Antara Dua Hal

Antara Dua Hal
Bab.6 Malam ini jalan kaki atau?


__ADS_3

Lega juga setelah clossing berakhir dengan damai ga aada lagi perseteruan,juga sandwich buatan Gladis memang juara bahkan ada ide buat Romero untuk menjadikan menu baru buatannya untuk dipatenkan dikedai kopi miliknya.Setelah lama menunggu kedua sahabat itu berbagi kerjaan dan turun mendekati Reyhan serta Gladis yang sudah capek banget dalam sandaran berbalik antara keduanya menjadi tawa tersendiri buat Andrea yang melihatnya.


"Tuh lihat makin aneh aja mereka ya!"Tunjuk Andrea dengan senyum-senyum sendiri.


Konser mini banget mereka lakukan untuk mengisi kekosongan yang perlahan dengan nyanyian khas lagu romantis pun saling berdendang ria.


"Makin akrab aja mereka ya?beneran kakak adik atau ada affair nantinya!"Seru Romero dengan berbisik padanya.


"Mana gua tahu,ya kita lihat nantinlah!"Sambil mendongak kearah Romero.


Mengangguk pasti dan itu membuat keduanya segera menghampiri dua couple kece tengah menikmati malam ini dengan nyanyian yang lebih nyaring tapi tetep aja hanya mereka yang bisa menghayati dan menghasilkan nada berantakan tapi bagus.


"Masih betah disini?"Tanya Andrea sambil menompangkan kedua tangannya dipinggangnya.


Mendongak bareng,lalu saling ketawa lepas dan yakin ini adalah teguran karena akrabnya mereka berdua.


"Hehehehe,ya pulanglah kak.Masak ya disini nginep!"Jawab Gladis slengekan.


"Yakin elu mau pulang.Ga sama gua aja!"Tandas Reyhan.


Langsung aja tangan Andrea menjewer telinga Reyhan dengan kencang,


"Aaaaoooooo,sakit sayang!"Teriak Reyhan kesakitan.


Hari bahagia juga buat Gladis dan Romero telah melihat drama lucu yang memang membuatnya semakin ngakak dan bahagia sesaat.Memang setelah ketidak hadiran Romero atas undangan mantannya Hanastasya menjadi polemik dirinya saat berada dimeja bundar dengan pakaian anggun serta mempesona.


Sampai hati dia tidak datang atas permintaanku,kenapa denganmu Rome.Apakah kamu masih sakit hati denganku?kamu tahu sebenarnya apa yang dilakukan oleh Johan hanya untuk menyelamatkanku saja,bukan memiliki ku seutuhnya.Ia beranjak berdiri ditemani seorang pria yang dipastikan adalah asistannya yang selalu menemaninya disaat kepergian itu terjadi.


"Nona,sepertinya Tuan Romero tidak datang.Sebaiknya anda saya antar pulang ya.Sudah malam dan sepertinya anda butuh istirahat!"Pintanya sembari berpesan.


"Iya,rasanya dia tidak ingin datang.Tapi sudahlah mungkin lain kali aku akan menemuinya."Menoleh memberinya senyum manis padanya.


Beranjak berdiri,sang asistan pun mempersilahkan dan mengantarnya kemobil pribadinya dengan menemaninya sampai didepan mobil.


"Apa anda yakin mau pulang sendiri?"Tanya sang Asistan dengan membuka pintu mobilnya.


Ia mengangguk dengan senyum,masih banyak waktu malam ini untuk bertemu dengan Romero.Apa aku masih ingat dimana rumahnya,semoga saja dia tidak pindah rumah.


Menutup pintu berjalan agak mundur serta memberikan jalan kepada Nona Hanastasya untuk pulang kerumah.


Sebenarnya tidak ada yang tahu bagaimana kisah kehidupan seorang Wanita yang telah berkhianat hanya untuk sebuah kebaikan.Ia mencoba menutupi semua permasalahan itu sangat rapat bahkan ia tak perduli dengan apa anggapan yang sudah membuatnya tercoreng.Hanya karena sebuah keinginan terakhir untuk Johan adalah menemaninya sampai akhir hanyatnya.


"Rome,Aku harap kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi.Aku tidak ingin membuatmu kembali membenciku dengan alasan apapun.Aku sangat bingung dan sebuah pertimbangan tanpamu seakan membuatju hancur.Aku tahu seberapa sakit hatinya dirimu dalam mendapatkan sebuah kenyataan yang tak bisa kamu terima sampai saat ini!"


Didepan kedai SEANTERO KITA COFFEE,Mereka telah kekuar dengan senyum yang berbeda-beda. Walau sempat mendapat hadiah special dari kekasihnya,tetapi itu masih perkara mudah untuk masih menjalin kedekatan antara Reyhan dan Gladis.Siapa suruh dapetin karyawan yang menarik,ya gua suka-suka aja.Walau ada singa nuklir merah gua ga perduli tuh masih bisa deket sama dia.


"Sayaaaang,masih belum puas jackpotnya?"Sindir Andrea dengan beberapa hal yang ia berikan.


"Ya ga pa-palah.Referensi itu pasti lho ada dibenaknya Reyhan,bener ga Rey!"Saling tos dan disambut dengan tawa senangnya.


"Ya iyalah Mblo,siapa seeh yang ga suka kalau ada referensi yang memikat gini!"Jawabnya dengan tambahan tawa lepasnya.


"Heeemmm,,,terserahal deh.Yang penting kan kita pulang bareng!ayo."Sambil mengulurkan tangan untuk menggandengnya menuju parkiran.


"Iyalah,pulang ma siapa kalau ga sama gua!"Jawabnya sok imyut.


Gladis pun tertawa lepas lagi setelah drama itu berakhir dengan ceria.Masih banyak sebenarnya cerita drama yang belum keluar seriesnya sehingga membuat sang perempuan kembali untuk penasaran.


"Kamu pulang sama siapa? mau jalan kaki lagi!"


Tiba-tiba ancaman itu datang lagi.


Sambil garuk-garuk kepala ia bingung juga sama apa yang ditanyakan oleh Romero.


"Ya maunya seeh jalan kaki kak.Tapi ada kakak,mau deh dianter!"Jawabnya sok manja.


"Heeeemmm,,,sama gua aja.Seru kok!"Timpal Reyhan masih ga terima.


"Haaaah,mau bonceng bertiga.Kan kasihan Gladis ntar gepeng kayak gini gimana?"Tanya Andrea sambil mempraktekkan gayanya.


"Ya ga sampe segitunya kali!"


"Udaaah,ayo pulang.Besok.ngantor lho!"Tarik Andrea berpesan.


Menoleh juga berpamitan kepada Dua hal yang berbeda ini"Kita-kita pulang dulu ya,byeeee!"Sambil melambaikan tangan.


"Byeeee kakk,hati-hati dijalan."


"Iya makasih sayang!"Jawab Reyhan geli.


"Kok sayang seeh,kan gua doang sayangmu.Gimana seeh!"Rengek Andrea masih ga terima.


"Udaaah,nga usah berantem.Nginep diparkiran lho ntar!"Sambung Romero menyatukan kedua tangannya.


Saling berpandangan,ada senyum bahagia buat Gladis untuk Romero yang tengah menanti untuk pulang bareng.Walau masih canggung untuk memeluk siapa dia,tapi mau gimana lagi sikap manja Gladis masih membuat kewajaran buat Romero yang menganggapnya sebagai adik yang lucu.Tapi entah gimana tanggapan hati seorang perempuan tersebut.


"Memang harus ya deket dan meluknya erat?"Tanya Romero dengan canda manisnya.


"Dingiiiiiiiin kak.Meluk kakak serasa kakak sendiri tahu hehehe!"Jawabnya yakin.

__ADS_1


"Emangnya kamu anak tunggal ya?"Tanya Romero menoleh kebelakang.


"Iya kak,jadi aku ga pernah namanya punya kakak,apalagi adik.Kan aku sendirian!"Jawabnya pasti.


"Boleh ga gua jadi kakak kamu seutuhnya!"


"Ya sebenarnya seeh ga mau,maunya yang lain heheheheheh!"Jawab Gladis ngawur.


"Mau yang lain,gimana maksudnya?"Heran bisa aja kekuar kalimat yang aneh dari dia.


"Jadi Kakak terbaikku,itu aja seeh!"Jawabnya menenggelamkan kepalanya dibahu Romero.


Huuuuh,kirain mau jadi pacarku.Padahal gua berharap Tasya masih mengingatku.Entah kenapa dia berusaha menjadi yang terbaik buat hidupku dan waktu itu dia berubah dengan sekejab lalu datang membuatku bimbang untuk menjadikan hatiku ini kembali padamu dengan tanpa paksaan lagi.Gua tahu ini berat buat semuanya tapi itu adalah pilihan hidup yang menyenangkan.


"Beneran jadi kakak aja?"Pertanyaan itu membuatnya jadi bingung dan salah tingkah.


"Haaaah,,,gimana yaaaa!"Tawanya pun lepas dan sepertinya bingung menjawabnya.


"Ya udah gua kasih waktu deh,oke!"Tiba-tiba Romero memberikan sebuah pilihan.


Heran ini becanda apa beneran serius ya,kok sama sekali aku ga tahu maksudnya yang jelas seperti apa.Setelah sampai punn masih terlihat pula ada pandangan aneh yang menyentuh kedua mata Gladis sampai ia seakan berada dalam nuansa romantis.


"Kakak,kenapa kok gitu mandangin Gladis?"Tatap nya saat perlahan mendekati pintu gerbangnya.


"Engga,kamu tuh memang ya.Gemesiiiin!"Sambil nyubit dan goyang-goyangin hidungnya dengan tawa lepasnya.


Sambil protes dan melepaskan cubitannya,ia ga terima kalau mendapatkan hadiah kecil yang menyakitkan."Kaaak,jangan gitu dong.Kan sakit!"


"Hahahahah,ya udah masuk.Udah malam lho!"Suruhnya masuk kedalam.


"Ga mampir?"Tawar Gladis merunduk serta menompangkan tangannya dipinggulnya.


"Ga lah,Udah malem bahaya.Ntar kena sp lagi sama orang tuamu!"


Tertawa geli dan menutupi mulutnya seakan lucu banget mendapatkan kelucuan itu.


Mengernyitkan kening dan heran,kenapa bisa ketawa seriang itu,"Kan bener nanti orang tuamu ngasih SP kan bahaya!"


"Siapa yang ngasih SP kak,orang aku tinggal sendiri.Weeeek!"Menjulurkan lidahnya.


Melotot kaget dan ga percaya,kalau dia bisa tinggal sendirian dirumah yang terkesan mewah dan minimalis itu."Haaaah,yakin elu tinggal sendiri disini?"


Kembali menahan tawanya dan mengangguk yakin.


"Gilaaa.Harusnya elu tuh butuh pengawasan,juga baru lulus.Kan bahaya!"


"Ya enggalah,tapi kamu harus hati-hati oke.Kakak ga mau lho kamu sendirian trus terjadi apa-apa?kamu punya kan no.nya kakak?"Kembali khawator sambil menyentuh kedua pundaknya.


"Ya belum kak,kan kakak ga ngasih aku no telponnya."Kata Gladis santai.


Lalu Romero mengambil ponselnya disaku,dimana ya.Sepertinya nyelip deh,ga ada dimana ya.Lagi mencoba mengingatnya sampai ia senyum kepadanya kalau ponsel miliknya berada ditas selempangnya.


"Nyari apa kak?kok susah banget ketemunya."Bingung juga sama apa yang dilihatnya.


"Udah ketemu!"Jawabnya sambil memberikan ponsel kepada Gladis."Neeh kamu catat aja no.nya kamu.Biar kakak bisa mengawasimu dari jauh!"Memberikan ponselnya untuk segera mencatat nomornya.


"Ini kak,udah.Jangan lupa untuk ngabarin ya,namaku udah aku cantumin lho.Cantik lagi namanya!"


Melihat dengan heran,tiba-tiba tawa lepas Romero kembali muncul saat itu juga,sampai membuatnya menahan tawanya.


"Kaaaak,kenapa pake acara ketawa seeh?ada yang lucu?"Tanya Gladis bingung lagi.


"Engga-engga.Lucu aja."Sambil memasukkan ponselnya kedalam tasnya kembali.


"Awas aja kalau ketawanya sampai dijalan ngakak sendiri,Ba-Ha-ya!"Ujarnya berpesan.


"Iyaaaa adik imnyuuut!"Sambil mendekap kepalanya.


"Aduuuuh,jangan gitu dong kak!"Tarik Gladis memindahkan kearah pipinya.


"Naaah,kalau gini kan enak!"Senyum-senyum geli.


"Bisa kamu ya, nyari kesempatan yang bagus!"


"Ya gimana lagi,kan kakak tahu sendiri siapa aku?"


"Udah malem,masuk sana.Ntar kelamaan sampai pagi lagi ngobrol didepan sini!"Perintahnya.


"Iya-ya aku masuk,byeee kak!hati-hati lho jangan ngebut oke!"Sambil melambaikan tangan serta membulatkan kedua jarinya.


"Byeee!"Sambil berjalan menuju motor memakai helem serta melaju kencang menuju rumahnya.


Sampai juga Reyhan mengantarkan Andrea didepan pintu rumahnya.Ia turun dan melepaskan helmnya lalu memberikan kepada Reyhan dan berucap kalimat.


"Kamu ga nginep aja?udah malam lho!"


"Ngapain nginep kalau entar gua juga pulang ganti baju."Memberikan senyum serta mendekap pipinya.


"Terserah deh,yang penting besok ingat untuk kerja ya."Timpalnya memberinya senyum hangat.

__ADS_1


"Terus gimana soal Romero sama Mantanya itu?kamu yakin masih menentangnya.Dia kan punya kehidupan yang berbeda dengan kita.Pemikirannya pun beda lho!"Mencoba mempertanyakan masalah itu.


"Ga tahu deh,aku juga bingung.Kalau dia masih sama dia ya terserah tapi aku masih belum ikhlas kalau kembali lagi sama mantannya.Sangat picik itu fikirannya!"Melupakan emosinya,perlahan menghela nafas panjang.


Kembali mendekap kedua pundaknya lalu berkata"Udah malam,kita tidak usah berfikir macam-macam soal Romero ya.Kamu libur atau masih kerja?"Tanya Reyhan menatapnya.


Tersenyum sambil menjawabnya.


"Ya masih lah,yang penting kamu ga udah berfikir macam-macam.Banyak proses yang harus kita jalani dengan penuh misteri.Jadi ga mau nginep?"Tanya lagi.


"Ga usah deh,kamu masuk istirahat dan selamat malam!"Sambil mendekap dagunya.


Perpisahan malam ini menjadi hal biasa serta melambaikan tangan untuk kekasih terbaiknya.Perlahan meninggalkan sebuah jejak malam dalam satu masa yang berbeda.Andrea berbalik dan masuk kedalam dengan berat,masih berfikir lagi soal kehadiran surat itu.Kenapa bisa datang disaat hatinya Romero tengah baik-baik saja dan aku selalu dibuat emosi oleh sikapnya.


Malam menjadi sebuah kejutan tak terkira antara Romero dan mantannya.Entah apa yang membuatnya nekad datang kerumahnya dan menunggu dengan wajah sayu-sayu penuh harapan didalam mobilnya.Mengamati beberap sudut rumahnya masih terlihat gelap dan beberapa saja hidup membuktikan tidak ada satu orangpun didalam.


"Aku harus bertemu denganmu lagi Rome,kamu belum tahu sebenarnya apa yang terjadi denganku selama ini.Apapun itu aku ingin menjelaskan sesuatu yang sangat penting kepadamu."


Harapan itu perlahan datang ketika ia merebahkan kepalanya dengan bayangan tentang kebaikan dan kebahagiaan selama ini bersama kekasihnya,suara motor yang dipastikan adalah Romero datang hingga membuatnya tersenyum memandangnya.Dia sudah pulang,aku harus segera menemuinya.


Keluar dari dalam mobil,ia bergegas menghampiri dengan senyum menyapa Romero.


"Romero!"Panggilnya senang,perlahan mendekati serta menghentikan motornya.


Dia menoleh,heran siapa malam-malam dengan gaun cantik dan anggun mendekatinya.Masih bingung,apa benar dia itu Tasya atau bukan.Wajah serius saat turun dari motor serta memandangnya ada perasaan yang tak biasa dalam pandangan keduanya ini.


"Kamu?"


Tersenyum menjawabnya"Iya Rome,aku Hanastasya,mantan kekasihmu."Menyentuh tangannya.


Menoleh kembali heran,dia datang dengan sebuah mobil mewah.Apa dia sudah menjadi nyonya pemilik hotel tersebut?apa mungkin iya!


"Kamu datang sendiri?"Tegasnya serius.


"Iya Rome,aku butuh kamu selama ini.Dan kali ini aku bisa bertemu denganmu."Melepaskan dekapan tangan dan kembali memarahinya.


"Kenapa kamu mengabaikan permintaanku untuk datang tadi.Aku sudah lama menunggumu sampai aku harus datang kesini sendirian hanya ingin mengatakan satu hal!"


Melihat suasana malam serta keadaam sekitar,sangat membuatnya tidak nyaman bila harus berada terlalu lama saling berbagi cerita dan obrolan dipinggiran pintu gerbang Romero.Mau tidak mau,dia harus mengajaknya untuk masuk kedalam.


"Sepertinya kita harus bicara didalam,gua ga ingin ada masalah lagi!"Ajaknya masuk kedalam,ketika Romero menarik tangan Tasya untuk masuk kedalam.Ada senyum bahagia yang tengah ia dapatkan walau hanya sedikit.


Berhenti didepan pintu,ia mengeluarkan kunci serta membuka pintu dan mempersilahkan Tasya untuk masuk dan menutupmya kembali.Ada rasa hangat saat berada dalam rumah milik mantan kekasihnya.


"Aku buatkan minum ya!"Kembali berjalan kedapur,tapi kembali dihentikan oleh Tasya.


"Jangan biar aku yang membuatkan minuman untukmu,bolehkan?"Kembali membuat suasana kembali hangat.


Sembari mengangguk dan berat juga,tapi keinginannya adalah miliknya.Mau gimana lagi,


"Yaaah,silahkan!"Jawabnya memberikan ruang untuk Tasya.


Langkah Tasya dengan gaun malam terbelah punggungnya sungguh seksi,membuatnya tersenyum melihatnya.Apa dia masih bisa menggodaku dengan gaya seperti itu.Melangkah mendekati saat ia mencari minuman hangat yang biasanya diminum olehnya sewaktu tengah bersama.Bersandar dimeja set,dia bersedekap menatapnya dengan beberapa kalimat introgasi.


"Memangnya tidak ada yang melarang saat kamu keluar malam-malam seperti ini?"Pertanyaan itu membuatnya sedikit tawa lepasnya pun muncul.


"Tidak ada,mangkanya aku bisa kemana saja tanpa ada yang melarang!"Jawabnya membalas tersenyum sambil melihat reaksinya Romero terlihat heran dan belum percaya.


"Maksud kamu?Johan tidak melarangmu kemanapun kamu pergi!"Mengernyitkan kening.


"Jangan membahas dia disaat kita tengah berdua ya!"Pintanya melirik kearahnya.


"Yaaa okey,kalau itu yang kamu minta.Kenapa engga?kamu buatin aku apa!"Pertanyaan itu menyentuh bibirnya.


"Minuman yang bisa membuat kamu senang malam ini!"Berbalik serta memberikan kepada Romero.


"Heeem,benarkah itu?"Menghirup aroma hangat hot chocholate,perlahan ia teguk dengan memandang nakal seorang wanita dihadapannya.


"Kenapa?enak!"Tanya Tasya penuh menggoda.


"Kamu mau?"Tanya lagi.


"Kenapa tidak?"Mengambil hot chocholate lalu meneguknya."Enakkan?"


"Lalu kenapa kamu datang kerumahku sendirian?"Masih ingin memberikan sebuah pertanyaan,tak lama belaian tangannya menyentuh pipinya hingga sang wanita tersenyum mendongak dan menatapnya.


"Kenapa? kamu kangen moment seperti ini?"Tanya Tasya sembari menaruh minumannya dimeja.


Serasa malam ini adalah malam paling ditunggu oleh Romero.Sebuah hubungan intens dan semakin membuatnya nyaman dalam satu ruang tanpa satupun mengganggunya.Mungkin tak bisa lagi diungkapkan hanya senyuman mendekati beberapa centi lapisan oksigen hidup merek hingga mendekati pada sebuah ciuman yang telah lama mereka hambarkan disetiap rasa kangen itu.Entah rasa benci itu seakan hilang dan perasaan semakin ingin memiliki pun dapat dirasakan oleh keduanya dalam kenikmatan memahami setiap naluri yang hadir dalam pelukan hangat tanpa ingin melepaskan sejenak.


"Ternyata kamu masih mencintaiku Rome,kamu tidak pernah melupakan aku!"Dekapannya pun seakan ingin berada dalam dekatannya.


"Yaaa,walaupun dulu kamu membuatku kecewa tapi entah,ketika melihatmu seakan luntur dan sirna semua kebencianku kepadamu!"Mengecup keningnya.


"Untuk apa kamu datang kesini?apa kamu sudah melupakan kekasihmu!"Tanya Romero dengan penuh teka-teki.


"Tidak!dia sangat membutuhkan bantuanmu,mangkanya aku datang kesini untuk bercerita tentang hidupnya saat ini."


Mengernyitkan kening dan perlahan melepaskan pelukannya,mengangkat dagunya.Sepertinya Dia tidak perduli hal tersebut dimalam ini,Romero butuh kehangatan seorang mantan kekasihnya untuk kembali dalam ciuman bahkan cinta yang begitu dalam.

__ADS_1


__ADS_2