Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 11


__ADS_3

Bab. 11


Henry melangkah lesu menyusuri lobi menuju lift khusus. Pintu lift sudah terbuka, tetapi Henry tidak menyadarinya. Ia berdiri mematung di depan lift itu dengan pikiran bercabang-cabang.


Tak hanya terkejut saat mengetahui fakta bahwa Areta sudah menikah dan punya anak. Namun juga Henry kecewa. Ia kecewa dan menyalahkan diri sendiri.


Andai dulu ia mengutarakan perasaannya.


Andai ia dan Areta dipertemukan sebelum Areta menikah.


Andai ia tidak terlambat bertemu dengan Areta.


Hanya berandai-andai yang bisa dilakukan Henry saat ini. Bunganya yang telah mekar berseri itu harus layu sebelum dipetik. Mengetahui kenyataan ini, Henry bahkan telah kehilangan semangatnya dalam sekejap.


Beberapa menit termangu di depan lift itu, Henry baru menyadari ketika Fabian datang mengagetkannya.


"Pak Henry?"


Henry pun terhenyak, menoleh cepat ke arah Fabian yang berjalan tergesa-gesa menghampirinya.


"Ya ampun, Pak. Dari tadi kita nungguin Pak Henry di ruang rapat. Apa rapatnya di tunda dulu atau kita lanjutkan sekarang Pak?" tanya Fabian begitu menghentikan langkah.


Henry terlihat kebingungan. Seolah pikirannya masih mengelana.


"Rapatnya kita lanjutkan Pak Henry? Kebetulan peserta rapat masih di ruangan menunggu sampai Pak Henry datang." Fabian melanjutkan.


"Oh iya, sorry, sorry. Aku sampai lupa. Gimana, gimana tadi?" Henry baru tersadar. Pikirannya yang sempat mengelana itu sudah kembali ke tempatnya semula.


"Rapat Pak, rapat."


"Ada apa dengan rapat?"


"Astaga. Jadi dari tadi saya ngomong panjang lebar, Pak Henry tidak memperhatikan?"


Henry mengusap tengkuk. Sedari tadi pikirannya hanya diisi oleh Areta seorang. Dalam sekejap fakta tentang Areta telah merebut seluruh perhatiannya. Juga semangatnya.


"Rapatnya Pak. Mau ditunda atau dilanjutkan?" Fabian bertanya dengan mempertegas setiap katanya.


"Kita lanjutkan saja." Kemudian membawa langkahnya memasuki lift begitu pintu lift terbuka. Disusul oleh Fabian kemudian.

__ADS_1


...


Bahkan saat rapatnya dimulai pun, Henry masih tak bisa berkonsentrasi. Areta masih mendominasi. Memenuhi isi kepala serta merebut perhatiannya. Henry duduk termenung, tak memperhatikan jalannya rapat.


Mega yang tengah mempresentasikan sejumlah biaya yang akan dikeluarkan oleh Dreams Food untuk perayaan anniversary lusa malam nanti itu sampai berkerut dahi dan menghentikan presentasinya sejenak. Ketika dilihatnya presentasinya tak mendapat perhatian dari Henry.


"Jadi, total keseluruhan biaya yang harus kita keluarkan adalah sejumlah sekian. Bagaimana Pak Henry?" Mega bertanya, mengalihkan tatapan kepada Henry.


Namun Henry seolah tuli pendengarannya. Henry diam termangu dengan pikirannya yang mengelana.


"Pak? Pak Henry?" panggil Mega.


"Ya, Areta." Henry menyahuti asal. Membuat semua yang hadir di ruang rapat itu terkejut. Berpasang-pasang mata pun menatap keheranan kepada Henry. Terlebih Angga.


Angga berada di ruang rapat itu sebagai salah satu panitia pelaksana yang dipilih oleh Fabian. Tentu saja hal itu dilihat dari keuletannya dalam bekerja. Angga sedikit terkejut mengapa Henry menyebut nama istrinya. Tetapi Angga tak ingin berpikir macam-macam. Mungkin saja wanita yang dikenal atasannya itu memiliki nama yang sama dengan istrinya.


"Saya Mega Pak. Bukan Areta." Mega menginterupsi. Sekaligus ada sedikit kekecewaan dalam hatinya kala mendengar Henry menyebut nama wanita lain.


Tak memungkiri, Mega menaruh perasaan terhadap atasannya itu. Apalagi ketika ia mengetahui jika atasannya itu masih melajang sampai hari ini. Mega berusaha tampil semaksimal mungkin, membenahi penampilan hanya demi meraih perhatian Henry.


Namun sayangnya, Henry tak pernah sekali pun melirik, apalagi memperhatikannya. Hingga memaksa otak Mega berpikir keras untuk mencari cara merebut perhatian pria yang satu itu.


"Ehem ... Ehem!" Fabian sengaja berdehem untuk mengembalikan fokus atasan yang tengah melamunkan wanita itu di tengah rapat penting.


Henry pun terlihat salah tingkah seketika.


"Eee ... Sorry, sorry, Mega. Gimana, gimana tadi? Bisa kamu ulangi lagi presentasi kamu tadi?" pinta Henry.


Sebetulnya Mega sedikit kesal. Namun demi meraih perhatian Henry, ia pun rela mengulang presentasinya dari awal lagi. Walau sebetulnya ia sudah merasa lelah.


...


Baru saja Areta menyelesaikan pekerjaannya saat tiba-tiba Wirda menghubunginya, memberitahunya soal kondisi Rosa yang mendadak kambuh. Membuatnya harus bergegas ke rumah sakit.


Padahal hari ini Rosa sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun entah mengapa kondisi Rosa malah semakin memburuk saja. Alat bantu pernapasan itu masih setia terpasang di mulut dan hidungnya. Dan hal itu sungguh membuat hati Areta teramat miris melihatnya.


"Kamu sudah ke bagian administrasi? Ada beberapa hal yang harus kamu urus. Termasuk biaya perawatannya." Wirda berkata begitu Areta mendaratkan bokongnya di bangku kecil di sisi tempat tidur.


"Juga kamu diminta menemui dokter," sambung Wirda berdiri di sisi ranjang.

__ADS_1


"Iya, Bu," sahut Areta lesu.


"Oh ya, setelah kamu menemui dokter. Ibu boleh ya pulang dulu ke rumah sebentar. Kamu aplaus jaga dulu. Sore Ibu baru balik lagi ke sini."


"Ibu sudah memberitahu Angga soal kondisi Rosa?"


"Belum. Ibu hanya tidak mau mengganggu konsentrasi kerjanya. Sebaiknya tunggu dia pulang kantor dulu baru kamu kasih tahu dia. Ibu takutnya malah fokusnya terganggu."


"Tapi, Bu. Kondisi Rosa juga jauh lebih penting. Masalah pekerjaan itu bisa nanti. Tapi kalau terjadi apa-apa sama Rosa gimana?"


Wirda tampak membuang napasnya kesal. Apa yang dikatakan oleh Areta itu ada benarnya. Namun entah mengapa ia malah enggan menerima pendapat Areta.


"Ya sudah, cepat kamu temui dokter dulu. Setelah itu kamu urus administrasinya. Ibu pengen pulang mandi. Dari kemarin Ibu belum mandi." Wirda pun hanya bisa menghindari beradu pendapat dengan Areta. Sebab ia tahu Areta tak pernah kehabisan alasan.


...


Areta hanya bisa termangu ketika dokter memberi penjelasan tentang kondisi Rosa. Ia tak menyangka kondisi Rosa kian hari kian memburuk saja. Padahal segala jenis pengobatan telah mereka upayakan.


"Rosa belum bisa pulang hari ini, Bu Areta. Rosa masih harus di rawat. Rosa tadi sempat kambuh sesak napasnya. Setelah kami melakukan pemeriksaan, ternyata ada penyumbatan pada pembuluh darah. Hal itu yang menyebabkan aliran darah dan oksigen ke jantung tidak lancar. Kemungkinan kami akan melakukan operasi. Bu Areta silahkan ke bagian administrasi dulu untuk mengurus pembayarannya."


Seperti itulah kata dokter. Yang membuat kekhawatiran serta ketakutan Areta bertambah berkali-kali lipat.


Dan Areta pun terkejut ketika bagian administrasi memberinya selembar kertas yang berisi rincian biaya yang harus ia keluarkan untuk operasi sekaligus perawatan pemulihan pasca operasi, ketika ia pergi ke bagian administrasi setelah menemui dokter.


Areta berusaha menghubungi Angga untuk memberitahukan hal tersebut kepada Angga. Namun ponsel Angga susah untuk dihubungi. Membuat Areta mengambil keputusan untuk pergi menemui Angga di kantornya langsung.


"Saya mau bertemu Angga Adinata, staff marketing di kantor ini." Areta meminta ijin pada bagian resepsionis begitu ia mendatangi Dreams Food.


"Tunggu sebentar, ya Bu?" kata resepsionis.


Areta pun menunggu dengan cemas. Ia tak peduli jika Angga memarahinya datang menemuinya di kantor langsung.


"Pak Angga baru saja selesai rapat, Bu. Silahkan Ibu tunggu sebentar."


Areta menurut, masih berdiri di depan resepsionis menunggu kedatangan Angga. Beberapa menit berlalu, sebuah suara maskulin pun terdengar menyapanya.


"Areta?"


Sontak Areta menoleh. Namun dahinya berkerut ketika melihat Henry berdiri di seberang tersenyum memandanginya.

__ADS_1


*


__ADS_2