Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 24


__ADS_3

Bab. 24


"Areta?" panggil Henry ketika dilihatnya Areta malah termenung. Ia mengajak Areta mengobrol di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor.


Penuturan Areta beberapa saat lalu membuatnya kegirangan. Namun hanya bisa memendamnya, tak ingin menggambarkannya jelas di wajahnya.


"Areta, apa yang kamu pikirkan?" Henry bertanya, sebab Areta tak menggubris panggilannya.


Areta pun terhenyak mendengar namanya dipanggil. Sedari tadi, sejak mendudukkan diri, pikirannya tertuju kepada Angga. Yang tertangkap matanya tengah bersenda gurau bersama seorang wanita cantik, juga terlihat mesra.


Areta tak ingin berpikir macam-macam, namun entah mengapa perasaannya tak enak saat melihat pemandangan tersebut. Bukan berburuk sangka, melainkan ada perasaan cemburu di hatinya melihat Angga malah bisa bersikap manis terhadap orang lain. Sedangkan kepadanya Angga bersikap dingin dan datar.


Ada hubungan apa gerangan Angga dengan wanita itu?


Apakah wanita itu yang menjadi penyebab Angga berubah belakangan ini?


Entahlah.


"Saya..." Areta kehilangan fokus. Ia bahkan bingung harus berkata apa. Bahkan mendadak ia seakan menyesali telah mengambil keputusan dadakan.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu? Apa kamu sudah yakin dengan keputusan yang kamu ambil ini?" Henry ingin memastikan jika Areta tidak akan berubah pikiran.


Areta menghela napasnya sejenak, masih enggan menjawab pertanyaan Henry. Sebab mendadak malah timbul keraguan di hatinya.


"Areta, kesempatan tidak datang dua kali. Kamu masih punya waktu sampai malam nanti sebelum kesempatan itu habis. Pikirkan baik-baik, Areta. Keselamatan anak kamu ada di tangan kamu sekarang," ujar Henry. Terdengar keji, terkesan memaksa, namun seperti itulah jika ia menginginkan sesuatu. Hanya kepada Areta lah ia bersikap seperti ini.


"Tenang saja, Pak Henry. Saya tidak akan berubah pikiran. Tapi tolong, beritahu saya apa alasan Anda memberikan syarat gila seperti ini kepada saya dan suami saya. Memangnya apa kesalahan saya sampai-sampai Anda memperlakukan saya seperti ini." Hal inilah yang menjadi tanda tanya besar dalam benak Areta. Entah Henry memiliki dendam apa terhadapnya.


"Akan aku katakan semuanya sama kamu. Tapi bukan sekarang."

__ADS_1


"Tapi saya harus tahu yang sebenarnya. Apa yang melatarbelakangi Anda melakukan semua ini."


"Areta, sudah aku bilang, akan aku katakan semuanya sama kamu tapi bukan sekarang."


"Mana bisa seperti itu. Apa Anda bermaksud menipu saya? Atau Anda ingin menjebak saya?"


"Ya, aku memang ingin menjebak kamu Areta. Menjebak kamu masuk ke dalam hidupku untuk seumur hidupmu. Karena kamu hanya pantas jadi milikku." Sayangnya kalimat itu hanya diutarakan Henry dalam hatinya saja.


Sudah bertahun-tahun lamanya Areta bertahta di hati dan pikirannya. Membuat keinginannya untuk memiliki wanita itu semakin kuat. Perasaannya yang kian menggebu itu membuat akal sehatnya sedikit bergeser. Sehingga ia tak lagi peduli kenyataan bila Areta telah dimiliki oleh lelaki lain. Ia akan berusaha merebut Areta dari Angga bagaimanapun caranya, walau menggunakan cara licik dan keji sekalipun.


"Baiklah, kalau begitu aku berubah pikiran detik ini juga." Henry bangun dari duduknya, menghunus tatapan dingin kepada Areta.


"Ketahuilah, aku adalah orang yang pantang memberi kesempatan. Keberuntungan hanya datang sekali seumur hidup. Bagiku, tidak ada yang namanya kesempatan kedua. Jika ada yang kedua kali, itu bukan kesempatan. Tapi kesepakatan. Sampai jumpa, Areta." Henry pun bergegas mengayunkan langkahnya meninggalkan Areta.


Sengaja Henry bersikap demikian untuk sedikit menakut-nakuti Areta. Ia ingin mencoba meruntuhkan pendirian Areta. Agar Areta sedikit menurunkan egonya dan mau menerima uluran tangannya yang berbalut maksud terselubung.


"Saya masih pada keputusan saya. Saya menerima syarat yang Anda berikan," kata Areta.


Henry kegirangan, senang bukan main. Namun ia menyembunyikan kegembiraan itu agar terlihat sebagai seseorang yang memiliki prinsip di depan Areta.


"Tapi sayang sekali, Areta. Kesempatan itu sudah aku tarik kembali beberapa saat lalu. Jika kamu menginginkan kesempatan kedua, itu adalah kesepakatan. Aku seorang pebisnis yang pantang rugi." Henry mempertegas kalimat terakhirnya. Tidak ada lagi tawar menawar baginya. Apa yang ia katakan adalah mutlak.


Areta menguatkan hatinya sendiri, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bila suatu hari nanti semuanya akan baik-baik saja. Tuhan hanya sedang mengujinya saat ini, sejauh mana ia bisa bersabar. Dia akan bersabar menerima ujian ini demi Rosa.


"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan."


Yes!


Henry semakin kegirangan. Merasa menang dalam permainan ini. Senyumnya pun terkembang lebar. Menatap Areta berbinar-binar.

__ADS_1


Areta tahu, syarat yang diberikan Henry hanyalah perpisahannya dengan Angga. Namun Areta tak tahu, ada syarat lain yang harus ia penuhi sedang menunggu di depan. Henry belum mengungkap syarat itu kepada Areta. Syarat itu akan ia ungkap jika Areta sudah berpisah dari Angga.


...


Henry melangkah penuh percaya diri dengan senyum terkembang lebar. Beberapa saat lalu ia membuat kesepakatan dengan Areta. Dimana ia yang lebih diuntungkan dari kesepakatan itu. Ia bahkan merekam kesepakatan mereka di handphonenya. Untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Areta berubah pikiran.


Henry sudah berdiri di depan lift khusus. Ia hendak menekan tombol saat seorang satpam datang menghampirinya.


"Maaf, Pak Henry. Liftnya sedang bermasalah, Pak. Pak Henry silahkan menggunakan lift yang lain saja dulu Pak," ujar satpam.


"Kok bisa? Trus, kapan liftnya akan diperbaiki?" Henry berkerut dahi kesal. Sebetulnya ia enggan menggunakan lift umum. Sebab ia kurang suka bercampur baur dengan karyawannya dalam satu lift.


"Akan segera diperbaiki, Pak. Tukangnya sudah dihubungi."


Henry mengangguk. Kemudian bergegas menuju ke lift umum di pojok koridor. Ditekannya tombol lift, yang sayangnya ia harus menunggu beberapa saat sampai kotak besi itu tiba di lantai satu.


Beberapa menit menunggu pintu lift pun terbuka. Henry hendak mengayunkan langkahnya saat netranya menangkap sebuah pemandangan mengejutkan di dalam lift tersebut. Pemandangan yang membuatnya bersorak gembira dalam hatinya. Pemandangan itu tidak lain adalah Angga dan Mega yang sedang berciuman.


Sementara di dalam lift itu, Angga dan Mega sama terkejutnya ketika melihat Henry tiba-tiba telah berdiri di depan pintu lift umum. Keduanya pun terlihat salah tingkah ketika Henry masuk bergabung bersama mereka di dalam lift itu.


Angga menundukkan kepalanya malu terhadap Henry. Sama halnya dengan Mega. Ia malu ketahuan atasannya sedang bermadu kasih di dalam lift kantor di jam-jam kerja.


Padahal belum lama Angga dan Mega saling mengenal, namun keduanya sudah dekat dan merasa cocok satu sama lain. Angga mengakui statusnya kepada Mega bahwa ia sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Sehingga Mega pun mau menjalin hubungan dengannya. Apalagi Angga juga mengaku bahwa sebentar lagi ia akan dipromosikan menjadi direktur pemasaran. Sehingga Mega pun tak segan menjalin hubungan dengannya.


Lain lagi dengan Henry. Bukannya marah bawahannya kedapatan berbuat asusila di lingkungan kantor, ia justru senang. Sebab kenapa? Sebab hal ini bisa ia jadikan sebagai alat untuk menyerang Angga. Juga untuk membuat Areta enggan lagi mempertahankan pria itu di sisinya.


"Angga, saya perlu bicara sama kamu sekarang," ucap Henry begitu pintu lift terbuka, tiba di lantai lima.


*

__ADS_1


__ADS_2