
Bab. 22
Mengguyur tubuh dengan air dingin menjadi pilihan Angga sepulangnya dari kantor. Mengambil duduk di sofa depan TV menjadi pilihan Angga untuk saling berbalas pesan melalui chat dengan Mega.
Sejak perkenalan di kantin kantor itu, Angga dan Mega mulai dekat. Mega merasakan kenyamanan saat mengobrol dengan Angga. Dan itu diakui oleh Mega sendiri berterus terang kepada Angga.
Iseng-iseng Angga pernah bertanya kepada Mega, mengenai bagaimana pendapat Mega tentang menjalin hubungan dengan suami atau istri orang. Dan ternyata jawaban Mega melenceng dari ekspektasi Angga. Mega sangat tidak menyukai menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Untuk itulah, bercerai adalah pilihan terbaik bagi Angga. Agar ia bisa mendekati Mega.
Angga tersenyum-senyum sendiri membaca pesan-pesan balasan dari Mega. Saat terdengar derik pintu terbuka.
Tak lama, Areta muncul dari arah depan dengan wajah lelah lesunya. Areta melenggang pergi begitu saja ke kamar tanpa menghiraukan Angga sedikitpun.
Membuat Angga sendiri yang mengambil inisiatif menyusul ke kamar ketika mendengar dentam pintu kamar yang dibanting kuat oleh Areta.
"Areta, maaf aku tidak sempat ke rumah sakit jengukin Rosa. Tadi di kantor aku banyak kerjaan. Kamu tahu kan besok anniversary perusahaan, dan aku adalah salah satu panitia pelaksana. Jadi aku tuh benar-benar sibuk. Besok aku sempatin jenguk Rosa ya?" Angga berkata lembut, memohon pemakluman. Sembari menghampiri Areta, lantas mendudukkan diri di tepian ranjang bersama Areta.
Areta menghela napasnya panjang, berpaling muka ketika Angga meraih jemarinya, menggenggamnya erat.
Sejujurnya, sudah lama Angga jarang memperlakukannya lembut seperti ini. Bukannya rindu, entah mengapa Areta malah muak.
"Areta, aku minta maaf untuk yang tadi siang," ucap Angga memelankan nada suaranya.
"Untuk apa minta maaf. Bukannya kamu senang kalau kita berpisah? Aku tahu kamu menganggap aku dan Rosa beban buat kamu. Jadi, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku sudah tidak peduli lagi dengan rumah tangga kita. Yang terpenting buat aku sekarang adalah Rosa." Menghempas tangan Angga, Areta lantas bangun berdiri. Hendak ke kamar mandi saat langkahnya harus terhenti oleh Angga yang mencekal lengannya kuat.
"Areta, aku..."
__ADS_1
"Sudahlah." Areta menepis tangan Angga dari lengannya. Lalu berbalik, berhadapan dengan Angga.
"Angga Adinata, mari kita bercerai!" Mempertegas setiap kata, Areta menghunus tatapan tajamnya menikam, menembus sampai ke dasar hati Angga.
Angga pun terkesiap mendengarnya. Bukannya sedih, justru ada kegembiraan dalam hati Angga. Yang berarti bahwa ia punya kesempatan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Salah satunya adalah mencicipi jabatan tinggi di perusahaan.
"Anggap saja aku melakukan ini demi Rosa. Kalau memang Rosa bisa diselamatkan hanya dengan cara ini, baiklah, akan aku lakukan. Jadi, demi Rosa, mari kita bercerai." Awalnya Areta berusaha kuat. Namun pada akhirnya air mata itu pin tertumpah ruah tak tertahankan lagi. Areta membiarkan air mata itu membanjiri wajahnya, namun ia berusaha menahan ledakan isak tangisnya.
"Areta, aku janji sama kamu, begitu Rosa sembuh kita akan berkumpul kembali seperti dulu. Aku janji, Areta."
"Simpan saja janji kamu itu. Aku baru sadar sekarang, ternyata kamu itu egois, tidak lebih dari seorang pengecut. Sekarang aku tahu, kamu itu bukan seorang suami yang baik buat aku. Kamu juga tidak pantas menjadi seorang ayah. Aku sudah memutuskan, begitu Rosa sembuh nanti, aku dan Rosa akan pergi dari hidup kamu untuk selama-lamanya. Jadi simpan saja janji kamu itu, Angga. Karena bagiku pernikahan bukan lelucon yang bisa kamu permainkan begitu saja. Apa kamu pikir hatiku ini seperti terminal? Seenaknya saja kamu singgah lalu pergi?"
"Areta, jangan kamu pikir hanya kamu saja yang sudah berkorban untuk Rosa. Aku di sini juga sudah berkorban banyak."
"Tidak. Kamu tidak berkorban apa-apa. Kamu egois, kamu hanya ingin terlepas dari tanggung jawab kamu sebagai seorang ayah. Aku tidak tahu apa yang memotivasi kamu sampai kamu rela berpisah dari aku. Tapi ketahuilah Angga, begitu kita berpisah nanti, jangan pernah kamu berharap aku mau kembali lagi sama kamu."
"Ini kemauan kamu, bukan aku. Jadi tunggu apa lagi, Angga. Talak aku sekarang juga." Sungguh Areta tak sanggup lagi. Berjuang mempertahankan rumah tangga seorang diri itu teramat melelahkan. Untuk apa ia susah mempertahankan jika Angga sendiri malah ingin berpisah. Dengan alasan demi Rosa. Sungguh sangat tidak masuk akal. Dan ia sudah muak.
"Areta, aku..."
Memutar tubuhnya, Areta lantas membawa langkahnya cepat ke kamar mandi. Angga pun bergegas menyusul, hendak menahan Areta. Namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi ketika Areta membanting kuat daun pintu. Mengahasilkan dentam nyaring yang membuat Angga terlonjak.
"Areta, buka pintunya. Tolong dengarkan aku dulu," pinta Angga.
Namun Areta tak menghiraukan. Areta mengunci rapat pintu kamar mandi. Bersandar punggung pada daun pintu, perlahan-lahan tubuhnya pun melorot bersamaan dengan deraian air matanya.
__ADS_1
"Areta, tolong dengarkan aku dulu. Aku janji Areta. Kita akan kembali bersama lagi begitu Rosa sembuh." Terdengar Angga berkata, disertai suara ketukan pintu. Angga memohon pengertian Areta. Jika semua yang mereka lakukan ini hanya demi Rosa. Putri semata wayang mereka.
"Apa lagi yang harus aku dengar dari kamu, Angga. Seharusnya kamu jujur sejak awal, kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Aku kecewa sama kamu, Ga." Air mata Areta semakin berderai, seiring bersama rasa sakit yang kian menusuk kalbunya.
Areta menyesal, mengapa baru sekarang ia menyadari sikap Angga yang mendadak dingin kepadanya belakangan ini ternyata disebabkan oleh karena perasaan Angga yang telah berubah. Angga mungkin sudah tidak mencintainya seperti dulu lagi. Sehingga dengan mudahnya Angga menyetujui syarat gila dari Henry.
Harusnya sejak awal Areta menyadari hal itu. Pantas saja Angga berubah. Jika sudah seperti ini, lalu apa lagi yang bisa ia harapkan dari pria itu?
...
Di lain tempat, di waktu yang sama.
Setelah makan malam keluarga, Henry memilih duduk bersantai di sofa balkon kamarnya sambil menyeruput secangkir kopi panas. Sudah menjadi kebiasaan Henry bila kantuk tak jua menyergap. Obrolannya beberapa jam lalu dengan Nino masih terngiang. Yang membuat senyumnya terbit begitu saja.
"Kasihan Bu Areta. Anaknya sudah menjadi langganan rumah sakit sejak usianya dua tahun. Dia sedang kesulitan biaya, seharusnya kamu membantu kalau memang katamu kalian pernah satu sekolah dulu."
"Bu Areta itu, selain orangnya cantik, sederhana, dia juga orangnya penyabar. Dia sangat sabar menghadapi cobaan rumah tangganya. Tapi... Kadang aku juga suka kasihan sama dia. Seharusnya dia itu mendapatkan suami yang perhatian juga pengertian. Belakangan ini dari yang aku lihat, dia berjuang sendiri. Suaminya itu seperti tidak peduli lagi. Padahal dulu, suaminya selalu ada saat dia butuh. Tapi sekarang, aku jarang lagi melihat suaminya."
Henry membuang napasnya lega. Bukannya ia tak punya empati, bukan pula ia tak punya perasaan. Hanya saja, ia terlalu menginginkan Areta. Baginya Areta terlalu berharga dimiliki lelaki seperti Angga. Sebab Areta hanya pantas menjadi miliknya.
"Areta, aku pastikan, bersamaku kamu akan bahagia. Akan aku berikan seisi dunia ini padamu asalkan kamu jadi milikku," gumamnya dengan hati berdebar.
*
Maafkan buat update yang tak menentu. Author terkendala dengan kontrak. Insyaallah cerita ini akan up seperti biasa ya. Akan diusahakan setiap hari semampu author.
__ADS_1
Terima kasih sudah setia mengikuti cerita receh ini.
Salam sayang dari Author Abal²😘