
Seharian wajah Abbas terlihat kurang baik bagi Vairus, pria yang selama belasan tahun ada di sisinya, kini wajah nya tidak seperti biasanya,
Perhatian nya kini berkurang,
"Abbas...apa ada masalah?"Tanya Vairus ragu, saat mereka selesai makan malam bersama,
Sejenak Abbas melihat ke arah Vairus, setelahnya ia tersenyum pada wanita, yang benar-benar ingin ia jaga, baik kesehatan, ataupun kebahagiaan nya, bukan karena dia sebagai pengawalnya, atau sekertaris nya melainkan lebih,
"Tidak apa-apa, Tidak ada masalah apapun di perusahaan"ucap Abbas tersenyum,
"Tapi... wajah mu tidak menunjukkan itu,"Ucap Vairus, berusaha membuat Abbas berkata jujur, Abbas berdiri dan berjalan kearah tempat duduk Vairus, berdiri di sebelah wanita yang kini menatapnya, Abbas mendekatkan wajahnya ke wajah Vairus seraya berkata,
"Memangnya kenapa dengan wajahku, apakah ada bedanya antara hari ini dan hari kemaren?"
"Beda... wajahmu terlihat tidak bersahabat hari ini"ucap Vairus dengan wajah mereka yang masih berjarak dekat,
"Kalau begitu, berarti nona sering memperhatikan ku"ucap Abbas yang membuat wajah Vairus merah merona, bagaimana tidak, Abbas berkata dengan bibirnya yang tersenyum manis, menyadari perkataan Abbas yang menurut nya tidak lazim, Vairus memilih memalingkan wajahnya sambil berkata,
"Memperhatikan mu, mana ada, kau jangan ke gedean rasa begitu" Ucap Vairus dengan rona merah di pipinya, Abbas tersenyum lalu mengangkat wajahnya, berdiri tegak di samping wanita yang kini terlihat gugup,
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, bagaimana pun aku, ada masalah atau tidak, kau tidak perlu memikirkan nya, aku akan mengatasinya sendiri, istirahat lah"ucap Abbas seraya membelai kepala Vairus, Akhirnya Vairus berdiri dari duduknya, dan memberanikan diri untuk melihat kearah Abbas,
"Kau juga istirahatlah, "ucap Vai seraya melangkah pergi,
Datanglah bibik untuk membereskan tempat makan mereka, sesekali bibik melihat ke arah Abbas,
"Kau menyukai nona?"Ucap bibik, seraya mengambil piring yang kotor, dan itu berhasil membuat Abbas melihat kearahnya, Abbas tersenyum seraya berkata,
"Bibik juga menyukainya bukan...?" Ucap Abbas seraya mengambil segelas air putih di hadapannya lalu meneguknya sampai tandas,
__ADS_1
"Beda... "ucap Bibik dengan senyuman nya,
"Aku tidak pantas menyukainya melebihi rasa bawahan ke atasan bik, aku sadar diri, siapa aku dan siapa dirinya, terlepas dia bukan anak kandung tuan Antony, dia juga putri dari seoarang Arya Prakas, "ucap Abbas penuh kejujuran,
"Tidak peduli siapa dirimu, posisi mu adalah orang yang selalu melindungi nona, Abbas, sekarang hanya kamu yang ada di samping nona, bibik sangat setuju, jika kau bisa menjaga nona sampai akhir, semoga saja, Nona bisa melihat ketulusan mu itu"ucap Bibik seraya meninggal kan Abbas, mematung seraya melihat arah kepergian bibik nya, pembantu di rumah itu, yang mana, ia menganggapnya seoarang ibu,
Menyukai nona, sudah dari dulu rasa itu, tapi mengingat,nona sangat menyukai pria yang bernama Daniel, aku tidak yakin, apakah nona bisa melihat keberadaan ku, Nona bahkan rela melakukan tindakan kriminal, hanya demi dirinya, Bodoh jika aku tidak bisa melihat sebesar apa rasa nona padanya,
Abbas pun berlalu dari ruang makan, dan menuju ke kamarnya, wajah nya tersenyum mengingat saat ia mendekatkan wajahnya ke wajah Vairus, terlihat jelas raut wajah Vairus yang merona, dan itu adalah kebahagiaan tersendiri buat Abbas, saat melewati kamar Vairus, kamar itu sedikit terbuka, dan tanpa sengaja ia melihat Vairus yang terduduk di sofa kamarnya, entah apa yang di lamuni wanita yang seharusnya sudah menikah itu,
Tanpa di sadari Abbas mengetuk pintu itu, yang membuat wanita di dalamnya terkejut,
"Masuklah "ucap Vairus tanpa melihat,
Abbas pun melangkahkan kakinya, suara kaki itu mengalihkan perhatian Vairus, Saat Abba sudah ada di dekat Vairus, vairus mendongakkan kepalanya seraya berkata,
"Duduklah"Ucap Vairus seraya menepuk sofa di sampingnya, tanpa berfikir lagi pria itu duduk di dekat Vairus, Mereka melihat kearah luar jendela, tepat dimana sofa Vairus terletak,
"Boleh kah aku meminjam bahumu?"ucap Vairus seraya melihat kearah Abbas, dan Abbas pun melihat kearah Vairus, dengan tersenyum Abbas menganggukkan kepalanya,
"Kapan pun kau membutuhkan sandaran, aku akan siap menjadi sandaran mu"Ucap Abbas, saat kepala Vairus benar-benar sudah menempel di bahunya,
"Abbas... apakah kau bisa merasa kan apa yang aku rasakan?"Tanya Vairus
"Kesepian... benar kah?"
"Kau begitu memahami ku Ab...kau benar,aku merasa kesepian"
"Ada aku... kau merindukan tuan Antony kan...mari kita berkunjung"ucap Abbas, seraya melihat ke wajah Vairus,
__ADS_1
"Kau mau menemaniku?"
"Tentu... jadi jangan pernah merasa sendiri lagi, apapun itu aku pasti akan lakukan"
"Tidak Ab... aku sudah pernah membuatmu melakukan hal bodoh, aku tidak mau lagi membawamu dalam masalah ku"
Sejenak Abbas terdiam, namun sesaat ia berani kab diri untuk memegang kedua tangan Vairus,
"Vai... dengarkan aku, kau masih ingat janjiku saat itu...Aku akan selalu ada untuk mu,baik suka ataupun duka, bahagia atau terluka"
"Itu kan janji masa kita SMP, "
"Tapi buatku... itu adalah janjiku seumur hidupku"
Mendengar penuturan yang tak lazim lagi bagi Vairus, vairus hanya bisa kikuk, saat mata elang Abbas menatapnya dengan lekat,
*****
"Kenapa ma..."
"Mama sudah bilang, Tunda bulan madu kalian, kenapa kalian tidak mendengar kan perkataan mama"
"Ma... jangan memulai lagi, ini sudah malam, "ucap Troy seraya melihat ke istrinya yang sudah nyenyak tidur,
"Kenapa...apakah ratu mu sudah tertidur"ucap mamanya Troy dengan nada menyindir,
"Itu mama tahu kan... "jawaban Troy malah membuat mama nya semakin darah tinggi,
"Troy... bisakah.. kau mendengarkan kata-kata mama"
__ADS_1
"Ma... kalau mama hanya ingin mengajak Troy ke rumah teman mama itu, itu tidak penting bagi Troy, apalagi untuk menemui anaknya yang katanya mama namanya Indah itu, memangnya siapa dia bagi Troy, Istriku yang lebih penting bagi Troy ma, jadi jangan buang waktu mama untuk berdebat dengan Troy hanya untuk masalah yang tidak penting ini" ucap Troy penuh dengan emosi, bagaimana tidak, mama nya memintanya untuk berbulan madu, hanya karena mama nya ingin mengajak Troy kerumah temannya itu, untuk bertemu dengan wanita yang bernama indah,
Kata-kata Troy jelas sudah membuat mama nya kehilangan akal, untuk membujuk anaknya yang satu ini mang sangatlah susah, Troy memang di kenal, jika sudah Putih maka akan tetap putih dan takkan berpaling pada yang hijau begitu lah prinsip Troy, jika di imajinasi kan dengan warna, Troy tipikal Pria yang setia dan penyayang, hangat dan romantis, dan itu hanya berlaku pada satu orang saat ini, yaitu Istrinya, dan yang lain bagi Troy tidaklah penting,