Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 30


__ADS_3

Bab. 30


Terkejut, tentu saja. Ketakutan bahkan mulai menelusup ke dalam hatinya. Mana mungkin Henry jatuh cinta kepadanya. Mereka bahkan tidak saling mengenal dengan baik. Lalu kapan Henry mulai memiliki perasaan itu? Areta terhenyak, menyadari situasi tak seperti yang seharusnya. Ia pun menoleh, menghindari tatapan Henry yang serasa mengintimidasi. Ditariknya kembali jemari kanannya dari genggaman pria itu.


Henry mengulum senyumnya melihat sikap Areta. Ia menyadari, pengakuan cintanya ini terlalu mengejutkan bagi Areta. Bahkan terkesan tidak mungkin. Sebab semua terjadi begitu cepat, juga jauh dari jangkauan nalar Areta.


Mendengar pengakuan Henry, Areta tak memberikan tanggapan apapun. Karena terkejut, otaknya bahkan sulit menyerap dengan baik kalimat yang diutarakan pria itu. Hatinya bahkan tak peka, terasa hambar mendengar kalimat itu.


Dahulu, kalimat serupa sering diucapkan Angga untuknya. Membuatnya berdebar juga berbunga-bunga. Sebab Angga adalah pria yang ia cintai.


Sedangkan Henry?


Pria itu hanyalah orang asing yang tiba-tiba menjadi jurang pemisah antara dirinya dengan Angga. Jelas saja kalimat itu sedikitpun tak membuatnya berbunga-bunga jika terucap dari lisan Henry. Karena dalam hatinya hanya ada kebencian untuk pria itu.


Sampai di apartemen, bergegas Areta mengayunkan langkahnya masuk. Ia hendak menutup pintu saat dengan cepat tangan Henry malah menahan daun pintu itu menutup. Henry pun membawa langkahnya masuk. Dan Areta memilih menjauh beberapa langkah.


"Areta, aku cuma mau bilang terima kasih karena kamu sudah menuruti perkataanku," ucap Henry membawa langkahnya perlahan menghampiri.


Areta menundukkan wajahnya tak ingin beradu tatap dengan Henry. Sejak Henry berani menggenggam jemarinya, sejak saat itu pula Areta merasa ada yang berbeda dari sorot mata pria itu. Yang membuatnya takut juga was-was.


"Aku tahu dalam benak kamu sekarang mungkin ada banyak pertanyaan yang ingin kamu ajukan. Dan aku akan menjawab salah satunya. Aku bisa menebak kamu mungkin bertanya-tanya, sejak kapan aku memiliki perasaan ini sama kamu. Aku bisa tebak kamu juga mungkin ragu dengan apa yang aku katakan tadi di dalam mobil," sambung Henry sembari terus menghampiri Areta. Yang malah menjauh setiap kali ia mendekat.


Sampai akhirnya, langkah Henry pun terhenti ketika kaki jenjang Areta membentur sisi meja sofa. Yang otomatis juga mengehentikan langkah mundur Areta.


Meski begitu, Areta tak jua mengangkat wajahnya. Ia masih terus menunduk takut.


"Tapi ketahuilah, Areta. Aku menyukai kamu sejak SMA." Henry tertawa kecil. Menertawai perasaannya sendiri yang ia pendam bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri, betapa ia mengangumi dan menyukai Areta sedalam ini. Mungkin bagi sebagian orang, perasaannya terhadap Areta itu tidak lebih dari obsesinya saja. Yang tidak lain juga terdorong oleh rasa penasarannya yang belum tuntas. Tetapi bagi dirinya, perasaannya ini adalah cinta yang mendalam.

__ADS_1


Areta terkesiap mendengar pengakuan Henry. Sedangkan Henry dengan asiknya bercerita tentang masa-masa SMA dahulu, dimana Henry mengagumi Areta pada masa itu.


Dengan wajah berseri-seri Henry menceritakan kenangan itu. Sorot matanya berbinar-binar. Saking asiknya ia bercerita hingga ia tak menyadari Areta tengah menatap wajahnya. Menelisik raut wajahnya yang menampakkan dengan jelas gurat-gurat bahagianya.


Areta hanya tidak menyangka saja ternyata ada seorang pria yang menaruh hati kepadanya, bahkan memendam perasaan kepadanya sampai bertahun-tahun lamanya.


Namun entah mengapa, hati Areta malah tak tersentuh mendengar kisah yang diceritakan Henry. Hatinya malah diselimuti ketakutan akan karakter Henry yang terobsesi kepadanya. Yang konon katanya, seseorang yang menuruti obsesinya itu biasanya akan melakukan segala cara untuk mendapatkan si objek obsesi. Tak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Henry.


Jika memang begini ceritanya, Areta jelas merasa ragu. Apakah cinta Henry tulus kepadanya. Ataukah Henry hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya saja terhadap dirinya. Sebab bertahun-tahun lamanya pria itu memendam perasaannya. Kalau seperti ini, Areta ngeri jadinya.


"Sebenarnya aku malu menceritakan ini ke kamu. Tapi aku juga tidak bisa terus memendam perasaan ini. Aku hanya ingin kamu tahu. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi beban di hatiku," ucap Henry, mengulum senyum manisnya menatap sepasang mata Areta.


Setelah sekian lama, akhirnya ada kelegaan dalam hatinya begitu perasaan yang terpendam itu ia utarakan. Juga ada sejumput bahagia di sana. Meski ia tak tahu apakah perasaannya itu akan berbalas atau justru malah sebaliknya. Tetapi setidaknya, Areta tidak akan mengira ia adalah pria gila.


Ya.


"Areta, sekali lagi aku ucapkan terima kasih karna kamu sudah menuruti perkataanku. Kamu tahu, aku bahagia ada kamu di sisiku." Henry berkata dengan setulus hatinya. Menyuarakan getar simfoni dalam kalbunya. Getar-getar itu hadir membasuh jiwanya yang sepi. Dan semua ini terjadi karena Areta. Memiliki Areta adalah impiannya yang terpendam selama ini.


Sementara Areta, masih membisu seribu bahasa. Ia tak tahu harus menanggapi ungkapan perasaan Henry seperti apa. Karena sejujurnya, hatinya tak memercayai ungkapan itu begitu saja. Masih ada keraguan di sana. Keraguan yang berbungkus ketakutan sebetulnya.


Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, selain memasrahkan diri. Apa boleh dikata, ia kini terjebak dalam pelukan seorang lelaki tak waras. Rupanya ia telah salah mengira. Henry ternyata tak seperti kelihatannya. Paras boleh tampan, kharismatik dan berwibawa. Tetapi siapa sangka, jiwa lelaki itu penuh oleh obsesi. Termasuk obsesi ingin mendapatkan seorang wanita.


Padahal senyuman Henry begitu menawan. Namun entah mengapa, Areta malah ketakutan melihatnya. Mungkin bagi Henry, dirinya hanya seperti boneka. Ya, boneka mainan yang kapan saja bisa dimainkan demi imajinasinya.


Areta menelan salivanya kelat kala bersitatap dengan Henry. Jantungnya berdebar-debar takut.


Padahal paras Henry sangat tampan, namun malah menakutkan bagi Areta. Ia pun hanya bisa berharap, semoga Henry tidak memiliki kepribadian ganda. Sebab setahunya, orang yang menuruti obsesinya itu tak berbeda jauh dengan psycho. Tipe orang seperti ini sanggup melakukan apapun demi mendapatkan si objek obsesi.

__ADS_1


Areta semakin ketakutan saja ketika Henry malah mendekatkan wajahnya perlahan-lahan. Bersamaan dengan jemari kanannya yang terulur menyentuh wajahnya. Bukannya terhanyut oleh perlakuan lembut Henry, Areta justru kesulitan bernapas dibuatnya.


Terlebih lagi ketika dengan beraninya Henry mengecup kening Areta. Otomatis Areta memejamkan matanya takut. Lalu beringsut perlahan, menjauhkan diri dari Henry begitu pria itu mengakhiri kecupannya.


Jantung Areta dibuat berdebar tak karuan. Antara takut juga tegang. "A-apa yang Anda lakukan?" tanyanya cemas. Dadanya bahkan serasa sesak, hampir tak bisa bernapas.


Sementara Henry malah mengulum senyuman manisnya menatap Areta berbinar. "Sorry membuatmu terkejut. Aku refleks melakukannya karena terbawa perasaanku saja. Lain kali aku tidak akan melakukannya sembarangan. Aku hanya akan melakukannya jika mendapatkan ijin dari kamu."


"Memang seharusnya seperti itu." Areta salah tingkah, memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Mencoba menghindari tatapan menggoda Henry, yang baginya justru terasa aneh. Ia bahkan tak tertarik membalas senyuman manis pria itu.


Sedangkan Henry, malah gemas melihat tingkah Areta. Seperti apapun laku Areta di hadapannya, baginya sangat menggemaskan. Karena Areta adalah yang teristimewa di hatinya.


...


Sepanjang perjalanan pulang, senyuman itu tak pernah lepas dari wajah Henry. Hatinya berbunga-bunga setelah mengingat entah ia mendapat keberanian dari mana sampai berani mengecup kening Areta. Dan yang membuatnya lebih berbunga-bunga lagi adalah ketika Areta membiarkan kecupannya berlabuh. Wanita itu seolah memberinya lampu hijau untuk semakin mendekat. Dan ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Ehem ... Ehem!" Fabian berdehem sembari mengintip Henry dari kaca spion di atas dashboard. Semenjak bertemu dengan Areta, kehidupan Henry berubah. Dari yang monokrom menjadi berwarna. Namun sayangnya, pria itu malah salah memilih warna.


"Senyam-senyum terus dari tadi. Ada angin apa nih, kalau boleh tahu?" tanya Fabian sembari melirik sejenak kaca spion.


"Andai kamu tahu seperti apa perasaanku saat ini, Fabian. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin segera menikahi Areta."


"Sabar, Pak. Pak Henry harus menunggu sampai jatuh keputusan pengadilan. Pak Henry juga harus menunggu sampai masa iddahnya selesai."


"Apa tidak ada cara lain Fabian, agar aku bisa segera menikahi Areta?"


*

__ADS_1


__ADS_2