
Kali ini Adrian bersikap baik-baik saja setelah melihat Luna dengan gaya takutnya.Kembali dia mencoba membuat rasa tenang dalam dirinya untuk bisa membuat nyaman kekasihnya saat ini,Vani.Antara sebuah keputusan untuk membuat hatinya kembali baik.Rasa tenang pun dibuat oleh Adrian untuk menyakinkan seberapa kuat dirinya untuk kembali menyapa seseorang special saat ini.
Sampai dirumah,mencoba membawakan oleh-oleh untuk Vani.Senyum harapan pun ia datangkan kepadanya,membuka pintu dan mencari keberadaannya."Vani,,,van kamu dimana?"Mengumbar senyum mencari-carinya.
Heran,kenapa panggilanku tidak dijawab sama dia ya.Kemana sebenarnya dia?coba aku cari dulu deh sambil menaruh oleh-olehnya dimeja.Bergegas mencari dimana dia berada dalam ketenangan saat ini.Gimana kalau aku liat dulu dikamarnya apakah memang dia mencoba membisu akibat sikapku padanya tadi.Sampai didepan pintu dia mengetuk pintu beberapa kali.
"Vani,,,van kamu didalam ga?"Sambil mengetuk pintunya
Tok,,,tok ,,tok,,tok.,,
"Ayolah Van,pleace maafin aku.Aku ga bermaksud seperti itu tadi,ya maafin aku!"Rasa curiga pun datang dalam benak Adrian.Kemana ya?
Tak disangka target yang tengah dicari malahan sedari tadi dibelakangnya,menunggu waktu tepat menjawab keluhan dan rasa bersalahnya atas sikapnya tadi."Ngapain nyari aku!"
Menoleh terkejut bukan main melihat sosok yang dicarinya"Astaga,kamu dari mana?"Wajahnya itu semakin membuatnya sumringah tanpa sadar memeluknya erat banget sampai bahagia tak terkira.
"Bang jangan memeluk aku kenceng-kenceng.Aku ga nyaman ini!"Melepaskan dekapannya.
"Kamu masih marah sama aku?"Menatap dengan wajah berharap.
"Ga tahu deh,aku bingung kalau kayak gini.Dia dihubungin juga ga ada ngangkat sama sekali.Aku bingung!"Beranjak menjauh dan duduk penuh kegelisahan memikirkan kekasihnya.
Melihat seperti apa keadaan Vani seperti itu,perlahan mendekati duduk disebelahnya seraya mendekap dan merebahkan kepalanya dibahu Adrian.Ia hanya diam merasakan ini semua dalam dekapan perhatiannya.
"Sepertinya Andra sama Aga tengah mencari keberadaan Anton.Kamu sabar ya!"
Mendengar nama mereka,sontak ia mendongak serta menatap Adrian penuh makna."Kenapa abang melibatkan mereka berdua buat mencari mas Anton.Dia ga penting buatku sekarang kalau seperti ini jadinya!"
"Oooh ya?apa kamu sanggup kehilangan dia selamanya!"
Merunduk menahan kegelisahan ini seraya semakin sedih saat harus melepaskan siapa yang benar-benar ia sayang."Kalaupun dia tidak percaya sama hubungan kita yang hanya boongan.Harusnya dia bertanya lagi bukan seperti ini,menghindar tanpa kabar sama aja dia menyepelekan perjuanganku untuk dia bang!"
"Jadi sekarang apa keputusanmu?"Kembali menegaskan sebuah hubungan.
"Aku perlahan akan melupakan dia,mencoba untuk bersikap baik-baik dalam sikapku saat ini.Makasih ya bang,udah membuatku lebih baik!"Malahan dia memeluk erat dan menenggelamkan pelukannya kepada Adrian.
Dia tersenyum lalu mendekap erat bahkan mencium rambutnya.Ada sepercik sayang muncul tanpa sebuah syarat.Apapun itu dirinya belum bisa memutuskan terbaik untuk Vani.Karena dia tidak ingin mengambil kesempatan berharga ini untuk mendapatkan Vani.Dia menyadari dari awal adalah rencana membuat semuanya seakan benar tetapi itu bohong besar untuk membuat perasaan Cinta tidak seperti memberikan harapan palsu nantinya.Aku tahu waktu terbaik untuk Cinta adalah fokus pada sekolahnya tanpa melupakan Adrian sebagai kakak terbaiknya saat ini.
"Apa mungkin mas Anton berfikir aku bersikap seperti ini karena sebuah sebab yang ga aku ketahui ya?"Menoleh kearahnya.
"Mungkin juga,seperti yang aku rasakan saat ini.Dikhianati juga dibuat sakit hati,aku sebenarnya ga ingin seperti yang kamu rasakan sekarang.Malahan diluar dugaan!"
Mengernyitkan kening dia seakan penasaran dengan cerita Adrian"Maksudnya gimana bang?"
Menyandarkan kepalanya,dia menyatakan hal berat dalam hidupnya dikhianati diantara sahabatnya pula."Kamu tahu ga,cewek yang waktu itu aku suruh kamu rekam dia?"
"Waktu itu sama cowoknya itu?"
Dia mengangguk dan memberinya senyuman kecut,memang benar kisahny tengah dalam ujian sangat berat."Iya,dia biang keladi dari setiap masalah yang dibuat untuk sekedar membuatku benci sama dia tapi aku ga ada benci sama sekali sama dia karena aku sayang sama dia!"
"Trus apa bukti yang aku berikan waktu itu benar-benar kuat membuktikan kalau kekasih abang selingkuh."
"Ya dan kamu harus tahu dia selingkuh dengan siapa?"Kembali melempar kalimat kepadanya,dijawabnya pun hanya menggelengkan kepala.Bahkan ia mengira akan selingkuh dengan Anton kekasihya.
"Apa sama mas Anton?"Tiba-tiba jawaban itu muncul dengan tepat.
"Engga,dia selingkuh dengan SAHABATKU, DENGAN SUAMINYA SAHABATKU.Kamu sama sekali ga kepikiran untuk masalah itu kan?"
"Astagaaa?yang bener itu bang,ga salah!"
Kembali ia menggelengkan kepala.
"Dan yang lebih menderita adalah sahabatku sendiri karena dia sudah menikah dan hidupnya awal-awal bahagia banget selang aku mengenal Pengkhianat itu sampai hati mereka membuat sebuah petak umpet yang rapi,tapi ga serapi yang mereka fikirkan.Mereka perlahan jujur melakukan itu."
"Trus gimana sama kekasihnya abang?"
"Entahlah mereka kabur kemana,jadi aku berada disini memiliki tanggung jawab yang berat,menyanyangi Cinta sebagai adikku,menjadi sahabat terbaik buat Luna dan sekarang aku mencoba menjadi orang special untuk kamu!"Memberi senyuman serta mendekap kepalanya.
Balasan senyum dan rasa haru itu memang berada dalam tingkat yang berbeda.Entah aku berada dizona mana antara ketiga wanita yang merasa hidupa dalam kasih sayang seorang Pria bernama Adrian.Aku sama sekali ga bisa berfikir lebih jernih lagi untuk memastikan aku berada dimana.Tapi aku yakin dia akan baik denganku.
"Terima kasih bang,abang telah membuat sebuah hubungan ini menjadi jelas.Lalu apa aku pantas mendapatkan cintanya mas Anton kembali?"Pertanyaan itu muncul ingin dirinya memahaminya.
"Menurutku jangan,akan banyak kebobrokan yang akan ditimbulkan oleh Anton saat dia menyadari hal itu,kamu akan memperjuangkan itu kembali jangan.Karena kamu sudah tahu seperti apa dia,hanya karena ingin membantuku seperti ini kamu mengorbankan semuanya demi aku tapi apa balasannya,ga ada sama sekali.Malahan seperti ini kan.Apa yang kamu inginkan dari dia."
"Apa dia akan kembali setelah aku membuat pernyataan itu lagi bang?"
"Apa kamu akan menambah rasa sakitmu?tidak.Aku sama sekali tidak ingin ini terjadi lagi sama kamu.Karena aku sayang sama kamu.Kamu tuh sesuatu berharga ketika berada bersamaku layaknya seperti Cinta bahkan Luna.Ga mungkin bisa aku lupakan begitu saja."
"Trus aku harus gimana bang?"Pertanyaan itu kembali dalam sebuah angan-angan berharga buat Vani.
"Kamu harus tenang dan tetap tinggal disini seperti yang aku inginkan pertama kali.Supaya Cinta ga akan berpaling lagi dengan tanggung jawabnya."Kembali menyentuh pipinya.
Matanya pun tersorot kearah jam dinding tengah menujukkan pukul 13.15 WIB,itu adalah waktu dimana Cinta akan pulang dari sekolahnya.
__ADS_1
"Astaga udah siang lho,aku jemput Cinta dulu ya.Mungkin dia akan kembali kerumahnya,dan akan aku atur agar bisa kembali kerumah ini."Beranjak berdiri dan berpamitan kepada Vani.
Ia mengangguk penuh senyuman,meyakini bahwa itu adalah kewajibannya saat ini."Iya bang,hati-hati ya."Jawab Vani memberi senyuman.
Meraih kunci mobil dan bergegas menjemput Cinta dengan sebuah mobilnya,Melaju keluar dari garasi dan meluncur kesekolahan yang lumayan jauh untuk dia tempuh.Diperjalanan pun segera menghubungi Adiknya disaat ia berada diruang guru tepatnya dimeja pak Dion.
"Kemana ya.Kok ga diangkat!"Beberapa kali menghubunginya sama sekali ga ada jawabannya.
Diruang Guru tepat diruangan pak Dion,ada sesuatu yang harus dikabarkan kepada Cinta soal rencana yang akan dibuat oleh salah satu anak sekolahan untuk mencelakai dirinya.
"Kamu tahu kenapa bapak mengajak kamu bertemu diruangan bapak?"
"Engga pak,memangnya saya melakukan kesalahan apa pak?"Tanya Cinta heran.
"Bapak tadi sempet mendengar dua orang siswi tengah membuat rencana ga baik sama kamu.Kamu harus waspada ya.Soalnya mereka menyangkut nama kamu dan Dennis."Menompangkan tangan.
"Siapa ya pak?saya rasa ga ada tuh yang bernait jahat sama saya.Apa bapak mengenalnya?"Mengernyitkan kening rasa pensaran itu muncul seketika.
"Mereka berdua itu Alessa dan Karmen,tahu lah kamu seperti apa kelakuan mereka.Mereka populer juga karena apa!"
"Ooooo,,,mereka ya.Setidaknya saya tidak terlalu khawatir pak.Ya kelihatanya seeh karena saya dekat sama kak Dennis pak,jadinyabya seperti itu!kemarin saja pas waktu kami pulang,mereka berdua bikin onar tapi untunglah ada Kak Yosha yang melerai dan membawa mereka pergi dari kami berdua!"Sambil tersenyum hangat.
"Waoow hebat juga Yosha,bisa meredakan tragedi antara kalian bertiga.Salut saya sama dia,lalu kalau kamu pulang ada yang jemput?"
"Ada pak,kak Adrian!"
"Adrian?siapa itu,kamu kan ga punya kakak lagi.Kamu anak tunggal kan?"Kembali penasaran menompangkan tangan serta mengernyitkan kening.
Tersenyum,mau memulai dari mana dia juga belum bisa cerita banyak"Ya mau gimana,dia kebetulan menjadi pelindung saya pak.Selama Tante saya keluar negri,jadi dia bertanggung jawab sama saya!"
"Ooooo,gitu.Kalau menurutmu baik orangnya dan ga macam-macam ga pa-pa,kalau dia melindungi kamu itu sebuah keberuntungan buat kamu.Nanti kalau kamu mendapat ancaman atau apalah dari Alessa sama Karmen kamu bilang sama bapak,akan saya tegur dia.Supaya tidak terjadi kriminal lagi disekolahan.Juga bahaya untuk nama sekolahan kita nantinya ya!"
"Iya pak,terima kasih atas perlindungannya dan perhatiannya.Kalau begitu saya pamit dulu pak!"Beranjak berdiri dan berjabat tangan dengan guru kelasnya.
"Iya sama-sama,hati-hati kalau ketemu mereka lagi.Jangan sungkan-sungkan untuk laporkan kesaya supaya nanti bisa saya proses mereka berdua."
"Baik,pak.Saya permisi!"
Sang guru pun mengangguk dan mempersilahkan muridnya untuk pulang.Saat keluar dari ruang guru Dennis pun sudah menunggunya diluar ruangan sambil bersandar ditiang sembari menatap lapangan sekolah.Senyum hangat mendekatinya serta menyapanya.
"Kak Dennis,,,belum pulang?"
Langsung menoleh dan masih bengong atas khayalannya telah bubar begitu saja"Eeehh,kamu udah keluar dari ruangannya pak Dion?"
"Ya udah ayo jalan!"Ajaknya beriringan menuju pintu keluar sekolah.
"Memangnya ada apa kamu kok tumben banget ketemu dan ngobrol sama pak Dion?"
Menoleh serta menjawab dengan tawa lepasnya.
"Biasalah kak,masalah sepele.Bisa diatasin kok!"
Jawabnya santai.
"Kamu yakin?"Tanya Dennis ragu.
"Iya,masalah yaaa Alessa sama Karmen.Mereka kan ga suka kalau aku deket-deket sama kakak,mereka cemburu!"
"Haaaahhh,gitu aja."Kembali mempertanyakan.
"Iyalah emang kayak gitu kan mereka selalu maunya sendiri.Aku santai aja kak!"Jawabnya santai.
"Trus jadi dijemput sama Kak Adrian itu?tapi kok belum datang?"Melihat jam tangan juga mengawasi sekitar belum kelihatan.
Kedua kalinya untuk Adrian menghubungi Cinta,untung saja segera direspon olehnya.
"Bentar kak,hapeku bunyi hehehehe!"Menyela obrolan mereka berdua.
"Oooo,iya angkat aja dulu."Suruhnya sambil bersedekap dan menanti sebuah jawaban.
Cinta mengangkat telpon miliknya"Halooo,kak ada apa ya!"
"Kamu belum pulang kan?"
"Belum,tadi sempet ada dipanggil sama pak guru.Jadi aga telat pulangnya!"
"Oooo,gitu.Ditunggu ya bentar lagi kakak datang kok.Kamu sama siapa sekarang?"
"Sama kak Dennis!"
"Ooooh ya udah kamu ngobrol aja dulu sama dia,kakak bentar lagi dateng kok ya!"
"Iya kak,santai aja!"Jawabnya menutup telpon.
__ADS_1
Kembali keawal,sapa Cinta memulai obrolan khas anak muda."Kakak beneran mau nungguin aku?"
"Iyalah,kan kakak peduli sama kamu?"Tatapan manis untuknya.
"Hehehehe,perhatian banget."Candanya geli.
Melihat sekitar sekolahan,telihat sepi juga.Apa memang udah pada pulang semua."Udah pada pulang semua ya temen-temen?"
"Kelihatannya udah seeh,tuh buktinya Yosha udah ga kelihatan dari tadi!"
"Iya juga seeh kita kayaknya siswa terakhir deh disini!"Meringis mantap.
Menepuk bahunya"Aku ambil mobil dulu ya.Kamu tunggu sini bentar oke!"Berlalu meninggalkan Cinta yang belum konek,langsung aja ia meringis ga jelas.
Melangkah keparkiran untuk segera menghampiri mobilnya,kembali menoleh melihat Cinta tengah kebingungan menunggu kedatangan Adrian.
"Ooooh,belum dateng.Apa aku antar pulang aja ya!"Tersungging untuk segera menghampirinya.
Saat mulai mendekati,tak lama sebuah mobil hitam datang mendekatinya,lalu membuka pintu dan menyapa Cinta."Haaaiii,Cinta lama nunggu?"Mengumbar senyum kepadanya.
"Kak Adrian udah dateng."Senang menyambut kedatangannya.
Tak lama pula mobil Dennis pun mendekati dan saling berhadapan dengan mobil Adrian,membuka pintu mobil dan menghampirinya."Kak,dateng akhirnya!"Berjejer mendekati Adrian.
"Makasih Dennis kamu udah jagain Cinta ya.Ayo Cinta kita pulang!"Ajaknya memainkan kodenya.
"Kak Dennis,aku duluan pulang ya.Makasih udah jagain aku,pamit duluan ya!"Sambil menyentuh tangannya.
"Cieeee romantisnya,malu deh liatnya!"Canda Adrian senyum-senyum menggoda.
"Kak Adrian,,,jahil banget seeh!"Malu-malu gimana gitu
"Hahahahaha,,,,santai aja.Apa kalian masih pengen ketemu?"Tawarnya lagi.
"Emang boleh kak?"Langsung respek juga Dennis.
"Ya boleh dong.Entar malam aja dirumahku gimana?aku share lokasi deh nanti.Biar kamu bisa ketemu lebih lama sama dia!"Sambil melirik kearah Cinta.
"Oke aku tunggu ya,kamu pulang deh.Nanti malam kita ketemu!"Pintanya dengan penuh harapan.
"Aku pulang dulu kak ya,nanti ketemu lagi,daaaa!"Berjalan masuk kedalam mobil,tak lupa ia melambaikan tangan disaat mobilnya memutar keluar dari halaman sekolah.
Dennis pun memberikan senyuman juga melambaikan tangan perpisahan sementara.Seneng juga dapat waktu special untuk mengobrol lebih jauh soal kedekatan keduanya.Segera dia menghilang beda arah pula.Tumben kak Adrian memberikan waktu buat kami untuk bertemu,apa mungkin dia sadar kalau aku benar-benar sayang dia?tersungging berharap yang terbaik untuknya.
"Apa kamu beneran sayang sama Dennis?"Menoleh mempertanyakan hal tersebut.
Ia langsung mengangguk,ada rasa bahagia ketika pertanyaan itu muncul."Sangat sayang seperti aku menyanyangi kak Adrian!"Menyentuh tangan Adrian dengan erat.
Mencibir geli,ada-ada saja kalau dia tengah bahagia,apa yang keluar dari hatinya langsung aja diungkap sama dia."Kamu yakin?apa keputusanmu hanya emosi sesaat yang biasa dilakukan oleh seseorang hanya karena sebuah perhatian dan kenyamanan,bukan hal lain mungkin?"
"Ga ada kak,aku udah lama kok kenal sama kak Dennis.Bahkan sejak kecil sejak keluarga kami kenal!"
Menoleh terkejut,kenal sejak kecil?apa aku harus menanyakan itu sama mba Mila,harusnya aku dapat informasi yang benar-benar akurat supaya nantinya aku bisa mengambil sikap yang baik saat memastikan itu semua.
"Yosha kemana ya,ga ketemu deh dari dateng sekolah sampai pulang tadi?kemana ya!"Kembali fikirannya melayang kearah Yosha yang mana dia tengah berpisah dengan Emma.
Turun dari motor yang kendarai oleh Yosha,Emma pun memilih turun disebuah toko buku untuk refernsi dalam mencari berita lebih lugas dan tepat."Beneran elu berani gua tinggal disini!"
"Ya ampun,,,emangnya gua anak kemarin sore Yosh,,,ngejek bener lu ya.!"Ga terima sambil tunjuk-tunjuk kearahnya.
"Hiiiih marah,emang bagus ga toko bukunya.Lengkap disini?"Sambil baca nama toko bukunya.
"Wooiii,baca yang jelas tuh.Gramedia book store ya pasti lengkaplah.Mau ikutan gaaaa?"Mulai menggoda sebuah tawaran.
Mikir sesaat pun jadi pergunjingan Emma yang kesel nungguin mikirnya dia."Lamaaa bener,juga banyak yang dijual disana.Ga hanya buku-buku dan sejenisnya kali.Ikut gaaaa!"
"Ya deh,ikut!"Turun dari parkiran.
"Naaah,gitu aja lamaaaa mikirnya.Ayooo buruan!"Tariknya masuk kedalam.
Membuka pintu dan bersiap untuk mencari buruan buku yang dianggap oleh Emma adalah pilihan terbaiknya,langkah Yosha pun asing bingung banget mau cari buku model apa coba?.
"Yari buku apa nyari mangsa ya?"Benaknya berkecamuk masih tengak tengok mencari yang cocok.
"Kamu udah tahu mau nyari buku apa cuman nemenin gua,Yosh?"Tanya Emma masih pilah pilih buku yang sesuai sama idenya.
"Mana gua tahu,ini aja masih liat covernya doang.Ga tahu deh model apa yang aku cari sekarang!"Masih bingung pastinya.
"Ya emang kalau kita ga punya ide,kalau udaj liat covernya doang.Udah naksir berat kayak ini neeh!"Sambil mengambil sebuah novel horor.
"Waduuuh,,,elu wartawan apa warta horor Ma?bisa -bisanya bikin acara yang aneh-aneh!"Sambil garuk-garuk kepala.
"Ya referensi itu ga selalu dalam hal nyata dan fakta,masih ada horor dan lainnya yang harus kita cari dengan baik dan benar!"Yakin dengan idenya Emma sendiri.
__ADS_1