
Waktu pun perlahan berlalu,Jovan pun masuk kedalam ruang VIP untuk melihat kondisi keponakannya May.Mendekati dan menyentuh bahunya,ternyata ia masih tenggelam dalam obat bius masih membuatnya tenang.Sesaat senyuman pun datang dari Reva saat melihat tengah tertidur pulas.Mendongak dan berkata pada Jovan.
"Dia memang perempuan yang kuat ya,sudah ditinggal kedua orang tuanya sekarang malahan dapat insiden yang membuat harus istirahat disini!"
"Ya aku juga bersalah telah membuat dia tergeletak disini.Padahal dia bisa menghindarinya,malahan sekarang seperti ini!"
"Ga pa-pa,sekarang dia juga bisa istirahat.Tahu sendiri kalau dia sehat kayak apa!"Tersenyum melihatnya.
"Kamu jadi ketemuan sama Virgo?"Tanya Jovan kembali memastikan.
"Jadi,itu kan permintaan kamu mas,kan aku juga bisa jagain May!ketemu sama Virgo kan bisa kapan-kapan!"
"Emangnya kamu bisa gitu,emangnya May anak kamu sampai khawatir seperti itu?"Seloroh Jovan tersenyum.
"Ga usah juga temen-temennya nanti jenguk.Ga sepi kok kalau harus menjaga dia!"
"Beneran?"Meyakinkan lagi.
"Iya bener.Santai aja."Jawabnya sambil memberikan kehangatan lagi.
"Aku kan jadi ga enak kalau kayak gini.May juga sudah aku anggap sebagai keponakanku juga."
"Trus nanti kalau Virgo cemburu kamu mau tanggung jawab.Juga kehidupanmu aku akan lindungi dengan baik,santai aja!"
Beberapa saat mendengar obrolan ringan menyentuh nadir terdalam dan bawah alam sadara Maya,ia sayu-sayu masih mendengar keduanya tengah bercakap dengan perdebatan ringan,walau itu membuat system safar mitoriknya pun menyambut dengan senyum hangat.
"Om,tante lagi ngomongin apa seeh?kok kayaknya seru banget!"Suara paraunya saat ia kembali sadar dalam koma menyambut bahagia kedua om dan tantenya.
"May kamu udah sadar.Tenang ya,jangan banyak gerak juga jangan banyak bicara!"Seketika Jovan pun protektive kepadanya.
"Om,emangnya aku kenapa?dan dimana ini?"Tanya May bingung.
"Kamu dirumah sakit,masih dalam perawatan."Jawab Reva sambil menyentuh tangannya.
"Memangnya kenapa aku Tante,Om?"Tanya May tengak tengok kearahnya.
"Kamu kecelakaan,kena hantaman bola basket,katanya pas kamu melintas didepan lapangan.Memangnya kamu mau kemana?sampai harus kena hantaman bola?"Tanya Jovan penasaran.
"Ooooh,,,waktu itu May penasaran sama Kak Revan dan Kak Doni.Kirain mereka mau berantem setelah bertemu tanpa sengaja dikelas May.Ternyata aku salah,karena penasarannya ya aku ikuti mereka sampai kekantin."Jawabny lugas.
"Oooo,jadi ga ada yang salah.Cuman kamu aja penasaran sama mereka berdua mau ngomong apa kan?"
Ia hanya mengangguk dan memainkan kedua jari-jarinya.
"Jadi,kamu Van jangan ada emosi ya sama yang ngelempar bola.Kan ga sengaja pas May lewat!jadi clear itu masalah cuman kebetulan."Langsung Reva mengambil keputusan untuk masalah tersebut.
"Ya okelah untuk masalah ini.Clear,aku ga bakalan ada masalah lagi.Kamu istirahat lagi ya?"Pintanya mengelus keningnya.
"Aduuuh sakit Om,,,kenapa kepalaku ini?"Jawab May seraya kesakitan.
"Astaga maaf ya.Sakit?"Tanya Jovan melepaskan belaiannya dan mengangkat kedua tangannya.
"Jovaaaan,,,,kamu tuh terlalu kasar sama perempuan!"Ujarnya sambil bergerutuk gigi Reva pertanda tengah esmosi.
Sambil menyentuh tangannya dia kembali duduk dan berkata"Maaf sayang,Om terlalu bersemangat tadi.Kamu mau apa sekarang?"Tanya lagi.
"Ohhh iya Om mana ponselku?"Sambil meringis mempertanyakan.
"Kamu lagi sakit,jangan main hanphone.Ga boleh,besok aja!"Memberinya nasehat.
"Tapi om,,,nanti Tia sama Vani gimana?"
"Emangnya kamu mau jalan-jalan habis ini?malam minggu? Kamu aja harus 2 minggu istirahat disini?"
Kaget bukan main mendengar ucapan Om Jovan,gilaaa ini namanya penjara sampe 2 minggu aku disini."Yang bener Om?aku 2 minggu disini,mau jadi apa aku oooom?"
"Jadi pasien dong May,masak ya jadi dokter seeh?ada ada aja deh kamu!"Tandas Reva geli.
Mendongak dengan senyum geli."Benet juga kamu."merunduk sambil berkata lagi.
"Udah,mereka udah tahu kamu berbaring disini.Siapa yang nganterin kamu kesini kalau ga mereka.Nanti sore mereka dateng kok untuk jenguk kamu jangan khawatir Om juga akan jagain kamu May!"
"Yaaaah,ga jadi jalan-jalan deh."Kumat ngambeknya.
"Astaga,kmu tuh pengennya jalan-jalan melulu.Sekali-kali istirahat kayak gini ga bakalan kamu kemana-mana!"
"Kecuali Tante May,nanti mau ketemuan."Sambil memberikan kabar bahagianya untuk May.
Kembali dia malah merengek ga jelaas.
"Haaaahhhhh,tante jangan keluaaaar.Disini aja temenin aku.Aku sama tante aja,ga mau sama Om Jovan."
"Haaaah,maumu.Dia kan ada acara May,ya wajar dong keluar sama kekasihnya!"Sambil berbisik padanya.
"Haaah,emangnya Om Jovan bukan kekasihnya Tante?"Balik nanya.
"Ya enggalah,Om kan juga harus banyak kerja dan bisa balikin kisah cinta Om yang pernah macet lama!."
Mikiiiir lagu sampai ga bisa bilang lagi kalau emang kekasihnya aneh."Emangnya kekasih Om Jovan mesin ATM ya?kok gitu?"Heran lagi aneh banget.
Dibarengi dengan tawa geli sembari menutup mulutnya Reva.Ia beneran geli mendengarnya.
"Bukanlah,ada deh.Nanti om kenalin sama kamu kalau waktunya belum tepat saat ini."Jelasnya lagi.
"Awas lho kalau ujung-ujungnya Tante Reva.Ga kreative neeh Om Jovan!"Sambil nunjuk-nunjuk kearahnya.
"Hahahahahahaha,kamu lucu banget deh May.Udah bikin Om Jovan mati kutu!"Tak habis fikir sampai begitunya buat omnya sendiri terdiam.
Dia hanya menghela nafas kesal,sabar-sabar menghadapi anak seperti dia.Kadang bikin emosi juga lama-lama kalay kayak gini,lalu mwndongak kearah Reva yang ga henti-hentinya ketawa geli.
"Kenapa?emangnya aku ga boleh ketawa Van?"Lanjutnya geli.
"Hahahahah,Om Jovan memang kalau udah kena skatmatt udah kayak gini.Ga tahu harus mau apa lagi."Seru May.
Ia hanya garuk-garuk kepala dan senyum-senyum itu menatap keduanya kembali hangat.Memang kalau dari pandangan May terhadap dua hal antara Jovan dan Reva adalah sesuatu kaca yang akan menyatu dalam waktu cukup lama.
Lain halnya dengan Revan dan Doni,keduanya berada dalam sikap yang berbeda untuk membicarakan masalah tadi yang akan membuat lelaki pemain basket itu tahu untuk bisa menghampiri saat langkah itu hampir menjadi curiga dan ingin mengejar mereka.
"Kak,kak Revan.Kak Doni!"Panggil Tian berlari mendekati keduanya saat langkah seketika terhenti menoleh,ada apa ya?
Keduanya saling menoleh dan melempar kode pertanyaan,Doni hanya mengangkat kedua bahunya kembali menoleh kearah Tian.
"Ada apa Tian?"Pandangan serius muncul disorot mata Revan.
"Tadi gimana keadaan May,apa dia ga pa-pa?"Penasaran sambil bersedekap menunggu jawaban keduanya.
Sambil mendongak dia menjawabnya.
"Ooooh,May.Dia tadi dibawa ke IGD dan sekarang udah berada diruang perawatan untuk penanganan lebih intensive.Kamu ga usah khawatir!"Sambil memberi senyuman serta menepuk bahunya.
"Apa ada yang parah?"Tanya Lagi.
"Menurut dokter dia harus istirahat selama 2 minggu,jadi ga bisa diganggu lebih banyak.Juga nanti kalau kamu mau jenguk bisa kok.Dateng aja!"Jawab Doni yakin.
"Dirumah sakit mana Kak?"
"Jakarta Hospital,rencana sore ini sama Tia dan Vani mau kesana.Mau ikut bareng!"Tawar Revan lagi.
"Engga kak,aku berangkat sendiri aja.Sekalian nanti minta maaf soal kejadian itu."
__ADS_1
"Ya boleh kamu minta maaf,tapi jangan buat drama ya.Ada Omnya soalnya disana.Kalau kamu ditanya sesuaikan saja sama kejadian itu jangan ditambah-tambain takutnya emosi Omnya membludak dan tahu sendiri jadinya."
"Oke Kak,makasih saya bisa jaga diri nantinya!"
Sesaat keduanya hanya melihat Sebatian tengah berharap lebih untuk mengenal kembali siapa May,apakah akan membuat dia mengetahui apakah yang terjadi adalah kesalahannya atau bukan.Tetapi langkah dia terhenti oleh kehadiran seseorang yang memang membuatnya ingin banyak bicara yaitu Tia dan Vani.
"Tia,Vani.Kalian dari mana?"
Alangkah senang dan terkejutnya mereka mendapat sapaan hangat dari lelaki yang menag jarang mengobrol dengan dia,hanya sekedar memagumi bukan lainnya.Ini apa ga mimpi kita,kita berada satu jalur khusus lurus menjurus kearahnya tanpa ada sekat,sungguh ini butuh aku banget.
"TIAAAAN!"Sapa keduanya sambil mematung ga percaya akan kedatangannya.
Dia perlahan mendekati dan bertanya sesuatu kepada mereka tentang May."Bagaiaman keadaam May,apa dia ga pa-pa atau terluka parah?"
"Ya kita ga tahu seeh Tian,,tapi nanti sore kita mau kesana untuk jenguk dia.Mau iku?"Tawar Tia semangat dan kembali ragu.
Sembari memberinya senyum,dia berucap"Engga deh,aku kesana sendiri aja.Kan kalian udah janjian sama Kak Revan dan Kak Doni.Apa ga ngerepotin." Tanya balik.
"Iya juga seeh!"Sambil nyengir-nyengir garuk rambutnya.
"Tapi beneran kan mau kesana,supaya nanti aku bilangin sama May biar dia siap-siap!"
Menampakkan wajah heran,Tia pun ga habis fikir yang siap-siap itu dia atau May,tersungging ga jelas.Ngerasa emang ada yang aneh sama Tia,Vani pun menoleh dan bertanya"Eluuu kenapa Tia?kok gitu ekpresinya."
Sebel juga kalau mendapat pertanyaan tengah berada diantara lelaki yang ia sukai,apa.akan membuat namanya Cari Muka."Engga ada ntar gua bicara lagi sama kamu ya!"Sambil geli dan risih pula.
"Ya udah,gua tunggu!"Jawabnya sok pede sambil menyentuh bahu Tia menatapnya.
"Kalau gitu,gua ganti baju dulu ya.Nanti sore kita ketemu!"Jawab Tian berlalu dari hadapan mereka.
"Ikuuut dong ganti baju!"Rengek Tia bergumam.
Langsung aja Vani menoleh dengan kecepatan tinggu kearah Tia dan bertanya."Emang kamu aja.Gua juga pengen!"
"Apa?"
"Ganti baju sama dia hehehehhe!"
"Dasar kamu ya,pengen banget jadi pesaingku.Sama Kak Doni tuh biar diajarin ngegame ma dia.Seru tahu!"Jawabnya cabut dari Vani.
Kembali mikir"Kalau Tia sama Tian,trus aku sama Kak Doni,lha terus May sama Kak Revan dong.Aneh bangeeeeet!"Sambil cabut dan berlari mengejar Tia yang udah hilang duluan.
Masih dalam tahap yang relevan dalam diri seorang Revan untuk kembali membuat kerja sama menyelesaikan hal baiknya untuk lebih mantap lagi bersama Doni.Karena sudah dari awal disaksikan oleh trio sahabat kece bahwa keduanya punya ide untuk membuat permainan yang akan menaklukkan Tian.Kantin dan tengah tengah berada dalam pilihan meja kursi yang cukup rame,gini deh kalau meeting class semua pada nyemlung dikantin,ga ada satu tempat yang sesuai kecuali harus ditempat duduk deket parkiran.
Haduuuh mau jadi apa akhirnya kalau kayak gini.
"Don,kita ga dapat tempat neeh.Mau makan dimana?"
Menoleh sambil megang perutnya."Iya neeeh tega banget mereka makan sambil ngobrol lamaaa bener.Masak ya kita ga dikasih tempat."
"Bentar gua yang bicara sama mereka."Siap-siap dengan suara lantangnya.
"Emang loe berani sama mereka semua!"Tanya Doni berbisik.
"Gua coba!"Jawab Revan bersiap untuk menampakkan suara merdunya.
"Gua tutup telinga dulu ya.Takut pecah gendang telinga gua!"Ijin menutupnya.
Menoleh dengan wajah terkejut"Apaaa?emangnya gua mau keluarin suara keras gua.Enggalah,mana mungkin juga gendang telinga loe yang pecah,yang kali yang pecah tuh gendang perut loe belum dapat makan dari pagi."
"ya mungkin aja.Kan elo orangnya nekatan gitu!"Jawabnya lugas.
"Yaa kalau gua nekat mana bisa kayak gitu Don!"
Malahan apa yang akan dibuat oleh Revan sama sekali belum terlaksana malahan keduanya saling berdebat sampai-sampai mereka pun ikutan nonton seru kalau senoir macam mereka berdua tengah adu debat sungguh sedap dipandang bagi para perempuan dan aneh juga buat anak laki-laki.
"Ya terserah,nekat-nekatnya kamu?kok aku yang repot!"
Tiba-tiba salah satu anak sekolahan yang nongkrong dikantin mengangkat tangannya sambil memanggil mereka berdua.
"Bang,,,elu dari tadi ngeribetin apa seeh?kok ga duduk-duduk!"
"Apaaan?ga terima!"Serang Revan.
"Yaaaah ngegas.Tuh ada meja kursi kosong tuh,udah pada takut sama pesonamu bang!"Tunjuknya dengam tawa gelinya.
"Masak?"Tanya Doni penasaran.
"Tuuuuuh!"Tunjukya sambil kearah samping mereka.
Langsung aja menoleh dengan lega dan heran,siapa yang pergi dari tadi tanpa permisi kalau kayak gitu mah ga usah sampai debat kayak gini dan bikin enek lagi.
"Makasih ya!"Sambil mebgangkat tangan kearah lelaki tersebut.
"Sama-sama bang.Jangan debat lagi ya!"Pintanya polos.
keduanya pun duduk dan mulai memesan makanan dan minuman seperti biasa,karena belum makan akhirnya mie ayam dua porsi dan dan dua porso bakso selingan keduanya saling berbagi juga minuman segar piliha mereka es teh manis.Semuanya yang nngeliat ampun dah bisa sampai segitunya ya debat bentar aja sampai ngabisin dua porsi gitu.
"Bang,dirumah ga dimasakain sama nyokap ya.Gileee banyak bener!"Salah satu cewek angkat bicara.
"Neeeh akibat kita tadi nolongin May.Tahu kan dia kena hantaman bola dari Tian."
"HAAAAAAH,YANG BENER BANG.DIMANA SEKARANG DIA!"Responsif banget kalau ada anak yang tengah terkena musibah dan bergegas mengerumuni mereka yang tengah makan.
"Astaga gua makan dulu ya.Jangan diganggu,ntar kalau udah habis baru gua kasih tahu Oke!"Pinta Doni sambil masih ngabisin mienya.
Langsung bubar deh,balik kekursi masing-masing dan menunggu dengan rasa jengkel.Gini kalau senior dua kalau bikin acara selalu rahasi dan misteri bikin kepo akhirnya.Lahap juga mereka kalau makan kayak ga pernah makan,tapi seketika datang perempuan yang sudah mempunyai pesona tersendiri sebagai perempuan dengan karakter kalem tetapi memang menarik juga rambutnya sebahu serta memiliki senyum menawan semampai dengan body goalnya.
"Tumben kalian akur,aku kira ga bisa bersatu seperti yang mereka bayangkan!"Suara itu mengejutkan keduanya saat menyantap makanan mereka.Mendongak dan tak menyangka ternyata Alea siska perempuan penyendiri dan berada dalam sorot mata yang teduh sehingga Revan dan Doni tak menyangka dia perduli dengan dirinya.
"Alea?tumben kamu kesini!"Tanya Revan dengan wajah aneh.
"Biasanya kamu ga disini,ga punya kerjaan ya!"
Benar saja Alea merupakan seorang pengawas majalah dinding sekolah dan selalu menjadi juri karya ilmiah yang bisa dikategorikan senior pula bersanding dengan Revan mantan pemain basket dan Doni mantan pemain basket pula dan beralih menanjadi gamer's.Rasanya seru juga kalau kegiatan sekolahnya berkurang dan bisa jalan-jalan melihat kelakuan mereka dengan lucu dan pengen gabung jadinya.
"Huuuuh,,pekerjaanku udah aku gantung.Aku lagi santai dan meeting class ini membuatku jadi lebih relax.Kalian apa ga kangen maen basket lagi?"Sambil menatap keduanya dengan serius.
"Basket,,,,nanti dulu kita makan isi tenaga dan fikiran.Semoga saja ada ide selanjutnya buat kami untuk eksis lagi."
"Kayaknya enak banget kalian makan?emang habis ngapain?bangun sekolah engga.Dikejar rantip juga engga!"Heran melihat mereka lahap sekali makannya.
"Kita habis bantuin May,bawa kerumah sakit!"Jawab Doni santai.
BRUUUUUK,suara tangan Alea menghentakkan tanganny dimeja membuat bergetar dan mereka terkejut bukan maen.Hampir aja keselek.
"Lhoooo,emang kenapa dia?"Sambil mukul meja.
"Al,,,,diem napa?jangan gangguin kita-kita lagi makan.Pleace!"Bentak Revan ga terima.
"Hehehehehe,,,,maaaf banget.Kelepasan!"Sambil malu-malu memerah padam.
Lalu ia menompangkan tangan menyadarkan pipinya sambil memainkan jarinya menunggu keduanya lahap sampai habis.Tapi tidak dengan Doni yang masih perhatian dengannya sambil bertanya.
"Loe ga makan juga?"
"Dieeeet,,,!"
"Langsing engga,tinggal tulang belulang lho.kalau elu kebanyakan diet.Males gua lihatnya!"Serang Revan.
__ADS_1
"Iiiiiih,,,bodo amattt,,,badan-badan gueee!"Sinis langsung mendapatkan pukulan telak dari Revan.
"Hahahahaha,emang Revan tuh suka sama cewek yang agak-agak berisi ga kurus kerempeng kayak kamu Al,,,ya seeh pesonamu luar biasa,tapi ga menarik buat dia."Sambil nunjuk kearah Revan.
"Emangnya dia suka model kayak gimana?"
"Ya kalau ga ada halangan seeh suka sama Maya.Sesuailah dengan kriteriaku!"Jawabnya yakin.
"Heemmn,,,,emang udah dapat restu dari gue.Nanya dulu dong kalau mau deketin cewek model May!"Kembali membuat Revan kesedak dan respek juga Doni buat mukul-mukul punggung Revan.
"Uhuk,,,uhukkkk,,,uhukkkk.Gilaaa lho Al.Hampir mampus aku!"
"Udaaah,,,sabar-sabar Van.Gini deh kalau mau orang tua.Ngomongnya suka kelewatan!"
"Ga permisi lagi lewatnya!"Lanjut Revan.
"Hehehehehe"Menoleh dan memanggil abangnya buat pesen minum."Bang pesen minumannya ya,yanng seger!"
"Apaan non!"
Revan pun menyahut"Kasih es campur aja bang.Ntar kalau kurang gua campurin ama omelanku mantap tuh!"
"Revaaan,,,males deh kalau gitu."Menumpahkan kekesalan.
"Siappp mas.Ditunggu!"Jawab abangnya sambil membuat pesanan dari Alea.
"Kalian ada rencana buat jenguk May?"Merunduk sambil menompangkan kedua tangannya.
"Ya adalah,,,ntar sore mau ikut?"Tanya Revan yakin.
"Ama siapa aja?"
"Ya sama sobatnya dua cewek tuh Tia sama Vani"Jawabnya Doni.
"Waduuuuh rame dong.Emang boleh diruang perawatan bawa pasukan banyak gitu?"Sambil mikir kedua kalinya.
"Ya kalau kamu ikut kan kita bisa gantian masuk ruangan,ga sekaligus.Gilaaa ntar dia amnesia lihat kamu gimana!"
"Waduuuuh ngaco kalian deh!"Ga terima dengan tuduhan dari temannya tersebut sambil.es campur yang telah dipesan diantar oleh abangnya.
"Ini non,es campurnya sudah jadi.Selamat menikmati!"
Mendongak sembari senyum hangat pada abang penjualnya"Makasih bang."Matanya bersinar ketika akan menyantap minuman segar dan mantap seperti ini.
"Hemmm,enak kali kalau gratisan ya!"Sambil nyendok es campur.
"Apa loe bilang?gratis!"Tanya Doni kaget.
Ia hanya mengangguk dan kembali menikmati es campurnya.
"Enak aja loe,,,belum gua omelin baru tahu rasa."
"Yeeee,ini aja rasanya enak lho!"Jawabnya sambil pamer rasa.
Tanpa aba-aba sendoknya Doni langsung menancap dan mencoba mencicipinya."Heeemmmm enak kok!"Mengarah ke Revan.
Matanya melotot dan sekejab menoleh kearah tersangka yang telah membuat rasa es campur berubah aneh."Doniiiii,kan aneh rasanya.masak escampur rasa mie ayam seeh!"Gerutunya emosi.
"Kan enak,variasi makanan campur yang seger-seger jadinya MANTAAAAP,hahahahaha!"Ujaranya girang.
"Ga mau ah.Ntar kecantol kamu lagi,,,ngimpiin kamu lagi."Ngambek deh akhirnya Alea.
"Udaaah deh ga usah manja sama Doni.Sikat aja Don!"Jawab Revan ketawa lepas.
"Ga bawa sikat besi gue!"Tambah Doni menyeruput es teh.
"Trus kemana tuh Tia sama Vani ga ada kelihatan batang hidungnya?"Inget juga sama duo sahabatnya May.
"Ga tahu ya,kemana mereka.Nyantol dimana Van mereka?"
Sambil menggeleng-gelengkan kepala juga angkat tangan."Mana gua tahu.Sorry gua bukan bokapnya!"
Lagi malahan Alea yang kesedak habis tersengat kalimat lelucon aneh dari Revan.
"Uhuk,,,uhuk,,,uhukkkkk,,,REVAAAN.DIAM NAPA?"
"Hehehehehe gantian dia yang keselek.Ada hal menarik yang bisa gua tarik dari perselisihan kalian dari tadi!"Jawabnya Doni memberikan kesimpulan dari masalah mereka.Seru dan bisa bikin ketawa.
"Kalian tuh ya,kalau bikin onar paling deh juara satu.Bikin geleng-geleng kepala aja.Pusing mikirnya kalau kayak gini!"Sambil menyentuh keningnya,beberapa kali dia memijat dengan rasa yang berbeda.
"Tumben kita dapat predikat seperti itu,dari biangnya juri karya ilmiah lho.Ga nyangka deh kalau kayak gitu,yaa ga Van!"
"Gua mah biasa aja.Emang kita tuh harus bisa membuat eksistensi kita itu diingat,apalagi satu tahun lagi kita akan bubaran jadi ga ada yang harus kita banggakan selain,,,,,,"Memberikan isyarat bahwa idenya akan mereka bagi lagi.
"Ngalahin Tian lagi,,,,,ahahahahahay!"
Keduanya bangga dan tak bisa dibayangkan kalau kedua master bola basket itu saling beradu aksi dilapangan dengan semarak dan mempesona.
"Haaaah,kalian tuh ya.Udah senior ga mau kalah lagi sama yang baru.Ngalah napa?inget kalian tuh cocoknya jadi pelatih.Udah gitu pada berubah haluan lagi kalian."Kembali cerewet.
"Tapi kami ga bakalan berubah arah selagi masih disini Al,kamu tahu waktu aku jadi kapten basket betapa kamu mengidolakan aku?"Mencoba mengingatkan.
"Idiiiih,udah lama.Juga udah males ngidolain kamu.Kamu kan sekarang makin dewasa dan kamu juga Doni,sayap kanan aja udah bagus!"
Sambil mengangkat bahunya seraya bergaya sebagai seorang pembicara ulung"Lho itu kan sudah biasa dilakukan sama gua.Menjadi hebat juga menjadi rivalnya dan kita hampir selalu seri kadang yaaa gua akuin dia memang hebat seeh!"
"Tuuuuh kan Doni aja udah bilang ngitu.Ngakuin kalau aku hebat,setidaknya aku masih punya talenta bagus lho untuk menjadi,,,,"
Sambung Alea masih ga terima.
"PELATIH,,,UDAH JANGAN SONGONG GITU."
"Kalian tuh,harusnya ngasih contoh yang baik sama junior-junior kalian.Apa kalian masih ingin diingat sebagai pemain yang selalu sukses meraih gelar?"Tanya Alea mengingatkan.
Mereka berdua pun berfikir lagi,neeh Alea membuat pikiram kita masih eksis apa udah tiada.Langsung aja dia melancarkan pertanyaan penasaran.
"Gua nanya ama lu ya?kita berdua neeh dianggap masih ada atau udah dead.Elu kira kita pahlawan,kita belum tewas Aaaaaallll!"Doni tancap gas.
"Dan eluuu kan juga mantan cheerleadernya kenapa juga elu udah pensiun coba?"Tambah Revan kesal.
"Ya karena aku inget umur akan membuat kita semakin dewasa dan berfikir lebih matang untuk mengatur hal yang lebih penting.Neeh seperti gua,jadi juri karya ilmiah kan untuk membuat sensasi baru dan membuat pemikiran junior semakin berkembang nantinya,ga sekedar teriak-teriak dengan gaya yang bikin kram akhirnya.Ya ada waktu buat kita untuk menjadi berilmu dalam sikap kita.Kalian udah bagus ga dipake tapi punya pesona seorang musikus dan game's.Itu nilai bagus buat anak muda selanjutnya untuk maju.Inget itu!"Panjang lebar dan membuat tamparan khusus untuk kedua senior paling mempesona dimasanya itu.
"Tapi kita masih pengen tampil lagi Al,,,pleace.Ayolah berikan kami kepercayaan lagi untuk yaaaa sekedar bermain aktif dan bisa menunjukkan skill kita kalau masih bisa dan masih bagus gitu!"Lanjut Revan.
Males juga akhirnya setelah perdebatan yang hakiki dengan mereka.Tanpa ada yang mengalah satu sam dua lainnya,ada hal lain yang akan dibuat ide buat Revan dan Doni.Alea memang cerdas dalam membuat sensasi.
"Nanti aku kasih bahan bagus buat kalian.Nanti siapin diri ya oke!"Pinta Alea cabut dengan santai.
Menoleh kearah abang penjual es campur"Bang,,,mereka berdua ya yang bayar.Makasih!"
"Siap non!"Jawabnya sambil mengacungkan jempol.
"Yaaaah kok kita yang banyar Al?"Tanya Doni semakin ga percaya.
Ia berlalu sambil membalikkan badan serta melambaikan tangam dan tak lupa ciuman jarak jauhnya pada kedua sahabat tersebut.
"Yaaaah,,,,apes deh.Udah diceramahin kena bayar pinalti lagi."Sembari geleng-geleng kepala.
Menoleh pula kearah Doni,Revan pun berucap"Kenapa tadi kita ketemu sama oramg macam dia ya?"
__ADS_1
"Iya sok-sok an jadi senoir dewasa,padahal kita kan lebih dewasa,lebih sporty lagi.Mikirnya dia kalau udah jadi emak-emak dan bersikap aneh baru deh kapok,hahahaahaha!"
"Bener juga tuh!"Sambil menampol bahu Revan.