Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 49


__ADS_3

Bab. 49


"Areta, sorry. Tolong jangan kamu ambil hati apa yang dikatakan Mama. Aku yakin kamu pasti denger kan?" Henry merasa tak enak hati dengan kalimat nyelekit yang dilontarkan Agatha beberapa menit lalu. Walau bagaimanapun ia harus menjaga perasaan Areta.


"Tidak apa-apa. Toh, apa yang dikatakan mama kamu itu tidak salah." Areta sadar, tak seharusnya ia tersinggung dengan kalimat Agatha. Ia cukup tahu diri, sadar dengan posisinya saat ini. Yang hanya mengambil keuntungan dari pernikahannya dengan Henry.


Menaruh tasnya di atas meja rias, Areta lantas menuju lemari pakaian. Mengambil pakaian ganti dari dalam sana, kemudian bergegas ke kamar mandi.


Sementara Henry mengambil duduk di tepian tempat tidur. Melepas jas, melepas kemeja, kemudian menggantinya dengan kaos oblong yang sempat diambilnya dari lemari.


Tak berapa lama Areta keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian dengan piyama tidur. Yang membuat perhatian Henry sontak teralih kepadanya.


Menundukkan wajahnya ketika lewat di depan Henry, Areta kemudian mengambil bantal dan selimut untuk ia gunakan sebagai alas untuknya tidur.


"Areta," panggil Henry sembari bangun berdiri dan menghampiri Areta.


Areta menunduk, sambil memeluk bantal. Sedangkan selimut sudah ia gelar di atas lantai.


"Kamu saja yang tidur di tempat tidur. Biar aku yang tidur di lantai," ujar Henry.


"Mana bisa begitu. Kamu yang punya kamar ini. Kamu yang seharusnya tidur di tempat tidur itu, bukan aku." Areta cukup tahu diri, terlebih setelah tanpa sengaja mendengar omongan nyelekit Agatha. Yang sejujurnya sedikit membuatnya tersinggung.


"Tapi kita sudah menikah."


"Karena kesepakatan. Aku harap kamu tidak melupakan itu."


Henry menghela napasnya dalam. "Baiklah. Kalau begitu, kita sama-sama tidur di lantai."

__ADS_1


Areta terkejut, mendongak cepat, menatap Henry yang terlihat tak main-main dengan omongannya.


"Jangan, nanti kamu sakit," tolak Areta.


"Ya sudah, kalau gitu kita tidur saja di sini bareng-bareng. Nanti kita gunakan guling ini sebagai pembatas." Sembari menunjuk guling di tempat tidur itu.


Menggeleng cepat, Areta lantas hendak berbaring di lantai. Bantal di tangan sudah ia letakkan sembari berkata, "Maaf, aku tidak bisa."


Namun cepat Henry menahan pergelangannya sebelum ia sempat membaringkan diri.


"Areta," panggil Henry lirih dengan tatapan sayu mendayu.


Areta hanya bisa menelan ludah saat melihat air muka tak biasa dari Henry. Tatapan yang biasanya terlihat licik itu kini terasa sangat berbeda. Terkadang ia merasa bingung sendiri menilai kepribadian Henry. Yang ia sendiri merasa seolah kepribadian Henry berubah-ubah.


Namun ketika tanpa sengaja mendengar kalimat Henry yang merupakan ungkapan perasaannya yang tulus beberapa menit lalu itu membuat hatinya menghangat juga terharu. Tetapi tidak menunjukkannya di depan Henry. Ia lebih memilih diam saja, seolah tak tahu apapun dan tak peduli apapun.


Areta membisu sambil menatap lekat bola mata Henry. Yang memancarkan ketulusan dari binar mata itu. Dan Areta bisa merasakan itu dari sorot matanya saja.


"Memang benar aku sangat menginginkan kamu . Sampai-sampai aku melakukan semua cara untuk bisa mendapatkan kamu. Tapi aku tidak berharap kamu mengerti dengan perasaan aku. Dan aku juga tidak berharap kamu membalas perasaan aku sama kamu. Dengan kamu tahu perasaan aku selama ini ke kamu saja, itu sudah cukup buat aku," sambung Henry, menatap dalam-dalam sepasang mata Areta.


Entah mengapa, semakin lama menatap Henry semakin Areta melihat ketulusan pria itu melalui sorot matanya. Yang memancarkan binaran tak biasa, cerminan isi hatinya yang mendalam. Bahkan pada Angga saja Areta hampir tidak pernah melihat sorot mata seperti itu.


"Aku... Aku berencana menjual salonku. Uang hasil dari penjualan salon itu akan aku berikan sama kamu sebagai ganti uang kamu yang sudah kamu keluarkan untuk biaya operasi Rosa. Andai tak cukup, akan aku lunasi nanti. Anggap saja aku punya hutang sama kamu." Memikirkan hal ini seharian, Areta mulai mempertimbangkan tawaran Agatha. Jika ia memilih meninggalkan Henry, maka Agatha akan membiayai pengobatan Rosa. Jika dipikir-pikir ia diuntungkan dalam hal tersebut.


Namun, entah mengapa hati kecilnya seakan menolak. Terlebih saat tanpa sengaja ia mendengar ungkapan tulus perasaan Henry. Menyusupkan rasa bersalah tanpa sengaja ke dalam hatinya, sehingga untuk menjauh serasa berat untuk melakukannya.


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


Areta menghela napasnya sejenak, sebelum berkata. "Mungkin benar apa kata mama kamu. Tidak seharusnya kamu mempertahankan wanita seperti aku ini. Henry, kamu juga berhak bahagia. Dan aku bukan wanita yang tepat untuk membahagiakan kamu."


Menundukkan wajahnya, Areta seolah tak sanggup melihat wajah Henry yang mendadak suram air mukanya.


"Aku sudah pasrah. Aku akan menerima apapun yang terjadi andai suatu hari nanti terjadi sesuatu yang buruk terhadap Rosa. Aku akan berusaha semampu aku dan dengan caraku sendiri. Kamu tahu betul, tujuan aku menikahi kamu hanya demi uang. Dan sekarang aku sudah memasrahkan semuanya pada Tuhan. Karena aku tahu, Tuhan memberi aku cobaan ini karena aku mampu," sambungnya meremass jari-jemarinya.


"Areta, tolong perjelas apa maksud kamu bicara seperti ini?" Dari setiap katanya Henry sebetulnya sudah bisa menebak, kemungkinan Areta ingin meminta berpisah darinya. Tetapi ia berusaha menyangkal prasangkanya.


"Maaf, Henry. Mungkin sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kita sampai di sini. Aku ini bukan wanita yang pantas untuk kamu cintai. Kamu juga berhak bahagia bersama wanita yang lebih pantas mendampingi kamu. Maaf jika aku sempat membenci kamu." Memberanikan diri menatap wajah Henry, Areta mengulum senyumnya. Mungkin ini yang terbaik agar ia bisa hidup tenang berdua bersama Rosa.


Henry terdiam, terpaku di tempatnya dengan wajah tegangnya. Bola matanya bergulir liar menjelajahi setiap lekuk paras Areta. Detik berikutnya, mata itu tampak berkaca-kaca. Menjatuhkan rasa iba dalam hati Areta detik itu juga.


Ternyata Areta salah menilai Henry selama ini. Ia mengira Henry adalah pria kejam yang memanfaatkan keadaannya. Tetapi pada kenyataannya hal itu memang terpaksa Henry lakukan hanya demi bisa memiliki dirinya. Areta bahkan masih tak bisa percaya sampai saat ini, bahwa betapa besar dan dalam perasaan Henry untuknya. Sehingga sanggup membuat Henry menghalalkan segala cara hanya demi cintanya. Seharusnya Areta tersanjung dicintai dengan begitu besarnya oleh pria seperti Henry.


"Maafkan aku harus mengambil keputusan ini." Areta hendak memutar tubuhnya membelakangi. Namun cepat Henry meraihnya, mendekapnya erat dalam pelukan hangatnya.


"Tidak. Aku tidak mau kamu pergi dariku. Apa kamu tahu, kamu itu adalah separuh jiwaku. Jika kamu pergi dariku, maka aku bisa mati," ucap Henry disertai isak tangis yang mulai terdengar.


Ada perasaan aneh mulai merambati nadi, mengalirkan perasaan aneh itu melalui aliran darahnya hingga sampai ke dasar hatinya. Membuat Areta semakin merasa bersalah jika meninggalkan Henry. Entah mengapa. Mungkinkah perasaan ini adalah ...


"Henry, kamu terlalu berlebihan," ucapnya lirih.


Melepaskan pelukannya, menghapus titik-titik bening yang terlanjur luruh membasahi pipi, Henry lantas menatap Areta dalam-dalam. Sembari membawa jemari tangannya menangkup wajah mungil Areta.


"Aku tidak pernah berlebihan, karena memang seperti inilah aku. Areta, kamu boleh membenciku jika memang itu yang kamu. Silahkan kamu benci aku sepuas hati kamu. Tapi tolong, jangan pernah kamu pergi dari aku. Tanpa kamu aku rapuh.


"Areta, aku sudah memutuskan untuk membawa Rosa tinggal bersama kita. Aku akan menerima Rosa sebagai putriku sendiri. Jika kamu pergi, bagaimana aku bisa belajar menjadi ayah baik untuknya? Hm?"

__ADS_1


*


__ADS_2