
Rendy membukakan pintu balkon dan menoleh serat mempersilahkan untuk Romero berjalan keluar dan diikuti olehnya berjalan disebuah tempat yang indah dan menyenangkan.Udara yang bersih dan pemandangan indah dengan suasana kabut masih pagi membuatnya suasan kembali dingin sedikit hangat.
Keduanya berdiri dengan jarak yang tak begitu jauh saat pandangan Rendy mengarah cukup curiga kepada Romero saat itu juga.Perasaan Romero pun berada dalam dua hal antara pertanyaan apa yang akan diutarakan oleh orang ini apa tentang kedekatanku dengan Tasya atau masa laluku yang memang membuatnya cukup menarik untuk dipertanyakan.
"Huuuuh,,,baru kali ini aku dekat dengan orang yang sangat loyal terhadap persahabatan.Walau cukup lama kalian tidak pernah bertemu kembali.Setidaknya itu yang tengah aku dapatkan dari cemistry kalian!"Menghela nafas dan berkata seraya menatap pemandangan yang luas.
Tersungging geli lalu menjawabnya.
"Mau bagaimana lagi pak,pertemuan yang lama memang membuat sesuatu lebih indah,benar kan?"Lanjut Romero dengan senyum khasnya.
"Ya,aku tahu selama ini ada perasaan yang belum pernah diungkapkan oleh Nona Tasya kepada saya, kepada Tuan Johan.Itulah mengapa ketika tuan Johan jatuh dia sama sekali belum percaya dengan apa yang ada dalam fikirannya Nona Tasya.Jadi dia lebih baik memikul sendiri tanpa harus mengatakan itu kepadanya."
"Lalu kenapa anda tidak terlibat dalam masalah Johan,mungkin ikut mengurusi apa yang dia punya?"Seakan bingung dengan hentakan kalimat seakan menjatuhkan dirinya dalam pemikiran Tasya.
"Itu masalah lain,dia ingin menjalani semuanya dengan sendiri bahkan ketika jatuhpun dia tidak mengabari saya.Setelah dua tahun ini dia sama sekali ada tenaga,bahkan kepercayaan kepada Nona Tasya sekedar sayang.Jadi saya harus bertanya lagi kepada anda.Tentang ini semua."
"Tentang ini semua?maksud anda,saya terlibat dalam keadaan Johan selama ini terbaring ditempat tidur itu!"
"Saya rasa seperti itu.Apa yang diinginkan oleh Nona Tasya memang tidak begitu berat.Tetapi saat kehadiran anda hanya beberap menit,sudah membuat saya tidak nyaman bahkan itu sangat tidak masuk akal kalau anda adalah saha-batnya. Itu hal wajar tanpa sebuah penambahan kalimat karena semuanya hanya kebetulan kan?kebetulan Nona Tasya ingat anda dan mencari anda.Saya tidak melarang itu semua,selama itu baik untuk dia dan anda!"Mendekati serta menunjuk kearah dadanya,kembali tersenyum.
"Jadi apa yang anda inginkan dari saya?"
Tak lama kemudian,Anna seorang pelayan itu datang dengan memberikan minuman untuk mereka berdua.Seketika tatapan tajam mengarah kepada Anna sehingga ia ketakutan dan bergegas menaruh minuman dan langsung pergi.
"Pergi!"Pintanya membelalakkan mata kearah Anna.
"Baik pak,permisi!"Sembari berlalu cepat meninggalkan obrolan penting keduanya.
Saat ia keluar ada perasaan bersalah,kenapa saya tidak bisa mendengar obrolan mereka ya.Sungguh rahasia sekali obrolan pak Rendy dan sahabatnya Nona Tasya sampai aku saja tidak mendapatkan waktu sedikit saja.Huuuh,kesal juga sambil berjalan keluar mencari keberadaan Nona Tasya yang sudah lama menunggunya dengan rasa was-was apakah itu akan berhasil?
"Non,maaf ya.Saya ga bisa bantuin non."Sambil mendekati dan menyentuh tangan Tasya.
"Memangnya kenapa Na?"Tanya Tasya panik.
"Sama sekali pak Rendy ga bicara sepatah katapun saat saya masuk memberikan minuman.Apa mungkin dia tahu kalau saya mau menguping."
"Benarkah itu?"Sembari bertanya lagi.
"Iya Non.Saya ga bisa membantu Non Tasya maaf ya!saya permisi."Berjalan meninggalkan kepanikan dan rasa bingung cukup panjang dalam benak seorang Tasya.
Kembali ia menggigit kukunya,rasa panik itu telah berubah dalam beberapa hal.Apa mungkin setelah pak Rendy mengambil banyak obrolan dari Romero akn berubah sikap kepada ku ya?apa dia akan membuat aku semakin tak berdaya dirumah ini.
Tapi itu belum mungkin terjadi,setelah obrolan yang berat.Akhirnya Pak Rendy pun mengerti dengan penjelasan yang lebih jelas dari Romero bahwa kali ini dia bisa membuat hatinya Tasya kembali bangkit sebelum kesembuhan Johan yang belum tentu kapan itu akan terjadi.
Setelah beberapa saat Romero keluar dengan senyum hangat menghampiri rasa khawatir yang didera oleh Tasya.Sepertinya dia mengerti dan mendekapnya sehingga ia reflek ikutan memeluk dan bertanya tentang pertemuan serta obrolan apa dalam pembicaraan mereka berdua.
"Rome,tadi pak Rendy ngomong apa?"Sembari memastikan dia tidak melihat pelukan ini.
"Kamu santai saja,kita bisa sering bertemu untuk kesehatan Johan selanjutnya,dia sama sekali tidak mempermasalahkan ini.Okey,selanjutnya aku harus pulang untuk menyiapkan waktu terbaik nantinya ya.Kamu hati-hati!"Kembali memeluk dan meninggalkan Tasya dengan rasa khawatir yang masih menggelayutinya.
Sesaat Romero pergi untuk kembali disaat waktu yang tepat.Mungkin juga kalau dia berada disini akan menimbulkan banyak masalah saat ini.Ia hanya mengangguk dan melepaskan kepergiannya pulang kerumahnya.Berjalan keluar sebuah mobil sedan hitam telah terparkir dan siap untuk mengantarkan pulang kerumah pribadinya.
Dari jauh langkah pak Rendy pun mendekati Nona Tasya dan berkata hangat kepadanya."Rasanya dia cocok sebagai sahabat yang selalu ada buat Nona,saya hanya bisa berharap kepadanya untuk bersikap baik-baik kepada Anda Nona.Anda adalah bagian hidup tuan Johan."
"Iya,pak.Terima kasih,mungkin dia saya butuhkan untuk satu masalah ini.Apakah pak Rendy menyetujui ide saya?"Menoleh berharap tidak ada yang bisa membatalkan semuanya.
"Ya saya menyetujui itu,selamat bersenang-senang dengan seseorang yang anda sukai ya.Tidak masalah buat saya,saya permisi dulu!"Berlalu meninggalkan rasa heran dalam diri seorang Tasya.
"Anda mau kemana?"Panggil Tasya bingung.
Berbalik dan menatap dengan senang.
"Nanti malam kita ketemu lagi ya,ada yang harus kita selesaikan.Saya masih banyak urusan untuk Tuan Johan!"Sambil melambaikan tangan dia pergi keluar menggunakan mobil pribadinya ditemani supir yang membawanya pergi.
Kenapa dia bisa seaneh itu ya?apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh dia.Tapi aku harus tahu nanti malam bila ketemu dengan Pak Rendy lagi.Oh ya sampai dimana ya Romero?aku harus pastikan dia sampai dirumah.Sembari berjalan masuk kedalam kamar dan mencoba menghubungi sahabatnya yang tengah turun dari mobilnya berjalan menuju pintu pagarnya.
Suara ponselnya pun tengah berdering, membuatnya segera untuk mengangkatnya.
"Hallooo dengan siapa ini?"
"Haiii,maaf ya aku tidak mengabari kalau aku bisa mendapatkan no kamu dari mana!"
"Memangnya itu penting ya!"Ujarnya dengan tawa gelinya saat membuka pintu rumahnya.
"Oooo,jadi ga penting.Oke kalau begitu,byeee!"Seakan ingin menutup ponselnya.
__ADS_1
"Ada yang marah ternyata,masih ada ya jaman dimana marah itu saat diledek oleh mantannya?"Kembali menyindirnya dengan tawa lepasnya.Seraya menutup pintunya dan berjalan masuk kedalam.
"Ga juga seeh,tapi kamu sudah sampai dirumah kan?"Tanya Tasya sembari duduk dipinggiran ranjangnya.
"Ya aku sudah sampai,baru saja dirumah.Kenapa? kangen tidak bertemu dengan beberapa menit saja heemmm!"Duduk santai merebahkan dirinya disofa.
"Ya aku memastikan saja,karena aku ada perasaan curiga sama pak Rendy.Apa dia punya siasat untuk kita berdua ya?"Tanya Tasya dengan wajah bingung.
"Ya mungkin saja,tapi bagiku tidak masalah untuk beberapa waktu ini.Aku santai saja,buat apa harus curiga terlalu jauh begitu.Sama saja kan kita berada dalam pengawasan sekarang.Tenanglah okey!"Pinta Romero santai.
"Setidaknya aku tahu kalau kita tengah diawasi oleh Pak Rendy.Aku sangat tahu seperti apa dia loyalnya kepada mas Johan.Apapun itu adalah tugasnya untuk membuat Tuannya bisa kembali sembuh dan menjalankan tugasnya kan!"
"Kamu ga usah khawatirkan dia,selagi kita bersikap wajar dan santai menghadapi dia pasti tidak ada masalah yang besar menghadapi kita ya kan,yakinlah masak Tasya kalah dalam permaian ini?"Ujar Romero menghantamnya.
Tersungging ga terima juga mendapat serangan dari sahabatnya,ingin juga membuat persyaratan diluar nalarnya."Oke kalau aku bisa mengatasi pak Rendy dengan baik.Aku dapat apa dari kamu?"
Romero pun berfikir dengan cermat lalu menelisik apa yang diinginkan oleh mantan kekasihnya adalah kehangatan yang hakiki.Lalu dia membuat tantangan pula.
"Kalau kamu berhasil mendapatkan hatinya Rendy bahkan lolos dari permaianannya.Kita akan pesta,kamu mau?"Tawarnya membuat kesepakatan.
"Kenapa tidak,aku terima tantangannya.Kalau kamu berhasil membuat pengakuan bahwa pak Rendy lemah apa yang kamu inginkan aku berikan!"
"Yaaa permaian yang seimbang!"Ujarnya yakin menganggukkan kepala.
Tawa lepas pun datang dari Romero saat ini,adakalanya aku bisa memanfaatkan seorang mantan.Dilain pihak seorang mantan juga akan membuat kesepakatan dengan Rendy untuk masalah ini.Dan ternyata sangat seru untuk dinikmati,apa mungkin akan menjadi ide dan dilema?
"Jadi kapan kita membuat kesepakatan ini?"Tanya Romero dengan penasarannya mengernyitkan kening.
Ide brilian datang dari Tasya sang mantan.
"Besok mungkin?bagaimana kamu suka!"
Memikirkan sejenak lalu mengangguk tanda setuju sembari menjawabnya penuh cinta.
"Ya ide brilian.Kamu datang kerumahku lagi ya,kita akan diskusikan ini!"
"Tanpa siapapun kan?"Kembali Tasya mempertanyakan.
"Iya,hanya kita berdua dalam kesepakatan ini bagaimana?"Jawab romero yakin.
"Oke aku tunggu esok."
Heran deh,masak aku ketemu lelaki macam dia seeh,Alden lagi namanya saat dikenalkan oleh dirinya sendiri dengan pedenya lagi.Semoga saja sekali ini bertemu sama dia.Huuuuh,masih siang lagi.Pulang trus tidur dan bangun langsung kerja.Terhenti sejenak menoleh kebelakang,Aneh kayaknya ada yang ngikutin ya.Apa perasaanku aja.Kembali berjalan menuju jalanan trotoar santai pula dia membayangkan bersama seseorang.Tapi terlintas malah dia seeh,huuuh gini ya kalau udah kepikiran seseorang jadinya ga lepas-lepas deh.
Dari jauh pun ada senyuman dari lelaki tersebut,dia ngerasa aku ikutin.Tapi ga tahu dimana aku busa berubah jadi spiderman atau batman.Memang batman bisa menghilang dengan cepat,tawa lepasnya datang tiba-tiba.
Ikutin lagi deh,kali-kali deket rumahnya dari sini.Kembali melangkah sangat hati-hati untuk mengikuti siapa targetnya.Benar sekali dia memang ada yang lain dalam keingin tahuan itu.Jelas mendapatkan info secara diam-diam adalah pesona yang dilakukan oleh Alden,hingga langkah perempuan tersebut sampai didepan rumahnya.Perlahan ia membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali.
"Ooooo,disini rumahnya.Ga jauh-jauh amat.Kalau aku ketemu tinggal kesana aja!"Sambil nunjuk kearah pojokan rumah unik yang dipastikan adalah rumah Alden."Deketlah!"Berbalik arah berjalan kembali kekedai kopi kembali.
Lelah juga setelah membuat perdebatan yang bikin lapar dan entah kenapa harus lapar seeh,kan aku udah minum kopi trus makan cake.Heran,ini perut kenapa ya,ada yang aneh ga seeh.Buat apa enaknya ya.Atau aku tidur aja deh ada waktu dua jam untuk menenggelamkan mata sejenak saat aku bisa bangun untuk berangkat kerja.Yeee,tidur deh.
Menghempaskan dirinya dalam ranjang yang empuk menarik guling dan memeluk erat,kapan lagi bisa seenak ini kalau istirahat kan jadinya lebih seru.Mendongak melihat keluar,semua jendela masih memberikan hawa segar tanpa menutupnya biarkan angin menghiburku sejenak saja supaya nanti ketika aku bangun dan bisa melihat sore itu lebih seru.
Dirumah agak bingung seeh Romero mondar-mandir dan tiba-tiba menghubungi Gladis yang perlahan mulai lelap oleh mimpinya.Entah dimana mimpinya berpijak ada suara aneh tengah menganggunya.
Suara ponselnya bak konser romantis disebuah bukit sangat merdu,sampai ia sedikit terkejut tetapi tidak bangun dalam jangka pendek.Ada aja suara ponselnya itu sama sekali tidak membuatnya segera beranjak untuk bangun.
"Kemana ya Gladis,kok ga diangkat.Apa dia tidur atau ponselnya ketinggalan pas keluar kemana gitu.Coba lagi deh!"Kembali untuk menghubunginya kembali.
Ada kesan bingung dan heran kembali saat ponselnya cukup lama untuk diangkat.
"Ayolah,kamu dimana Gladis?!angkat dong biar kakak ga bingung-bingung amat."Kembali berujar sendiri.
Gimana kalau gua hubungin Andrea ya,apa dia sama Gladis dikedai atau engga.Iya deh dari pada aku single dikedai bisa bahaya jadinya.
Beberapa saat terhubung cukup lama,sampai ada cinta diantara keduanya yaitu Andrea dan Reyhan tengah menjalani masa keramaian dengan tepat.
"Hooooi,,,hape lu bunyi lho."Bisik Reyhan sambil nengokin layar ponselnya,siapa seeg gangguin dia.
"Iya bentar!"Sibuk mengurusi pembayaran.
Aneh heran juga penasaran datang langsung dari Reyhan dan mengambil ponselnya,astaga si jomblo nelpon-nelpon ngapain ya?.
"Hallooo,An.Gladis ada ga?"Suara itu muncul mengejutkan Reyhan.
__ADS_1
"Haaaah,Gladis?ga ada tuh!"Jawabnya lantang.
Mengernyitkan kening,heran siapa tuh suaranya laki-laki,aneh banget."Siapa ini?"
"Ya gua lah mblo.Lu masak ga kenal sama suara gua!"Sontak bikin kesal aja.
"Ooooh,elu kok ada dikedai?ga kerja!"Serius bingung ketika keberadaannya.
"Yaaaah,,,ga punya kalender lu ya.Kan gua libur jadi ya gini deh nyari uang saku,heheheh boleh kan gua nyari uang saku ditempat elu."Kembali bertanya.
Tawa lepasnya pun terdengar renyah ditengah diujung telpon."Ya bolehlah.Siapa seeh ga ngebolehin.Elu juga kekasihnya Andrea kan,ya santai aja kali!"
"Mau nanya apa?ampe merembet ga jelas gitu!"Reyhan mempertanyakan.
"Ooooh iya,Gladis ada kan dikedai.Gua mastiin aja!"Ujarnya penasaran.
Heran,mana ada Gladis dari tadi disini.Kan dia masuk sore sama Romero lupa berarti dia heheheh."Ya ga adalah,emangnya elu mau single dikedai.Emang elu mau jadi ultramen yang kuat dan kokoh tak tertandingi?pede banget deh!"Celetuknya geli.
"Ooooh,jadi gua ntar sore sama dia."Ada rasa senang dan bangga telah satu team kerja bersama Gladis.
"Seneng kan lu mblo,bisa deket sama dia.Ya referensilah nyari penyegaran yang hakiki gitu."
"Kenapa?ga terima!"Timpal Romero ketawa lepas.
"Harusnya gua emang ga terima,lha disamping gua."langsung merendahkan suaranya."Mak lampir.Habis lama-lama sama dia!"
Ternyata ada yang denger deh,ada aja ketahuannya.Kan ga seru banget jadinya,apalagi saat dia tengah menoleh meringis kaget melihat ekpresi Andrea yang sudah siap dengan jurus jitunya.
"Ngomong apa tadi?"Wajah Andrea pun bikin ngeri juga.
"Engga,,,ga ada apa-apa!"Ujarnya sembari menggelengkan kepala.
Dari ujung ponsel,Romero pun sontak terkejut dengan suara yang mengejutkan dan tentu itu adalah suara wanita yaitu Andrea.
"Waduuuh,denger juga dia.Apa seeh yang dia pake sampe harus seperti.Apa ketahuan gitu tadi,bahaya neeh."Batinnya berujar.
"Ya udah ntar aja kita ketemu lagi dikedai ya Rey,salam buat Andrea deh.Jangan banyak ngambek ntar tuanya duluan dari kita-kita yak!"
Sambil mengangguk dan menjawabnya.
"Iya,ntar gau sampek in sama dia."Meringis kearah Andrea sambil mengangkat dua jari Peace.
Seketika Romero mengundurkan diri dengan cepat,entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka selanjutnya.Apakah ada perselisihan atau engga.Ga tahu juga seeh,lama-lama juga seru kalau dibilang kayak gitu.Ga ada intisarinya pula.
"Tadi ngomong apa sama Rome?heeeh.Apa yang dibicarain sama dia?"Memainkan kedua alisnya.
"Ga ada cuman nanya Gladis aja.Eeeh keburu gua yang jawab jadi banyak banget yang dibicarakan selain kamu gitu!"Jawabnya sembari membuat pengakuan palsu.
"Yakin?"Sambil bersedekap ketus kearahnya.
"Iya betul,gitu ga ada yang lain.Mana coba ngomongin itu!"Belum selesai dilanjut udah ngegas aja Andrea.
"MANTANNYA ITU?"Membelalakkan mata.
Sembari menggelengkan kepala lagi,ada rasa takut tengah menyerang dirinya dalam-dalam.
"Bukaaannn,ya Gladis itu aja yang dibahas."
"Awas lu ga ngaku,gua kasih lempengan hangat ga elu sama Rome sama ga ada bedanya."
"Ooooh gitu ya,syuuukuur deh!"Sambil menghela nafas panjang.
"Nyebelin tahu ga?"Bentaknya lagi.
"Iya-iya maaf deh,ga marah lagi kan?"Sambil nyentuh kedua pipinya.
"Masih lah,kan kamu ga cerita!"Memalingkan wajahnya,dan sadar ada pembeli yang hanya menatap keduanya tengah berdebat penting.
"Haaaaiiii,udah selesai debatnya?"Sambil melambaikan tangan serta meringis geli.
Keduanya terkejut serta membelalakkan mata,masak sedari tadi ada yang nonton drama gua sama Andrea seeh?gilaa bener kalau gitu.Bikin mau aja sembari meringis kearahnya.
"Udah mba,udah lama ya berdiri disitu?"Tanya Andrea salah tingkah.
"Ya lumayan seeh,apalagi liat kalian seru lho!"Jawabnya santai.
__ADS_1
Ada rasa malu dan menegangkan ketika saat kedatangan seorang Costomer tengah melihat ketegangan yang ga terlalu tegang tetapi membuatnya senyum-senyum sendiri setelah melihatnya.
"Yang langgeng ya,kalian berdua!"Ujarnya manis.