Antara Dua Hal

Antara Dua Hal
Part 3 Masih ada rayuan dikelas.


__ADS_3

Lucu juga ngeliat dua orang perempuan tengah mengatur nafas tersengal-sengal sandaran didepan pintu,wajahnya pucat ampe mau pingsan deh.Hal itulah menyebabkan May bingung melihat keduanya hampir lemes didepan kelas.Bergegas ia beranjak menolong dan mengabaikan Revan yang masih bingung melihat keduanya kenapa gitu.Antara bingung dan heran pula datang dalam benak fikirannya,terpaksa pula ngikutin May yang udah duluan menghampiri dengan wajah panik.


"Ya ampun,,,kalian kenapa seeh?sampe kayak gini.Padahal tadi sehat-sehat aja!"Meraih tangan dan membopong Vani yang lemes duluan.


"Loe emang kebangetan May,kita susah-sausah lari dari lapangan basket sampai kesini.Itu aja yang kamu tanyain?"Bagaikan habis kebanyakan minum Amer,telernya Vani menjadi tawa kecil buat May.


Menoleh kearah Revan,santai banget dia menghampiri keduanya sampai bentakan lantang pun dijalankan olehnya.


"Van,,,ngapain lu masih santai distu.Bantuin napa?berat neeh mereka!"Keluhnya sambil ngangkat badan Vani.


"Eluuu tega ga bantuin gue lo May!"Suara parau Tia protes ga terima diabaikan olehnya.


"Sabaaaarrr Tia,tuhhh Revan yang bantuin kamu!,ayo hati-hati Vani jalannya!"Pintanya membopong kekursi belakang.


Revan jongkok dan bertanya lagi kayak tengah mendapati pencuri tengah tergeletak tak berdaya habis ketahuan sama warga.Lemah lunglai.


"Ngapain luuu,,,udah ga kuat?"Tanya Revan geli.


"Van,,,bantuin gue.Awas loe ya ntar gua udah pulih tak bikin jadi sambel goreng tempe loe!"Ancam Tia ga terima ga segera dibantuan sama Revan.


"Revaaan,,,,bantuiiiin Tia.Jangan dianggurin trus!"Panggilnya lagi sambil menata Vani ditempat duduknya.


"Iyaaan,kasihan banget!"Langsung aja tanpa aba-aba,Revan bagaikan pangeran penyelamat dalam diri Tia.Mengangkat tubuhnya dan keduanya saling berpandangan bagaikan penyelamat hati yang terdalam.


"Revan,,,makasih ya!kamu baik deh."Ia terlena dan tersenyum dalam dekapannya.Perlahan membawanya kekursi dan meletakkan dekat sama Vani yang hanya melongo melihat romantis kilat ala keduanya,May pun ga habis fikir bercahaya dan sangat romantis bikin dia Baper dan ga bisa berucap lagi selain kagum dan geli juga.


Meletakkan dikursi,dia jongkok serta membelai hangat Tia yang mulai terpana oleh kebaikan yang diberikan oleh Revan.Ada juga yang romantis seperti dia.


"Ga pa-pa kan?"Sambil menatap hangat.


"Engga!,ga pa-pa kok."Jawab Tia halus.


Iri juga sama kedekatan Tia dn Revan,Vani mencoba meraih bahu sang lelaki tersebut tapi ga sampai.Ia pun berujar.


"Van,,,,kamu ga perhatian sama gua juga.gua juga butuh kasih sayang elu!"Wajahnya berharap untuk lebih dekat lagi.


Haaaaahhh,,,,kok pada dramastis gini ya?apa-apaan seeh mereka.Aneh deh kalau dilihat-lihat.Revan dengan manisnya melayani keduanya dengan ikhlas dan keduanya pun mendapatkan kecupan hangat dikening.Mata May melotot dan kaget melihat kejadian langka itu?kok bisa seeh kayak gitu!


Jadi apa gitu kalau drama itu terjadi dalam dunia nyata kalian.Apa aku harus seperti penonton yang dikacangin dan melihat kalian bermesrahan seperti ini?haduuuh.Sadaaarr may,sambil nampol pipinya.Jangan sampai elu ikutan drama ga berguna kayak gitu,sadar juga dia kan mereka dehidrasi kenapa ga gua kasih minum ini seeh gara-gara Revan.Hampir aja mereka tak berdaya lagi karena kehabisan cairan tubuhnya.


"Eeehhh,bentar ya.Aku ambilin minum dulu,heheheheh!"Segera menghilang dari peredaran ketiganya entah kemana,,


Menoleh kesal juga,kenapa juga dia baru sadar kalau sahabatnya butuh minuman untuk menstabilkan tubuh keduanya yang tengah mengalami dehidrasi.Aneh banget sampai kembali dia perhatian sama Tia dan Vani ada hal terbaru mungkin yang bisa ditanyakan soal kelanjutan pemain basket andalan mereka.


"Ooooh ya,tadi gimana performa Sebastian White?bagus ga?"Semangat untuk mendapatkan info barunya.


Keduanya hanya mengacungkan jempol pertanda bagus,emang ya kalau udah mereka mengacungkan jempol dengan senyum menawan.Dipastikan ini akan menjadi ajang baru kesempatan buat Revan untuk bisa menjadi mentor barunya.


"Keren juga dia maennya.Kapan-kapan gua pengen jadi mentornya pemain seperti dia.Kalau seandainya gua tampil lagi dilapangan seperti dulu lagi,gimana cocok ga?"Sambil bergaya mencari suporter.


"Kak,,,inget udah senior,udah gantung sepatu.Jangan banyak gaya deh,lagian udah ganti posisi lagi jadi pemain musik kok ya maen basket lagi!"Ejek Vani mengingatkan.


"Hahahahah,yang penting ga seperti pak Johan tuanya masih bikin repot kita semua."Canda Revan geli.


Lama bener Maya ga balik-balik bawa minuman buat sahabatnya,entah nyantol dimana lagi kalau ga ketemu sama Doni yang sok kece lagi seru maen game.


"Heeiiiii,ketemu lagi!"Doni bersua setelah keluar dari gamenya dan menyapa May.


"Hhhiiiiih,,,kamu Don,ngapain ketemu gua?"Terhenti heran melihat gayanya yang sok cool.


"Ya kali-kali kamu butuh bantuanku.Gimana?"Sambil mengangkat kedua alisnya senyum-senyum padanya.


"Udaaah telaaat,aku sekarang mau masuk lagi kekelas ada yang harus aku kerjakan.Yaa byeee!"


Pergi bergegas menuju keruangan kelas mereka.


Lagi Doni dicuekin sama Maya,ya ada rasa sakit tapi kenapa harus sakit.Padahal ada rasa akhirnya untuk bisa ketemu lagi,apa yang ngebuat pandanganku sama Maya berubah,apa memang ada sesuatu tengah menggajal lagi.Entahlah,,,


"Maaf ya semuanya,,,aku lama nyari airnya hehehehe!"Sapa May sambil menghampiri mereka yang perlahan mulai menampakkan wajah sumringah.Lalu memberikan pada keduanya seketika keduanya saling meneguk hingga legaaa.


Tak ayal Revan bengong ngeliat keduanya semangat sampai ikutan nelen ludahnya sendiri,kayaknya seger kalau minta sama mereka sambil senyum-senyum ga jelas ngebuat keduanya segera IllFill.


"Ngapain liat-liat kita?"Ngeri juga Tia dilihatin ala-ala Revan.


"Minta dong,hauuus juga liatnya!"


"Iiihhhh,engga.Neeeh harus dihabisin biar ga mubazir!"Jawab Tia langsung aja celeguk,,,,celeguk,,,celeguk sambil melotot ngeliat Tia menghabisi air mineral botolan.


Lagi dia menoleh kearah Vani yang ikutan kaget segera ngabisin minumannnya.


"Dasar kompak kalian berdua sok ngabisin minumnya,ga ngasih sedikitpun sama gua!"Kesal juga ngeliat keduanya kompak banget.


Ngeliat wajah memelas ala Revan sang Oriental memang ngebuat May ga tega,sambil menyodorkan langsung kearahnya sambil berujar.


"Neeeh,,,aku masih ada stok buat kamu kok.Jangan ngambek lagi."


"Waaaah,,,kamu memang perhatian sama aku!"Mengambil langsung dari tangan May.Lalu meneguk pelan-pelan dan melihat reaksi kedua sahabatnya tengah heran dan bengong melihat perhatian itu kembali datang.


"Tumben baik banget ya May sama dia!"Bisik Tia pada Vani.


"Iya,pasti ada apa-apa deh!"Jawabnya menimpali.


"Sekarang keadaan lapangan gimana?"Tanya Revan pada keduanya.


"Ya gitu deh kak,riuh sama sebatian White.Kan dia sekarang idola sekolahan!"


Tersungging,memang kalau udah jamannya ya pasti berubah ga ada lagi yang seperti gua memimpin basket jaman sekarang,setahun yang lalu gua merajai dan menjadi idola,tapi banggalah gua udah berbagi cerita sebagai Icon baru yang bisa menjadikan banyak pemain tampil lebih hebat,Lagian banyakan suka yang blasteran dan punya goodlooking.

__ADS_1


Tak lama kemudian Doni Wiryawan sang raja gamers disekolah tampil menampakkan diri dengan senyuman tak kalah hebatnya sebagai pendatang baru dikelasnya untuk menghampiri mereka yang tengah berdiskusi.Kali ini sekolah SMA Negri 3 tengah lengang dengan kegiatan sekolah yang lebih brilian.


"Kalian ngapain?kedengarannya ngomongin basket ya!"Sapanya mengagetkan semuanya,hingga Revan menoleh dan enek juga lihat saingannya dateng kekelas bagaikan malaikat tengah membuat kejutan hangat padanya.


"DONI!!!!!!"Ketiganya kompak kaget atas kedatangannya tanpa sepucuk undangan sama sekali.


Revan beranjak berdiri dan mendekati Doni,layaknya petarung handal.Juga ga nyambung sekarang keduanya punya jalur yang berbeda juga antara pemain musik versus pemain game dimana bagusnya coba.Saling berpandangan dengan sinis sepertinya akan ada perang besar diantara keduanya sampai bengong melihat mereka gagah dan luar biasa.


"Ya ampun gagah banget ya kak Doni kalau kayak gitu.Love it!"Vani bagikan melihat sisi lain dari seniornya.


"Seksi an kak Revan dong,oriental dan lebih mantap.Kan mantan pebasket jadi jago banget bermainnya!"Bisik Tia semangat.


Kesel juga ngeliat keduanya saling berebut siapa yang paling mempesona,sampai akhirnya May pun mendekati keduanya dan mencoba memisahkan amarah yang meledak diantara mereka.Nyembul aja diantara kedua lelaki tersebut dan mencoba memisahkan.


"Tolong ya kak,jangan berantem.Bahaya masak senior mau beradu otot seeh dihadapan kita-kita lagi."Pinta May bersikap.


Tanpa disadari dan mengejutkan May,kedua jari telunjuk milik Revan dan Doni menyatu menghentikan ocehan ala-ala dia.


Tak ayal pula membuat ia bagai patung tanpa kata seraya melotot kearah keduanya hingga tak bisa berujar manis pada mereka.


"Mau apa coba?kita ini lelaki yang seperti ini!"Ujar Doni menampakkan tampang garang.


"Dia belum tahu kalau kita berantem kayak apa ya?"Tersungging memancing rasa paniknya.


"Kak,Pleace jangan bikin onar dikelas kita."Pintanya lagi,trus May menoleh kearah dua sahabatnya dan meminta bantuan malahan mereka angkat tangan,ga ada yang berani sambil geleng-geleng kepala.


"Heiii,,,TiVan bantuin dong!"Pintanya pelan.


"Engga mauuuu.Serem!"


"Loe ada rencana lain ga,bikin gua bisa tampil lagi dilapangan itu.Pengen banget gua kalahin tuh sebastian White.Supaya dia tahu siapa yang dulu bisa menyerahkan kepopulerannya sama gua!"


"Ada syaratnya!"Jawab Doni mengajakan syarat.


"Apa itu?"mwngernyitkan kening bingung.


"Gua laper,kita makan.Elu traktir nanti aku fikirin sambil makan okey!"Mengacungkan tangan.


"Boleh juga!"Jawabya membalas.


Langkah mereka pun segera meninggalkan ruangan kelas yang sepi hanya dihuni tiga perempuan yang tengah kalang kabut bahkan takut dengan apa yang akan terjadi bila perang keduanya pecah dihadapan mata mereka.Pasti akan ada pertumpahan darah.Rasa khawatir itu perlahan sirna tak kala mereka pergi tanpa pamit dan membuat ide sendiri untuk bisa tampil sedemikian rupa untuk berbagi strategi untuk mengalahkan siapa pemain terbaik saat ini.


Melongo juga dibuatnya May pun bagai kacang garing tengah dicuekin oleh keduanya.Mau ngomong apa pun ga sampai juga dimulutnya.Lalu apa mesti harus dikejar,takutnya malahan berantem dibelakang sekolah.Ikutin aaaah.


"Maaay,mau kemana loe?"Panggil Tia heran.


Noleh dan senyum bahagia"Mau ngikutin mereka.Takut ada yang diciderai oleh mereka,hehehehe!"


"BUSYEEEEETTTTTT.Ampun daaah!"Keduanya saling mukul kening masing-masing.


Demi menjaga kekompakan seorang lelaki yang ia hormati sebagai mentor mungkin nantinya atau hanya sebuah perantara saja.Yang penting ga bikin enek pas lihat aksi mereka beneran anarkis.Mengikuti dari jarak yang cukup jauh melewati lapangan basket,lhoooo masih aja rame mereka main sampai gempor kali ya.


Terlalu handal dalam bermain dan saling mendapatkan perhatian lebih team lawan saling menyerang dan berbagi stratregi hingga lupa bola pun melesat keluar lapangan hingga tak ada yang menyadari kalau lemparan itu mendekati seseorang bernama May.Santai dan rasanya konsentrasinya hanya untuk mengikuti dua lelaki tersebut tanpa menyadari bahaya tengah menghampirinya.


Semua mata kearah bola tersebut dan tak percaya ketika hampir mendekati korban salah satu perempuan yang tak mengetahui apa yanh akan terjadi akhirnya.


"MAAAAAAYYYYY,AWASSSSS!"Teriak beberapa orang kompak tak bisa menghentikan langkah May melewati bola tersebut.


Senyumnya terkembang lepas saat terdengar mereka memanggil namanya,ada apa ya? suara kompak itu juga membuat Tia dan Vani terkejut hingga keduanya saling berhadapan tanpa kata langsung beranjak berdiri melihat dari atas,mata keduanya pun tak luput dari rasa kaget bahkan teriakan mereka pun ga ada gunanya.


"Haaaaahhhh,Maaaayyyy awaaassss!"Teriak Tia sambil mukul-mukul kaca.


"Astaga apa yang akan terjadi!"Wajah pucat Vani melihat tragedi pagi ini.


Suara ramai panggilan itu juga membuat Revan dan Doni yang bergegas untuk makan dikantin segera berbalik badan dan naas bola itu membuat May tak bisa menghindar sampai ia kena tepat dikeningnya.


DUBRAAAAKKKKK,,,,,,Dia pingsan terkenal lemparan cukup keras dari bola basketnya,hingga jatuh kelantai.Keduanya pun panik dan berlari dengan kencang mendekati May yang tergeletak tak berdaya hingga pingsan dilantai.Tian pun ga habis fikir dan berlari untuk menyelematkan perempuan yang tergeletak akibat kelalaiannya dalam memainkan bolanya.


"Ayoooo,,,Tiaaaa.Lari kita samperin May!"Sambil tancap gas tanpa menghiraukan lamunan Tia yang baru beberapa saat konek dan ia ikutan berlari mengejarnya.


"Aduuuuh lupaaaa.Tolongin May!"Berlari juga menghampiri mereka bertiga berlari menuruni anak tangga.


Dan Revan telah berhasil membopong May yang tergeletak hingga membawanya keruang UKS,dibantu oleh Doni untuk membawanya untuk penanganan lebih lanjut.Saat itulah Tian berusaha ikut membopongnya malahan ditahan oleh Doni yang bersikap bijak untuk kesehatan May.


"May,,,eluuu ga pa-pa?"Berusaha menolongnya.


"Eiiitssss,,,,jangan deket-deket.Ingat itu kelalaian kamu ya.Jangan deket dulu oke!"Pinta Doni menghalang-halangi keinginan Tian untuk melihat keadaan May.


"Tapi aku bertanggung jawab atas semuanya Mas!"Jawabnya membela.


"Nanti dulu ya,oke!"


Tak lama kemudian Tia dan Vani berlari penuh kepanikan dan mengacak-ngacak Doni yang masih menghalangi Tian untuk menemui korban lemparan bola basket."Mas mana May.Mana dia?"


"Ada diUKS,,,SANA TEMUIN DAN TEMENIN DIA YA!"Suaranya lantang membuat keduanya pun ga ada langkah lain lagi selain berlari untuk tindakana lebih lanjut.


"Mas,,,gimana ini aku bisa kan temuin dia!"


"Nanti aja kalau udah baikan,aku kabarin ya.Kalian lanjutin mainnya jangan ada selebrasi yang heroik.Nanti bahaya lagi oke!"Dia berpesan dan segera beranjak pergi menuju UKS untuk memastikan keadaan Maya.


"Baik,mas."Jawabnya penuh rasa bersalah.


Semua yang hadir dilapangan pun ikutan panik juga takut ada hal yang memburuk sama keadaan Maya,perempuan yang tengah jadi perbincangan sejak kedekatannya dengan pria misterius tersebut.Memang dia selalu rajin update dengan beberapa orang salah satunya Omnya sendiri yang dianggap oleh mereka adalah tengah selingkuh.


"Kasihan ya,udah deket sama pria malahan dia sekarang seperti ini."


"Iya ada aja dia bikin sensasi ya!"

__ADS_1


Suara itu memancing Tian untuk penasaran mendekati persoalan yang tengah dibuat oleh segelintir orang untuk membuat suasana semakin kacau.


"Maaaff,,,,kalian bicara apa ya tadi?"Senyuman hangatnya mendekati keduanya.


"Engga mas,,,,ga tahu bener apa ga kalau May itu perempuan ga bener.Selalu dia posting tengah sama Om-Om dan beberapa orang lho disosial media.Ga malu apa kayak gitu."


Mengerucutkan kening serta menyipitkan kening dia pun bingung harus percaya sama mereka atau hanya kaleng-kaleng semata.Tapi kali ini dia memang tengah bersalah atas kelalaiannya dalam bermain basket.


Diruang UKS May mendapatkan pertolongan langsung dari pihak sekolah dan memang pemangananya cukup serius sehingga Revan dan Doni cukup kebingungan ketika Sahabatnya dengan ramai dan panik memberondong pertanyaan yang semakin membuatnya panik pula.


"Kak,gimana May.Udah baikan belum!"


"Udah sadar apa belum May kak,,?bahaya neeh kalau belum sadar.Aku harus bilang apa sama Omnya haduuhhh!"Bingung ga karuan apa yang harus difikirkan lagi.


"Udaah,,,Kalian tenang ya.Jangan berfikir macam-macam,inget berfikir positif untuk kesembuhan May.Okey!"Sambil Doni mendekap bahu Vani menenangkan keduanya.


Tapi pandangan Revan cukup serius ketika harus melihat May tengah dalam penanganan yang cukup lama dan berbelit juga.Saat dia menatap dan berharap ada hal lain yang tengah dialami olehnya.


Saat keluar dari UKS dan membawanya dengan keadaan belum sadar sehingga pihak UKS harus membawanya kerumah sakit untuk menangani benturan yang cukup keras mengenai kepala May.


"Lho,,lho,,,pak mau dibawa kemana?"Tanya Revan bingung menghentikan langkah mereka untuk menuju mobil ambulans yang perlahan datang sampai diparkiran.


"Van,,,May harus dirujuk kerumah sakit.Dia belum sadar-sadar.Kalian bisa kan hubungi keluarganya untuk bisa mengetahui keadaan Maya sekarang ya!"Pinta kepala UKS kepada Tia dan Vani.


"Iya,,,iya pak segera saya hubungi keluarganya!"Beregas untuk menghubunginya.


"Revan dan Doni kalian ikut bapak ya.Supaya lebih aman May diperjalanan oke!"Ajaknya sambil bersiap untuk mengawalnya sampai dirumah sakit.


"Baik pak,kami akan ikut bapak!"Jawab Revan tanpa pikir panjang.


"Iya pak,,kami akan ikut!"Jawab Doni.


Mereka bertiga pun segera menuju kerumah sakit,sedangkan Tia berusaha untuk menghubungi Om Jovan yang sempat ia kenal beberapa waktu saat bertemu tanpa sengaja dengannya dan berbagi no telpon untuk sebuah kedekatan sebagai sahabatnya May.


"Oke aku harus hubungi Om Jovan.Apapun itu dia harus tahu."Mencari dengan bingung hingga beberapa menit dia menemukan nomornya.


Siang itu setelah keduanya selesai pemotretan,tawa geli Reva melihat posenya cukup membuat senang juga dari Jovan yang telah menyulap asistan pribadinya menjadi model dadakan.


"Nanti kalau ga ada model yang siap,mending kamu aja deh yanh aku jadiin model.Bagus lho,coba lihat ga ada yang beda kok!"Sambil melihat kearah Reva dengan geli.


"Iya,tapi honornya yang gede ya.Jangan samain dengan kerjaanku Bos.Bedaaa!"Jawabnya pede mental.


"Hahahahahaha,udah mulai sombong neeh!"Sambil nyubit pipinya.


"Aduuuh,,,kumat deh!"Elaknya ga terima.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan membuatnya mendongak heran,ada aja job baru datang menghampirinya.Seperti biasanya kode unik permintaan Jovan untuk mengambilkan ponselnya tengah agak jauh dari pandangannya segera diambilin sama Reva.


"Heeemmm,iya gua ambilin Boooosss."Jawabnya sambil ketawa geli mengambil dan melihat foto profil seorang perempuan SMA sampai membuat Reva salah sangka lagi.


"Astagaaa.Mas,kamu tuh ngapain ada janji sama anak Model ginian,masih SMA lho."Ga habis fikir sambil nunjukin kewajahnya.


"Haaaah,sapa tuh ya?"Heran ga jelas siapa ya,kayak pernah liat tapi dimana.


"Coba deh angkat,ntar minta pertanggung jawaban.Aku angkat tangan lho!"Memang Reva angkat tangan kalau soal kisah cinta ala-ala Jovan.


Segera ia mengangkat dan menjawab dengan wajah aneh.


"Halooo,siapa ya?"


Nyengir ga terima"Heeem,,,gaya banget sok ga kenal sama yang nelpon."Sergap Reva sinis.


Seketika dia mengunci bibirnya sendiri untuk memintanya diam dan ga jawab apa yang akan dia katakan.Oke,,oke aku ga ikutan deh sama kamu mas.Beranjak berdiri untuk berbalik untuk masuk kedalam.Males denger rayuan gombalnya.


"Om,ini Tia.Sahabatnya May!"


"Ooooh kamu temennya May,ada apa ya sama May?"


"May,kecelakaan om.Kena hantam bola basket dan ia pingsan belum siuman sampai sekarang!"Jawabnya masih panik dan kepanikannya membawa keterjutan dari Jovan hingga beranjak berdiri dengan wajah kaget,panik dan apalah ekpresi seorang yang tengah mendapat kabar buruk dari seseorang.


"APAAAA?MAY PINGSAN BELUM SIUMAN?"Suara lantangnya itu menghentikan langkah Reva yang hampir melangkah masuk kedalam kantor.


"Haaaahhh,apaan tuh?"Lemes juga dan masih ada kekuatan untuk berlari menghampiri Jovan yang masih menampakkan kepanikan luar biasa.


"Kok bisa?emang habis ngapain dia!"Tanya lagi dengan wajah super panik dan itu sempat membuat Reva kebingungan ga karuan melihat reaksi Jovan.


"Dia ga sengaja pas lewat lapangan ada anak-anak tengah tanding bola basket.Ga tahu tahu kenapa tiba-tiba bolanya meluncur mengenai May."


"Oke-oke dirumah sakit mana?aku segera berangkat!"Masih panik memastikan dimana letak rumah sakitnya.


"Jakarta Hospital Om."


"Oke terima kasih Tia,sampai jumpa lagi!"


"Iya om sama-sama!"Jawab Tia menutup ponselnya.


Vani menghampiri Tia yang masih melengus panjang setelah memberitahukan swmua kejadian yang dialami oleh May."Gimana Tia,om Jovan merespon apa!"


"Dia segera kerumah sakit kok.Kayaknya panik banget deh!"Jawabnya yakin.


"Trus kita gimana,ikutan kesana apa engga?"Tanya Vani bingung.


"Ya ayo kesana!"Jawabnya bergegas menuju rumah sakit.


Panik pasti dan untungnya semuanya udsh selesai dengan baik,segera Jovan mengambil tas yang tengah tergeletak dan masuk kedalam diikuti oleh Reva yang ikutan panik pula buntutin dari belakang dengan beberapa pertanyaan ringan untuk membuatnya gampang menjawab rasa paniknya tersebut.


"Van,aku ikut ya!"

__ADS_1


Menoleh serta mengangguk mengikuti langkah Jovan menuruni anak tangga melewati lorong pintu menuju keluar dari pintu utama.Beberapa orang pun penasaran untuk menangkap apanyang tengah terjadi diantara keduanya.Mungkin juga belym saatnya untuk mengetahui apa tengah terjadi diantara keduanya.


Masuk menuju mobil,dan dipastikan itu adalah Reva yang mencoba menenangkan Jovan dan mengemudi dengan kontrol lebih waspada dibandingkan oleh Jovan yang dipenuhi rasa panik sampai khawatir nantinya malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


__ADS_2