
Flo mengemasi barang-barangnya dengan senang. Tinggal di rumah Dareen merupakan rencana tidak terduga yang cukup menguntungkan baginya. Dengan begitu, dia akan lebih mudah membuat rumah tangga Dareen dan Thalita seperti di neraka. Flo tidak ingin membiarkan hidup mereka berdua tenang dan damai. Kehidupan rumah tangga yang bahagia, tidak akan pernah tercipta selama Flo masih ada. The show must go on. Flo akan mulai bertindak.
Suara dering ponsel membuyarkan pikiran picik Flo. Wanita itu mengerutkan kening saat mendapati nama Raka tertera di layar ponsel. Tanpa pikir panjang, Flo menempelkan ponsel pintarnya itu di telinga.
“Ada apa, Bang?” tanya Flo tanpa basa-basi.
“Dareen bilang kamu akan ikut tinggal di rumah mereka. Kamu serius?” tanyanya cemas.
Flo menghentikan aktivitas melipat pakaiannya. Flo tidak mengerti dengan jalan pikiran Dareen yang melaporkan hal sekecil itu pada Raka. Wanita itu mulai berpikir kalau Dareen bersikap seperti seorang pecundang.
“Kenapa? Bang Dareen meminta Bang Raka untuk menghentikanku?” tanya Flo sinis.
“Nggak. Sebaliknya, aku yang ingin memintamu berhenti,” bantah Raka.
“Apa?” Mata Flo membulat tidak percaya. “Apa Abang sadar apa yang baru saja Abang katakan?” Flo meninggikan nada suaranya.
“Abang mengkhawatirkanmu, Flo. Apa kamu nggak capek terus-terusan mengejar Dareen?” Raka beralasan.
“Nggak,” tegas Flo. “Abang, apa yang aku lakukan ini benar menurutku. Apa Abang ingin membuatku menderita?”
“Nggak, Flo. Sebaliknya karena nggak ingin melihat kamu semakin menderita, Abang memintamu berhenti. Sebaiknya, kamu lebih fokus mengejar kariermu daripada Dareen, Flo,” bujuk Raka lembut.
“Aku nggak akan berhenti. Aku akan merebut kembali apa yang menjadi milikku. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
Flo menutup sambungan teleponnya dengan hembusan napas kasar. Kesal dan marah. Flo yakin kalau tindakannya benar, tidak salah. Ia hanya ingin mengambil apa yang sudah direbut darinya. Flo kembali mengemasi barang-barangnya. Ia tidak akan membiarkan Dareen dan wanita itu berduaan saja. Tidak akan. Dareen hanya miliknya selamanya.
Sebuah dehaman menghentikan aktivitas Flo. Wajah Flo mendongak melihat seorang pria yang kini menatapnya dengan dalam. Senyum tersungging di bibir gadis itu. Akhirnya Dareen mau menemuinya. Flo beranjak dan mempersempit jarak di antara mereka. Tangannya menyentuh rahang Dareen sebelum mendekap pria itu dengan erat. Ya. Tubuh ini. Kenyamanan berada dalam dekapan ini adalah miliknya. Hanya miliknya. Bukan milik wanita itu.
__ADS_1
Belum sempat Flo merasakan hangatnya rengkuhan tangan Dareen, wanita itu harus merasakan sakitnya sebuah cengkeraman. Flo merasa kehilangan saat kembali berjarak dengan pria yang disayanginya ini. Flo kembali meringis saat cengkeraman Dareen terasa menguat di pundaknya.
“Jangan melakukan hal-hal aneh yang berpotensi menyakiti Thalita. Mengerti?” tutur Dareen penuh peringatan.
Flo cukup terkejut mendengar ucapan Dareen. Ternyata kedatangan Dareen semata-mata hanya untuk memperingatkannya. Flo tidak ada pilihan selain mengangguk paham. Ia menatap punggung Dareen yang perlahan menjauh. Hatinya terasa sesak dan sakit. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan Flo sekarang. Dia bertanya-tanya tentang kemana perginya tatapan Dareen, sikap manis Dareen yang selalu menjaga dan melindunginya serta kemana arah hati Dareen saat ini tertuju. Pemikiran-pemikiran itu membuat air mata Flo bercucuran.
Saat posisi yang sudah lama ditinggali, digantikan oleh orang lain, begitu terasa menyakitkan. Mungkin, ini yang disebut sakit tapi tidak berdarah.
***
“Jadi nanti untuk sementara waktu, sepupuku juga bakal tinggal di rumah kami, Flo,” cerita Thalita sedikit antusias.
Thalita senang karena Flo bukan tipe wanita sombong seperti kebanyakan influencer di luaran sana. Sikap Flo yang tidak pernah segan padanya, membuatnya merasa diterima sebagai ipar. Ditambah dia memang sudah mengidolakan Flo sejak lama. Thalita sempat terkejut saat Dareen mengenalkan satu per satu keluarganya melalui foto. Sempat berpikir Dareen menipu, sehingga dia diam-diam mengirimkan undangan pernikahannya.
Melihat Flo hadir dalam acara pentingnya, Thalita sempat segan. Pertama melihatnya, Flo terkesan seperti kurang ramah. Belakangan Thalita tahu kalau itu merupakan cara Flo menunjukkan perasaan cintanya. Apalagi melihat Flo yang tampak sangat posesif pada Dareen, membuat Thalita berpikir akan mendapatkan perasaan cinta yang sama.
“Dia dari Jogja. Baru-baru ini merantau mencari peruntungan nasibnya,” lanjut Thalita yang masih tak mendapatkan tanggapan dari Flo.
“Sebenarnya aku seneng banget waktu kamu bilang mau tinggal di rumah kami,” ujar Thalita yang membuat Dareen dan Flo menoleh bersamaan.
Saat ini posisi mereka berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah Dareen. Tentu saja, dengan penuh tipu muslihat, Flo meminta duduk di kursi depan. Alasannya karena ia takut muntah kalau duduk di kursi belakang. Dareen yang pada awalnya siap melontarkan kata-kata sedikit kasar mengurungkan niatnya saat melihat Thalita dengan santainya mengiyakan. Entah bodoh atau terlalu baik istrinya ini. Yang jelas Dareen jadi merasa bersalah.
Thalita tertawa melihat kekompakkan kedua kakak-beradik ini. Melihat istrinya tertawa, Dareen kembali memfokuskan diri untuk menyetir. Sungguh hati kecilnya merasa sangat bersalah.
“Jadi, aku nggak terlalu merasa bersalah karena sudah mengizinkan sepupuku tinggal di rumah kita, Kak. Aku bawa Fauzan dan Kak Dareen bawa Flo,” jelas Thalita yang membuat Dareen menghembuskan napas lega.
Flo mencibir mendengar panggilan ‘Kak’. Please, deh. Mereka bukan abege yang harus menggunakan panggilan kakak-adek. Dasar Alay. Flo menyenderkan kepalanya pada jendela mobil. Ia mengamati Dareen dalam diam. Ditatap seperti itu membuat Dareen tidak nyaman. Berkali-kali ia berdeham yang membuat Flo menyimpulkan senyum. Hatinya bersorak. Dareen salah tingkah.
__ADS_1
Flo memperhatikan desain rumah Dareen yang tampak berbeda dari sebelumnya. Dareen sudah mengubah desainnya. Flo mencoba menahan diri untuk itu. Ia tidak akan banyak berkomentar. Tidak ingin salah fokus. Fokusnya hanya membuat suasana di rumah ini menjadi tidak nyaman. Flo melenggang menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria yang tampak tidak asing. Pria itu tampak asyik dengan kameranya. Flo mempercepat langkahnya, ingin memastikan dugaannya.
Si pria terlonjak kaget saat Flo menepuk pundaknya. Ia menyipitkan mata dan tampak mengingat-ingat wanita yang kini menautkan kedua alis. Tiga detik kemudian, si pria mengulum senyum.
“Ah, si Nona yang gagal menggagalkan pernikahan kekasihnya, ya?” Flo memutarkan bola mata. Lelaki ini masih tetap menyebalkan.
“Ngapain di sini?” tanya Flo langsung. “Mau maling kamu?” tuding Flo.
“Ya ampun, masa orang keren kaya saya maling, sih, Non,” bantahnya santai
“Terus?” Flo menyilangkan lengannya. “Kamu tukang kebun baru di sini?”
“Wah, Non ini makin sembarangan, ya. Kenalin ya, saya-”
“Dia sepupuku, itu, loh, Flo.” Thalita menghampiri mereka berdua. “Fauzan. Wira Fauzan,” jelas Thalita. “Ini adiknya Kak Dareen, Zan. Cantik, kan?”
“Lah, ngapain dia di sini, Mbak?” tanya Fauzan yang langsung mendapat jitakan dari Thalita.
“Sama sepertimu, dia juga akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Bersikap baiklah sama dia. Jangan iseng.” Thalita sedikit memperingatkan. Fauzan meringis saat telinganya dijewer kakak sepupunya.
“Orangnya emang agak iseng. Kalau dia gangguin kamu, jangan peduliin, ya,” ujar Thalita pada adik iparnya.
Flo mengangkat bahu tidak peduli. Ia memilih meninggalkan kedua sepupu itu dengan pergi ke kamar tidur. Dalam hati Flo berdoa, semoga pria itu tidak menjadi batu yang membuatnya tersandung. Flo sempat menoleh ke belakang dan langsung bergidik ngeri saat Fauzan melambaikan tangan dengan senyuman sok ganteng yang membuat Flo ingin muntah. Tuhan … cobaan macam apa lagi ini?
[Bersambung]
Hai, gimana udah sayang belum sama Flo? Hihi
__ADS_1
Jangan lupa vote and comment, ya. 😊
Terima kasih 😘