
Bab. 41
"Kamu tidak bisa seperti ini, Ga. Dari awal kita sudah sepakat kalau Rosa ikut denganku. Dan sekarang aku mau bawa Rosa pulang bersamaku." Jelas saja Areta meradang. Ia tak terima dengan perubahan pikiran Angga yang mendadak. Dengan gampangnya Angga melanggar apa yang telah mereka sepakati sebelumnya.
"Tapi sekarang aku berubah pikiran. Rosa akan tetap di sini bersamaku."
"Tidak. Rosa akan tetap ikut denganku apapun yang terjadi. Kamu tidak bisa seenaknya berubah pikiran seperti ini. Aku bahkan sudah menuruti kemauan kamu."
"Areta, apa kamu bisa menjamin kalau Rosa akan bahagia ikut bersama kamu. Sementara keluarga suami kamu yang baru itu tidak menginginkan kehadiran Rosa."
Areta mengerutkan dahinya geram. "Apa maksud kamu?"
"Areta, jangan naif. Keluarga Pak Henry tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Mereka pikir kamu ini adalah perempuan single. Apa kamu pikir, dengan tiba-tiba kamu membawa Rosa tinggal bersama mereka itu adalah keputusan yang tepat? Aku sangat yakin Areta, mereka tidak akan mau menerima kehadiran Rosa. Jadi alangkah baiknya kalau Rosa tinggal di sini bersama aku dan Ibu. Lagipula, kamu akan disibukkan dengan status kamu yang baru itu. Mana kamu punya waktu buat ngurusin Rosa. Sedangkan di sini ada aku dan ibu yang akan menjaga dan mengurusnya 24 jam."
Areta sungguh kehilangan kata-kata dengan keegoisan Angga. Ia tak terima, benar-benar tak terima Angga mempermainkannya seperti ini.
"Tidak bisa begini dong, Angga. Bukannya kita sudah membicarakan ini sebelumnya, dan kita sudah sepakat kalau hak asuh Rosa ada padaku. Dan pengadilan juga sudah memutuskan itu. Lalu kenapa kamu malah seenaknya begini? Aku tidak terima. Pokoknya Rosa ikut denganku sekarang juga."
"Areta. Aku melakukan ini atas permintaan Pak Henry."
Areta pun terdiam. Menatap tak percaya dengan sorot mata penuh tanya. Mana mungkin Henry melakukan ini?
"Suami kamu yang baru itu tidak menginginkan kehadiran Rosa di tengah-tengah keluarganya. Jadi untuk apa Rosa kamu bawa untuk tinggal bersama mereka? Mendingan Rosa sama Ibu dan Angga di sini. Lagian juga, Angga akan menikah. Ibu yakin Mega akan menjadi ibu yang baik buat Rosa." Tiba-tiba Wirda datang dan malah memperkeruh keadaan.
"Mana bisa begitu, Bu? Ini sudah menjadi kesepakatan awal antara aku dan Angga. Aku bersedia bercerai dari Angga asalkan Rosa ikut bersamaku," ujar Areta membela diri. Ia tak terima dibohongi oleh mantan suami dan mertuanya itu.
"Kalau kamu mau protes, protes saja sama suami baru kamu itu. Itu pun kalau kamu mau suami baru kamu itu akan menghentikan pengobatan Rosa. Apa kamu juga mau kondisi Rosa memburuk? Masih untung suami kamu itu mau membiayai pengobatannya Rosa. Jadi apa salahnya kamu menuruti permintaannya."
Marah, sudah pasti. Areta kecewa bahkan sakit hati. Entah apa yang diinginkan Henry darinya. Bukankah pria itu menikahinya hanya karena orang tuanya semakin mendesaknya untuk segera menikah? Masa bodoh dengan perasaan pria itu. Jika memang benar pria itu mencintainya, seharusnya dia bisa menerima Rosa.
"Saya mau bertemu Pak Henry," kata Areta pada petugas resepsionis ketika ia mendatangi kantor Dreams Food, terdorong oleh amarah yang menguasainya.
"Maaf, apa Anda sudah membuat janji sebelumnya dengan Pak Henry?" Petugas resepsionis memang tidak mengenal Areta. Karena tak satu pun dari karyawan Dreams Food yang mengetahui pernikahan atasan mereka. Terkecuali Fabian.
"Belum. Tapi beliau kenal saya. Tolong sampaikan saja kepada beliau, saya Areta, ingin bertemu dengan beliau."
"Pak Henry sedang ada meeting penting. Anda sebaiknya membuat janji dulu jika memang ingin bertemu dengan beliau. Setelah membuat janji, Anda bisa kembali lagi besok."
"Tapi saya harus bertemu dengan Pak Henry sekarang. Saya punya urusan penting dengan beliau. Tolonglah, ini mendesak. Saya tidak bisa menunggu sampai besok. Apalagi menunggunya di rumah. Saya tidak punya waktu. Urusan saya dengan beliau harus selesai sekarang juga." Areta mendesak, sebab tak ingin menunda waktu untuk membawa pulang Rosa bersamanya.
__ADS_1
"Kenapa Anda memaksa ya, memangnya Anda ini siapanya Pak Henry?"
"Saya i..." Ucapan Areta terhenti di ujung lidahnya. Ada rasa tak suka bila ia menyebut kata 'istrinya'. Sebab hatinya pun masih tak bisa menerima Henry sebagai suaminya.
"Baiklah. Maaf, sudah mengganggu waktu Anda. Saya permisi." Tak ingin terus berdebat dengan resepsionis itu, Areta akhirnya memilih pulang. Daripada nanti ia diusir oleh petugas keamanan, lebih baik ia undur diri. Mungkin memang sebaiknya masalah Rosa ia bicarakan nanti di rumah setelah Henry pulang kerja.
Namun, baru beberapa langkah saja kakinya berderap, tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil namanya.
"Areta."
Sontak Areta menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya segera. Sebab suara itu familiar di telinganya. Suara seseorang yang membuat amarahnya hampir meledak.
Henry.
Pertemuannya dengan Kenjiro Hiroshi untuk membicarakan rencana melebarkan pemasaran produk Dreams Food di Jepang itu telah berakhir. Ia hendak mengantar Kenjiro sampai pintu depan gedung itu saat netranya menangkap sosok Areta yang sedang berbicara dengan resepsionis. Lalu pergi setelah tak mendapat ijin untuk bertemu dengannya.
"Thank you Mr. Hiroshi. We will continue the discussion later. In the near future, I will visit Japan to directly monitor production there, to ensure production quality," ujar Henry mengakhiri obrolannya dengan Kenjiro sembari mengulurkan tangannya.
"Alright Mr. Adiswara. I will await your arrival. We wish our cooperation smooth and successful for a long time. If so, I'll excuse you. Thank you for the time," balas Kenjiro menjabat tangan Henry sembari mengulas senyuman ramah.
"See you next time." Pria berkulit pucat dan bermata sipit itu pun kemudian pergi dengan diantar Fabian sampai ke depan pintu lobi, sampai mobil yang ditumpangi Kenjiro melaju pergi membawa pria itu meninggalkan gedung Dreams Food.
...
"Maaf, Pak Henry. Wanita ini memaksa ingin bertemu Pak Henry tanpa membuat janji terlebih dahulu," sahut resepsionis.
"Memangnya kalian siapa berani melarang seorang istri yang ingin bertemu suaminya?"
Wanita resepsionis itu pun terperangah kaget, menatap tak percaya pada sosok Areta. Yang menurut penglihatannya tidak cocok bersanding dengan Henry.
"Dengar, mulai hari ini, tidak boleh ada satu orang pun yang melarang Areta untuk bertemu denganku. Kalau sampai itu terjadi, bersiap-siaplah angkat kaki dari perusahaan ini." Henry berkata, menekan nada suaranya. Membuat nyali resepsionis itu menciut. Tak berani lagi membalas omongan atasannya jika tak ingin pekerjaannya jadi taruhan.
Menarik pergelangan tangan Areta, Henry kemudian membawa wanita itu menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai dimana ruangannya berada.
"Wanita itu istrinya? Memangnya kapan Pak Henry menikah? Bukannya Pak Henry itu jomblo ya? Kok tiba-tiba dia menikah? Apa jangan-jangan wanita itu pakek pelet? Kok bisa Pak Henry suka sama wanita seperti itu?" gumam resepsionis itu merasa iri dan tak percaya. Pasalnya, jika diperhatikan, bahkan dari auranya saja Areta tidak berkelas. Jadi ia merasa mustahil Henry bisa jatuh cinta kepada Areta.
...
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu itu istriku," ucap Henry begitu tiba di ruangannya.
__ADS_1
Areta menelan ludah, enggan membahas persoalan itu.
"Kedatanganku kemari untuk membicarakan masalah Rosa," ucapnya mengalihkan topik.
"Silahkan duduk dulu."
Areta bergeming. Ia memaku kaki di depan meja kerja Henry.
"Aku tidak akan lama."
Sebetulnya Henry sudah tahu apa yang hendak Areta bicarakan dengannya. Sebab Angga sudah memberitahunya via telepon beberapa saat lalu.
"Baiklah. Silahkan, apa yang ingin kamu bicarakan."
"Aku ingin Rosa tinggal bersamaku. Kalau kamu dan keluarga kamu tidak bisa menerima kehadiran Rosa, lebih baik aku tinggal di apartemen saja berdua dengan Rosa."
Henry pun bangun dari duduknya. Lalu menghampiri Areta. Mendekat padanya, merapatkan diri agar bisa merangkul pinggang Areta. Yang membuat Areta membeku, risih mendapat perlakuan seperti itu.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Rosa akan tinggal bersama kita, di rumahku, bukan di apartemen. Tapi..." Henry menjeda kalimatnya sejenak. Diraihnya dagu Areta, menekannya pelan sampai Areta mendongak. Otomatis tatapan pun saling beradu.
"Ada syarat untuk itu," sambungnya menatap lekat kedua mata Areta.
"A-apa syaratnya."
"Lakukan tugas kamu sebagai istri dengan melayani suamimu ini sepenuh hati. Termasuk..." Perlahan Henry mengikis jarak, semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Areta.
Membuat Areta harus menahan napasnya. Detak jantungnya pun mulai bertalu-talu takut. Sebab ada pancaran tak biasa dari sorot mata Henry yang terlihat saat ini. Tatapan Henry mulai sayu mendayu, semacam ada gejolak yang berusaha ia redam.
"Katakan saja apa syaratnya," ucap Areta parau, setengah berbisik. Bahkan dari nada suaranya saja kentara terdengar ada ketakutan dalam dirinya saat ini.
"Syaratnya gampang Areta, sayang. Cukup layani aku dan berikan hakku sebagai suami."
*
Mohon maaf untuk up yang tak menentu.
Dan terima kasih untuk kesediannya mengikuti cerita recehan dari author abal² ini.😊
Semoga teman² diberi kesehatan dan bahagia selalu😊😊
__ADS_1