
Terbangun dari rebahan dan sadar semuanya hanya mimpi,dirinya pun menghela nafas lega setelah melihat setiap sudut ruang tidurnya tidak terjadi apa-apa.Ngimpi apa aku tadi,sambil menyentuh keningnya dirinya pun beranjak bangun untuk melihat kondisi wajahnya apa masih cantik atau butuh sentuhan make up lagi.Kembali tersenyum ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
"Huuuuh,untung saja mimpinya segera bikin aku bangun.Kalau engga.Siapa lagi yang nyadarin aku,pasti ga ada deh."Memastikan kembali kecantikannya tidak luntur oleh waktu.
"Sekarang baru jam berapa ya?"Melihat jam dinding masih menunjukkan pagi sekitar pukul 09.35 membuatnya untuk memilih sebuah pilihan dalam senggang waktu hingga sore.
Gimana ya,apa aku jalan-jalan saja dari pada ribet sendirian kayak gini.Menikmati pagi sebelum siang datang,okelah saatnya jalan-jalan kali ya biar ga boring kerja terus.Bersiap pula Gladis untuk ganti baju dan memakai pakaian feminim dan elegan serta menarik tas selempang kecil sebagai teman jalan-jalan saat ini,perlahan keluar dari pintu mengunci dan berjalan keluar pun menutup pintu gerbang.
Yaaaah,kali ini kemana ya.Kearah kanan atau kiri sampai bingung juga ngelihatnya.Aaah kekanan aja deh palingan seru kalau aku kearah sana.Kan juga udah sering kearah kiri kalau diajak kak Romero jalan-jalan menuju kedai.Sekali-kali mungkin ada yang unik aja disana,benara juga setelah keluar dari gang kanan ada banyak hal yang menyentuh senyumannya kembali lebih cepat dan semakin membuatnya senang tak kala ada juga toko buku yang unik juga.
"Lama juga ya ga ketoko buku.Kesana deh kali-kali ada buku bagus buat dibaca!"Melangkah santai serta disebrang jalan ia mengawasi kanan kiri sembari berjalan melihat keadaan masih ga terlalu ramai untuk dilewati.Berjalan mendekati dengan menahan beberapa laju mobil dan kendaraan lain tengah melintasi didepannya.
"Unik juga seeh,jadi referensi neeh!"Sampai juga didepan pintu,mendorong pintunya serta masuk kedalam.
Mengamati setiap rak buku dan pastinya setiap kategori genre telah membuatnya yakin untuk tahu seperti apa serunya mencari buku yang sesuai denganku.Fashion sepertinya bagus deh kalau aku bisa ganti mode pakaianku.Sambil mencari dan mendapatkan tepat diatas.
"Kok ga bisa seeh!"Sambil jinjit meraih buku hampir saja mendapatkan malahan ada yang membantunya segera meraih buku dan menoleh serta memberikan kepadanya.
"Kenapa ga nyampek ya!"Candanya geli.
Pandangan aneh dan ketus kembali mengarah kepadanya."Terima kasih kak!"Ujarnya berbalik dan kesal.Sebuah siratan kalimat menyinggungnya membuatnya enggan untuk bertemu kembali.
Dia hanya tersenyum geli saat melihat reaksinya,biarin juga nanti ketemu lagi.Santai kembali mencari buku kesukaannya,dengan pilihan horor fantasi ia pun berjalan menuju kekasir dan mendapatkan untuk pembayaran.Rasanya sepi pada kemana ya?
"Halooo,mba.Mau bayar!"Panggilnya dengan nada bingung.Kemana seeh mba-mba ini.
Memainkan novelnya sembari memutar-mutarkan dengan pasti hingga akhirnya senyumnya kembali datang saat ada yang berada disampingnya.
Menoleh serta heran,ada senyum serta tanpa menatapnya."Menunggu juga.Ga tahu tuh kemana mbaknya."
"Jadi lama dong nunggunya."
"Ngobrol aja sama aku,pasti lebih seru deh kalau dalam kondisi kayak gini.Atau kita ngopi dulu supaya lebih fresh dan kita bisa kenal!"Sambil memainkan kedua alisnya.
"Emangnya ada kayak gitu?"Tanya balik.
"Adalah,tuh ruang kopi sebelah.Enak lho mau?"Tunjuk Alden dengan mengarah kesebelah toko buku.
Iapun menoleh dan heran,ada aja kedai kopi disana.Emang keren seeh tempatnya sama kayak punya kak Romero."Ada juga ya!"
"Adalah,mau kesana.Mana bukumu biar aku antrekan juga."Pinta Alden dengan nada datarnya.
Neeh orang sok kenal banget seeh?datang dari mana coba!gimana ya percaya apa ga sama dia.
"Kenapa?ga percaya sama aku."Ucapnya nantangin tapi tiba-tiba malahan mengumbar senyum padanya.
"Engga juga seeh,tapi mau gimana.Ga bakalan hilang kan?"Tanya Gladis memastikan.
"ENGGA,PERCAYA SAMA AKU!"Lagi dia membuat kepastian menyejukkan sebuah kepercayaan bagi Gladis.
Mau gimana lagi,kalau ada kesempatan ya dilakuin aja.Dari pada berdebat dan akhirnya juga ngalah sama dia,iyain ajalah.Lalu Gladis memberikan sebuah buku kepada Alden yang masih ia rahasiakan namanya karena akan kenalan secara exclusive bersama partner barunya.
"Trus kemana?"Kembali menampakkan wajah polosnya.
Sambil nunjuk kekedai kopi ada juga yang duduk,jadi ga boring amat kalau nantinya harus lama mengobrol dengannya.
"Disana aja,ayo!"Ajaknya sok menarik tangannya sampai Gladis salfok sama kelakuannya dan berhenti menatap aneh pada pria tersebut.
Ada yang aneh pula juga,Alden merunduk dan ternyata tanpa sadar menyentuh tangan Gladis,senyum malu-malu pun tertanam dalam wajahnya.
"Maaf ya,kelepasan."Melepaskan pegangan tangan khas Alden.Dia berjalan duluan menuju meja kursi yang dipastikan kosong.
Ada rasa jengkel juga,kenapa seeh dia udah sok kenal.Sekarang malahan lebih bersikap kayak aku pacanya aja.Bingung deh.Sampai dimeja Alden pun bertanya kepada Gladis soal pesanan yang dia inginkan.
"Kamu mau pesan apa?"
Mendongak dan menujuk kearah hidungnya.
"Iya kamu,siapa lagi!"Jawabnya kembali bikin meringis juga akhirnya.
"Heheheheh,pesen hot cappuccino deh satu."Jawabnya lugas.
"Itu aja ga nambah yang lain,aku traktir.Jarang-jarang kalau aku kayak gini!"Kembali menawarkan kebaikannya.
"Haaaah,beneran.Aneh banget deh!"
"Iya bener,masak bohong!"Tandas Alden dengan polosnya.
"Ga usah itu aja."Ujar Gladis kembali kesal.
"Oke!"Jawabnya singkat,lalu berbalik badan mendekati kasir dan memesan minuman yang sesuai dengan harinya saat ini.
"Selamat pagi mas,mau pesan apa?"Sang kasier pun siap dengan mycross kasier dan melakukan taking order.
"Dua Cappuccino yang satu ice aja satunya hot."
"Ada tambahan lagi kak?"
__ADS_1
"Sama cake tiramissu dan brownies ya.Itu aja deh ga ada lagi!"Ujarnya mengumbar senyum lagi kepadanya.
"Baik,saya ulang pesanannya dua cappuccino satu yang hot dan satunya ice.Sama cake Tiramisu juga sama Brownie satu.Untuk totalnya ini kak!"Jawabnya memberikam arahan kelayar kasir.
"Okey,"Jawabnya sambil mengeluarkan atm dari dompetnya dan melakukan pembayaran.
Setelah cukup lama,dia berbalik dan melihat Sosok perempuan lucu tengah menanti datangnya seorang teman dipastikan itu adalah Alden sosok pria dengan tampang oriental serta masih muda mungkin bisa dibilang beda dua tahun dengannya.Sikapnya yang sok dewasa dan perhatian membuat sang perempuan menjadi lebih intens untuk mengatakan banyak saat ini ketika Alden datang menghampirinya.
"Tumben kok lama kalau pesen?"Tanya Gladis dengan santai tapi ragu-ragu pula.
"Ya memang gitu,enak disini suasananya.Kamu suka ga?"Tanya balik setelah merasakan suasana hangat saat melihatnya.
"Ya suka seeh,tapi aku ga pernah lho kesini.Tapi kok bisa ya ada toko buku dan lengkap dengan kedai kopinya?"
"Ya itulah kelebihan toko buku disini,lebih seru untuk nongkrong lebih lama.Kamu baru tinggal disekitaran sini?"Sembari menompangkan tangan dan menaruh ponselnya diatas meja.
Mengumbar senyum yakin."Iya baru semingguan deh,aku dari luar kota.Jadi tinggal sendirian seeh!"
"Berani juga tinggal sendiri,awas lho ada yang nyantroni rumah kamu malam-malam!"Candanya nakutin.
"Yang pasti orang pertama tuh kamu,udah dikasih tahu aku tinggal sendiri malahan mau kerumahku."
"Ya maunya,tapi kan ga tahu dimana alamatnya?"Jawabnya langsung tancap gas.
Tak lama obrolan mereka terputus oleh kehadiran seorang waiter mengantarkan makanan dan minuman dimeja special.
"Permisi kak,pesanannya dua cappuccino sati panas dan ice dan cakenya ya!"Menata dengan tepat pilihan sang costomer.
"Lho ini kok ada cakenya seeh,kan aku ga pesen!"Ujar Gladis bingung bertanya kepada waiternya.
"Kamu ga mau?"Sontak pertanyaan itu muncul kearah Gladis.
"Ga pa-pa kak,ada yang traktir kok!"Canda sanga waiter dengan perlahan meninggalkan perdebatan ringan mereka."Selamat menikmati."Memberinya senyum ramah.
"Makasih juga!"Mendongak kearah waiter,kembali menatap Gladis dengan tatapan menarik.
"Kenapa mandangin aku gitu?ada sesuatu!"Tanya balik.
"Ga ada,cuman seneng aja ketemu orang baru dan sikapnya itu nggemesin."Menjorokkan badannya lalu nyubit pipinya.
Sontak Gladis kaget dan agak menjauh,ada-ada aja deh dia tuh.Malahan ditimpali tawa lepas oleh Alden.Sosok pendatang baru yang perlahan mulai mengajaknya dalam satu kalimat penting hidupnya saat ini.
Dia kembali bersandar dengan bersedekap masih menatapnya.
"Kamu ngapain pake cubit-cubit pipiku,ada yang aneh?"Sergap Gladis dengan ketusnya.
"Engga ada,kamu tuh lucu ya.Cabby dan mungkin ini pertemuan yang special buat aku,pastinya buat kamu juga kan?bisa ketemu sama aku?"Mengangkat kedua alisnya dan berdesir geli.
"Yaa bolehlah.Kamu kerja atau gimana disini?"Tanya Alden dengan wajah serius menatap mungkin ada yang coba ia kelabuhinya pasti aku tahu itu.
"Yaaa jalan-jalan aja."Sambil menompangkan kedua tangannya lalu menoleh kearah kiri.
"Ooooke,pasti kamu takut ya.Kalau aku berbuat macam-macam sama kamu.Pastinya!"Ujarnya kembali pede.
"Engga juga.Ngapain juga seeh ketemu kamu.Padahal kan aku cuman jalan-jalan nyari waktu senggangku!"Jawabnya kesal.
"Waktu senggang kamu,berarti kamu kerja dong,atau kuliah gitu?"Lalu menyeruput kopinya.
Tatapan Gladis cukup tajam mengarah kepadanya,padahal aku lagi pengen hot Cappuccino kok malah dia yang minum seeh,bete banget hari ini.Kenapa seeh bisa ketemu diaaaa!"Batinnya pun berkecamuk dengan kencang tanpa ada yang mendengarnya.
"Engga,aku baru lulus.Mana mungkin aku kerja.Palingan liburan doang kok!"Jawabnya masih kesal lihat wajahnya.Tapi kalau dilihat-lihat dari tadi tampan juga dia,ganteng dan nggemesin.
Ujarnya tiba-tiba tersenyum,sampai mengundang Alden penasaran dengan tatapan serta senyuman yang diberikan "Ngapain senyum-senyum,naksir ya?"Tunjuknya kearah Gladis.
"Siapa naksir,kenal aja engga!"Lanjutnya sinis.
"Ooooh iya kita kan belum kenalan.Kenalin Alden,pengunjung setia toko buku ini dan suka nongkrong disini juga.Kalau kamu?"Mengulurkan tangan sembari menatap serta mengangkat keningnya.
"Ngapain seeh pake kenalan segala.Kita kan ketemu baru sekali ini?"Protes Gladis.
"Mangkanya itu,kalau kita ketemu lagi.Ga manggil asal-asalan gitu.Siapa nama kamu,jangan curang ya."Selidiknya penasaran.
"Iya-iya!"Jawabnya sambil mengulurkan tangan pula."Gladis,namaku!"Jawabnya santai.
"Ooo,Gladis.Bagus juga namamu ya,pasti orang tuamu senang banget punya anak seperti kamu."
Melepaskan jabatan tangan,lalu kembali menanyakan hal lain.Layaknya tengah interview.
"Ya gitu deh,kalau kamu?"Tanya Gladis penasaran juga.
"Kalau aku,gimana maksudnya?"Tanya Alden bingung.
"Yaa tentang keluarga kamu,dan kenapa bisa ada dihadapanku saat ini?"Jawab Gladis bingung.
"Aku tinggal disekitaran sini juga,tapi ga akan gangguin kamu kok.Jadi aku yang punya toko buku ini dan Kedai ini.Percaya ga?"Membuat Gladis langsung kaget dan kagum juga masih muda punya sesuatu yang lebih dalam hidupnya.
"Waooow,keren juga.Aku kira kamu tadi pengunjung.Ternyata yang punya!"Pujinya dengan nada kaget.
__ADS_1
"Ya kalau kamu percaya.Kalau engga ya emang bukan aku yang punya!"Candanya geli.
"Apaan seeh,ga seru deh.Benernya gimana biar aku ga marah-marah lagi sama kamu,dari tadi deh bikin kesel aja !"Sambil membuang mukanya.
"Ga bener tuh,mana mungkin aku punya toko buku sama kedai kopinya itu.Aku cuman yaaa main aja kesini.Ini kan tempatnya bagus."
"Ya terserah deh,juga ga ngaruh sama aku.Oooh ya cake kamu suka yang mana?"Tiba-tiba Gladis tersorot oleh kenikmatan Tiramissu yang perlahan menggoda dirinya.
"Aku lihat kamu tadi menatap Tiramissu kan?ambil aja.Aku biar brownie aja,manis kayak kamu heheheh!"Pujinya pasti.
"Heemmm,ga usah ngeledek gitu deh!"Ujarnya cemberut.
"Heiiii,siapa yang ngeledek.Itu muji,memuji seseorang dengan baik gimana seeh?"Candanya geli.
"Ngapain juga aku disamain sama brownie.Kan ga lucu!"Ujarnya masih kesal lagi.
"Ya udah,ga jadi deh.Kamu tuh cantik ga manis,gimana ga marah lagi!"
"Ya tetep dong.Bikin aku bimbang!"Lagi ngejawab.
Sembari menghela nafas dan menompangkan tangannya menyangga pipi Alden.Ada aja kalimat yang salah dari tadi.Apa dari awal pertemuan kita memang tidak bagus atau belum hoki ya?Kembali menggelengkan kepala.Ada perasaan yang tertinggal saat itu.
Sebuah percakapan telah membawa kedekatan disaat seorang Waiter telah datang kembali seraya memberitahukan sebuah pesan dari seorang kasier toko buku sebelah.
"Permisi kak,tadi kasir toko buku mengabari kalau novelnya sudah masuk antrian dan bisa diambil sekarang!"
Mendongak dengan wajah polosnya,diapun menjawabnya."Ooooh ya?"
"Iya kak,nanti bisa diambil kok.Permisi ya!"Segera mengundurkan diri.
"Ooooh udah bisa diambil,ya udah aku ambil dulu ya!"Beranjak berdiri,tak lama segera Alden menghentikan langkah Gladis untuk segera mengambilnya.
"Sebentar,biar aku aja yang ngambil.Kamu diem disini ntar hilang lho!"
Tertahan kembali heran sama perintah Alden yang membuatnya sedikit membuat keryitan kening,kenapa seeh sama dia.Selalu saja sok perhatian sama aku,padahal baru lho ketemu sekali udah gini aja.
Langkah Alden pun beranjak keluar dan menuju kedalam toko buku lalu membayarnya.Ada percakapan sedikit yang membuatnya kembali tahu kalau Gladis adalah pelanggan baru,serta akan mendapatkan diskon potongan.Bagi Alden ini adalah moment penting untuk mengenalnya.
"Terima kasih mba,!"Sambil mengangkat novelnya,dan berbalik untuk kembali kekedai kopi dimana Gladis tengah menunggunya.
Didalam kedai kopi pun ada terasa aneh,lama juga dia ga balik-balik.Ngapain aja seeh?
"Kok lama ya,apa dia pulang lagi.Ninggalin aku!"Menghela nafas dan memulai untuk tidak berfikir negatif untuk satu kali ini saja.
Memang fikirannya terlalu sempit saat itu,apalagi mengenal lelaki baru dan membuatnya sedikit bingung dengan sikap sok kenal dan mengobrolpun layaknya seorang HRD yang terus mempertanyakan tersebut.
Langkah Alden pun perlahan masuk dan membawa dua paper bag unik dan membuatnya tersenyum saat dia memberikan kepadanya.
"Waaah cantik banget paper bagnya!"
"Iya dong mirip kamu!"Ujarnya tersenyum memberikan lalu duduk didepannya.
"Bisa aja kamu ya.Gombal aja dari tadi!"Celetuknya masih ga terima.
"Kalau kamu mau kan aku gombalin tiap hari!"Jawabnya ngakak.
"Mana bisa,kan ketemu baru kali ini aja."Jawabnya melihat novelnya,lalu ia bingung sama sekali ga ada nota pembayaran.Menutup paper bagnya menatap dengan curiga."Kok ga ada nota seeh?kamu sembunyiin ya?"
"Apanya?"Sok santai jawabnya.
"NO-TA-NYA,KEMANA?"Tanya Gladis dengan nada kesal lagi.
"Udahlah,kita temenan kan!jadi ga usah difikirin kemana notanya okey!"Sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Engga mau,kamu aja ga ngasih notanya novelku.Mana mau aku gitu-gitu,kita kan baru ketemu tadi sampai sekarang."Masih protes.
"Kamu tuh ngeyel orangnya ya.Aku ga bakalan ngasih notanya lho kalau kamu ga mau kita pasang jari kelingking,sebuah perjanjian yang seru ini!"Kembali membuat Gladis akhirnya mau menyanggupi apa permintaan Alden.
Dengan wajah sok ngeri saat tengah mengacungkan jari kelingkingnya,antara yakin ga yakin tapi gimana lagi menyatukan sebuah janji itu sangat membuatnya belum mengerti selanjutnya seperti apa.
"Udah percaya kan?"Sambil mengernyitkan kening menatapnya.
"Belum!"Jawabnya masih pada pendiriannya.
Tawa lepasnya kembali tertuang jelas diraut wajah seorang lelaki tersebut,lama-lama asyik juga dia,tapi saat tawa itu mulai membuat suasana kembali hangat.Rasanya perpisahan itu telah menjadi lambaian tangan dari seorang Alden.
"Gimana kamu suka kan ketemu sama aku?"Kembali Alden mempertegas pertemuan ini.
"Lihat aja nanti,kalau aku balik kesini lagi.Ya aku suka sama kamu,kalau engga.Maaf ya pasti aku lupa!"Candanya beranjak berdiri.
Mendongak heran"Kamu mau kemana?"
"Pulang,terima kasih ya atas semuanya.Byeee!"Senyum dan lambaian tangan membawannya pergi untuk pulang.
Dia hanya mengernyitkan kening seraya mencoba untuk tersenyum melihat kepergian Gladis dengan santai tetapi masih ada pemberhentian terakhir lalu menoleh kembali memberinya senyum manis.
"Makasih ya!"Kembali melambaikan tangan,perlahan ia hilang dari pandangan seorang sorot mata Alden.
__ADS_1
Beranjak berdiri melangkah untuk mendekati didekat pintu menompangkan tangan pada tiang pintu kembali melihat sosok perempuan yang telah pergi dengan beberapa hal menarik untuk ia dapatkan.Lucu dan manis.
Gladis hanya bisa tersenyum saat melintas keluar dan menyebrang jalan dengan santai sembari menenteng paper bag berisikan novel yang telah menjadi kenangan pertama untuk mengenal sosok tersebut.