhadap Henry.

__ADS_1


"Areta, aku mencintaimu tulus dari dasar hatiku. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa memiliki kamu. Sedangkan kamu sudah jadi milik orang lain. Aku akui aku salah dengan memanfaatkan kesulitan kamu. Tapi_" Henry cegukan, otomatis kalimatnya terhenti sejenak.


"Aku tidak punya cara lain. Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin sekali kembali ke masa itu. Masa disaat kamu masih sendiri. Aku mungkin akan mengumpulkan keberanianku untuk mengutarakan perasaanku sama kamu. Aku tidak peduli meskipun kamu menolakku. Asal kamu tahu, memendam perasaan ini selama bertahun-tahun itu rasanya benar-benar tidak nyaman," sambung Henry dengan wajah sedihnya.


"Aku akui aku memang salah. Aku menggunakan cara yang keji untuk mendapatkan kamu. Aku sudah menghancurkan hidup kamu, rumah tangga kamu. Untuk itu, aku_" Sekali lagi Henry cegukan. Ia pejamkan matanya sesaat, sebab pening yang melanda.


Areta menunggu kalimat yang hendak diutarakan Henry dengan perasaan tak menentu. Wajah tampan Henry yang terlihat kacau balau itu entah mengapa malah terlihat memprihatinkan.


"Aku minta maaf, Areta. Aku sungguh, sungguh minta maaf sama kamu. Tapi, tidak bisakah kamu membuka sedikit saja hati kamu buat aku? Di dunia ini tidak ada yang paling aku harapkan selain kamu, Areta. Kamu satu-satunya yang paling aku inginkan." Raut wajah Henry tampak semakin menyedihkan ketika kalimat terakhir itu ia ucapkan.


Membuat rasa iba menyusup cepat ke dalam relung hati Areta. Ia hanya tak menyangka di dunia ini ternyata masih ada tipe pria seperti Henry. Yang setia mencintai satu wanita dengan begitu mendalam. Dan fakta mengejutkannya, wanita itu adalah ia sendiri.


Satu fakta yang seharusnya membuat Areta tersanjung. Sebab dicintai dan dipuja oleh seorang pria seperti Henry. Kriteria pria yang hampir mendekati sempurna dan diidamkan banyak wanita.


Entah mengapa kali ini Areta seakan enggan berpaling muka ketika perlahan Henry mengikis jarak, mendekatkan wajahnya sembari menatap sayu mata Areta. Semakin lama semakin dekat. Refleks Areta pun memejamkan matanya. Hatinya seakan pasrah saja menerima. Ia tak menolak ataupun melawan atas apa yang hendak dilakukan Henry.


"Ya ampun, kenapa malah jadi seperti ini?" gumam Areta menggerutu sembari mendorong-dorong tubuh Henry.


Namun ia merutuki dirinya sendiri. Hampir saja ia kehilangan akal sehatnya akibat perasaan iba yang mendera. Ia hampir membiarkan dirinya disentuh jika saja Henry tak diserang kantuk mendadak.


...


Sementara di lain tempat, di malam yang sama.

__ADS_1


Dua desahh berpadu merdu di udara, terdengar memenuhi sebuah kamar hotel bintang lima. Di atas tempat tidur empuk kamar hotel tersebut, seorang wanita tengah meliuk-liukkan tubuhnya indah diatas raga atletis seorang pria.


Sudah hampir sejam lamanya peraduan berderit oleh gerakan lihai wanita tersebut. Membuat seorang pria dibawahnya akhirnya kelojotan, menyerah tak mampu lagi mengimbangi si wanita. Di detik berikutnya erangan panjang si pria pun terdengar. Sebagai pertanda si pria telah lebih dulu mencapai puncak nikmatnya surga dunia. Napasnya tersengal dengan embun-embun keringat membasahi sekujur raganya.


"Kenapa belakangan ini kamu malah makin payah sih, Ga?" Mega menggerutu kesal lantaran hasratnya yang telah mencapai ubun-ubun itu tak tersalurkan dengan sempurna. Ia tak mendapatkan pelepasan yang seperti yang diinginkannya. Sehingga ia kesal, lantas turun segera dari atas tubuh Angga.


"Aku hanya kecapean saja, Mega sayang. Tadi di kantor aku banyak kerjaan. Kami tahu kan, Pak Henry sedang gencar-gencarnya melebarkan pasar sampai ke luar negeri. Hal itu membuat pekerjaan aku jadi tambah banyak. Maaf ya, lain kali kita lakukan lagi." Angga berkilah, tak terima Mega meragukan vitalitasnya di atas ranjang. Padahal sebetulnya ia hanya sedang tak ingin saja. Sehingga cepat-cepat ia menyudahi. Penyebabnya adalah bayangan Areta yang selalu saja mengganggunya.


Belakangan Angga seolah dihantui oleh rasa bersalahnya. Sampai bayangan Areta terus saja mengganggu. Bahkan pikirannya pun mulai mengelana, membayangkan hal yang bukan-bukan. Hati kecilnya seakan merasa tak terima jika Areta melayani Henry di atas ranjang. Walau bagaimanapun, Areta pernah menjadi istrinya. Dan tak memungkiri ada sedikit perasaan cemburu menyusup ke dalam hatinya.


"Kamu itu serius atau tidak sih pengen nikahin aku?" Terdengar tanya dari Mega yang bernada menuntut. Membaringkan diri disamping Angga, ia lantas mengalungkan lengannya di perut pria itu. Membenamkan wajah di ceruk leher Angga, memasang tampang merajuk sok manja. Yang malah dihadiahi Angga dengan satu kecupan sayang di keningnya.


"Tentu saja aku serius sayang. Kamu tidak usah cemas. Hm?" ucap Angga membujuk.


Mega tersenyum puas, mengecup mesra pipi Angga. Kemudian mengeratkan pelukan.


"Tapi, Ga. Begitu kita menikah nanti, aku tidak mau ya tinggal di rumah ibu kamu. Aku maunya kita tinggal di rumah terpisah, hanya berdua," ucap Mega.


"Tidak bisa, Mega. Kamu tahu sendiri kan aku punya anak?"


"Iya, aku tahu. Kan ada ibu kamu. Biar dia tinggal bersama ibu kamu saja. Sekalian biar ibu kamu yang ngurusin semua keperluannya dia. Aku tidak bisa. Kamu kan tahu aku ini wanita karir. Masa aku kamu nikahi cuma buat ngurusin anak kamu itu."


Angga pun terkejut mendengarnya. "Tapi, bukannya kamu sendiri yang bilang, begitu kita menikah kamu hanya akan fokus menjadi ibu rumah tangga saja?"

__ADS_1


"Itu dulu. Tapi sekarang, aku berubah pikiran."


*


__ADS_2