
Troy terus menatap istrinya yang kini fokus dengan layar ponselnya, wajah yang dulu sangat ia benci, benci karena membunuh adik sepupunya, benci karena mengganggu rumah tangga orang yang paling ia pedulikan, benci karena sudah terus menyakiti orang lain, namun kini...wajah itu yang paling ingin ia lihat, wajah itu yang paling ingin ia lindungi, dan karena wajah itu, ia rela melakukan apapun, sebegitu kah nasib mempermainkan kehidupannya, apakah benar kata pepatah,
......jika membenci seseorang, bencilah sewajarnya,karena jika berlebihan akan menjadi rasa yang tak bisa di tebak kan.. ......
Troy tersenyum mengingat,bagaimana Daniel selalu mengejeknya tentang,bagaimana kalau dirinya mencintai orang gila itu, dan dengan sangat yakin, Troy menjawab, "Tidak akan dan tidak akan pernah"
Lamunan Troy tersadarkan saat seseorang mengetuk pintu ruangannya,
"Masuk"Ucap Troy dari dalam,
Masuklah salah satu staf yang membawa beberapa porsi makan siang untuk Troy dan Tania, menyadari itu, Tania berdiri dan menghampiri staf yang berjalan keraah nya,
mengambil nampan dari staf itu seraya berkata,
"Biar saya saja yang melakukan, terimaksih"Ucap Tania seraya tersenyum,
"Tapi Nona..."Ucap ragu staf itu,
"Tidak apa-apa "Ucap Tania lagi,
"Keluarlah...dia istriku, dia yang akan melakukan nya"Ucap Troy yang melihat keraguan pada stafnya itu,
"Baik Tuan..."Ucap staf itu seraya menganggukkan kepala nya dan berjalan mundur hingga berada di balik pintu ruangan itu,
Troy berjalan menghampiri Tania yang kini meletakkan beberapa makanan ke meja,
Troy memeluknya dari belakang,
"Apakah tidak perlu kita mempekerjakan pembantu di rumah"Ucap Troy seraya mencium tengkuk leher istrinya,
"Untuk saat ini tidak perlu, kita lakukan sama-sama, sekalian menambah waktu kebersamaan kita"Ucap Tania,
"Tapi...kau bisa kelelahan"Ucap Troy lagi,
"Tidak akan, "Ucap Tania seraya berbalik badan tanpa melepas pelukan tangan Troy di perutnya,
"Sekarang... ayo makan siang..."Ucap Tania seraya mengaitkan ke dua tangannya ke leher Troy, dengan wajah penuh bahagia Troy pun melepas pelukannya, dan segera duduk, mengambilkan nasi dan lauknya untuk sang istri, dan juga untuk dirinya,
__ADS_1
"Perlu ku suapi..."Tanya Tania seraya mengangkat piring yang sudah berisi makanan itu,
"Tidak perlu... kau makan lah, dan segera minum obatnya"Ucap Troy mengelus pipi Tania dengan lembut,
Akhirnya Tania dan Troy pun menikmati makan siang bersama mereka dengan penuh kebahagiaan,
*****
"Suprise"Ucap beberapa orang untuk Abbas,dan benar saja, Abbas terkejut dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba,
"Kalian..."Ucap Abbas heran,
"Kenapa expresi mu seperti itu kak, tidak suka kami datang...."Ucap adik Abbas
"Bukan tidak suka, aku sudah katakan pada kalian, aku masih belum ada uang untuk saat ini, mengertilah, dan aku masih belum menanyakan pada kalian, uang sebanyak itu kalian gunakan untuk apa?kenapa selalu kurang dan kurang.. "Ucap Abbas dengan nada lembut, namun penuh dengan ketegasan,
"Abbas... kau tidak usah bertanya, kau cukup memberi kami uang,itu tugas mu"Ucap sang ibu yang tidak suka jika Abbas menanyakan perihal kemana uang yang ia kirimkan selama ini,
"Lagian... wanita itu bukanlah anak Antony, kenapa kau tidak singkirkan saja wanita itu, dan kuasai harta Antony, dan buat Antony itu membusuk di penjara, gampang kan..."Ucap sang ibu dengan nada sinis,
Abbas terperangah mendapati perkataan seperti itu, dari mulut seseorang yang selama ini sangat ia hormati,
"Abbas... ibu tidak peduli ya .. yang ibu mau.. kau selalu kirimkan uang dengan jumlah yang ibu inginkan...tapi... akhir-akhir ini kau malah tidak merespon kemauan ibu, apa kau mau jadi anak durhaka"Teriak ibunya Abbas,
Namun tiba-tiba
"Jangan salahkan Abbas, karena aku yang melarang Abbas untuk tidak memenuhi keinginan kalian..."Ucap seseorang yang ternyata itu adalah Vairus, betapa terkejutnya mereka mendengar suara itu, serentak Anak dan ibu itu menoleh ke arah Vairus,
"Nona...kau..., kenapa anda pulang tiba-tiba, "
"Abbas...kau yang kemana... aku tadi menyusul mu tapi kata pak Imran kau sudah kembali dan ingin mengambil sesuatu di rumah, aku menyusul mu, tapi aku mendapat kejutan dari keluarga mu"Ucap Vairus dengan nada menyindir,
"Nona, maafkan aku.."
"Tidak perlu, Bik...bibik....teriak Vairus,
Mendengar suara vairus, jelas pembantunya keluar,
__ADS_1
"Iya Nona..."
"Siapkan kamar untuk mereka berdua?" Ucap Vairus
"Baik Nona"
"Mari..."Ucap bibiknya Vairus memberi jalan pada kedua tamu yang tidak di undang itu, agar mengikuti langkahnya,
"Jangan sungkan...kalau begitu ini kamar kalian"Ucap sang bibik seraya menatap kedua tamu yang masih enggan bicara setelah kedatangan Vairus,
...Beraninya saja bicara di belakang nona, siah...kalau ada nona diam seribu bahasa.....
Begitulah arti dari tatapan mengejek pembantu Vairus, sedangkan Vairus terus menatap Abbas yang masih enggan menjelaskan hal yang telah terjadi tadi,
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan....Ucap Vairus,
"Nona...maafkan aku..aku benar-benar tidak tahu akan kedatangan mereka"Ucap Abbas,
Vairus berjalan kearah samping Abbas,
"Nona... aku..."
"Kamu tidak mengirimkan mereka uang, lalu mereka menyusul mu kemari benarkan....?"Tanya Vairus
Abbas terdiam, ia semakin menunduk, merasa malu pada nona nya,
"Biarkan mereka di sini"Ucap Vairus,
"Tapi mereka akan..."
"Mereka akan menyakiti ku, mana bisa... kau belum tahu siapa aku.., Abbas... kita berdua tumbuh besar bersama, apakah kau melihat aku menyerah sebelum peperangan di mulai?"Ucap Vairus seraya tersenyum meremehkan,
"Aku ingin tahu, tindakan apa yang akan mereka lakukan padaku, dan aku juga ingin tahu, kemana larinya uang mu itu, tapi...kau jangan pernah lengah mengawasi mereka,"Ucap Vairus,
"Baiklah... ayo kembali ke perusahaan, biar bibik yang mengurus mereka"Ucap lagi Vairus seraya menarik tangan Abbas , dan menggandengnya,
Apakah nona tidak mendengar umpatan yang ibu katakan tentang nya dan tentang tuan Antony, serta semua rencana nya ibu, mengapa nona seperti biasa-biasa saja, kalau begitu,aku boleh berkesimpulan kalau nona tidak mendengar apapun kan...
__ADS_1
Begitulah pikiran Abbas selama dalam perjalanan, Abbas tidak henti-hentinya menatap Vairus seraya menyetir mobilnya,
Vairus bukannya tidak tahu akan apa yang Abbas fikirkan, namun Vairus punya rencana lain untuk kedua manusia yang kini berada di rumahnya,