Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 44


__ADS_3

Bab. 44


Menunduk sambil memegangi buket bunga mawar merah yang dikirim Henry untuknya, Areta merasa suasana mendadak canggung saat tiba-tiba Agatha ingin berbicara empat mata dengannya.


"Bunganya cantik. Dari Henry?" Agatha memulai obrolan dengan pertanyaan ringan sembari mengulum senyum untuk mengurai canggung. Serta memberi kenyamanan kepada Areta. Saat mereka berbincang di ruang tengah.


Areta mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kamu suka bunganya?"


Areta mengangguk. "Ya, saya suka. Bunga ini adalah bunga kesukaan saya, Mah," jawabnya lembut.


"Kalau yang memberi bunganya, kamu suka?"


Hening. Areta tak menjawab pertanyaan itu, dan tak ingin menjawabnya. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis. Lidahnya serasa kelu ingin berkata yang bertentangan dengan kata hatinya.


Tanpa perlu Areta menjawabnya pun Agatha sudah cukup paham. Dari gesture, dari raut wajahnya, bahkan dari cara Areta berinteraksi dengan Henry pun Agatha sudah mampu memahaminya. Yang sayangnya ia baru menyadarinya sekarang.


"Henry itu adalah anak yang baik, penurut, setia kawan, juga sangat berambisi." Agatha berkata pelan menceritakan tentang kepribadian Henry. Putra terkasihnya itu dahulu adalah seorang anak yang manis, namun tertutup dalam beberapa hal. Termasuk soal wanita.


"Sejak Henry beranjak dewasa, Mama tidak pernah sekalipun melihat dia dekat dengan seorang perempuan. Dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Bahkan teman-teman sebayanya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Mama pikir saat itu belum ada perempuan yang mampu menarik hatinya. Mama sampai punya pikiran ingin menjodohkan dia dengan anak perempuan dari teman-teman arisan Mama. Kamu tahu apa yang dia lakukan?" sambung Agatha bercerita masa lalu Henry.


Areta mengangkat wajahnya, lantas menoleh menatap Agatha. Ia bingung sejujurnya, entah apa maksud Agatha bercerita tentang Henry kepadanya.


"Dia menolak semua perempuan yang Mama kenalkan padanya. Apa kamu tahu seperti apa perasaan Mama saat itu?"


"Mama kecewa?" Areta menebak.


Dan Agatha malah mengulum senyumnya.

__ADS_1


"Mama tidak kecewa. Tapi Mama justru menaruh curiga padanya. Mama bahkan sampai mengira kalau anak Mama itu penyuka sesama jenis. Lihat saja di kantor, sekretarisnya laki-laki kan?"


Areta cukup terkejut mendengar kecurigaan Agatha terhadap Henry. Namun ia enggan memberi tanggapan.


"Ya. Mama bahkan sampai punya pikiran seperti itu terhadap anak Mama sendiri. Saking anak itu menutup diri dan hatinya hanya untuk satu perempuan. Yang sayangnya, perempuan itu adalah kamu." Agatha menoleh, saling menatap dalam satu garis lurus. Raut wajahnya yang semula terlihat senang, kini berubah menjadi tegang.


Membuat Areta menelan ludahnya kelat. Pasalnya aura yang dipancarkan Agatha kini terasa berbeda. Semacam ada kemarahan yang tengah dipendamnya.


"Mama pikir, kamu adalah perempuan pertama yang berhasil merebut hatinya saat dia dewasa. Tapi ternyata Mama salah. Kamu adalah perempuan pertama yang bikin dia jatuh cinta untuk pertamakalinya sejak dia remaja sampai saat ini. Coba kamu bayangkan, berapa lama dia memendam dan menyimpan perasaannya untuk kamu. Perempuan yang paling dia inginkan seumur hidupnya." Agatha menatap lekat bola mata Areta.


Yang seketika membuat Areta salah tingkah. Ia bahkan kesulitan bernapas oleh karena tatapan tajam Agatha. Yang seolah menyimpan kemarahan bahkan kekecewaan di dalamnya. Dan ia tak ingin menyimpulkan. Cukup ia dengarkan saja penurutan ibu mertuanya itu.


"Mama mau tanya sama kamu. Bagaimana perasaan kamu ketika kamu tahu ada seorang laki-laki yang mencintai kamu begitu dalam. Bahkan kamu adalah satu-satunya perempuan dalam hidupnya. Saking cintanya dia sama kamu, dia bahkan sampai menutup pintu hatinya untuk perempuan lain.


"Apa kamu tahu, kamu adalah satu-satunya sumber semangatnya sampai dia jadi seperti sekarang ini. Mama ingin tahu, seperti apa perasaan kamu sama Henry?" sambung Agatha memasang wajah memohon. Hatinya sesungguhnya miris mendapati perempuan yang paling dicintai sang putra ternyata tak sedikitpun menaruh hati kepadanya.


Areta tergagap, tak tahu harus menjawab apa. Dialihkannya pandangannya kembali ke buket bunga di tangan, sekedar sebagai pengalihan kegugupan yang mendera. Sebab sejujurnya ia tak punya jawabannya.


"Jika kamu tidak menjawab pertanyaan Mama, maka Mama akan menganggap kamu hanya memanfaatkan Henry demi kepentingan kamu." Agatha memukul telak, sebab ia tak tahan mengingat cinta Henry hanya bertepuk sebelah tangan. Walaupun cara Henry mendapatkan Areta salah, namun tak menampik ada rasa iba dalam dadanya melihat cinta tulus sang putra tak pernah berbalas.


"Sa-saya... Saya..." Areta sungguh tak bisa menjawab pertanyaan Agatha. Andai ia jawab pun, hal itu malah akan menyakiti Agatha. Walau bagaimana pun, Agatha adalah seorang ibu. Dan tak satu pun seorang ibu di dunia ini yang tidak ingin anaknya bahagia. Tidak terkecuali Agatha. Sudah pasti Agatha menginginkan yang terbaik untuk Henry.


"Areta, Mama juga seorang ibu. Mama tahu apa yang kamu lakukan ini demi anak kamu. Mama mengerti seperti apa perasaan kamu saat ini. Mama akan sangat menghargai jika kamu tetap bertahan di sisi Henry. Tapi Mama juga tidak akan melarang jika suatu hari nanti kamu memilih pergi. Karena kebahagiaan kamu, kamu sendiri yang menentukan. Dan Henry juga berhak bahagia." Agatha lantas berdiri, hendak beranjak meninggalkan Areta.


Namun, sebelum beranjak, ia kembali berkata.


"Dan untuk biaya pengobatan anak kamu, jika Henry menghentikannya, biar Mama yang akan membiayai. Kamu tidak usah cemas, Mama akan selalu menepati janji Mama. Mama hanya minta, kamu pikirkan ini baik-baik sebelum kamu mengambil keputusan."


Setelah berkata demikian, Agatha pun gegas membawa langkahnya mengayun menuju ke kamarnya. Menyisakan Areta yang termangu dengan jalan pikirannya yang mengelana.

__ADS_1


Dari kalimat Agatha yang terlontar seakan menyiratkan makna jika Agatha menginginkan ia meninggalkan rumah ini segera. Ia tak tahu entah apa penyebabnya. Mungkin saja Agatha sudah tahu jika pernikahannya dengan Henry terjadi hanya karena kesepakatan, bukan cinta. Akan tetapi, bukankah ini adalah kesempatan untuknya?


...


Melalui pesan teks Henry mengabarkan jika ia akan pulang telat makam ini. Sebab masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan berkaitan dengan kerjasamanya dengan Kenjiro Hiroshi. Henry juga berpesan Agar Areta makan malam saja terlebih dahulu, tidak usah menunggunya pulang.


Namun, obrolannya beberapa saat lalu dengan Agatha itu membuat Areta merasa canggung dan tak enak hati berada dalam satu meja. Sehingga Areta memilih urung untuk turun makan malam. Ia memilih berlama-lama di dalam kamar mandi, berendam di dalam bathtub. Sembari memikirkan tawaran pilihan yang diberikan Agatha.


Selesai berendam, ia bergegas keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalutkan handuk yang membelit di sebatas ketiak sampai paha. Bersamaan dengan itu pintu kamar didorong terbuka oleh seseorang dari luar. Membuatnya kaget, menoleh cepat ke arah pintu.


Namun, yang lebih mengagetkan lagi, Henry pulang lebih cepat dari yang dikabarkannya beberapa jam lalu. Ia mengira pria itu benar akan pulang telat, sehingga ia bisa leluasa menggunakan kamar ini. Tetapi ternyata ...


"Ka-kamu? Bukannya kamu bilang kamu akan pulang larut malam ini?" ujar Areta terbata lantaran dikuasai gugup saat Henry malah datang mendekat.


Henry melempar asal tas kerjanya, melepas jasnya, melemparnya asal pula. Sembari melangkah perlahan dilepasnya dasi yang melingkar di lehernya. Membuka tautan kancing kemejanya satu persatu sambil terus mendekati Areta. Tatapannya berkabut gairah. Melihat tampilan setengah terbuka Areta itu menyulut api gairahnya seketika. Sehingga membuatnya tak sanggup lagi membendung.


Sementara Areta, membeku di tempatnya. Dengan dada bergemuruh hebat. Menghentak-hentak kencang memukul rongga dadanya. Ia ketakutan, dan tak berdaya upaya menghindar. Dan hanya bisa berharap semoga ia diselamatkan dari situasi ini oleh siapapun dan bagaimanapun caranya.


"Kamu sudah makan?" Henry bertanya, menghentikan langkahnya tepat di depan Areta. Sembari menatap lekat dengan kancing kemeja yang sudah terbuka seluruhnya.


Areta menggeleng takut. "Be-belum."


"Bukankah aku menyuruh kamu makan lebih dulu tanpa menungguku?" Sembari melepas kemeja, melemparnya asal. Jatuh mengenaskan di lantai kamar itu.


"A-aku hanya... Aku ha_" belum sempat Areta menyelesaikan kalimatnya, mulutnya telah lebih dulu dibungkam Henry dengan bibirnya.


Membuat Areta terkesiap. Tak siap menerima maupun melawan. Sementara Henry malah semakin kalap menyerbu, membabi buta dan lupa diri.


Dengan sekuat tenaga Areta berusaha melawan. Namun tenaganya kalah kuat dengan tenaga Henry. Sampai akhirnya ...

__ADS_1


PLAK


*


__ADS_2