
Yaaa kali ini Gladis lebih nyaman berada dalam persahabatannya dengan Kelana.Pria yang sudah lama tumbuh bersamanya dan saling mengerti dan selalu menyuport setiap keberhasilan yang diraih oleh Gladis.Bisa dibilang sahabatan itu dimulai saat Kelana melihat Gladis tengah sendiri kebingungan ditaman dengan wajah sedih tidak ada yang mendekati.Entah mengapa dalam jarak yang tak begitu jauh senyuman Kelana menjadi teman baru disaat Gladis tengah sedih sendirian.
Kenapa ya dia?apa ga ada yang mendekatinya,Bagaimana kalau aku deketin ya.Supaya dia ga sendirian,perlahan niatnya pun dia beranikan untuk sekedar membuat sebuah senyum saat mendekati seorang perempuan tengah kesepian tanpa seorang teman.
"Heiiii,kamu kenapa?sendiri aja!"Duduk disampingnya dengan wajah lucu.
Menoleh serta menatap dengan wajah aneh,ia menjawabnya.
"Iya ga ada yang deket sama aku,aku kesepian.Kamu mau jadi temanku?"Jawabnya polos seorang perempuan itu.
"Bo-leeeh.Kamu mau kan deket sama aku main bareng?"Tanya Kelana dengan mengacungkan jari kelingkingnya sembari tersenyum,lalu disambut oleh Gladis dan keduanya saling tertawa lepas saling mengobrol.
"Boleh ayoooo!"Jawab Gladis kegirangan.
Sejak pertemuan pertama itu hari-hari mereka diisi dengan main dan belajar,juga saling mengejeknya.Entah siapa yang salah terkadang Gladis malahan lebih respek untuk menggodanya.
Tapi sejak pertemuannya dengan Arya,ada hal yang membuat Kelana ingin berada disampingnya sebagai seorang sahabat.Tanpa seorang sahabat,pasti Gladis sangat kesepian.Dan dengan sedihnya dia menyandarkan kepalanya dibahu pria tersebut,dia menoleh dan melihat wajahnya lesu dan tertunduk tak berdaya.
"Ada masalah apa kamu sama Arya?jelasin dong.Mungkin aku bisa ngasih solusi kek walau ga seluas pemikiranku!"Sambil mendekap keningnya.
"Dia sempet bilang seeh kalau kita harus bersikap dewasa ketika menghadapi sebuah masalah besar.Entah masalah apa yang dibuatnya sampai aku harus bersikap seperti ini.Emang salah ya kalau aku sedih dan ketika aku menghubungi dia ga ada balasan lalu aku telpon ibunya sama sekali juga ga ada balasan."
"Yaaaa,mungkin mereka sibuk.Kamu tahu kan siapa Ibunya Arya.Seorang pebisnis yang ga bisa kita andelin untuk satu masalah.Pasti akan banyak masalah yang lebih dari itu."
"Tapi Kel,aku ga bisa kalau harus begitu?ga ada kepastian itu membuatku se-dih."Jawabnya kembali menatapnya dan kembali menyandarkan dibahunya.
"Ini kan udah malam,bangeeet lagi.Huuuuuaaaaahhh!"Tiba-tiba kelepasan juga Kelana.
Kaget dan mendongak kearahnya,ternyata di udah lelah.Ga tahu juga ternyata dia butuh istirahat sampai lupa dan malu ga bisa ngertiin perasaan sahabatnya.
"Kelana,kamu ngantuk?"Tanya Gladis sembari mengernyitkan kening.
"Engga,cumaaan Huuuuaaaah!"Ga tahan juga kelepasan menguap ngantuk.
"Tuuuh kan,kamu tidur giiih.Masak mau nemenin aku?besok kan kamu kerja."Ujarnya mengarahkan jarinya kemukanya.
"Yaaaah,aku kan libur besok.Week end,kamu libur juga kan?"Mengelak dari kenyataan.
"Iya seeh.Tapi kan kalau dipaksa bisa-bisa banting stir trus jatoh tuh dilantai mau ga aku tolongin?"Kembali menatap dengan senyuman khasnya.
"Hehehehehe,iya deh aku tidur dulu ya.Terus kamu mau disini kedinginan gitu sambil meratapi kesedihanmu?"Beranjak berdiri masih menatapnya.
"Ga tahu deh,aku harus gimana?"Bersandar kembali seraya bersedekap menatap tanpa makna seperti apakah dia malam ini.
Mengulurkan tangan,tetapi saja dia tidak menyadari perhatiannya dengan menatap pandangan lain.
"Mau disini semalaman terus besok sakit dan ga ketemu Arya atau masuk dan istirahat supaya besok bisa mikir cantik tentang masalahmu?"
Mendengar kalimat terakhir itu sontak tawa gelinya muncul dan beranjak meraih tangan Kelana dengan bergegas masuk kedalam.
Saling berpandangan,ada senyum special muncul dengan tiba-tiba diantara keduanya menuju sebuah kehangatan rumah yang hanya keduanya bisa merasakan itu semua.Mengantar dengan wajah galau,ada hal terbaik yang mungkin bisa membuat hati Gladis tenang adalah mengantarnya menuju kamarnya.
"Udah sekarang kamu istirahat.Jangan mikir yang aneh-aneh ntar bisa hancur neeh hatimu!"Sambil nunjuk kearah keningnya.
Kaget juga,sejak kapan hatinya bisa pindah dikepala."Haaah,emang hatiku pindah kesini ya?"Kembali bingung ikutan nunjuk juga.
"Kalau aku nunjuk kearah sebenarnya,akan ada perang yang besar menghadapiku sendiri."Sambil menyandarkan diri ditiang pintu seraya bersedekap.
"Hahahahaha,tahu aja kalau soal gitu."Jawabnya sambil terunduk dan mukul bahunya.
"Aduuuh,sok preman tapi hati hello kitty!"Kaget mendapat pukulannya.
"Ya udah deh,aku tidur sekarang.Byeee!"Sambil dorong badan Kelana.
Terpental agak jauh sampai dia menghela nafas geli.Tapi mau gimana lagi itu sudah keputusan yang diambil olehnya."Byeee,,,"Ujarnya sambil berjalan mundur dan melambaikan tangan.
"Weeek!"Sambil menjulurkan lidahnya ia ketawa lepas dan menutup pintunya.
Kelana pun bingung berada dalam situasi yang membuatnya berada dalam awang-awang berbeda soal kisah cintanya dengan wanita lain.Ketika harus berada dalam soal Gladis hatinya memang harus bersikap baik-baik saja ya untuk kebaikan diri dan bisa menyentuh hatinya memang butuh waktu cukup untuk bersama.
"Huaaaaahhhh!"Sambil merentangkan tangan,dia mencoba kuat untuk menuju kamar tidurnya.Sayang,matanya pun menjatuhkan pilihannya untuk tenggelam disofa panjang hingga tak ingin kembali dalam dekapan kasur hangatnya.
Diruang balkon villa keluarga Arya,dia dan ibunya pun bersiasat untuk membuat keadaan lebih baik ketika harus menghadapi Gladis,wanita yang telah memberinya ruang khusus untuknya.Seperti yang akan dihadapkan dalam satu masalah ini,perpisahan memang pilihan berat untuk mereka berdua.
"Gimana Ar,Besok kita beneran ngobrol sama Gladis.Kamu udah siap dengan keadaan selanjutnya?"Tanya sang Ibu dengan wajah gelisah menatap berkali-kali anaknya.
"Bagaimanapun itu harus kita selesaikan bu,aku juga salah langkah dengan Gladis.Padahal dia adalah wanita yang selalu mendukung kita dimanapun kita berada.Dan saat kita jatuh dia selalu membantu kita.Tapi sekarang kayak gini!"Ujarnya menyesal.
"Udahlah,kita sekarang ga bisa berbuat apa-apa.Kita sudah berada dalam pusaran yang salah.Dan pasti kamu harus bersiap ketika dia benar-benar tidak terima ya!"Pinta ibunya dengan nada senyuman kaku.
Memang Arya tengah berada dalam situasi sulit,apakah mengambil keputusan ini adalah pilihan terbaiknya.Atau malah menyakiti kekasihnya.Berada dalam kekosongan tanpa arti dia berdiri diantara pembatas pagar.
"Maaf Gladis,ini pilihan yang sangat sulit untuk kamu terima.Semoga kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku!"Ujarnya membatin dalam hati.
__ADS_1
Keesokan harinya mentari sudah menunjukkan cahaya yang perlahan menghangatkan suasana.Kamar milik Gladis begitu hangat sampai-sampai ia malas untuk bangun pagi.Mendongak dengan balutan selimut tebal ia mengamati diluar sudah cukup terang,tapi berat untuk bangun.
"Masih pagi,,ngantuk bangeeet Huuuaaaah!"Ujarnya sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangannya.
Pagi yang cerah telah membuat Kelana terbangun dan bersiap untuk sempoyongan menuju kamarnya.Huaaah cuaca kali ini membuatnya tersenyum hingga terjerumus kembali dikasur nan empuk.
Gedebyussss,,,Kembali tengkurap dengan gaya bebasnya tanpa beban.Enaknya kalau udah denger namanya week end membuat siapapun semakin malas untuk bangun pagi.
Sadar kalau hari ini adalah moment untuk bertemu dengan Arya,terbagun pula dari mimpi senyap.Matanya yang memerah pun harus bangkit lebih kuat lagi untuk menyapa dunia.
"Aduuuuh,ngantuk banget.Ini kamar diapain seeh sama Kelana kok bisa betah kayak gini aku disini!"Beranjak berjalan sempoyongan pula masuk kedalam kamar mandi.
Setengah jam,Gladis pun keluar dengan pesona khas elegan dan flamboyan.Wajah segarnya kembali cerah ketika ia mendapati dirinya telah berganti pakaian,ya kali ini tepat banget kalau Kelana punya adik cewek.Jadi bisa dipinjam bajunya.
"Cocok juga bajunya sama aku.Emangnya Karen tuh kalau punya style hampir-hampir mirip sama aku.Ya udah,keluar dulu deh apa Kelana udah bangun belum?"Sambil berjalan keluar mencari keberadaan Pemilik rumahnya.
"Lho kok sepi?emang kemana ya dia!"Terhenti dengan wajah polosnya mencari-cari keberadaan pria tersebut dengan mulai beraksi menuju kamarnya mungkin ya!
Kesana kali ya,sambil nunjuk kearah pintu kamar miliknya.Siapa yang ga kenal sama kamarnya selain Karen ya akulah yang tahu heheheh.Berjalan mendekati pintunya dan mengetuk pelan.
Tok,,,tok ,,,tok,,
"Ke-la-na,kamu masih tidur?"Panggilnya dari luar.
"Halllooooou,Kelana."Kesal juga dipanggil-panggil beberap kali ga ada jawaban yang bener-bener sreg dihati.
Biarin aja kali ya,aku buat sarapan dulu buat dia,supaya entar dia ga gangguin aku lagi.Kalau udah gangguin ada aja yang ga bener.Gitu kali ya,ide yang cemerlang.Berjalan lagi kedapur dan siap-siap memakai apron untuk memasak dan membuat kopi panas disaat mentari sudah mengangkatkan cahaya panasnya.
"Heeemmn,aroma yang menggugah selera.Setiap pagi menatap pagi dengan pemikiran yang cerah pastinya akan membuat kita lebih terinspirasi dong.Hehhehehe!"Ujarnya masih santai dan meneguk kopi hitam manis yang ga begitu eneg dimulut.
Tiba-tiba dari belakang Kelana sudah membuat kejutan yang sangat membuat Gladis ga terima akan kehadirannya sangat diluar ekspetasinya.
"Beneran!"Tepat suara itu menyengat telinganya hingga ia tersengat kaget.
"AAAAAAAA,KAMU TUH YA.NGAGETIN AJA DEH!"Udah keluar suara lantang ala-ala penuh emosi sambil membalikkan badannya.
"Woooouuuiiii,santai sis!"Sambil angkat tangan,ada senyum yang makin dia ketawa lepas.
"Tapi kamu tuh udah bikin aku jantungan tahu!"Bentaknya sambil menaruh gelasnya.
"Iya-iya maap.Mau masak apa?kok udah mulai berantakan neeh dapurku?"Tanya Kelana bingung deh sambil garuk-garuk kepala.
"Hehehehehe,mau dibikinin minum ga?sambil nungguin matengnya masakanku!"Tawar Gladis udah sembuh dari emosinya.
"Kopinya seberapa?"Sambil mengangkat toples berisikan kopi bubuk.
"Dua sendok teh aja.Nanti sama kasih cremer ya-ya-ya!"Sambil memainkan kedua alisnya.
"Iyaaa baweel!"Jawabnya kesal banget.
"Hahahahah,bisa juga ya."Sambil berjalan mundur menuju meja makan.
Setelah cukup lama melihat Gladis membuatkan minuman dipagi hari,mungkin akan menggugah banyak obrolan pagi ini dengan banyak fiksi dan aksi dari mereka berdua.Secara libur kali ini bertepatan dengan sikap mereka yang mulai saling melengkapi.
"Emangnya Tiara ga kesini?"Tanya Gladis sembari berbalik sudah membuatkan segelas kopi untuk Kelana.
"Yaaah,dia kamu tanyain.Mana ada bentukannya,kalau jadinya lanjut.Kalau engga mau gimana lagi!"Jawabnya santai dan pasrah.
"Lho kok gitu seeh,emangnya kamu ada masalah sama Tiara?"Tanya Gladis mengernyitkan kening serta menyuguhkan kopi untuk Kelana.
"Makasih ya,aromanya enak juga kalau kamu yang buat Dis,hehehheh!"
"Kumat ngaconya."Jawabnya terkekeh.
"Ga juga seeh,tapi sekarang dia lebih serius diluar negri ga tahu tuh ada urusan apa!"Jawabnya masih malas jawab.
"Trus kalau ga sejalan,ngapain dipertahanin?kan bisa cari yang lain.Tuhhh Nikta kasir kamu tuh juga menggoda bohay,heheheh!"
Teringat juga sama Nikta,kenapa juga ga terlintas dibenakku ya kalau dia itu menarik dan membuatku kesemsem kalau lihat dia.Cantik dan hot banget.
"Iya juga,dia kan hot banget.Bikin nerveous kalau lihatnya!"
Ketawa ngakak"Oooh ya?emang iya gitu!"
"Kayak ga tahu Nikta aja.Tapi kalau sama aku seeh dia ga banyak omong.Tinggal cus aja,jalan mungkin ya!"Jawabnya ngasal.
"Ya ga tahu lah,Na.Entar ya sambil aku bikinin kamu sarapan kita ngobrol okey!"Jawabnya angkat kaki dan kembali kedapur untuk memasak.
Huuuh bersandar sebentar sambil nungguin sarapan buatan Gladis,santai membuka kembali beberapa hal yang menyangkut tentang desain grafis yang pernah ia tinggalkan hanya karena kepincut sama dunia coffe yang menggoda dalam setiap goresannya.
"Sarapan pagi sudah siaaaap!"Gladis membawa makanan kemeja makan dengan senyum menawan.
Wiiiih,masakan khas sahabatnya memang sudah membuat aroma hidungnya menggoda sekali sampai-sampai ia kelupaan akan menggeser keposisi on.Menompangkan tangan serta memandangi setiap menu menjadi menggoda dipagi hari.
__ADS_1
"Heemmm,,,masakan yang menggoda.Kok bisa seeh kamu masak.Ga ngelamar aja dikedai ku.Jadi chef guest buat nambah menu-menu specialku.Ya ga?"Menawarkan diri.
"Ya bisalah itu naluri seorang wanita ya.Seorang sahabat yang bisa membuat menu special hanya untuk kamu Kelana!"Duduk dan menyiapkan untuk Kelana.
"Mau yang mana?"Tanya Gladis sambil menyiapkan nasi untuk Kelana.
Menyentuh dagunya ia kebingungan memilih padahal cuman dua masakan bingungnya minta ampun.
"Astaga cuman dua lho cap cay sama soup buntut,bingungnya minta ampun."Serang Gladis dengan kesalnya.
"Ya udah deh semuanya ga pa-pa heheheh!"Nyengir lagi deh kalimatnya.
"Naaah gitu dong,supaya ga nyesel nyobain-nya."Kata Gladis mengambil masakan untuknya."Naaah,ini selamat makan Kelana!"Memberinya senyuman manis.
"Makasih Gladis!"Jawabnya sok manis.
"Kamu ga makan?"Tanya lagi.
"Ya bentar dong,aku juga lapar heheheh!"Sambil ikutan sarapan.
"Oooh ya,Karen ga pulang dia?"Tanya Gladis sembari menikmati sarapan pagi.
"Heeemm,,,dia kan kuliah disana.Jadi ya udahlah itu pilihan dia.Pulang juga suka-suka dia.Kalau kamu minat ya,boleh kok tinggal aja disini kan semua orang sudah tahu kalau kamu tuh sahabat ku.Gimana?"Sambil menggodanya.
"Dasar kamu ya.Emangnya aku mau jadi pengganti adikmu tinggal disini?"Jawabnya ngeles.
"Ya terserah kamu seeh.Kalau kamu suka tinggal disini ya silahkan aku welcome aja."
"Ya ga seru juga kali.Kalau kamu kangen aku kan bisa nelpon,nanti ga ada penghuninya apartemenku bisa-bisa disantroni hantu lagi!"
Jawabnya sinis.
"Mungkin bisa disewakan atau gimana dijual gitu.Uangnya kita bagi dua gimana?"Ujarnya ngawur.
"Wooooiii,enak banget dirimu ya.Aku yang jualan kamu dapat juga.Setengah lagi!"Sadar pula sama ide ngawurnya.
"Ya kalau mau?kalau engga ya udahlah."Jawabnya santai.
"Trus nanti kamu mau kan temenin aku ketemu sama mas Arya.Aku pengen tahu kayak gimana respon dia semalam.Sama sekali ga ada kabar sama sekali!"
"Ya boleh deh.Untung aja aku pas libur,coba engga!"
"Emangnya ga mau?"
"Ya enggalah.Ganggu kerjaanku aja."
Mencibir sinis apa yang dilihat oleh Gladis,Mungkin memang ada baiknya kalau canda khas Kelana menjadi sorot waktu yang lebih flexibel.Semakin membuat hati Gladis menjadi lebih tenang dan senang.
"Apaan seeh,ga segitunya kali.Kamu tuh bikin ngakak aja deh.Mau kan nanti kalau situasi yang ga sesuai biar kamu bisa belain aku!"
"Kayaknya ga sampe segitunya kali Dis,itu kan urusan kamu.Mana bisa aku ikut campur masalah yang kamu hadapi,kecuali kamu butuh saran dan membuat hatimu tenang kenapa engga gitu!"Jelasnya sampai habis tak tersisa ga terasa nasinya sampai bersih tak terkira.
"Tapi aku ga kuat kalau harus marah sama mas Arya.Dia itu sudah membuatku gimana ya.Antara nyaman ga nyaman.Aku masih berharap sama dia gimana dong!"
"Santai aja.Ga bakalan segitunya kok kita tahu siapa sebenarnya kayak gimana Arya sama kamu pasti ada urusan yang lebih baik diselesaikan dengan baik juga kan! ga sampai harus jambak-jambakan,secara kalian punya rambut sama sebahu hahahahaha."Ujarnya ngakak ga karuan.
"Aku pengen deh segera ketemu mas Arya.Aku Chat dulu ya dia!"Seraya mengambil ponselnya.
"Ya silahkan,nanti kalau dibales.Baru aku anterin kemana kamu ketemunya,biar ada temennya juga gitu!"Jawabnya sambil menikmati capcay yang gurih dengan soup buntut yang kental menggoda.
Setelah beberapa saat ia mengirimkan sebuah Chat untuk mengajak ketemuan disebuah tempat yang dipastikan tidak akan mengganggu keduanya dalam pertemuan ini.
"Mas,apa hari ini sibuk?aku mau ketemu sama mas.Kenapa kemarin ga bales chatku apalagi telpon.Bisa kan kita ketemuan!"Mengirim pesan kepada Arya.
Sending pesan keponsel milik Arya yang tengah ia charger dikamar miliknya.Sesaat kedatangan Melissa tengah mencari keberadaan Tunangannya pun tersorot oleh sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
"Mas,mas Arya masih dikamar mandi ya?"
Dari dalam dia sama sekali ga denger,tetapi bunyu ponselnya telah membuat Melissa segera menghampiri dan melihat apa yang tengah mengganggu pandangannya.
"Lho,Gladis masih hubungan sama mas Arya.Gimana seeh mas Arya ini!"Sambil melihat Chat yang dikirim olehnya.
Sambil menunggu Arya keluar dari kamar mandi,ada rasa penasaran apa yang telah membuatnya heran.Saat keluar pun senyum hangat Arya pun mendekati Melissa dengan wajah tenang tanpa beban.
"Lho kamu udah lama disini?"Tanya Arya sambil mendekati dan memberikan ciuman pipi.
"Engga juga seeh mas,ini ada Chatting dari Gladis!"Ujarnya menunjukkan kepadanya.
Mengernyitkan kening,senyum kaku pun dirinya mencoba untuk tenang.
"Nanti kita akan bicara lebih serius ya."
"Oke aku tunggu kelanjutannya!"Jawabnya menanti dengan rasa penasaran.
__ADS_1