Antara Dua Hal

Antara Dua Hal
Part 4 Panik dan Rasa itu jadi satu


__ADS_3

Pandangan galau dan ingin cepat sampai dirumah sakit adalah pilihan dari Jovan.Dia sangat khawatir dan ga bisa berbuat apa-apa selain harus menemani keponakannya tersayangnya.Seperti rasa khawatir pula dirasakan oleh Reva saat melihat kepanikan dalam wajah Bosnya.Tak bisa dikatakan lagi olehnya untuk bertanya tentang hati dan fikirannya saat ini.Tapi kalau aku diam saja sama saja dong aku bagaikan bayangan tanpa makna buat mas Jovan.Coba deh aku tanyain semoga saja dia ga panik sepanik seperti yang dia pancarkan saat ini.


"Mas,,,,gimana perasaannya saat ini?"


Menoleh mencoba menampakkan wajah santainya dengan senyumpun ia berikan.


"Gimana perasaannya ya pasti lagi khawatir Va.Dia itu ponakan titipan yang berharga sekali dari sahabatku sendiri.Apapun itu harus bisa aku jaga!"


"Jadi aku harap jangan terlalu panik mas,nanti jadi fikirannya negatif berakibat sama kesehatan mas Jovan kan?"Sambil menatap serta mengernyitkan kening.


Sambil mengangguk pasti,dia menyadari hal tersebut kembali ia menjawab dengan senyum hangatnya.


"Iya pasti,semoga tidak terjadi apa-apa sama May.Padahal aku udah mau mengajaknya keluar malahan kayak gini!"Jawabnya yakin.


"Udah ga usah sedih lagi,semoga May ga oarah lukanya dan bisa pulang kerumah ya!"Harapan seorang Reva terhadap Jovan.


Menoleh dengan balasan senyum untuk menenangkan dirinya juga.


"Makasih ya atas dukungannya!"Jawab Jovan tanpa sengaja memegang tangan Reva.


Matanya seketika melebar dan tak percaya ada tangan tengah bertumbuh dipunggung tangannya,aku ga bisa noleh kalau kayak gini.Sentuhannya hangat apa karena dia sangat khawatir terhadap keponakannya ya?apa aku terlalu berharap sama dia.Semoga saja dia ga punya perasaan kepadaku nantinya.


Diruang IGD rasa was-was dan khawatir tengah dirasakan oleh Revan dan Doni.Apa yang tengah dijalani oleh May didalam ya.Lama juga ga keluar-keluar ini dokternya.Berhubung sudah mereka yang menunggu kedatangan keluarga dari May.Terpaksa ketua UKS harus kembali kesekolah dan menitipkan apapun itu yang terbaik untuk May.


"Revan,Doni.Saya titip May ya.Kalian jaga dia sampai keluarganya datang.Bapak ga bisa lama-lama disini dan harus mengurusi yang lain!"


"Baik pak,kami akan jaga May sampai keluarganya datang."Jawab Revan pun menjawab dengan tanggung jawabnya.


"Iya pak saya akan jaga May pak!"Lanjut Doni menimpali.


"Oke terima kasih,bapak pergi dulu!"Sambil menepuk pundak Revan,pergi meninggalkan keduanya yang dipenuhi rasa waspada apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tak lama kemudian Jovan turun dari mobil miliknya ditemani sama Reva bergegas mencari keberadaan salah satu orang yang mengabari soal May yang mengalami kecelakan disekolah.Sorot matanya memang tidak sedang baik untuk dipertanyakan sebelum dia mendapatkan kebenaran yang hakiki soal kesehatan keponakannya.


Menuju ke reception Rumah sakit,segera dia bertanya tentang keperluannya.


"Selamat siang sus!"Sapanya khawatir.


"Selamat siang pak,ada yang bisa dibantu?"


"Saya mau mencari pasien yang bernama Maya Alexander yang tadi sempat dirawat disini!"


"Ooooo,pasien atas nama Maya Alexander masih ruang IGD pak,silahkan lurus sampai ujung trus belok kanan sebelah sana pak ruang IGDnya."Jawabnya ramah.


"Terima kasih ya!"Jawabnya sambil berlalu diikuti oleh Reva yang masih belum bisa mencari waktu tepat untuk membuatnya menjawab pertanyaan yang akan dia ungkapkan lagi.


Melangkah penuh harapan tentang keadaan May yang belum diketahui olehnya.Saat dia menoleh Kearah Reva dengan wajah aneh sama sekali dia tidak bertanya sama sekali dan itulah menjadi pertanyaannya.


"Kamu ga Pa-pa kan Va?"Tanya balik heran.


"Engga pa-pa,emangnya kenapa mas?"Jawabnya bingung.


"Tumben kamu ga cerewet kalau lagi panik sama aku?biasanya kan udah bikin aku bingung jawabnya sekarang malahan diem gitu!"


Bingung juga kalau dijelaskan,tapi kali ini dia ingin lebih diam dan membuat hati Jovan menjadi lebih tenang"Kan aku tahu keadaan mas Jovan saat ini.Jadi gimana pun saya harus bisa jaga bicara dan sikap,apalagi ini masalah pribadi keluarga mas Jovan."


Dia terhenti,memberi senyuman serta mendekap serta mengusuk rambutnya."Makasih ya,tumben kamu ngerti sekarang keadaanku.Ayo kita jalan."Kembali merangkulnya berjalan menuju ruang IGD.


Astaga mas Jovan gini amat ya sama aku,jangaaan-jaangan baper ya hatiku ini.Aku ga mau dia menjadi alasan aku berpaling dari Virgo,susah payah aku dekat dan menjalani hubungan special sama dia malahan ada yang mendekatiku dengan perlakuan hangat seperti ini.


Akhirnya ruang IGD pun semakin dekat dan hadirnya dua orang lelaki berseragam tengah menanti sebuah kabar membuatnya yakin untuk menghampiri serta bertanya kepada mereka berdua.


"Apa kalian teman-teman May?"Sapa Jovan dengan wajah bingung.


"Om orang tuanya May ya?"Jawab Revan sekejab mengarah ke Jovan.


"Iya,aku Omnya.Gimana keadaan May apa sudah ada kabar dari dalam?"Kembali memastikan.


"Kita tunggu dulu ya,sepertinya dokter tengah menangani May.Soalnya tadi tidak sengaja dia lewat dilorong kelas dan ada bola melesat kencang mengenai dia."


"Siapa yang melempar bola itu?ga mungkin kalau bola itu melesat dengan sendirinya!"


"Itu ketidak sengajaan,om.Sekolah tengah ngadain basket maskot.Jadi ramai team tengah bermain dengan baik dan tidak menyadari semuanya bisa terjadi seperti ini!"Jawab Revan yakin.


"Jadi ga ada unsur kesengajaan ya?"Tanya Reva dengan halus.


"Ga ada mba.Semua terjadi karena kecelakaan."Jawab Doni yakin.


"Oke kalau masalah kecelakaan bisa aku terima.Tapi kalau kondisi May ga bisa ditentukan,,,saya akan cari orangnya!"Jawabnya serasa bergetar bibir Jovan ketika harus membuat keputusan seperti ini.


Sembari mengelus bahu Jovan,,Reva mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Sabar Jovan,,,kita juga belum tahu keadaan selanjutnya May.Kita pastiin semuanya baik-baik saja oke!"


Cukup lama juga setelah semua berada dalam kebimbangan dan kekhawatiran apalagi kedatangan dua sahabatnya yang makin bikin suasana semakin heboh dan tak bisa dikatakan lagi selain harus membuat ketenangan itu ada diantara mereka.


"Kaaak,gimana keadaan May!"Tiba-tiba suara itu nimbrung tepat dihadapan mereka.


"Apa dia baik-baik aja?"Tambah Vani masih bingung.


Langsung dengan nada menenangkan Reva mencoba membuat suasana kembali tenang.


"Tenang ya,kalian ga usah khawatir kita semua pasti juga khawatir dalam keadaan seperti ini.Jadi jangan banyak panik.Banyak berdoa untuk May ya!"Sambil memberikan senyuman pada mereka.


"Iya kak,kami akan tenang!"Jawab Tia yakin.


"Jadi kalian akan tunggu May sampai perawatannya selesai atau ada yang balik kesekolah?"Tanya Jovan kembali.


"Kami akan disini kok Om,ga pa-pa nungguin sampai May selesai keluar dari ruangan memastikan baik-baik saja."Jawab Revan yakin.


Sambil menepuk pundak Revan,senyum dan ucapan terima kepada teman-teman juga yang ikut menunggu kejelasan dari sang dokter.


"Terima kasih semuanya,kita tunggu bagimana kelanjutannya."Jawabnya mulai tenang dan mencoba menunggu waktu tepat untuk menunggu kabar selanjutnya.


Setelah lama sekitar 30 menit perjalanan mereka menunggu,tak lama kemudian seorang dokter keluar serta menutup pintunya.Suara itu mengejutkan Semuanya yang menoleh atas kedatangannya,beliau berdiri dengan menatap senyum kepada mereka yang beranjak berdiri dan menunggu kepastian dari sang dokter.


"Dok,,,bagimana keadaan May keponakan saya!"


"Iya dok gimana keadaannya,apakah baik-baik saj?"Tia nyelonong khawatir pula.


"Tenang,May terkena bola memang cukup keras mengakibatkan dia mengalami gegar otak ringan.Dan ga perlu dikhawatirkan,dia kuat kok!"


"Tapi sekarang dia gimana dok?"Tanya Reva penasaran.


"Dia butuh istirahat dulu,nanti kita pindahkan keruangan perawatan,dan dimohon untuk tidak banyak yang menjenguk untuk memastikan stabil kesehatannya ya."Sang dokter pun berpesan.


"Baik dok!"Jawab Jovan.


Tak lama kemudian May keluar dengan pengawalan dua suster dan infus yang menempel ditangannya,Kepalanya pun diperban untuk memperbaiki sirkulasi udara serta membuatnya kembali nyaman.Mereka hanya bisa menatap dan melihat Jovan ikut mengantarnya keruangan perawatan.Reva pun menoleh dan berpesan kepada mereka untuk tetap tenang bahkan bila dibutuhkan mereka bisa stand by menunggu kabar selanjutnya dari Jovan.


"Kalian mau disini dulu atau kembali sekolah?nanti saya yang akan kabarin setiap waktu tentang kesehatan May ya!"


"Tapi Tante,kita disini juga ga pa-pa kok.Juga May sahabat kita kan?"Jawab Vani menatapi semua temannya.


"Kalian ga repot nungguin dia disini?"Tanya lagi.


"Ga pa-pa tante kita bisa kok ijin sama wali kelas kami untuk jaga May."Jawab Revan.


"Ya udah,,,kita keruang tunggu aja sekarang supaya Jovan ga khawatir saat dia keruangan dokter ya."Ajaknya melangkah menuju ruang perawatan VIP.

__ADS_1


Rencana yang dibuat oleh Revan dan Doni tengah dalam penangguhan akibat kejadian yang menimpa May,sembari berjalan mereka pun berkata.


"Rencana kita,kita tunda dulu ya.Kasihan May lagi tergeletak diruangan perawatan!"Kata Revan pasti.


"Iya neeh,,,ya mau gimana lagi.Kita harus batalin dulu atau susun rencana selanjutnya buat bikin games lawan Tian!"


Reva pun penasaran dengan pembicaraan keduanya sembari menoleh dan bertanya.


"Memangnya kalian punya rencana apa?"


"Kita ada rencana buat bikin Sebastian teman junior kita tahu kalau kita juga pernah menguasai lapangan basket.Ya supaya dia tahu aja dan ga songong gitu."Jawabnya.


Tanpa disadari Vani dan Tia pun menyahut obrolan mereka."Trus kakak yang keluar itu mau kemana?"


"Kekantin butuh energy buat mikirin event game yang mau kami buat Van!"


"Oooooo,,,yang kalian sok-sok an mau berantem satu sama lain trus buat acara pergi dari kelas kami itu!"


"Iya,emang kenapa!"


Sambil memainkan jarinya Tia bersepekulasi lagi.


"Sepertinya itu deh yang membuat May khawatir dan ingin tahu apa yang akan kakak berdua lakukan jadi May ngikutin kakak kesana!"


"Yang bener!"sahut Reva kaget.


"Iya kita kan tadi lagi dehidrasi ga bisa ikutan ngejar.Ya jadinya kami pemulihan dulu dikelas."Tia menjelaskan dengan lugas.


"Waduuuh,,,berarti ada kaitannya sama kalian.Tapi sudahlah,jangan bilang keadaannya gitu ya sama Jovan.Kalian berdua dalam maaslah lho kalau cerita seperti itu.Tapi kalau aku jelaskan dengan baik sama Jovan,kalian juga ga terlibat cuman kebetulan rasa penasaran May itu besar terhadap kalian!"Kembali bijak menyikapi persoalan mereka.


Diruangan dokter,jovan pun mendapat beberapa nasehat yang diberikan oleh dokter dimana tengah menganai May dan beliau tahu betul siapa May.


"Saya harap anda bisa memberikan banyak pengertian nantinya buat May.Soalnya dia butuh waktu cukup lama untuk istirahat karena gegar otak ringan juga ga bisa disepelekan mas Jovan.Itu kalau tidak dengan istrahat sekitar dua minggu lebih akan berakibat sakit yang berkepanjangan pada May."


"Iya dok,saya akan usahakan untuk tidak membuatnya semakin panik dan yakin.kaalu kesembuhannya adalah hal utama.Kasihan juga dia kalaua lama-lama dirumah sakit,bisa bosen dia."


"Iya,May dari dulu dia paling aktif kan dimanapun dia berada.Kadang saja waktu sakit pun masih ada Pak Rendra dia kabur-kaburan dari Rumah sakit.Sampai kita kuwalahan untuk mengurusinya.Mungkin ada sahabat atau temannya yang gantian menjaganya supaya dia tenang gitu!"


"Oke dok saya pastikan ada yang menjaga secara bergilir supaya May ga bosan dan sendirian diruang itu."


"Baiklah,itu saja.Nanti kan ada suster yang menangani,saya juga sering untuk mengawasi May.Terima kasih ya."


"Terima kasih dok atas penangananya.Saya akan jaga May dengan baik supaya cepat sembuh dan bisa kembali aktif seperti biasa!"Sambil mengulurkan tangan.


Mengangguk pasti dan Jovan pun beranjak berdiri meninggalkan ruangan kerja dokter spesialis.Keluar dari ruangan dia pun bergegas untuk menjenguk keponakannya,sampai didepan pintu dia masih melihat mereka tengah mengobrol ringan dan segera dia menghampiri.


"Haiiii,makasih ya.Kalian sudah menyempatkan untuk membawa May ke Rumah sakit.Saya sangat berterima kasih sekali pada kalian!"Ucapkan penuh harapan.


"Ga pa-pa Om,kita kan sahabatnya May jadi sudah sepantasnya untuk menjaga dia!"Jawab Revan yakin dengan senyumannya.


"Oooh,,,ya kalian berdua siapa?"Kembali mempertanyakan kepada Revan dan Doni.


"Saya Revan Mahardika om,seniornya May dulu kapten basket sekolah."


"Keren juga.Hampir sama namanya sama kamu Va!"Tersungging senyum hangat kearah Reva.


"Hehehehe,,,keren juga kamu.Trus kamu?"Tanya Reva kearah Doni.


"Doni Wiryawan.Sama seeh sama Kayak Revan tapi sekarang beralih jadi gamer's.Makanya saya lagi cari lawan buat mendapatkan maskot dari saya,hehehehe!"


"Kalian unik juga,kalau kalian berdua?"


"Tia sama Vani, Om tante."


"Besok kan kalian libur,,,jadi bisa kan minta tolong untuk temenin May.Selagi kalian ga ada acara gimana?"


"Heemmm,,,kalau ka Revan apapun buat May siap-siap aja!"Celetuk Tia geli.


"Kan ada perasaan yang tertinggal diantara keduanya tanpa ada yang tersisa."Canda Vani melanjutkan ceritanl keduanya.


Tersungging juga mendengar ucapan keduanya,Doni pun santai aja sambil senyum-senyum kearah Reva.


"Kenapa?"Seketika sorot tajam kearah Doni.


"Tante cantik banget,boleh kenalan kan?"Sambil mengulurkan tangan.


"Kak Doni,tante Reva itu punya Om Jovan lho,berani ya!"Sentak Vani ga habis fikir.


"Engga,,,ambil aja.Dia masih kosong kok!"Canda Jovan ketawa lepas.


Kesal juga kali ini jadi bahan candaan,tapi gimana lagi.Berada dalam komunitas baru membuat ia yakin untuk bisa eksis selanjutnya.Ada hasil.yang memuaskan saat bisa dekat dengan mereka,walau hanay sebentar pada akhirnya mereka harus kembali kesekolah untuk urusan yang lebih baik.


"Tapi kayaknya kita harus balik deh Om,tante kesekolah.Nanti kita dicari-cari lagi sama guru kita!"Revan pun berujar.


"Iya juga ya,kalau lama-lama disini kan ga enak jadinya,hehehehehe!"Tambah Vani.


"Ya udah om kita balik ya,mungkin nanti sore deh kita kesini dan nemenin May."Jawab Tia.


"Terserah kalian,yang penting ga ganggu aktifitas kalian lho ya.Om ga mau kalau kalian harus menunda atau membatalkan hanya untuk jagain May!"Kata Jawab Om Jovan berharap.


Mereka pun segera pamitan dan kembali kesekolah,senyum hangat dan rengkuhan kembali diberikan kepada Reva hingga ia kembali ga bisa berkata-kata lagi.Keduanya pun melambaikan tangan untuk keempat teman special May yang beranjak pergi dari pandangannya.


"Mereka baik-baik ya.Udah bantuin May sampai rumah sakit sampai May dirawat dengan baik pula mereka masih ingin disini!"


"Unik juga ya ternyata May bisa ketemu sahabat model mereka!"jawabnya penuh tawa.


Sambil mengacak-acak rambut Reva,juga masih betah untuk merangkulnya dia bertanya.


"Heeeiiiii"


Berontak geli sambil sinis menatapnya.


"Heeemmm,sensi!"


"Iyalah kamu acak-acak rambutku tiap kali kayak gini!"


"Ohhhh,iya kamu nanti jadi jalan sama Virgo?"Tanya Jovan penasaran.


"Kayaknya iya deh,tapi kan May dirawat.Ga enak aku senang-senang sama Virgo malahan kamu disini sendirian nungguin May."


"Siapa yang sendiri ntar juga Tia ma Vani dateng.Kalau engga tadi tuh yang cowok trus yang satunya naksir kamu,hahahahaha!"Katanya mengingatkan.


"Apaaan seeh,dia itu masih sekolah Van.Masak aku pacaran sama anak dibawah umur,beneran tante girang nanti aku dipanggil ma temen-temennya dia."Kesel juga bawa-bawa nama anak itu lagi.


"Hahhahahah,ga pa-pa ntar bilang aja santai.Jangan buru-buru aja kalau keluar sama Virgo.Rasain kedekatannya dan jangan banyak tingkah.Entar bahaya lagi."


"Ga tahu neeh,Virgo kadang-kadang sibuk sama kerjaannya.Kadang juga cuek.Aku butuh perhatian dia."


Melepaskan rangkulan tangan,kembali menyentuh tangan Reva sekalian duduk santai.Dia berkata manis"Ga semua hubungan itu baik-baik selalu.Pasti ada gesernya.Tinggal kamu mau berfikir positive atau negative.Padahal kamu tuh negatif aja sama aku,kalau udah sama dia happy happy aja deh."


"Kok kamu yakin banget kalau aku bisa sama dia."Tanya Reva heran.


"Kan kamu yamg memilih Virgo ketimbang aku.Jadi kamu harus tahu dong apapun kelebihan dan kekurangannya,pasti akan lebih baik kalau kamu memahami dulu siapa dia!"Sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali serta senyum-senyum.ga jelas.


"Aku coba deh!"Malahan kedua tangannya menakup wajah Jovan sampai ia kaget bukan maen.


"Aoooo,,,,gilaaa loe ya!"


Dilanjutkan dengan tawa lepas dari Reva,diperjalanan obrolan ringan kembali diruangkan oleh keempat anak sekolahan yang bersikap layaknya orang dewasa.Antara saling berkecimpung pada dunia mereka banyak hal pula tengah membuat tawa dan senang.

__ADS_1


"Ternyata kamu punya potensi juga untuk mengenal tante Reva.Hebat ga nyangka suka sama yang lebih dewasa lho!"Tiba-tiba Vani berucap.


Tak ayal membuat semuanya ketawa geli mendengar kepolosan Vani dalam berucap.


"Heiiii,kamu tuh ya.Bikin malu aja aku kan sekedar berkenalan aja sama tante Reva.Emang salah?"


"Ya ga salah,tapi momentnya sangat tepat kalau kamu langsung to de point seeh.Ga banyak mikir kayak tuh yang didepan!"Tunjuk Tia kearah Revan yang tengah mengemudi.


Sembari menoleh dia memastikan kebenarannya.


"Siapa?gua!"Sambil nunjuk kemukanya.


"Iyalaha kamu Van.Siapa lagi yang diarahin ya ke kamulah!"Seru Doni.


"Emangnya kriteria kakak seperti itu?cantik seksi dan dewasa,apalagi pake kaca mata!"


Tersipu malu dia pun berbicara"Ga tahu ya kalau liat wanita yang body goal dan pake kacamata bulat lagi itu menunjukkan seksi yang luar biasa,hakiki sekali."


"Trus aku ga seksi?"Celetuk Tia dengan sinis.


Kembali tawa lepas dibuat oleh ketiganya.Memang aneh juga terkadang kalimat itu muncul dengan santai tanpa ada yang tersaring.


"Seksi itu banyak hal yang harus dipertimbangkan,tidak hanya body goal saja melainkan senyum atau sentuhan hangat dan romantis itu juga akan membuat kita seksi lho!"Jelas Doni kembali berfilsafat.


"Waahhh,gua harus banyak belajar sama kamu Don.Pria yang bisa mengatasi masalah tentang keraguan,tapi kenapa elu milih game's seeh ga nyambung deh kalau disalurin."


"Memang acara apa ga cocok disalurin kak?"Tanya Vani penasaran.


Sambil menutup mulut dengan jarinya,Revan pun memperingatkan Vani yang punya pengetahuan tentang sebuah rasa penasaran.


"Ssstttt,jangan berfikir yang lebih dewasa.Belum cocok sama kamu!"


"Iiiihhhhh,emang Vani ngomong yang dewasa ya?"Tanya Vani ga habis fikir.


"Ya kali-kali kamu kan paling penasaran dibanding dua sahabatmu satunya lagi nyangkut diRumah sakit."


Sambil nunjuk kearah Tia,ia berujar kaget.


"Satunya gua dong?"Tengak-tengok kearah Vani dan lainnya.


"Hahahahahaha,ya iyalah siapa lagi.Kan kalian bertiga itu layaknya seorang charlie angel tapi belum populer seeh!"Tandas Revan.


"Kok bisa,kan kita kan udah populer kak cuman ga banyak mencari keuntungan dari rasa populer yang kita punya."Jawab Vani lugas lagi.


"Tapi bagiku kalian belum eksis yang lebih mendalam disekolah,ikutan Cheerleader gitu atau jadi anggota OSIS atau apalah yang penting kalian tuh punya skill yang diperlukan secara baik."Tambah Doni.


"Emangnya kakak pernah ikutan organisasi kayak gituan?"Tanya lagi.


"Ya pernah seeh walaupun gagal masuk,hehehehe!"


"Yeeeee,kirain sukses disana!"


Tambah Vani geli"Ga tahunya produk gagal."


Tawa lagi menggemparkan seisi mobil,tapi mereka juga ga ngerti dengan kepopuleran seorang Revan dan Doni dengan seangkatan sebagai senior mereka masih menginginkan sesuatu lebih dalam lingkungan sekolah dengan startegi yang memadai.


"Emangnya kakak optimis mau melancarkan aksi lagi sebagai pemain basket andalan?"


"Ya maunya seeh?"Jawab Revan yakin.


"Trus nanya kemana tuh kalau pengen kayak gitu?"


"Sama pelatih baru kita!"Sambil mengangkat kedua alisnya bangga.


"Siapa?emang ada!"Penasaran ala Vani kembali tertuang.


"Ada deh,nanti aku kenalin ya."


"Emang ada kak!"


"Adaaaa,tenang deh nanti kalian akan bingung pilih mana?Revan atau Doni atau Tian?"


Mikir keras dan bingung pula,ternyata mereka cuma gaya-gayaan doang dan membuat kejutan yang fiktif emang dasar senior yang membuat kebingungan sampai hal terkecil tapi bullshitt.Keduanya kompak saling tos dan ketawa lepas sambil liat reaksi juniornya kesal dan ga mau bicara lagi.


"Heeiii,,,,ga nanya lagi?"


"MALEEEESSSSS!"Jawab keduanya kesal.


"Hahhahahah,kalian luar biasa.Ga ada May masih kompak gimana kalau udah Tiga orang lagi bikin seisi sekolahan kalang kabut nantinya."Sambil menyatukan kedua tangannya serta menyadarkan kepalanya disandaran mobil.


"Iya gimana kalau mereka bertiga kita bikinin sesuatu yang beken dan jadinya pasti lebih banyak yang suka!"


"Apaan kak?ga usah deh!"Tia ga enakan kalau kayak gitu.


"Kalian tuh bikin affair aja sama Tian,kan akan populer!Gimana?"Tanya Revan asal lagi bikin kegaduhan.


"WHAAAATTTT,GA MAKASIH KAAAKK."Langsung aja tolakan mentah-mentah dari keduanya.


Sebel,bukannya bikin suatu hal yang bermanfaat malahan bikin suasana semakin ga karuan.Apa yang bisa dibayangkan oleh keduanya kalau systemnya sangat memuakkan seperti itu.Sampai juga diparkiran sekolah mereka keluar dan berpisah dari dua hal berbeda.Apa yang memang harus dilakukan ya udah langkah keduanya santai menuju kelas.Dari jauh setelah permainan baskte usai,senyum Tian datang ketika berlari mendekati keduanya dengan harapan ada sesuatu yang baru dari May.


"Tiaaa,Vani tunggu!"Panggilnya mendekatinya.


Keduanya terhenti dan menoleh melihat etikad baik tengah dibuat oleh Sebastian,senyum kembali dibalas oleh keduanya.


"Kenapa Tian?"Wajah Tia beneran berdebar ketika harus berhadapan dengan lelaki seperti ini,udah ganteng,keren dan blasteran lagi.Apa yang harus diberikan olehnya apakah memang harus bilang sesuatu?


"Gimana keadaan May?apa dia baik-baik aja?"


"Syukur dia ga pa-pa tapi harus banyak istirahat.Jadi kita berdua aja neeh minggu-minggu ini ga ada dia."Jawab Vani.


"Emangnya dia dirawat dimana?"Tanya Tian penasaran.


"Dirumah sakit Jakarta hospital .Emangnya kamu mau kesana jenguk dia!"


"Iya gua bersalah banget?ga tahu kalau dia lewat jadi ga enak sama dia!"


Sambil menyentuh bahunya yang kekar,enak banget disentuh kata itu tertuang diam-diam dalam hati Vani yang suka banget liatnya berkeringat.


"Kamu seksi banget seeh.Aku juga naksir lama-lama kalau kayak gini,hehehehe."


"Ya udah nanti sore kita jenguk dia.Kalau boleh jemput kita ya.Biar sama-sama!"Tia meringis geli.


"Boleh,untung nanti sore mobil papa ku dirumah.Aku jemput kalian ya,jangan lama-lama daaaaa!"Sembari mundur kembali dan menata suasana lapangan basket yang masih ramai oleh banyak pemain tengah istirahat disana.


"Byeee ganteng."Sambil melambaikan tangan bahagia.


"Seandainya aku dipelukannya,bahagia kali ya."Tiba-tiba Vani berujar.


Langsung tiba-tiba pandangan sinis menyerang Vani,Tia ternyata punya saingan sahabat sendiri.


"Kamu ada suka sama Tian?"


Meringis geli."Ya suka kan ga pa-pa.Kalau jadian seeh apalagi tambah seneng!"Kata Vani berharap.


"Tapi itu ga mungkin,kita berfikir positive aja.Kalau jodoh siapa yang punya!"


"Emang siapa jodohnya?"tiba-tiba suara itu datang nimbrung pual didepan mereka.


Ga sangka ternyata geng yang digawangi oleh Stella,Anna dan Gina pengem ikutan untuk dapat bocoran diantara obrolan kahas mereka.Mungkin mereka cuman team yang tengah naik daun disekolah sampai Team Seperti Maya,Tia dan Vani masih diragukan.Tak bisa dipungkiri masih bertemu dengan mereka itu sangat memuakkan.

__ADS_1


__ADS_2