
Hidup akan terus berjalan dengan seiring nya waktu, Kenyataan tidak bisa kita hindari, Hanay saja kita bisa melewatinya dengan cara kita sendiri, entah dengan kesabaran atau dengan Egoisme,
Hidup adalah pilihan, dan semua pilihan ada di tangan kita, jadi.....make decisions that can make us not regret in the future,
"Tania baik-baik saja di sini ma..., mama jangan khawatir, emmm bagaimana keadaan rumah sakit?"
"Semuanya baik juga, Tania... apakah kau sudah merencanakan sesuatu nak?"
"Rencana..., maksud mama...?"
"Kau sudah menikah... apakah kau sudah memikirkan tentang anak..?"Ucap ragu Bu Mirna,
Tania terdiam, ia menoleh kearah Troy yang sedang sibuk dengan ponselnya, membalas setiap pesan dan Email yang masuk, Tania tersenyum sejenak, saat pandangan Troy terarah padanya,
"Aku menginginkan itu ma, hanya saja,Troy bilang, tidak perlu terburu-buru, karena baginya, anak adalah titipan, jika di percaya maka akan di beri,"Ucap Tania
"Mama tahu, nak Troy sangat mencintaimu, tidakkah kau juga ingin membuat keluarganya bisa menerima mu juga????"
Sejenak tiada suara yang keluar saat mama Mirna selesai berkata, Itu juga adalah hak yang ada di fikiran Tania, siapa yang tidak menginginkan anak, tentu semua wanita yang sudah menikah menginginkan anak, karena anak adalah pengikat yang kuat dalam sebuah hubungan,
"Tania menginginkan nya ma, apalagi saat melihat bayi nya kakak Arion, kehamilan Ara, dan juga Tania suka melihat anak seperti Kei,"Ucap Tania dengan bibir tersenyum, namun air mata menggenang,
"Baiklah, setelah ini kau periksalah dan ikut program kehamilan"
"Baiklah ma...Dini dan Dea mana ma...?"
"Dea sudah mulai bisa bergabung dengan dunia luar, hanya saja Dini... "
"Pelan-pelan pasti dia juga bisa ma, bagaimana kata dokter yang menangani nya"
"Sudah mulai ada kemajuan"Ucap Mirna,
"Baiklah .. kalau begitu, Tania akan secepatnya pulang ma"
"Nikmatilah dulu bukan madu kalian, jangan terburu-buru untuk kembali"
"Isst mama... Troy bukan orang yang tidak punya pekerjaan ma, dan sekarang ...pasti sudah banyak pekerjaan yang menunggunya, Tania tidak enak akan hal itu ma..."Ucap Tania dengan bibir manyun, namun tiba-tiba, bibir itu ada yang menciumnya, seraya berkata,
__ADS_1
"Tidak enak akan hal apa...?"Tanya Troy seraya mengambil ponsel yang di pegang Tania, sekilas ia membaca siapa penelfon, dan ternyata adalah mama mertuanya,Troy yang mulanya cemberut, kini sudah tersenyum,
"Hallo ma... bagaimana kabarnya di sana....?'
"Semuanya baik nak, apakah Tania merepotkan mu?"
"Tentu... anakmu ini mana bisa tidak merepotkan aku ma... bayangkan saja ma aku kadang disuruh tidur tengah malam,Tega banget kan ma...?"Ucap Troy yang kini mendapati lototan mata istrinya,
Mirna yang mendengar itu tersenyum bahagia, setidaknya ia merasa tenang, karena Tania beruntung mendapatkan pria yang sangat mencintainya seperti Troy,
"Baiklah... mama tidak akan menggangu waktu kalian lagi, jaga diri baik-baik untuk kalian"ucap mama Mirna seraya mematikan ponselnya,
"Kalian bicara apa tadi, serius gitu.."Ucap Troy, seraya meletakkan Ponsel Tania di atas nakas tempat tidur, kini Troy duduk di dekat Tania yang berbaring tengkurap, dengan bantal di bawah dadanya,
Troy membelai kepala Tania lembut,
"Tidak ada...., Troy..aku mau tanya sesuatu, tapi jawab yang jujur"Ucap Tania seraya bangun dari tidur tengkurap nya, dan kini duduk bersila di depan Troy,
"Mau tanya apa...?"Ucap Troy seraya menyelipkan rambut Tania ke belakang telinganya,
"Emmm... apakah kau sangat menyukai anak-anak?"Tanya Tania ragu,
"Tidak apa-apa... kalau aku hamil apakah kau akan bahagia ..?"tanya Tania lagi
"Sayang .. kenapa bertanya seperti itu ..aku seperti ini saja sudah bahagia, apalagi ada anak darimu, aku pasti akan tambah bahagia"Ucap Troy seraya menggenggam kedua tangan Tania
Tania mengangguk-angguk kan kepala nya, tanda ia mengerti dengan apa yang Troy katakan,
"Baiklah... "Ucap Tania dengan bibir tersenyum lepas, membuat kecantikan nya murni terpancar, ..
*****
"Apa ini semua Ab...?"Tanya Vairus saat Abbas mengeluarkan semua kotak yang ada di hadapan Vairus, Vairus membaca semua yang tertulis di kertas itu, betapa tidak percaya nya Vairus saat melihat semua tulisan surat itu,
"Apakah mereka masih keluargamu ...?"tanya Vairus tidak percaya apa yang dikatakan Abbas,
"Entahlah... jika aku melihat semua itu, aku tidak yakin, kalau mereka adalah keluargaku, tapi kenyataannya mereka tetaplah keluargaku,
__ADS_1
"Bahkan mereka sampai minta dua kali dalam sebulan, mata duitan sekali ibumu itu,"Ucap Vairus blak-blakan,
"Dia bisa menghalalkan cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan,"
"Lalu kau menurutinya begitu"Ucap Vairus tanpa melihat kearah Abbas dan fokus menatap kertas-kertas itu,
"Kalau tidak... mereka akan terus memaksa,"
"Bawa saja mereka kesini, kau melakukan ini karena aku, dan juga demi aku, iya kan... Abbas ... aku bukan lah wanita lemah , Bawa saja mereka kesini, aku ingin tahu, bagaimana mereka akan bermain dengan ku"Ucap Vairus dengan entengnya,
"Mereka tahu kalau kau bukan lah anak Kandung tuan Antony"
"Lalu... ?"
Tiba-tiba Abbas merangkul tubuh Vairus, menenggelamkan dalam dada bidangnya,
"Aku tahu kamu bukan wanita yang lemah, aku hanya tidak ingin,ada gangguan yang membuat harimu tidak berjalan sesuai rencana mu, aku hanya tidak ingin,kau membuang-buang waktu untuk meladeni mereka yang tidak tahu akan arti malu dan jatuhnya harga diri"
"Kau tenanglah, aku ada cara untuk membuat mereka sadar, kau jangan menyusahkan dirimu lagi, hanya karena ku"Ucap Vairus seraya mengangkat kepalanya dari dekapan Abbas,
Vairus menatap Abbas, laku tersenyum padanya,
"Dady sudah kehilangan ayahmu,aku tidak mau kehilangan mu, kalian adalah orang terpenting bagi Dady dan aku, jadi apapun masalah yang kau hadapi, katakan saja padaku, berbagilah padaku, siapa tahu aku bisa membantu"Ucap Vairus,
"Terimakasih, seharusnya aku yang mengatakan itu, tapi sekarang beda, malah wanita yang mengatakan itu padaku..."Ucap Abbas dengan senyuman nya, yang membuat keduanya tertawa bersamaan,
Vairus dan Abbas malah bercanda dalam ruangan itu, semua pekerjaan nya mereka taruh, Sehingga Vairus menangis karena tawa nya sendiri,
"Eh.. ini di kantor, kenapa kita malah santai begini"Ucap Abbas
"Ah.. tidak apalah, sekali-kali tidak apa-apa kan santai, rasanya aku lelah,"Ucap Vairus seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa
"Kalau begitu, istirahtlah, aku akan kembali ke ruanahn ku"Ucap Abbas seraya mengelus kepala Vairus dari samping,
"Kenapa mau pergi, tetaplah duduk disini"Ucap Vairus seraya menggaet lengan Abbas yang hendak berdiri,
Abbas terduduk di samping Vairus lagi, pandangan mereka bertemu,
__ADS_1
"Temani aku ..."Ucap Vairus, yang dengan tanpa di sadari bibir mereka telah bersatu, ber paut dengan tanpa terkontrol, entah siapa yang memulai,tapi ciuman itu terjadi begitu lama.