
Keduanya cukup akrab diperpust dengan canda dan beberapa filosofi sang pemain cinta yaitu Dennis,semua seakan hanya sebuah latar kosong yang dipenuhi oleh cinta saja tanpa hadirnya seseorang diantara mereka.Entah banyak hal yang selalu diobrolkan oleh keduanya sampai melupakan satu orang tercinta.
Bersama saling membahasa satu sama lainnya,juga memberikan senyuman bahkan tatapan teduh seorang Thalia pada Dennis.Sungguh lelaki macam apa ini selalu membuatku untuk betah menjadi penikmat sejatimu.
"Jadi kamu sebelum pindah kelas sering berantem sama Yosha itu?tadi aku sempet ketemu seeh sama dia,hehehehe!"
"Dia ngomong apa sama kamu!"
"Stttttt jangan deket-deket sama Dennis,dia sudah ada yang punya lho.Gitu bener ga?"Kembali mempertanyakan.
Sembari menahan tawa,dia tak menyangka Yosha bisa seresek gitu."Apa?dia bilang gitu sama kamu?"
Ia membalas dengan senyuman serta anggukan yang memang lucu saat harus diutarakan.
"Iya Dennis,tadi Yosah bilang gitu?lucu aja,kayaknya dia ga rela kalau aku tuh deket sama kamu.Emang kita kan sekedar teman ya.Ga lebih!"
"Ya emang kita temenan,mau gimana lagi.Mana bisa aku tidak berteman dengan setiap anak-anak disini.Kamu tahu kan statusku apa!mangkanya aku sama Yosha itu bisa jadi sahabat yang gila,dan kamu kamu tahu sejak aku pisah sama Yosha dia jadi punya temen baru!"
"Temen baru,siapa?"Kembali mempertanyankan.
"Emma sang leadies majalah dinding dan interprenuer yang selalu membuat hati kita kemana-mana!"
"Hebat juga ya mereka,aku pengen banget deh jadi bagian kalian.Menjadi pusat perhatian dan tentunya mereka akan mengingat kita sebagai orang berarti disekolah."Bersemangat juga Thalia.
"Kalau masalah passion kamu dimana,nanti kamu bisa ngobrol sama Yosha dan Emma.Mungkin mereka akan melakukan interview mungkin atau apa.Yang jelas seeh kita bisa saling mengenal dan bisa menjalankan tugas kita masing-masing itu akan menyenangkan buat Emma."
"Ya bolehlah.Tapi ingat ntar sore jangan lupa aku jemput ya.Kita jalan-jalan supaya ada cemistry,masak ya gitu-gitu aja.Kalau perlu aku juga pengen kenal Cinta,nantinya bisa membuat dia ga curiga terus-terusan gitu!"Lanjut Thalia yakin.
"Kamu yakin mau kenal sama Cinta,dibalik Cinta masih ada Tia dan Anna atau sama Alessa dan Karmen mereka juga punya sensasi yang luar biasa.Kadang aku bisa mengajak dia tapi Yosha selalu saja menolak.Bahkan dia pertanyakan siapa yang membuat keputusan untuk membuat mereka punya yaaa skill yang ancur,hehhehehe!"
"Berada dalam lingkaran mereka,pastinya aku akan merubah sikap Alessa dan Karmen.Aku tahu mereka selalu saja merasa tersaingi.Setidaknya itu seeh yang aku liat selama ini!"Sambil menompangkan tangan.
"Ya memang begitu mereka berdua,selalu membuat buat masalah.Kayak gini neeh dari 100% jajakan yang mereka buat.Prestasi yaaa ga naik ke angka 50% malaha turun dan seakan mereka tuh sombong karena punya potensi tapi sangat disayangkan,diancurin sendiri sama dia."
"Berarti harus ada pembinaan dong,kasihan banget.Trus Cinta gimana?dia punya potensi apa dimara Yosha dan Emma?"Tanya balik.
"Sikap yang baik,tidak mudah emosi dan jarang terekpos padahal berpotensi.Apalagi dimusik,dia tuh paling suka biola.Tapi ya namanya kalau udah bosan bisa dilupakan sama dia."
"Ya ampun sayang banget lho,maen biola.Itu bisa membuatnya menjadi ladies yang hebat.Aku harus buat dia kembali main biola.Harus itu,gimana engga.Pesonanya,auranya bintang banget dia!"
"Kalau kamu minat,ajak aja.Supaya dia kembali membuat seisi sekolahan jatuh cinta sama dia.Dan Alessa kembali kebaran jenggotnya,hahhahaha!"
Tawa mereka sangat lucu bahkan telah menjadikan Thalia menggelengkan kepala.Ada makna yang tersimpan diantara seorang mentor sejati.
"Ohhh,ya bisa minta no telponnya Cinta.Biar aku ketemu sama dia!"Kembali mengingatnya.
"Ada,bentar ya!"Mengeluarkan ponsel dan memberikan no ponsel Cinta kepada Thalia.
Sekejab ia mencatat dan menyimpannya.
"Ini bisa jadi potensi lho kalau kayak gitu.Trus siapa tadi dua orang temannya?"
"Tia sama Anna?"Lanjutnya.
"Iya mereka punya potensi apa?"
"Ga jelas deh kalau mereka tuh.Palingan kalau lihat pemain basket yang ganteng-ganteng udah jadi maniak yang ga karuan gilanya!"
"Aduh kok bisa gitu ya,heheheheh!"
"Ya memang gaya mereka seperti itu mau gimana coba?"Jelasnya sambil menatap Thalia.
"Jadi bisa saling sharing neeh.Pasti akan aku buat dia kembali main biola."Siap-siap untuk menghubungi.
"Kamu mau menghubungi dia?"Tanya Dennis kaget.
"Iya,kenapa ga?ketemu sama dia pasti seru juga."Jawabnya mencoba kembali konsetrasi.
Tak lama obrolan mereka sedikit terganggu oleh Cinta yang menikmati acara bersama mereka.Mendapatkan traktiran juga saling berbagi cerita.
"Emang bener kan?kalian tuh harus bisa punya potensi kece buat hal yang lebih natural!"Lanjut Emma.
"Tapi susah kak,kan kita udah punya kelebihan masing-masing.Mau gimana coba?"Lanjut Anna lemes.
"Tingkatin,kayak tuh gedung paling atas!"Lanjut Yosha menunjuk kearah gedung sekolah.
Sontak pada mendogak keatas,seakan tersihir oleh ajakan Yosha untuk melihat hal yang lebih berpotensial.Tetapi ponsel milik Cinta pun tengah berbunyi sampai mengejutkan dia sendiri dan mengangkatnya.
"Nomor siapa ya ini?"Sambil garuk-garuk kepala ga ngerti sama sekali.
"Telpon undian kali,kali-kali kamu menang!"Lanjut Anna yakin.
Sambil menepuk tangannya,Yosha seakan menginginkan sebuah komisi.
"Waaah komisi neeh jangan lupain kita-kita ya!"Semangat banget sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali.
"Iya kalau bener!"Jawabnya lalu mengangkat,nadanya pun halus bagaikan ingin mendapatkan sebuah pekerjaan.
"Haloo,selamat pagi dengan siapa ya?"
"Cinta kekasihnya Dennis ya?"Kembali pertanyaan itu muncul tiba-tiba.
"Iya,ini siapa?kok tahu kalau aku kekasihnya kak Dennis!"Mengernyitkan kening,mata mereka semua menjurus kearah Cinta dan saling melempar kode pada penasaran.
"Siapa?"Bisik Tia pelan.
Ia hanya menggelengkan kepala,yaaaa ga tahu deh siapa lagi yang menelpon dia.
"Tanya lagi!"Anna kembali memberi komando.
"Maaf siapa ya?"Kembali bertanya lagi.
__ADS_1
"Ini kak Thalia,belum familiar kan sama kamu?"Kembali membalikkan kalimat.
"Iya,mana tahu."Langsung dia menutup speaker telpon lalu bertanya sama Yosha dan Emma,kali-kali tahu.
"Kak,siapa itu kak Thalia?"Seperti ingin menyergap nama itu.
Mata kedua senior itu langsung melotot bak mau copot aja kaget mendengar nama tersebut.
"Haaah Thalia?"Saling berpandangan mengarah lagi kepada Cinta.
"Kenapa kak,ada yang bisa dibantu ya?"Lagi mempertanyakan kembali.
"Ini katanya Dennis kamu bisa maen biola ya.Kakak jadi pengen kenal kamu trus sharing tentang alat musik itu.Kan kakak juga suka sama biola gitu."
Mikir keras,lalu kode-kode yang membuat ia bingung pun mengarah langsung kepadanya.
"Trus gimana?"Lanjut Cinta.
"Ya kapan-kapan kita ketemu.Tapi ga sekarang ya maaf kakak lagi sibuk.Gimana nanti deh kakak atur skedulenya supaya kita bisa ketemu dan pastinya akan lebih seru kalau ketemu ditempat lain,kamu setuju ga?"
"Boleh juga,kakak kabarin aja ya.Atau sama kak Dennis juga boleh.Jadi saling sharing gitu."
"Baiklah,makasih ya mau ngobrol bentar sama kakak.Nanti kakak kabarin lagi kapan kita ketemu dan saling sharing lagi.Oke makasih!"Sambil menutup ponselnya.
"Iya kak sama-sama!"Jawab Cinta menutup ponselnya.
Langsung deh kayak artis dicercai banyak pertanyaan tentang banyak hal.padahal ya gitu aja jawabannya.
"Cinta tadi siapa?"Tanya Anna masih ga percaya.
"Kamu ngobrolin apa?"Emma penasaran juga.
"Apa kamu mau?"Lanjut Tia.
"Dimana dia sekarang?"Yosha ga mau kalah untuk ikutan meramaikan.
Matanya pun tengak-tengok bingung juga menjawabnya.Lalu dia mengambil jalan tengahnya.
"Kak,kak thalia tuh siapa seeh?kok bisa kenal sama kak Dennis?"Pertanyaan itu membuat Yosha kikuk,apalagi Emma.
"Naaah mereka tuh yang tahu,seluk beluk anak-anal disini.Siapa seeh kak,pake acara nelpon Cinta segala deh."Tanya Anna bingung.
"Iya,sok kenal."Lanjut Tia.
Akhirnya setelah tatapan mata saling memberikan jawaban,lalu keduanya pun berkata.
"Thalian itu,salah satu siswi yang cukup ga familiar buat kita sejak dua tahun ini.Tapi dia mencuat karena dia itu anak salah satu pemilik yayasan sekolah.Gitu!"Jawab Emma berat.
"Whaaaaat,beneran itu kak?"Ketiganya kompak paduan suara.
"Iya kita juga baru tahu beberapa tahun kemudian,karena selama dua tahun itu dia sama sekali tidak memperkenalkan sebagai anak orang penting disekolahan.Cuman sejak ada pertemuan yang sempat melibatkan kita berdua,juga Dennis.Akhirnya terkuak deh!"Lanjut Yosha.
Menoleh kearah Cinta dengan kalimat luar biasa.
"Iya trus anaknya yang punya yayasan.Gimana dong lanjut ga?"Anna pun mengompori.
"Emangnya ada ya yang mengatur masalah itu?"Tanya Cinta sok diplomatis.
"Keren jawaban lu.Gua suka,tapi ya biasanya seeh ya Dennis tuh paling gampang deket sama cewek.Apalagi model Thalia.Waspada ya!"Yosha memberikan lampu merah.
"Waduuuh,bahaya tuh.Tapi kamu juga jangan bersikap yang aneh-aneh dulu ya.Inget kan cuman deket doang ga meresmikan,elu sama sama Dennis deket aja Alessa ma Karmen macem-macem.Tapi kalau sama Thalia mana berani mereka,kalah level!"Emma memberikan petuah khas.
"Trus gimana dong kak.Ntar kak Dennis jatuh kepelukan kak Thalia gimana?"
"Dari pada jatuh Cinta!kan lebih bagus!"Jawab Emma meyakini.
"Iya betul juga seeh kak.Tapi kan!"
"Mulai mikir kan lu,ga usah.Kalau Cinta ga kemana!"Lanjut Yosha menenangkan.
"Ya gimana mau kemana.Cinta ada disini!"Sentil Anna kesel.
Sambil nahan tawanya,lucu juga sampe ga sadar pula."Ooooh iya,lupa gua.Ada Cinta disini!"Sambil tertawa geli.
Tiba-tiba bel berbunyi menandakan semua murid masuk kembali kedalam kelas.Mau ga mau ya masuk,dan bentar lagi menuju pada mata pelajaran terakhir dan siap-siap untuk pulang.Seperti halnya Dennis dan Thalia,sekejab mereka pun beranjak berdiri meninggalkan ruang perpustakaan dan berjalan bareng menuju kelas.
Memang ya mata Cinta ga bisa lepas dari pandangan tak sengaja dan mengarah pada keakraban dua anak manusia tengah melihat sosok yang dia cintai tengah bercanda seru sama-sama.
"Lho,kak Dennis sama siapa tuh ya!"Tunjuknya sebelum berpisah dengan seniornya.
"Mampus loe,kena mental kita!"Bisik Emma kearah Yosha.
"Perang dingin apa perang saudara ini ntar!"Lanjut Yosha.
"Mana gua tahu."
Tiba-tiba Cinta menoleh dan bertanya"Itu siapa kak?"
"Mana seeh?"Pura-pura ga tahu dan mencari-cari keberadaannya.
"Itu,pleace deh.Jangan sok kabur-kabur matanya!"Sebel juga,kayaknya Yosha tengah menyembunyikan sesuatu deh.
"Udah nanti aja ya.Kita masuk dulu."Tarik Emma dari peredaran.
"Kaaaak,kasih tahu dong!"Pintany lantang.
Keduanya menoleh dan menjawabnya.
"Ntaaar ya!oke!"Sambil mengacungkan jempolnya.
Kembali dua angel pun mulai mendekati korban.Yang dipastikan adalah Tia dan Anna untuk segera bisa membuat keputusan untuk sahabatnya.
__ADS_1
"Sekarang tahu kan,siapa yang berkuasa!"Tia menatap mereka tengah masuk kedalam ruang kelas.
"Setidaknya kita bisa melihat seberapa dekatnya kak Dennis sama dia Cin,Kamu tuh sabar dulu ya!"Sambil menepuk pundak Cinta.
"Trus kita masuk gitu?"Sambil tengak-tengok kearah mereka berdua.
"Ya iyalah,masak kita kabur.Yuuuk!"Ajaknya merangkul masuk kedalam.
Menoleh dan memanggil penuh trenyuh tak menyangka bisa melihat dia seperti itu.
"Kaaaakkk!"Panggilnya pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Udaaah.Ga usah sedih,kan belum tentu!"Lanjut Tia kembali sok jadi malaikat.
"Iyaaaa!"Jawabnya seakan ga ikhlas melihat kedekatan itu.
Seperti yang diprediksi oleh Tia dan Anna,pasti dia ga konsent kalau lagi nerima ilmu dari gurunya.Antara mencoba kuat atau ga,jadinya ya ngelamun.Sampai beberapa kali dibuat sadar sama Anna yang berada disampingnya,beberapa kali nabok bahunya.
"Heeeh,inget siapa yang ngajar.Ntar kena kasus lho.Bentar lagi juga pulang."Bisiknya menyadarkan Cinta.
"Iya aku ga nyangka bisa melihat kenyataan yang sebenarnya!"Sambil menatap tajam pelajaran itu tapi ga nyambung.
"Apaan seeh?orang kamu ga jelas gitu.Ntar kalau pulang baru kita temuin deh kak Dennis,setuju ga?"
"Iya deh!"Jawabnya sambil pasrah gitu aja.
Lama juga pelajarannya,rasanya kayak berada dalam beberapa tahun lagi menunggu keluarnya sebuah berita terkini dalam hidupnya.Ya benar memang cukup lama juga buat Yosha sampai ia gelisah antara benar atau engga.Dia berfikir untuk menjelaskan seperti apa kalau Cinta bener nanya dan jawabnya gimana ya.
Ga disangka lamunan khas Yosha dapat ditebak oleh Emma yang hanya bisa menabok bahunya,sampai dia kesakitan.
BUUUUKKKKZZZZ.
"Aduuuuhhhh,ngapain seeh lu nabok-nabok gua.Untung kagak teriak gua!"Bisiknya kesal.
"Kan gua tahu gaya elu kalau kesakitan saat ada guru.Jadi kan bisa slowdown,emang kenapa seeh sok ngelamun segala.Sok jadi pejabat aja lu!"Tanbah Emma heran.
"Ya karena tadi gua kepikiran sama Cinta,dia aja ditelpon sama Thalia.Kan berarti itu dia lagi sama Dennis,mikir ga seeh lu?"
Meringis geli lalu menjawabnya.
"Ya ga sampae kesitu kok pikiran gua.Kan gua ga kritis-kritis amat kayak elu!"
"Nanti pokoknya pas pulang,kita ga usah deketin Cinta Cs dulu ya.Kita yaaa deketin Thalia deh."
"Iiiiih ogah,emang mau lu pengen deket sama dia.Mending gua ngejauh aja,buat apa coba ngurusin urusannya junior yang ga ada bobotnya."
Lama-lama keduanya menjadi perhatian guru yang tengah mengajar,seakan tahu sejak obrolan kedua dan sepertinya seru untuk dibagi.
"Yosha,Emma.Kalian ngobrolin apa seeh?kok seru banget dari tadi!"Tegurnya sambil berdiri didepan papan tulis
"Hehehehehehe,maaf pak.Tuh Emma kurang kerjaan,dari tadi ngomong aja.Ga dijawab susah dijawab tambah banyak kayak gini!"
"Indah banget elu ya.Jatuhin gua!"Bisiknya sambil ngepal tangan.
"Ya deh,ntar dilanjut.Konsentrasi dulu okey!"Memberinya senyuman untuk mereka.
"Iyaaa pak!"Jawab keduanya kesel,pada buang muka lagi.
Sang guru pun hanya senyum-senyum liat kelakuan mereka yang sepertinya aneh kalau ga diulik lagi kisah kesibukan mereka.Setelah beberapa menit akhirnya pengunjung waktu telah usai dan bel berbunyi.Sorak anak-anak didalam kelas menandakan segera pulang.
Yosha pun membuat kesepatakan yang memanga berbanding terbalik untuk mengurusi keduanya antara Dennis dan Thalia.Huuuh kenapa lagi sama ide sok detektif ala-ala menyebalkan ini.
"Untung sudah selesai pelajarannnyan,huuuaaaaahhhh."Sambil merentangkan tangan sampai kewajah Emma.
"Heeeeh,jangan panjang-panjang tangannya.Kena muka gua neeeh!"
Tiba-tiba Yosha merangkul dan mendekap Emma.
"Huaaaah lega guaaa!"
"Wooooiiii,lepasin aaah.Malu dilihat sama yang lain."Bentaknya mencoba melepaskannya.
"Mangkannya,kita lancarin aja misi terbaik kita.Kamu sama Dennis gua sama Thalia.Kan ada tiket gratis nanti gua kasih ama elu."
Menampakkan wajah curiga kepadanya.
"Tiket gratis?kemana!"
"Mau lu kemana?kita nonton atau kesalon?"Tawarnya memberikan tantangan.
Tiiiiiing,fikiran Emma kembali terbayanf dua hal yang lebih bermakna sama tiket yang diberikan oleh Yosha.Antara nonton film atau kesalon.Huuuuuh seruuu banget.
"Kalau gua top up semua gimana?"Tawar Emma semangat.
"Ya elu mau aja makan malam sama gua?"Mengangkat kedua alisnya menandakan kemerdekaan ada digengamannya.
"Haaaaah,makan malam?dipinggir jalan!"Tanya Emma lagi.
"Ya iyalah elu mau makan ditengah jalan,tris ditrabrak sama kakaknya truk,mau lu?"melotot kearahnya.
"Hehhehehehe,ya engga juga seeh!"
"Mangkanya ayo buruan cari target,elu ngecoh Dennis.Gua culik tuh Thalia."Meringis geli.
"Ga elu apa-apain kan?"Udah berfikir negatif duluan.
"Ngapain nyulik anaknya ketua yayasan.Trus gua apa-apain.Ya kena kasus besar gua."Sambil tengak-tengok cuman mereka berdua yang tersisa dikelas.
"Lhoooo,udah pada bubar mereka."Beranjak berdiri serta kebingungan.
"Ngapain lu?"Kaget banget liat kelakuannya sok bingung gitu.
__ADS_1
"Ya nyari mereka berdua sayangku,ayo!"Masih aja bisa pegang-pegang pipinya.
Tangan Emma memang respek berat dalam masalah sok romantis banget.Ada aja kegilaan yang dibuat oleh Yosha dan harus diikuti oelh Emma karena sebuah tiket yang menjajikan.Huuuuh,kemana enaknya nonton atau salon trus makan malam.Indahnya hidupku didekat Yosha,ada aja yang memberikan reward disaat hati tengah galau heheheh.