
Flo meringkukkan diri di belakang kursi tepat di pojokkan rumah kontrakkan. Gadis berusia tujuh tahun itu selalu merasa tidak nyaman dan tertekan saat mendengar suara benda-benda pecah yang dibantingkan. Ditambah suara jeritan, makian, kata-kata kotor, dan tangisan yang mengudara dalam ruang sempit berukuran 6 x 5 meter itu.
“Jadi istri, tuh, kerja! Jangan bisanya ngabisin duit suami doang," desis Ardi sambil menarik rambut Arini kuat-kuat. Tangannya yang bebas menekan dagu istrinya tak berbelas kasih.
“Kamu yang dulu nyuruh aku berhenti,” jawab Arini sedikit terbata. Wanita itu meringis menahan perih yang terasa di pangkal rambutnya. Mulutnya terasa kebas saat lelaki itu menampar sudut bibirnya.
"Berhenti mabuk-mabukkan! Kamu udah jadi bapak. Rubah kelakuan kamu yang kaya pemuda pinggiran itu.” Arini menjerit saat tubuhnya dibantingkan dengan keras.
“Yakin kalau si Flo itu anakku?” Ardi berdecih. “Bukannya kamu udah bunting duluan?"
“Perlu tes DNA untuk menyadarkan kewarasan kamu, Ardi?” teriak Arini.
Arini tidak terima dengan tuduhan suaminya. Jelas-jelas tersangka utama yang membuatnya menikah di usia 18 adalah lelaki ini. Tak habis pikir, kenapa dulu ia memercayai mulut manisnya? Ia bahkan tidak peduli dengan cemoohan orang tentang asal usul dan masa depan Ardi yang tidak jelas. Arini begitu buta. Ia terpedaya bualan yang mengatasnamakan cinta.
“Kebanyakan nonton sinetron jadi bego, nih, bukan ngasilin duit." Ardi menendang punggung Arini sebelum menemui sekawanan pria-pria yang tidak jelas dan tidak bertanggungjawab.
Padahal di awal-awal pernikahan, Ardi sangat menjaga anak dan istrinya. Lelaki itu melakukan perannya dengan baik. Namun, saat mereka memutuskan mengontrak, pergaulan di tempat baru membuatnya kehilangan akal.
Dengan tergopoh-gopoh Arini merangkak mengambil air. Ia menyandarkan diri pada sebuah lemari usang. Pandangannya mengarah pada sosok gadis kecil yang tengah menutup telinganya dengan kedua tangan.
“Gara-gara kamu tumbuh, aku jadi menikah dengan lelaki gila," lirihnya yang dapat terdengar jelas oleh si gadis kecil. "Seandainya kamu nggak hadir, hidupku mungkin baik-baik saja."
Flo tidak memahami ucapan ibunya. Ia makin merapatkan diri pada kursi yang sebagian sisinya bolong karena hewan pengerat. Setelah berkata begitu biasanya ibu akan menampar atau menendangnya. Persis apa yang biasa dilakukan ayahnya.
“Sekarang, ayo bereskan kekacauan yang dibuat oleh bapakmu!” Arini menarik Flo untuk bergerak. Gadis kecil itu menurut. Ia sangat takut kalau ibu sampai memarahinya.
Kejadian seperti ini berlangsung secara berulang. Flo benar-benar tidak menyukai keadaan ini. Terlebih saat ibunya berubah menjadi monster selepas ayahnya marah-marah. Flo menjadi sosok yang pendiam dan tak banyak bicara. Sikap Flo yang seolah menutup diri membuatnya susah untuk berbaur dan memiliki teman. Ia berubah menjadi penyendiri.
Tidak tahan hidup dengan Ardi, Arini melarikan diri. Pada awalnya, wanita itu berniat meninggalkan Flo. Membiarkan Ardi merawat dan bertanggungjawab mengurus putrinya sendiri. Namun, sebagai ibu, ia juga tak sampai hati meninggalkan putrinya di bawah pengasuhan lelaki kejam itu.
“Kalau ingin ikut aku, jangan membuat hidupku repot. Mengerti?” Flo kecil mengangguk. Ia tidak ingin ditinggalkan ibunya. Terlebih ditinggalkan dengan seorang ayah yang tampak lebih mengerikan daripada monster.
Untuk menghidupi diri dan anaknya, Arini mulai kerja serabutan. Ia tak malu bekerja sebagai buruh cuci sampai menjadi pelayan restoran. Tidak terburu-buru mencari pasangan, Arini yang memang pada dasarnya pandai merawat diri malah berhasil menarik perhatian Wijaya. Pengusaha muda yang baru satu tahun ditinggalkan istrinya meninggal itu langsung mengajaknya hidup bersama. Entah bagaimana permulaan hubungan mereka, yang jelas satu bulan kemudian Arini dan Flo sudah tidak tinggal di kontrakkan kumuh lagi.
__ADS_1
Wijaya tampak sangat menyayangi Arini. Pria itu bahkan menganggap Flo sebagai anaknya sendiri. Terlebih, Wijaya juga memiliki seorang anak lelaki yang usianya tiga tahun lebih tua dari Flo.
“Dareen akan senang mempunyai adik cantik seperti Flo,” katanya penuh perhatian. Sangat berbeda jauh dengan ayah kandung yang justru mengabaikannya.
Flo cukup takjub saat pertama kali memasuki rumah Wijaya. Besar dan sangat megah. Seorang anak laki-laki berlari menyambut kedatangan ayahnya dengan suka cita. Namun, saat melihat ayahnya menggendong seorang anak perempuan, anak laki-laki itu terdiam sejenak. Berdiri tanpa mengatakan apapun saat ayahnya mengabarkan kalau dia akan mempunyai ibu dan adik baru.
Dareen, anak lelaki itu malah berlari ke kamarnya. Tidak lama kemudian, bersama seorang anak laki-laki lainnya, Dareen mulai mengenalkan diri dan mengajak Flo bermain.
“Mulai saat ini, aku, kamu, dan Raka ayo kita main sama-sama.”
***
Flo, Dareen, dan Raka duduk dalam diam dengan pemikiran masing-masing. Dareen yang sedang mencoba menahan emosi. Flo yang tidak bisa menutupi amarahnya, dan Raka yang tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Flo, wanita itu menatap Dareen dengan tajam. Ia tertawa sumbang dan kembali menyebut Dareen sebagai penghianat.
“Aku minta maaf,” ujar Dareen kemudian. Meskipun ia tahu, kata itu tidak akan membuat Flo begitu saja melepaskannya.
“Maaf?” Flo tertawa sinis. “Sorry. Bang Dareen minta maaf karena memutuskan menikah ... atau karena Bang Dareen nyesel udah mempersiapkan pernikahan ini secara sembunyi-sembunyi?” ujar Flo sedikit mendengkus.
“Bahkan Bang Dareen juga merahasiakannya dari Bang Raka?” Flo menunjuk Raka yang tengah mengantisipasi kemungkinan terburuk saat kedua kakak-beradik ini mulai berinteraksi.
“Bulshit!” potong Flo. “Bang Dareen adalah orang ter-bulshit yang pernah aku kenal. Bang Dareen adalah penghianat. Bang Dareen udah menghianati aku.” Air mata Flo mulai luruh. Punggungnya juga sedikit bergetar.
“Surprise?" Wanita itu membuang muka sejenak. "Berhasil." Flo menyunggingkan senyum miris. "Abang berhasil bikin aku terkejut.” kali ini dia bertepuk tangan dengan air mata yang mengurai.
“Bang Dareen nggak boleh menikah, Bang.” Flo mencengkeram lengan abangnya yang kini terasa dingin. Kepalanya menggeleng dengan kuat. “Bang Dareen, kan, udah janji bakal nikahin aku. Bang Dareen nggak lupa, kan?” tanyanya sambil terus mencengkeram lengan Dareen.
Tangannya yang lain ia gunakan untuk menelusuri pipi Dareen yang tampak kemerah-merahan. Flo mengelus bekas tamparan itu dengan sayang.
“Batalin, ya, Bang? Demi aku?”
Dareen memejamkan mata. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini pada Flo. Meskipun tidak memiliki ikatan darah, mereka berdua adalah kakak beradik. Tidak mungkin bagi Dareen menikahi adiknya sendiri.
“Kamu harus inget mama-papa.” Mata Flo mengarah pada tangan Dareen yang menggenggam jemarinya. Dingin. Benar-benar dingin. Tangan Dareen tidak sehangat dulu lagi.
__ADS_1
“Kita berdua adalah saudara. Sejak dulu kita adalah saudara. Aku abangmu dan kamu adikku. Sampai kapan pun hubungan kita-“
“Enggak!” Flo menggelengkan kepala semakin kuat. Ia melepaskan genggaman tangan Dareen. “Kita bukan saudara. Kita berdua akan menikah. Abang udah janji. Kita bukan saudara!”
Dareen mengusap wajah frustasi. Sesaat ia menoleh pada Raka. Menatap lelaki itu dengan sedikit dalam. Raka hanya diam, sesekali ia menepuk pundak Dareen atau mengusap punggung Flo.
“Abang udah nggak tahu harus gimana lagi ngomong sama kamu." Rahang Dareen terlihat menegas. "Apa kamu pernah memikirkan perasaan mama dan papa? Mereka berdua akan terluka. Kamu mau menghancurkan kebahagiaan yang sudah mereka bangun?”
“Aku nggak peduli," teriak Flo sambil menggelengkan kepala berkali-kali. Ia menutup mulutnya menahan segala sesak yang ada.
“Aku nggak peduli dengan mama, papa dan omongan semua orang. Aku nggak peduli. Pokoknya Abang nggak boleh menikah. Abang hanya boleh menikah sama aku. Aku nggak peduli.” Flo terus saja meracau membuat Dareen membuang napasnya dengan kasar.
“Tapi aku peduli!” Suara Dareen terdengar lebih tegas. “Terserah apa yang mau kamu lakukan. Yang jelas Abang akan tetap menikah. Perlu kamu ingat baik-baik, kalau kita hanya saudara. Kita adalah saudara Fleuriandra!”
Tubuh Flo bergetar mendengar ucapan Dareen. Dingin namun tampak sangat tegas. Flo tidak mau kehilangan Dareen. Ia kembali menggelengkan kepala dengan kuat. Tangannya tiba-tiba mengambil pisau steak yang sama sekali belum tersentuh di meja mereka.
“Kalau Abang sampai menikah ... Abang tahu apa akibatnya,” lirih Flo dengan tangan bergetar.
Raka langsung waspada seketika.
“Aku nggak bisa melihat Abang menikah dengan orang lain. Aku nggak bisa melihat Abang dimiliki orang lain.” Flo mengusap air matanya dengan kasar.
“Silakan Abang menikah, tapi pastikan sebelum itu Abang sudah menguburkan aku dengan baik.”
Flo menatap Dareen dengan tatapan memohon. Melihat Dareen hanya diam saja, gadis itu hampir saja menggoreskan pisau di pergelangan tangan. Namun, dengan cepat Dareen berhasil menarik lengan adiknya dan mengarahkan pisau itu ke lehernya.
“Sebelum kamu menyakiti dirimu. Lebih baik kamu sakiti Abang dulu.”
Tubuh Flo bergetar seketika. Semua sendi-sendi dalam ototnya terasa kaku. Ia menghentikkan isakkannya seiring dengan denting pisau yang bersentuhan dengan lantai. Flo membunuh Dareen?
[Bersambung]
Jangan lupa vote dan komen, ya. 😊
__ADS_1
Terima kasih.